Anda di halaman 1dari 47

Case Report Session

G2P1A0 gravida 25 - 26 minggu + KPSW 10 Jam


+ Oligohidramnion JTH intrauterine preskep

Reissa Amira Pratiwi


G1A217018
Pendahuluan

01 Ketuban pecah dini (KPD) atau Premature Rupture of Membrane


(PROM) merupakan keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan.

Etiologi pada sebagian besar kasus dari KPD hingga saat ini masih belum
diketahui. KPD pada kehamilan aterm merupakan variasi fisiologis, namun
02 pada kehamilan preterm, melemahnya membran merupakan proses yang
patologis

Prevalensi KPD berkisar antara 3-18 % dari seluruh kehamilan. Saat


03 kehamilan aterm, 8-10 % wanita mengalami KPD dan 30-40 % dari kasus
KPD merupakan kehamilan preterm atau sekitar 1,7% dari seluruh
kehamilan.

Oleh sebab itu, klinisi yang mengawasi pasien harus memiliki pengetahuan
04 yang baik mengenai anatomi dan struktur membran fetal, serta memahami
patogenesis terjadinya ketuban pecah dini.
Laporan Kasus
IDENTIFIKASI SUAMI

Nama : Ny. M Nama : Tn. i


Umur : 30 tahun Umur : 33 tahun
Suku/bangsa : Melayu Suku/bangsa : Melayu
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : D3 Pendidikan : D3
Pekerjaan : PNS Pekerjaan : Swasta
Alamat : Pakuan Baru Kenali Alamat : Pakuan Baru Kenali
besar besar

MRS : 08 Agustus 2018


No. MR : 884164
Anamnesis
Keluhan Utama :Os datang dengan keluhan keluar air-air dari jalan
lahir sejak + 10 jam sebelum masuk rumah sakit.

Riwayat Penyakit Sekarang :


Os datang dengan keluhan keluar air-air dari jalan lahir
Sejak + 10 Jam sebelum masuk rumah sakit, Os merupakan rujukan dari
RS. Teresia, Keluhan air-air yang keluar dirasakan cukup banyak dan seka
rang masih merembes. Air-air yang keluar berwarna putih bening dan tidak
berbau. Riwayat demam tidak ada, riwayat coitus tidak ada, riwayat keputi
han tidak ada, riwayat minum jamu atau obat-obatan tidak ada. sakit perut
menjalar ke pinggang semakin lama semakin sering dan kuat (-), keluar
lendir darah dari jalan lahir (-), demam (-), dan keputihan (-).Os mengaku
hamil cukup bulan dan gerakan anak masih dirasakan.
Anamnesis

+ 5 Hari SMRS os pernah mengeluhkan hal yang


sama, keluar air-air dari jalan lahir dan mengeluh keluar
air-air dari jalan lahir, warna jernih, cairan merembes hingga
membasahi kain yang dipakai os, Keluhan muncul setelah
os melakukan hubungan badan dengan suami os. Setelah
dirawat dirumah sakit selama 4 hari os diperbolehkan pulang.
Riwayat perjalanan penyakit

.
Di rawat di RS Rd. Mattaher
selama 4 hari & diperbolehkan
pulang.
5 Hari
SMRS
Keluar air-air dari jalan lahir, 10 Jam
warna jernih, cairan
SMRS
merembes hingga membasa
hi kain yang dipakai.
keluhan keluar
Keluhan muncul setelah os
melakukan hubungan badan 14 Agustus 2018 air-air dari jalan
dengan suami os.
lahir
Riwayat penyakit dahulu Riwayat Obstetri

• Riwayat jatuh (-), riwayat keputihan • GPA : G2P1A0


(-), riwayat DM (-), dan riwayat • HPHT : 10 – 02 - 2018
darah tinggi (-). • TP : 17 – 11 -2018
• UK : 25 - 26 Minggu
• Menarche : 12 Tahun
• Siklus haid : Teratur 28 hari
• Lama haid : 7 Hari
Riwayat Persalinan

No Tahun Umur Tempat Jenis Penolong Penyulit Anak Ket


partus kehamilan JK/BB

1 2013 36 minggu RS SC Dokter - PR/ Hidup


2400

2 INI

Riwayat Perkawinan
Pasien menikah 1 kali pada usia 24 tahun
Riwayat Kontrasepsi : (-)
ANC : 2 x selama kehamilan.
Pemeriksaan Fisik

TD : 110/70mmHg
N : 87x/menit
RR : 20x/menit
Suhu : 36,60C

Berat badan sebelum hamil : 45 kg


Berat badan saat hamil : 47 kg
Tinggi Badan : 158 cm
Mata : CA (+/+), SI(-/-),
RC (+/+), pupil isokor
Kepala : Normocephalic,
Mulut dan faring : karies (-) simetris, deformitas (-)

Leher : Pem. KGB (-),


deviasi trakea(-), peningkatan J
VP (-) Abdomen
Inspeksi : datar, sikatrik (-), spider nevi (-),
benjolan (-)
Thorak : datar, simetris Palpasi :Soepel, nyeri tekan (-), turgor baik
Paru : Hepar, Lien & Ginjal: tidak teraba
pernapasan regular Perkusi : timpani (+), pekak hepar melebar
Auskultasi : Bising usus (+) normal
fremitus ka=ki, sonor,
Vesikuler kedua lapangan
paru
Jantung :
ictus kordis tak terlihat, b
atas jantung : dbn, BJ I/II Ekstremitas :Akral hangat, edema (- /-), Edem (-)
reguler
Status Obstetri
Inspeksi : Palpasi :
• Muka : Cloasma • Leopold I : TFU 22 cm, teraba
gravidarum (-), edema (-) bagian yang lunak, tidak melenting.
• Leher : Pembesaran vena • Leopold II : Kanan : Teraba
jugularis (-) bagian-bagian kecil janin
• Dada : Pembesaran • Kiri : Teraba bagian
mammae simetris, puting susu terbesar janin
menonjol,hiperpigmentasi areola • Leopold III : Teraba bagian
mammae (+), colostrum (-) keras, bundar, dan melenting.
• Abdomen : Perut tampak • Leopold IV : Konvergen
membesar ke depan, striae • TBJ : (22 - 12) x 155 =
gravidarum (+),linea nigra (+), 1550 gram
bekas operasi (+)
• HIS : (-)
• Vulva : Labia mayor/minor
• Auskultasi : DJJ = 121x/i
simetris, pembengkakan
kel.bartholini (-).
• Ekstremitas : Eksterimitas
Bawah: Edema (-/-)
Hasil Lab 13-08-2018

• WBC :12.08
• HB : 10.3 gr % • Natrium 146.13 mEql/L (135-146)
• Kalium 5.49 mEq/L (3,5 – 5,3)
• HT : 30.1 %
• Klorida 106.31 mEq/L (98 – 110)
• Trombosit : 261 • Kalsium 1,30 mEq/L (1,12 – 1,23)
GDS : 81 mg/dl

Pemeriksaan
Darah Rutin Elektrolit
Diagnosis

• G2P1A0 gravida 25 - 26 minggu + • Observasi Tanda vital dan Keadaan


KPSW 10 Jam + Oligohidramnion umum, Denyut Jantung Janin (DJJ),
dan kontraksi uterus
JTH intrauterine preskep
• IVFD Ringer Laktat 20gtt/i
• Injeksi Dexamethasone 3 x 1 gr
• Inj Cefotaxime 3 x 1 amp
• Utrogestan 2x1 tab
• Ferrous Sulfate 2x200 tab
• Vaginistin 2x1
• R/ Amnioninfusion tanggal 16-08-2018

Diagnosis Kerja Penatalaksanaan


Tanggal/Jam Follow Up

Follow Up
14 Agustus 2018 Menerima pasien dari IGD dan melakukan anamnesa dan pemeriksaan
fisik : D/ : G2P1A0 gravida 25 - 26 minggu + KPSW 10 Jam + Oligohidr
amnion JTH intrauterine preskep
Pemeriksaan Fisik :
Keadaan umum sakit sedang, TD :110/70 mmHg, N: 87x/menit RR : 20x/
menit Suhu: 36,60C, Tinggi fundus : 22 cm, Punggung kiri, DJJ : 128 x/i

1. Observasi Tanda vital dan Keadaan umum, Denyut Jantung Janin (


DJJ), dan kontraksi uterus
2. IVFD Ringer Laktat 20gtt/i
3. Injeksi Dexamethasone 3 x 1 gr
4. Inj Cefotaxime 3 x 1 amp
5. Utrogestan 2x1 tab
6. Ferrous Sulfate 2x200 tab
7. Vaginistin 2x1
8. R/ Amnioninfusion tanggal 16-08-2018
Follow Up 15 Agustus 2018 S : Keluar air-air (+), Os merasa sedikit lemas, minum dan makan banyak.
D/ : G2P1A0 gravida 25 - 26 minggu + KPSW 10 Jam + Oligohidramnion
JTH intrauterine preskep
Pemeriksaan Fisik :
Keadaan umum sakit sedang, TD :110/70 mmHg, N: 87x/menit RR : 20x/
menit Suhu: 36,60C, Tinggi fundus : 22 cm, Punggung kiri, DJJ : 126 x/me
nit

T/ Observasi Tanda vital dan Keadaan umum, DJJ, dan kontraksi uterus
IVFD Ringer Laktat 20gtt/i
Injeksi Dexamethasone 3 x 1 gr
Inj Cefotaxime 3 x 1 amp
Utrogestan 2x1 tab
Ferrous Sulfate 2x200 tab
Vaginistin 2x1
R/ Amnioninfusion tanggal 16-08-2018
Follow Up 16 Agustus 2018 S : Keluar air-air (+), Os merasa sedikit lemas, minum dan makan banyak.
D/ :G2P1A0 gravida 25 - 26 minggu + KPSW 10 Jam + Oligohidramnion J
TH intrauterine preskep
Pemeriksaan Fisik :

Keadaan umum sakit sedang, TD :110/70 mmHg, N: 87x/menit RR : 20x/


menit Suhu: 36,60C, Tinggi fundus : 22 cm, Punggung kiri, DJJ : 144 x/i

T/ Observasi Tanda vital dan Keadaan umum, DJJ, dan kontraksi uterus
IVFD Ringer Laktat 20tpm
Injeksi Dexamethasone 3 x 1 gr
Inj Cefotaxime 3 x 1 amp
Utrogestan 2x1 tab
Ferrous Sulfate 2x200 tab
Vaginistin 2x1
R/ Amnioinfusion hari ini
Follow Up 17 Agustus 2018 S : Post op amnioinfusion H+1, nyeri bekas luka (+), os merasa tidak lemas
lagi
D/ : G2P1A0 gravida 25 - 26 minggu + KPSW 10 Jam + Oligohidramnion
+ Post op amnioinfusion
Pemeriksaan Fisik :

Keadaan umum sakit sedang, TD :110/70 mmHg, N: 87x/menit RR : 20x/


menit Suhu: 36,60C, Tinggi fundus : 22 cm, Punggung kiri, DJJ : 131 x/i

T/ Observasi Tanda vital dan Keadaan umum, DJJ tiap 15 menit


IVFD Ringer Laktat 20gtt/i
Injeksi Dexamethasone 3 x 1 gr
Inj Cefotaxime 3 x 1 amp
Kaltrofen supp 2x1
Ferrous sulfat 1x1
Amnioninfusion terpasang, IVFD RL 20gtt/i
18 Agustus 2018 S : Post op amnioinfusion H+2, nyeri bekas luka (+), os merasa tidak lemas lagi
Follow Up , makan dan minum banyak

O : Pemeriksaan Fisik :
Keadaan umum sakit sedang, TD :110/70 mmHg, N: 87x/menit
RR : 20x/menit Suhu: 36,60C, Tinggi fundus : 22 cm, Punggung kiri, DJJ : 151
x/i
D/ : G2P1A0 gravida 25 - 26 minggu + KPSW 10 Jam + Oligohidramnion JTH
intrauterine preskep + Post Op amnioinfusion H+2
P : Observasi Tanda vital dan Keadaan umum, DJJ
IVFD Ringer Laktat 20gtt/i
Injeksi Dexamethasone 3 x 1 gr
Inj Cefotaxime 3 x 1 amp
Kaltrofen supp 2x1
Utrogestan 2x1 tab
Ferrous sulfat 1x1
Amnioninfusion terpasang, IVFD RL 20tpm
19 Agustus S : Post op amnioinfusion H+3, nyeri bekas luka (+), os merasa tidak lemas lagi
Follow Up , makan dan minum (+)
2018

O : Pemeriksaan Fisik :
Keadaan umum sakit sedang, TD :110/70 mmHg, N: 87x/menit RR : 20x/menit
Suhu: 36,60C, Tinggi fundus : 22 cm, Punggung kiri, DJJ : 145 x/i

A :G2P1A0 gravida 25 - 26 minggu + KPSW 10 Jam + Oligohidramnion JTH


intrauterine preskep + Post op Amnioinfusion H+3

P / Observasi Tanda vital dan Keadaan umum, DJJ


IVFD Ringer Laktat 20gtt/i
Injeksi Dexamethasone 3 x 1 gr
Inj Cefotaxime 3 x 1 amp
Kaltrofen supp 2x1
Utrogestan 2x1 tab
Ferrous sulfat 1x1
Amnioninfusion terpasang, IVFD RL 20tpm
20 Agustus S : Post op amnioinfusion H+4, nyeri bekas luka (+), os merasa tidak lemas lagi
Follow Up , makan dan minum (+)
2018
D/ : G2P1A0 gravida 25 - 26 minggu + KPSW 10 Jam + Oligohidramnion JTH
intrauterine preskep + Post op Amnioinfusion H+4

Pemeriksaan Fisik :
Keadaan umum sakit sedang, TD :110/70 mmHg, N: 87x/menit RR : 20x/menit
Suhu: 36,60C, Tinggi fundus : 22 cm, Punggung kiri, DJJ : 148 x/i

T/ Observasi Tanda vital dan Keadaan umum, DJJ


IVFD Ringer Laktat 20gtt/i
Injeksi Dexamethasone 3 x 1 gr
Cefadroxil tab 3x500mg
Kaltrofen supp 2x1
Utrogestan 2x1 tab
Ferrous sulfat 1x1
Amnioninfusion terpasang, IVFD RL 10tpm
21 Agustus S : Post op amnioinfusion H+5, nyeri bekas luka (+), os merasa tidak lemas lagi
Follow Up , makan dan minum (+) Rencana pulang hari ini
2018
D/ : G2P1A0 gravida 25 - 26 minggu + KPSW 10 Jam + Oligohidramnion JTH
intrauterine preskep + Post op Amnioinfusion H+5
Pemeriksaan Fisik :
Keadaan umum sakit sedang, TD :110/70 mmHg, N: 87x/menit RR : 20x/menit
Suhu: 36,6 C, Tinggi fundus : 22 cm, Punggung kiri, DJJ : 133 x/i

T/ Observasi Tanda vital dan Keadaan umum, DJJ


Cefadroxil tab 3x500mg
Kaltrofen supp 2x1
Utrogestan 2x1 tab
Ferrous sulfat 1x1
Pemberian amnioninfusion di berhentikan
Os pulang hari ini
Ketuban Pecah Dini

Ketuban pecah dini atau spontaneus/early/premature rupture


of membrans (PROM) → pecahnya selaput ketuban scr spontan
Definisi pada saat belum menunjukkan tanda-tanda persalinan / inpartu
atau bila satu jam kemudian tidak timbul tanda-tanda awal
persalinan atau secara klinis bila ditemukan pembukaan kurang
dari 3 cm pada primigravida dan kurang dari 5 cm pada
multigravida.

Bila terjadi sebelum umur kehamilan 37 minggu disebut


ketuban pecah dini preterm / preterm prematur rupture of
membran (PPROM) dan bila terjadi lebih dari 12 jam
maka disebut prolonged PROM.2
Etiologi
Infeksi
bakteri yang terikat pada membran
melepaskan substrat seperti protease
Faktor umur dan paritas yang menyebabkan melemahnya
membran.
Semakin tinggi paritas ibu akan Defisiensi vitamin C
makin mudah terjadi infeksi cairan
amnion akibat rusaknya struktur Vitamin C diperlukan untuk pe
serviks akibat persalinan sebelum mbentukan dan pemeliharaan
nya jaringan kolagen

Faktor tingkat sosio-ekonomi


Sosio-ekonomi yang rendah, status Faktor selaput ketuban
gizi yang kurang akan meningkatkan Pecahnya ketuban dapat terjadi
insiden KPD akibat peregangan uterus yang
Faktor Lain berlebihan atau terjadi peningkatan
hidramnion, gamelli, koitus, perdarahan tekanan yang mendadak di dalam
antepartum, bakteriuria, pH vagina di kavum amnion,
atas 4,5, stres psikologis, serta flora
vagina abnormal
Epidemiologi

Prevalensi KPD berkisar antara 3-18%


dari seluruh kehamilan. Saat aterm,
8-10 % wanita hamil datang dengan KPD
dan 30-40% dari kasus KPD merupakan
kehamilan preterm atau sekitar 1,7% dari
seluruh kehamilan.
Patofisiologi
infeksi dan inflamasi
Mendekati waktu persalinan Faktor mekanik ;
trauma IL-1 dan prostaglandin

keseimbangan antara MMP & Ketuban mudah kolagenase jaringan


TIMP-1 pecah
terjadi depolimerisasi
degradasi proteolitik kolagen pada selaput
selaput ketuban korion / amnion
matriks ekstraseluler
tipis, lemah
dan membran janin
pertumbuhan abnormal selaput ketuban

Merupakan komponen kolagen

Kekurangan tembaga & asam


askorbik
Diagnosis
Anamnesis dan Pemeriksaan dengan
Pemeriksaan penunjang
pemeriksaan fisik spekulum
• Anamnesa pasien • Tiga tanda penting yang • Dengan tes lakmus,
dengan KPD→ merasa berkaitan dengan cairan amnion akan
basah pada vagina / ketuban pecah dini mengubah kertas lakmus
mengeluarka cairan yang adalah : merah menjadi biru.
banyak berwarna putih • 1. Pooling : • Pemeriksaan leukosit
jernih, keruh, hijau, atau Kumpulan cairan darah, bila meningkat >
kecoklatan sedikit-sedikit amnion pada fornix 15.000 /mm3
atau sekaligus banyak, posterior. kemungkinan ada infeksi.
secara tiba-tiba dari jalan • 2. Nitrazine Test : • USG untuk menentukan
lahir. Keluhan dapat Kertas nitrazin merah indeks cairan amnion,
disertai dengan demam akan jadi biru. usia kehamilan, letak
jika sudah ada infeksi. • 3. Ferning : Cairan janin, letak plasenta,
dari fornix posterior di gradasi plasenta serta
tempatkan pada jumlah air ketuban.
• objek glass dan • Kardiotokografi untuk
didiamkan dan cairan menentukan ada
amnion tersebut akan tidaknya kegawatan janin
memberikan
gambaran seperti
daun pakis.8
Penatalaksanaan (Konservatif)
a.Berikan antibiotik (ampisilin 4 x 500 mg atau eritromisin bila tidak tahan dengan ampisilin dan metronidazol 2 x 500 mg selama
7 hari).

a.Jika umur kehamilan < 32 – 34 minggu, dirawat selama air ketuban masih keluar atau sampai air ketuban tidak keluar
lagi.

Jika umur kehamilan 32-37 minggu, belum inpartu, tidak ada infeksi, tes busa negatif : beri deksametason, observasi
tanda-tanda infeksi dan kesejahteraan janin. Terminasi pada kehamilan 37 minggu.

Jika usia kehamilan 32-37 minggu, sudah in partu, tidak ada infeksi, berikan tokolitik (salbutamol), deksametason dan
induksi sesudah 24 jam.

Jika usia kehamilan 32-37 minggu, ada infeksi, beri antibiotik dan lakukan induksi.

Pada usia kehamilan 32-34 minggu, berikan steroid untuk memacu kematangan paru janin dan kalau memungkinkan periksa
kadar lesitin dan spingomielin tiap minggu. Dosis betametason 12 mg sehari dosis tunggal selama 2 hari, deksametason i.m 5 mg
setiap 6 jam sebanyak 4 kali.9
Penatalaksanaan (Aktif)

Bila ada tanda-tanda infeksi, berikan


antibiotika dosis tinggi dan persalinan
a.Kehamilan > 37 minggu, induksi diakhiri jika :
dengan oksitosin, bila gagal
pikirkan seksio sesarea. Dapat pula Bila skor pelvik < 5, lakukanlah
pematangan serviks, kemudian induksi.
diberikan misoprostol 50µg Jika tidak berhasil, akhiri persalinan
intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 dengan seksio sesarea.
kali. Bila skor pelvik > 5, induksi persalinan,
partus pervaginam.9
Penatalaksanaan ketuban pecah dini
Definisi Oligohidramnion
Oligohidramnion adalah suatu keadaan dimana air ketuban <
normal yaitu < 500 mL.

Oligohidramnion : pemeriksaan USG ditemukan AFI (Amnion


Fluid Index) 5 cm atau kurang.

Hilangnya kantong vertikel tunggal yang beruku


ran 2 cm, atau AFI <5cm pada kehamilan aterm
atau <5th persentil sesuai usia kehamilan.2
Etiologi
Faktor Janin
•Bocor membran
amnion
•Agenesis ginjal /
ginjal polisiklik
•Genetik

Faktor ibu Faktor plasenta


• Abrupsio
• Darah tinggi k
ronik plasenta
• Dehidrasi Dia • Anak kembar
betes • NSAID dan
• Preeklampsia beberapa inhibit
• Lupus or ACE
Etiologi
• Bocor membran
amnion
• Agenesis ginjal /
ginjal polisiklik
• Genetik
Manifestasi Klinis
Nyeri di perut
Tiap pergerakan janin

Persalinan
lebih lama dari biasanya

HIS
Terasa sakit sekali
Uterus tampak lebih kecil
Dari usia kehamilan dan tidak ada ballo
temen.

• Sering berakhir dengan partus prematurus.


• Janin mudah berpindah tempat.
• Perlambatan tinggi fundus.
Penegakkan Diagnosis
Pasien mengeluh keluar air dari

Pemeriksaan Fisik
Anamnesis
kemaluan. Janin dapat diraba dengan
•Uterus tampak lebih kecil dari usia mudah, balotemen (-).
kehamilan. Auskultasi DJJ terdengar lebih
•Ibu merasa nyeri di perut pada setiap awal dan jelas.
pergerakan anak dan saat his. Tinggi fundus uteri menurun, atau
•sakit perut hilang timbul (-) keluar lebih rendah dari usia kehamilan.
darah bercampur lendir (-) Berat badan ibu menurun.
•Perut ibu kelihatan lebih kecil
dibandingkan dengan usia
kehamilannya.
•Ibu merasa nyeri di perut pada tiap
pergerakan janin.
•Persalinan lebih lama dari biasanya.
Pemeriksaan penunjang
1. USG
-Parameter Amniotic Fluid Index (AFI)
2. Metode single pocket
-Indeks Cairan Amnion (ICA)
3. Subjektif pemeriksa
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan oligohidramnion pada kehamilan lanjut bergantung
pada situasi klinis, seperti :
1. Mencari etiologi
2. Observasi janin (NST & DJJ )
3. Perbaikan nutrisi
4. Bedrest
5. Amnioinfusi
6. Induksi dan kelahiran
Talaksanaan Oligohidramnion

01 02 03 04

Amnioinfusion Rehidrasi Maternal Bed-rest Vesico-amniotic Shunt


•NaCl pada suhu ruangan •Cairan oral dan IV unt ▹Membantu produksi cair • Amniosentesis.
ke cavitas amnion kateter uk merehidrasi ibu an amnion • Untuk mengetahui
intrauterin anatomi fetus
•Menjadi alasan ibu har
us minum air putih.
Komplikasi & Prognosis

Komplikasi
1. Terbentuk amnion band
2. Cacat bawaan
3. Pertumbuhan janin terhambat (IUGR)
4. Janin meninggal sebelum dilahirkan
Analisa Kasus
Insert the title of your subtitle Here
Ny. M usia 30 tahun datang anamnesis, pemeriksaan
ke IGD RSUD Mattaher fisik dan pemeriksaan G2P1A0 gravida 25 -
penunjang 26 minggu + KPSW
8 Agustus 10 Jam
2018 + Oligohidramnion
janin tunggal hidup
intrauterin
keluar air-air dari presentasi kepala
jalan lahir sejak
10 jam yang lalu.
datang dengan keluhan keluar
air-air dari jalan lahir sejak ± 10 Usia kandungan belum cukup bulan
jam sebelum masuk rumah sakit. (preterm) yaitu 25 minggu dan
Keluhan muncul setelah os menyatakan belum ada tanda-tanda
melakukan hubungan badan
inpartu.
dengan suami os Air-air yang
keluar berwarna putih bening dan
tidak berbau. Keluhan ini tidak
disertai dengan adanya sakit
perut menjalar ke pinggang (-)
dan keluar lendir darah (-). ketuban pecah
dini
faktor peningkatan
tekanan uterin oleh
karena trauma fisik
saat berhubungan
seksual
Kasus Teori
Pemeriksaan fisik pada kasus KPD
Pemeriksaan fisik → dalam batas penting untuk menentukan ada tidaknya
normal → Pada pasien belum tanda-tanda infeksi pada ibu → terkait
didapatkan adanya tanda-tanda dengan penatalaksanaan KPD → risiko
infeksi. Suhu pasien → 36,8o C. infeksi ibu dan janin meningkat pada KPD
Denyut nadi → 76 kali/i → Adanya nadi yang cepat → pada kasus
Tekanan darah → 110/80mmHg. ini tidak didapatkan sehingga belum ada
tanda-tanda infeksi pada ibu.
Kasus Teori

 Pemeriksaan dalam dilakukan


PD seminimal mungkin untuk mencegah
pertama datang untuk memastikan
Infeksi
pembukaan
Selaput ketuban negatif.
Kasus Teori

• Pemeriksaan leukosit untuk mengeta


• Leukosit 11.300/mm3
hui tanda-tanda infeksi
• Nitrazin dan Ferning Test
• Kertas lakmus merah berubah menja
tidak dilakukan
di biru pH air ketuban adalah 7,7,5
Kasus Teori
• Antibiotik → menurunkan infeksi pada ibu,
Injeksi Dexamethasone 3 x 1 gr • Vaginistin → Antibiotik profilaksis operasi →
Inj Cefotaxime 3 x 1 amp • mencegah terjadinya infeksi pasca operasi
Ultrageston 2x1 tab • Utrogestan untuk meningkatkan pertumbuhan
dinding rahim dan meminimalisasi kontraksi
Ferrous Sulfate 2x200 tab
miometrium sehingga persalinan prematur
Vaginistin 2x1 dapat dihambat
R/ Amnioninfusion • kortikosteroid → Maturitas paru-paru janin dan
mengantisipasi terjadinya kelahiran preterm.
• Pemasangan amnioinfusion → memperpanjang
masa gestasi dan mencegah komplikasi fetal
sampai sekurangnya tercapainya pematangan
pulmonal.
Kesimpulan

1 Ketuban pecah dini (KPD) merupakan masalah penting dalam obstetrik


berkaitan dengan penyulit kelahiran prematur dan terjadinya infeksi
korioamnionitis sampai sepsis, yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas
perinatal dan menyebabkan infeksi ibu

2
KPD lebih banyak terjadi pada kehamilan yang cukup bulan dari pada yang
kurang bulan, yaitu sekitar 95 %, sedangkan pada kehamilan tidak cukup
bulan atau PPROM terjadi sekitar 34 % semua kelahiran prematur.

3
Pengelolaan Ketuban Pecah Dini (KPD) merupakan masalah yang masih
kontroversial dalam kebidanan. Pengelolaan yang optimal dan yang baku
masih belum ada, selalu berubah

Protokol pengelolaan yang optimal harus mempertimbangkan adanya infeksi

4 dan usia gestasi serta faktor-faktor lain seperti fasilitas serta kemampuan
untuk merawat bayi yang kurang bulan
Thank you
Insert the title of your subtitle Here