Anda di halaman 1dari 21

ADJUNCTS TO ANESTHESIA

Bab 17 hal.277-290
PEMBIMBING:
dr. Edwin Haposan Martua, Sp.An

Disusun Oleh :
Yessi Oktavianti
2013.730.122

KEPANITERAAN KLINIK STASE ANESTESI


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SEKARWANGI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN DAN KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2018
Insidensi yang paling banyak muncul pada pasien
perioperative

Aspirasi Pneumonia Nausea-vomitus Depresi Pernapasan

Bab ini menjelaskan berbagai macam obat yang


digunakan untuk mencegah terjadinya insidensi
tersebut
ASPIRASI

Faktor-faktor
Agen-agen Obat
• Perut yang “kenyang”
• Obstruksi intestinal • Histaamine-Receptor
• Hiatal hernia Antagonists
• Obesitas 1. H1-Receptor Antagonist
• Kehamilan 2. H2 -Receptor Antagonist
• Reflux disease • Antasida
• Operasi emergency • Metoclopramid
• Tingkat kedalaman • Proton Pump Inhibitor
anesthesi yang tidak
adekuat
Histamine-Receptor Antagonists

Fisiologi Histamin

Reseptor H1 yang mengaktivasi fosfolipase C, reseptor H2 yang meningkatkan siklus


intraselular adenosine monofosfat (cAMP), reseptor H3 yang berlokasi di histamine-
secreting cells dan memediasi feedback negative, menghambat sintesis dan pelepasan
histamin tambahan.
Histamine-Receptor Antagonists

H1-Receptor Antagonist

Difenhidramin

Efek antiemetik dan hipnotik ringan merupakan salah dua


alasan anti-histamin digunakan sebagai premedikasi
Histamine-Receptor Antagonists

H2-Receptor Antagonist

Cimetidine,
Efek Samping famotidine, nizatidin, dan
ranitidine, secara kompetitif menghambat
ikatan histamine dengan reseptor H2,
Cimetidin atau ranitidin asam
sehingga menurunkan dari injeksi IV : dan
lambung
•meningkatkan
hipotensi, bradikardi,
pH lambung.dan cardiac arrest
pada pasien kritis.
Jangka panjang dari cimetidine :
•Semua
hepatotoksisitas,
agen H2-receptornefritis interstisial,
antagonists efektif
granulositopenia,
dalam dan trombositopenia
pengobatan peptikum duodenal dan
serta dengan
GERD, perubahan status mental
menurunkan dari asam
volume letargi
dan halusinasi
lambung, sehinggake seizure,
dapat secara particular
menurunkan resiko
padapneumonia.
aspirasi pasien usia senja.
Antasid

Aksi Antasida menetralkan keasaman cairan lambung dengan menyediakan basa (biasanya hidroksida,
karbonat bikarbonat, sitrat, atau trisilikat) yang bereaksi dengan ion hidrogen untuk membentuk air.

Dalam anestesiologi, antasid memberikan perlindungan terhadap efek berbahaya dari pneumonia aspirasi
dengan meningkatkan pH isi lambung. Tidak seperti antagonis reseptor H, antacid memiliki efek langsung.
Pemberian antasid partikel dapat menyebabkan aspirasi partikel antasid ,sedangkan antasid non partikel
jarang menyebabkan aspirasi tetapi kehilangan efektifitasnya setelah 30-60 menit setelah dicerna.

Dosis Interaksi obat

Dosis untuk dewasa dari larutan sodium sitrat atau bisi Karena antasida mengubah pH lambung dan urin,
trat (sodium sitrat dan asam sitrat) 0,3 M atau policitra mereka mengubah penyerapan dan penghapusan
t (sodium sitrat, potasium sitrat dan asam sitrat) adala banyak obat. Tingkat penyerapan digoxin,
h 15-30 mL per oral, 15-30 menit sebelum induksi. cimetidine, dan ranitidin diperlambat, sedangkan
tingkat eliminasi phenobarbital dipercepat.
Metoklopramid

Meningkatkan kerja LES, pengosongan


lambung, menurunkan volume cairan asam
lambung.

Memiliki efek antiemetik dengan menghambat


reseptor dopamine pada CTZ di SSP.

Efek Samping Dosis

Injeksi IV dapat menyebabkan kaku Dosis dewasa 10-20 mg (0,25 mg/kg)


perut, dan obat ini di kontraindikasikan efektif secara oral, intramuscular dan
pada pasien dengan obstruksi intestinal, intravena (diinjeksikan lebih dari 5
dapat menimbulkan hipertensi krisis menit)
pada pasien dengan pheochromocytoma
Proton Pump Inhibitors

Mekanisme

Omeprazole, lansoprazole, rabeprazole, esomeprazole dan


pantorazole, mengikat pompa proton dari sel parietal di
mukosa lambung dan menghambat sekresi dari ion hidrogen.

lebih cepat dari H2 receptor blockers dalam pengobatan


GERD dan ulkus peptikum

Efek Samping Dosis

omeprazole 20 mg,
mual, nyeri perut, konstipasi, diarea), serta dapat menyebabkan
lansoprazole 15 mg,
myalgia, anafilaksis, angioedema, dan reaksi buruk
rabeprazole 20 mg,
dermatological
pantoprazole 40 mg
Postoperative Nausea dan Vomiting
(PONV)

Semakin panjang durasi anestetik, semakin meningkat pula


resiko terjadinya PONV, sehingga pemberian antiemetik
profilaksis dilakukan guna menurunkan insidensi tersebut
Postoperative Nausea dan Vomiting
(PONV)

5-HT3 Receptor Antagonist

Fisiologi serotonin :
sangat kompleks karena ada setidaknya tujuh jenis reseptor,
sebagian besar dengan beberapa subtipe. Reseptor 5-HT 3
memediasi muntah dan ditemukan di saluran pencernaan dan
otak (area postrema)

Ondansentron, granisetron, dan dolasetron secara selektif


menghambat reseptor 5-HT3.

Antagonis reseptor 5 HT-3 secara general diberikan pada akhir


operasi. Semua agen-agen ini efektif sebagai antiemetic pada
periode postoperative. Dibandingkan dengan droperidol dan
dexametason, ondansetron lebih efektif.
Postoperative Nausea dan Vomiting
(PONV)

Butyrophenones

Digunakan secara rutin untuk profilaksis PONV, dengan dosis 0,625-1,25 mg

Phenothiazine, prochlorperazin memiliki efek pada multiple


reseptor (histaminergic, dopaminergic, muscarinic), yang dapat
digunakan untuk manajemen PONV.

Dexamethason

Dosis kecil 4 mg telah terbukti efektif dalam mengurangi


kejadian PONV
Postoperative Nausea dan Vomiting
(PONV)

Neurokinin-1 receptor antagonist

Penghambat reseptor NK1 antagonis susbtansi p berada di pusat


dan reseptor perifer. NK1 antagonist didapatkan dapat
menurunkan PONV perioperative dan dapat ditambahkan
dengan ondansentron

Strategi PONV lainnya

Transdermal scopolamine telah digunakan secara efektif,


meskipun dapat menimbulkan efek antikolinergik sentral.
Akupuntur dapat mengurangi insidensi PONV dan kebutuhan
pengobatan
Obat-obat lain yang ditambahkan
pada anestesi
Ketorolac

Obat parenteral NSAID yang berfungsi sebagai


analgesia dengan menghambat sintesis
prostaglandin.

Ketorolac dapat sebagai alternatif dari opioid


untuk analgesia posoperative karena minimnya
efek samping dan tidak melewati blood brain
barrier.
Efek Samping
Dosis
Ketorolac menghambat agregasi
platelet dan memperpanjang waktu 60 mg intramuscular atau 30 mg
perdarahan. Penggunaan dalam jangka intravena loading dose, dosis
panjang dapat menyebabkan toksik maintenance 15-30 mg setiap 6 jam
renal atau ulserasi di GI tract dengan direkomendasikan.
perdarahan atau perforasi.
Obat-obat tambahan NSAID lainnya

Parecoxib, celecoxib dan rofecoxib

Selektif menghambat COX-2.


Parecoxib : 40 mg IV/IM, celecoxib : 400 mg po, rofecoxib : 50 mg sekali sehari,
kemudian 25-50 mg/hari (tidak rekomendasi apabila > 5 hari)

Acetaminophen

Acetaminophen sebagai analgetik sentral menghambat COX.


Dosis :
• BB > 50 kg : 1 gr dalam infus, dengan maksimum 4gr/hari.
• BB < 50 kg : 15-75 mg/kg.
Clonidine

Sebuah imidazoline derivatif dominan dengan


agonis α2-adrenergik, sangat larut dalam lemak,
mudah menembus penghalang darah otak dan
plasenta.

Menurunkan aktivitas simpatik, meningkatkan


parasimpatis dan mengurangi sirkulasi
katekolamin.

Efek Samping
Dosis
Sedasi, pusing, bradikardia, dan mulut
Klonidin epidural dimulai dari 30 mcg/h dengan
kering cukup sering terjadi. Hipotensi
dicampur opoid atau anestesi local. Klonidin oral
ortostatik, bradikardia, nausea dan
diabsorbsi dengan onset 30-60 menit dan bertahan 6-12
diare jarang sekali muncul.
jam. Pada pengobatan hipertensi akut diberikan 0,1 mg
secara oral setiap jam hingga tekanan darah stabil, dan
dapat diberikan secara maksimal 0,1-0,3 mg dua kali
setiap hari.
Dexmedetomidine

Sebuah parenteral agonis α2 selektif dengan sifat


penenang dan tampaknya lebih selektif untuk reseptor α2
daripada clonidine.

Obat ini dapat menyebabkan sedasi bergantung dosis dan


beberapa analgetik. Yang terpenting adalah obat ini
memiliki opioid-sparing effect dan secara signifikan tidak
mengontrol depresi pernapasan, sedasi berlebihan, tetapi
dapat menyebabkan obstruksi pernapasan. Obat ini juga
digunakan untuk sedasi intraoperative dan tambahan
anestesi general.
Efek Samping
Dosis
Bradikardi, heart block, dan hipotensi,
Dosis awal 1 mcg/kg intravena selama 10 menit dalam
serta dapat menyebabkan nausea.
maintenance infusion rate 0,2-0,7 mcg/kg/h. obat ini
memiliki onset yang cepat dan waktu paruh selama 2
jam. Obat ini dimetabolisasi di hepar dan diekskresikan
melalui urin.
Deoxapram

Mengaktivasi sistem saraf pusat dan perifer. Secara


selektif mengaktivasi kemoreseptor karotis dengan dosis
rendah dari doxapram dapat menstimulasi pengontrolan
hipoksik, meningkatkan volume tidal. Dalam dosis besra,
pusat pernapasan di medulla terstimulasi.

Karena doxapram meniru PaO2 yang rendah, akan


berguna pada pasien dengan penyakit paru obstruktif
kronik. Obat depresi sistem saraf pusat dan pernapasan,
termasuk yang terlihat segera pasca operasi, bisa untuk
Efek Samping sementara diatasi. Doxapram tidak spesifik agen reversal,
bagaimanapun, dan seharusnya tidak menggantikan
Perubahan status mental (pusing, bingung, dan standar terapi suportif (ventilasi mekanis).
seizure), abnormalitas kardiak (takikardia,
disritmia, hipertensi), dan disfungsi paru
(wheezing, takipnea), muntah dan Dosis
laringospasme merupakan bagian penting yang
diperhatikan anestesiologis selama periode Bolus intravena diberikan dengan dosis 0,5-1 mg/kg,
postoperative. Obat ini tidak dapat digunakan dilanjutkan dengan infus intravena 1-3 mg/menit,
pada pasien dengan riwayat epilepsy, dengan maksimum dosis 4 mg/kg.
cerebrovascular disease, acute head injury,
cad, hipertensi, dan asma bronkus.
Nalokson

Antagonis reseptor opioid yang afinitasnya pada reseptor opioid μ lebih baik daripada reseptor opioid k
atau δ. Nalokson tidak memiliki aktifitas agonis yang spesifik.

Efek samping :
Takikradia, iritabilita ventrikel, hipertensi, edema pulmo. Sindrom withdrawal muncul pada pasien yang
bergantung opioid.
Pada pasien yang mengalami depresi pernapasan saat postoperative, dapat diberikan nalokson secara IV
0,5-1 mcg/kg setiap 3-5 menit hingga ventilasi adekuat dan kesadaran membaik. Nalokson intramuscular
direkomendasikan dua kali dari dosis IV dan dilanjutkan dengan infus 4-5 mcg/kg/h. depresi pernapasan
pada neonatal dengan 10 mcg’kg, diulang setiap 2 menit jika dibutuhkan.

Naltrexone
Obat antagonis opioid murni dengan afinitas tinggi terhadap
reseptor μ, tetapi waktu paruhnya jauh lebih panjang
dibandingkan nalokson. Obat ini biasa diberikan secara oral
dalam mengobati kecanduan opioid dan ethanol abuse.
Flumazenil

Sebuah imidazobenzodiazeoin, antagonis spesifik


benzodiazepine terhadap reseptor benzodiazepine.

Obat ini digunakan untuk mengembalikan sedasi


benzodiazepine dan pengobatan overdosis
benzodiazepine. Meskipun efek reversible terhadap efek
benzodiazepine tidak terlalu reliable, namun beberapa
fakta menunjukan keadaan pasien yang menjadi sadar,
secara spesifik ditunjang dengan volume tidal dan
ventilasi per menit menjadi normal.
Efek Samping
Dosis
Penggunaan obat ini dapat
Intravena 0,2 mg/menit hingga mencapai derajat
menyebabkan anxietas dan gejala
reversal. Total dosis biasanya 0,6-1 mg, karena obat ini di
withdrawal dalam penggunaan terapi
bersihkan melalui hepar, maka dosis diulang setelah 1-2
benzodiazepine jangka panjang. Seperti
jam untuk menghindari resedasi dan premature recovery
teknik midazolam-ketain, obat ini juga
room atau outpatient discgarge. Dilanjutkan dengan
meningkatkan insiden emergency
infus (0,5 mg/h), dapat berguna pada kasus overdosis
dysphoria dan halusinasi.
benzodiazepine kerja lama.