Anda di halaman 1dari 24

Oleh : Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.

OG (K)
Mempunyai buah hati dambaan setiap Tidak selalu terwujud
pasangan yang telah menikah

Kesulitan mendapat
ke keturunan Infertilitas

Primer

Infertilitas

Sekunder
kegagalan suatu pasangan untuk mendapatkan kehamilan sekurang
Infertilitas Primer
kurang nya dalam 12 bulan berhubungan seksual secara teratur tanpa
kontrasepsi

ketidakmampuan seseorang memiliki anak atau mempertahankan


Infertilitas Sekunder
kehamilannya

Infertilitas  Masalah medis  Dampak psikologi dan ekonomis

WHO (2010) : 8-10% pasangan suami istri mengalami infertilitas

BPS (2012) : Kejadian infertilitas di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahun nya

RisKesDas(2013) : Prevalesinya 15-25%


In Vitro Vertilization (IVF) merupakan terobosan terapi
infertilitas

IVF dikembangkan oleh Robert Edwards dan


mengantarkannya memperoleh hadiah Nobel
(Ontario,2006)

IVF mulai dilakukan pada tahun 1950an namun


hasilnya baru tampak pada tahun 1978 pada saat bayi
Louise Brown hasil IVF lahir
IVF adalah salah satu Teknologi Reproduksi
Berbantu

IVF dimulai setelah melakukan stimulasi ovarium terkontrol

Stimulasi ovarium IVF lebih agresif dibandingkan


Inseminasi intrauterin karena tujuannya
memanen ovum dalam jumlah banyak
4 langkah utama IVF

1.Ovum Pick Up (OPU)


Dengan panduan USG, ovum/sel telur di ambil dari ovarium
Ovum Pick Up (OPU)
2. Fertilisasi
Sperma diambil  Dipertemukan dengan ovum diluar tubuh
3. Kultur Embrio
Fertilisasi  Kultur embrio 3-5 hari
4. Embrio Transfer (ET)
Transfer embrio ke uterus dengan kateter kecil yang lunak
Keuntungan yang dimiliki IVF adalah
kebebasan memilih berapa jumlah embrio
yang akan di transfer ke uterus

Prosedur IVF mempunyai resiko lebih


tinggi untuk terjadinya kehamilan multipel

Transfer embrio >1 sering dipilih 


Kemungkinan sukses naik + pertimbangan
mahalnya biaya prosedur IVF
99,5% pasien TRB menjalani program IVF
0,1% menjalani GIFT (Gamet Intrafallopian Transfer)
0,4% ZIFT (Zygote Intrafallopian Transfer)

Embryo Transfer  Pilihan jumlah embryo yang ditransfer

Transfer embryo multipel meningkatkan kemungkinan terjadinya


kehamilan, namun juga meningkatkan kemungkinan terjadinya
kehamilan multipel
Komplikasi maternal :
persalinan preterm
hipertensi dalam kehamilan
preeklampsia
polihidramnion
diabetes gestasional
malpresentasi fetus
Komplikasi perdarahan post partum
kehamilan
multipel Komplikasi Bayi :
kematian dini
prematur
kecacatan
cerebral palsy
autisme
berat badan rendah
Persalinan preterm terjadi lebih sering
pada kehamilan multipel ketimbang
kehamilan tunggal

Kehamilan preterm meningkatkan


morbiditas dan mortalitas bayi

Secara statistik kehamilan multipel hasil


IVF 23% lebih beresiko berakhir preterm
ketimbang kehamilan multiple alami
Etiologi persalinan preterm pada kehamilan multipel
belum jelas, sebagian menyebutkan karena faktor
infeksi, disfungsi plasenta, obesitas, overdistensi uterus

Mekanisme persalinan preterm diduga terjadi karena


aktivasi premature proses kontraksi yang dapat
disebabkan oleh berbagai hal
Distensi myometrium  peningkatan kontraktilitas
myometrium, melepaskan prostaglandin dan
mempercepat pembentukan oxytocin.
Keseluruhan efek tersebut akan memicu persalinan
preterm
PENCEGAHAN PERSALINAN PRETERM

Transfer embrio tunggal


Menghindari mengurangi jumlah menurunkan kemungkinan
kehamilan multipel embrio yang kehamilan multipel, hal ini
setelah terapi IVF ditransfer juga ikut menurunkan
keberhasilan IVF
Sebagai jalan keluar, direkomendasikan melakukan transfer embrio berurutan
atau dikenal dengan sequential single ET (SET)

Prosedur ini terdiri dari tindakan transfer embrio tunggal dan melakukan
cryopreserving embryo (menyimpan embrio yang tersisa)

Jika pasien gagal hamil atau gagal melahirkan anak hidup pada kesempatan
pertama, maka dilakukan transfer embrio tunggal kembali dengan
menggunakan embrio cadangan yang telah disimpan.
Penggunaan transfer embrio tunggal dibanding transfer embrio
multipel akan meningkatkan biaya yang ditanggung pasien
mengingat kemungkinan terjadinya kehamilan yang mengecil dan
resiko pengulangan transfer embrio

Metode ini juga meminimalkan terjadinya kehamilan multipel


dimana kehamilan multipel membawa resiko beban biaya yang
muncul akibat komplikasi kehamilan multipel baik saat prenatal,
persalinan maupun postpartum
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa 2 kali siklus SET
lebih cost effective dibandingkan 1 siklus Double Embryo
Transfer (DET)

Biaya lebih murah jika transfer embrio tunggal dilakukan pada


wanita dengan prognosis baik yaitu wanita dengan usia <35
tahun

Untuk wanita yang sudah terdiagnosis dengan kehamilan


multipel, bisa dilakukan skrining resiko terjadinya persalinan
preterm
Skrining yang disarankan adalah panjang cervix

wanita hamil kembar 2 dengan cervix yang pendek (<2,5cm),


pengukuran saat usia kehamilan 18-24 minggu merupakan
prediksi terjadinya persalinan preterm hingga maksimal usia
35 minggu

wanita hamil triplet, cervix pendek saat usia kehamilan 14-20


minggu merupakan prediktor persalinan preterm dengan usia
kehamilan <32 minggu
Pemeriksaan fibronectin positif yang dikombinasikan
dengan pemeriksaan panjang cervix mempunyai positive
predictive value yang signifikan dan dapat menjadi
prediktor persalinan preterm

Wanita yang mempunyai faktor resiko persalinan preterm


disarankan untuk melakukan ANC lebih sering, diberikan
edukasi cukup dan perencanaan tempat persalinan.