Anda di halaman 1dari 82

FAKULTAS KEDOKTERAN Program S3 Biomedik

UNIVERSITAS ANDALAS

ANALISIS KADAR PROGESTERONE, NITRIC OXIDE, DAN


NUCLEAR FACTOR KAPPA-B PADA KEHAMILAN
ATERM DAN POSTERM

Oleh
DEFRIN

Pembimbing :
1. Prof. Dr. Eti Yerizel, MS
2. Dr. dr. Donel S, SpOG(K)
3. Dr. dr. Afriwardi, SpKO, MA
LATAR BELAKANG

Hamil Aterm

Kehamilan yang
berlangsung 37
sampai 40 minggu
atau 259 sampai 280 PERSALINAN
hari dihitung dari hari
pertama haid terakhir

Persalinan Aterm

Andalas University
LATAR BELAKANG

Kehamilan lewat waktu (postdate pregnancy)


Kehamilan lewat bulan (posterm)
kehamilan yang terjadi lebih lama
daripada tanggal taksiran kehamilan yang berlangsung
persalinan, lebih atau sama dari 42 minggu
Postdate pregnancy terjadi dalam atau 294 hari sejak awal periode
jangka waktu >40 minggu sampai haid yang diikuti oleh ovulasi 2
dengan 42 minggu minggu kemudian

Andalas University (Alexander, 2000)


LATAR BELAKANG

WHO (2012)
• 6 % dari 4 juta • 10,4-12% ≥ 42
bayi yang lahir di • 4-19 % minggu
Amerika Serikat • 3,4-4% ≥43
minggu
INDONESIA
ACOG (2006)
(2010)

Andalas University
2
LATAR BELAKANG

Kehamilan lewat waktu sering dihubungkan


dengan peningkatan risiko morbiditas dan
mortalitas perinatal

Kehamilan lewat waktu mengakibatkan


menurunnya fungsi plasenta

Mempunyai resiko lebih tinggi daripada


kehamilan aterm, terutama terhadap
kematian perinatal (aspirasi mekonium dan
asfiksia)

Andalas University
2
LATAR BELAKANG

Skotlandia tahun Smith, 2001 Vadakaluru, 2014


2001

• Angka • Risiko lahir


• Angka kematian mati 1 dari
kematian perinatal 926 pd
perinatal pada 40-42 kehamilan 
paling rendah mgg 2–3/ 40 mgg
 41 mgg 1000
• 1 : 826  41
kelahiran,
mgg
• 42 mgg 
2x lipat • 1 : 769  42
• 44 mgg 
mgg
4–6x lipat • 1 : 633  43
mgg

Andalas University
2
LATAR BELAKANG

KOMPLIKASI KEHAMILAN POSTTERM

Distosia Bahu Sindroma Dismaturitas Gawat Janin

• Insidens  2% • Insidens  20% • out come kesehatan


• Insiden distosia bahu • Kulit keriput, tipis dan yang buruk  10%
 2x lipat  posterm mengelupas, tubuh persalinan.
: aterm kurus, rambut dan • Lampung
• Meningkatkan risiko kuku panjang.
• Thn 2007 AKB 0-28
cedera orthopedik • Komplikasi neonatal hari  785 bayi,
(fraktur humerus dan jangka pendek:
klavikula) hipoglikemia, kejang, • 272 neonatus
dan gangguan (34,6%) disebabkan
• Cedera neurologis :
cedera pleksus pernapasan asfiksia yang
brakialis dan cerebral berhubungan
palsy dengan posterm
 2008 : 58%
Salah satu teori terjadinya persalinan adalah teori penurunan progesterone.
INI TIDAK TERJADI PD KEHAMILAN POSTERM

Penurunan kadar progesterone  pelepasan nitric oxide (NO) pada endotel


endometrium dan serviks serta aktifasi sitokin.

Aktifasi sitokin melalui NFk-B mengaktifkan jalur cyclo-oxygenase (COX) II


peningkatan prostaglandin E2 (PGE2).

Pelepasan NO dan peningkatan PGE2  terjadinya degenerasi kolagen serviks


dan remodeling jaringan serviks  terjadi pematangan serviks
Nuclear Factor Kappa-B (NF-kB)
berperan dalam proses inflamasi pada
akhir kehamilan  proses
pematangan serviks

Hal ini menunjukkan bahwa NF-kB


berperan sangat penting dalam
menentukan onset persalinan, dimana
penurunan kadar NF-kB dapat
mencetuskan kehamilan posterm.
LATAR BELAKANG

Melihat komplikasi yang dapat terjadi


pada kehamilan lewat waktu

Diperlukan usaha-usaha untuk


mencegah kehamilan posterm .

Salah satunya dengan mencari faktor-


faktor yang dapat menyebabkan
terjadinya kehamilan posterm

Dalam hal ini berhubungan dengan


progesteron, Nitric Oxide (NO), dan
NF-kB
Andalas University
2
RUMUSAN MASALAH

Apakah ada perbedaan kadar


Progesterone pada kehamilan aterm
dan posterm?

Apakah ada perbedaan kadar Nitric


Oxide (NO) pada kehamilan aterm
dan posterm?

Apakah ada perbedaan kadar Nuclear


Factor Kappa-B (NF-kb) pada
kehamilan aterm dan posterm?

Andalas University
2
TUJUAN PENELITIAN

TUJUAN UMUM
• Menganalisis kadar Progesterone, Nitric Oxide (NO) dan Nuclear Factor
Kappa-B (NF-kb) pada kehamilan aterm dan posterm.

TUJUAN KHUSUS
• Menganalisis perbedaan kadar Progesterone pada kehamilan aterm dan
posterm.
• Menganalisis perbedaan kadar Nitric Oxide (NO) pada kehamilan aterm
dan posterm.
• Menganalisis perbedaan kadar Nuclear Factor Kappa-B (NF-kb) pada
kehamilan aterm dan posterm.

Andalas University
2
MANFAAT PENELITIAN

MANFAAT AKADEMIK

• Memberi informasi ilmiah mengenai analisis kadar Progesterone,


Nitric Oxide (NO) dan Nuclear Factor Kappa-B (NF-kb) pada
kehamilan aterm dan posterm.

MANFAAT BAGI PRAKTISI

• Dapat dijadikan dasar bagi para klinisi dalam mengelola kehamilan


posterm dengan mengetahui analisis kadar Progesterone, Nitric
Oxide (NO) dan Nuclear Factor Kappa-B (NF-kb) pada kehamilan
aterm dan posterm.

MANFAAT BAGI MASYARAKAT

• Dapat menjadi salah satu prediktor terjadinya kehamilan posterm,


sehingga dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas perinatal.

Andalas University
2
TINJAUAN PUSTAKA
KEHAMILAN LEWAT WAKTU

• ≥ 42 minggu masa gestasi atau 294 hari  WHO, FIGO, ACOG


• Etiologi
– HPHT yang tidak benar
– Kelainan kongenital (anensefalus, hipoplasia adrenal atau
insufisiensi hipofise janin, defisiensi sulfatase plasenta),
– Kelainan letak janin, kehamilan abdominal,
– Riwayat kehamilan lewat waktu sebelumnya (risiko
kehamilan lewat waktu untuk kehamilan berikutnya
sebesar 4-15%),

Andalas University
2
– Penurunan produksi prostaglandin (PG),
– Perbedaan rendahnya kadar kortisol dalam darah bayi,
– Lilitan tali pusat pada leher janin,
– Perubahan produksi dan metabolisme estrogen
progesterone
– Kadar NO serviks yang rendah
Hubungan usia kehamilan dengan kematian perinatal
(Smith, 2001)
TINJAUAN PUSTAKA
MEKANISME PERSALINAN

Andalas University
2
TINJAUAN PUSTAKA

PROSES PERSALINAN NORMAL

Andalas University
2
TINJAUAN PUSTAKA
PROGESTERONE

Mekanisme Aksi Progesteron


dalam Kehamilan

Aktivitas
Progesterone
Progesterone progesterone
Progesterone Progesterone menghambat
menekan terhadap
sebagai anti- menghambat pembentukan
respon serviks
inflamasi gap junction reseptor
imunologik selama
oksitosin
kehamilan

Andalas University
2
TINJAUAN PUSTAKA
Functional progesterone Withdrawal

Mekanisme yang diduga mempengaruhi persalinan

Progesteron
Perubahan ekspresi
sebagai agen anti
PR-A dan PR-B
inflamasi

Progesteron
Ko-aktivator reseptor
mempengaruhi regulasi
progesterone menurun
kortisol terhadap
pada kehamilan
ekspresi gen CRH
menjelang aterm
plasenta

Peranan progesteron Ikatan progesteron


melalui jalur non- reseptor (PR) membran
genomik di miometrium.

Andalas University
2
TINJAUAN PUSTAKA
NITRIC OXIDE

Molekul gas, tak


berwarna,
sangat reaktif

Dibentuk dari L-
arginin melalui
nitric oxide
synthase (NOS).
NO Dibentuk
disetiap sel

Waktu paruh
pendek –> 4
detik

Andalas University
2
TINJAUAN PUSTAKA
PERAN NO

1. NO mengatur reproduksi wanita

Andalas University
2
TINJAUAN PUSTAKA
PERAN NO

2. NO dalam pematangan serviks


• NO serviks dilepaskan dikarenakan adanya kontraksi uterus
spontan dan manipulasi pada serviks.
• Semakin matang serviks kadar NO yang dilepaskan
semakin tinggi.
• Wanita kehamilan lewat bulan dengan kadar NO serviks
rendah, lebih sering terjadi memanjangnya durasi kehamilan
sampai terjadinya kegagalan proses persalinan dibandingkan
wanita dengan kadar NO serviks yang tinggi

Andalas University
2
TINJAUAN PUSTAKA
PERAN NO

Ostium internal serviks, di mana


pematangan mulai terjadi,
terletak berdekatan dengan
membran janin

Andalas University
2
TINJAUAN PUSTAKA
PERAN NO

Peran NO pada pematangan serviks


(Tommiska, 2006)

Andalas University
2
TINJAUAN PUSTAKA
NF-kB

Peran NF-kB dalam persalinan


(Lindstorm, 2005)

Andalas University
2
TINJAUAN PUSTAKA
NF-kB

Jalur Aktivasi NF-kB

Andalas University
2
KERANGKA
KONSEP
HIPOTESIS PENELITIAN

Ada perbedaan kadar progesterone pada kehamilan aterm dan


posterm.

Ada perbedaan kadar nitric oxide pada kehamilan aterm dan


posterm.

Ada perbedaan kadar NF-κB pada kehamilan aterm dan


posterm.

Andalas University
2
METODE PENELITIAN

Jenis dan Metode Penelitian


• Observasional dengan desain cohort study.
Lokasi & Waktu Penelitian
Lokasi & Waktu Penelitian

• Penelitian dilakukan dari bulan Januari – Juli 2018


yang dilaksanakan di Klinik bersalin, Puskesmas
rawatan dan Rumah Sakit tipe C di kota Padang
serta di Laboratorium Biomedik Fakultas
Kedokteran Universitas Andalas Padang.
METODE PENELITIAN

Populasi Penelitian

• Semua wanita hamil 37-38 minggu ( rumus Naegle)


yang kontrol di Klinik bersalin, Puskesmas rawatan
Lokasi & Waktu Penelitian
dan Rumah Sakit tipe C di kota Padang dari bulan
Mei 2018 sampai jumlah sampel terpenuhi, sesuai
kriteria inklusi yang telah setuju untuk ikut dalam
penelitian setelah mendapat penjelasan. Kemudian
pasien diikuti sampai usia kehamilan 40 minggu dan
dikategorikan termasuk kehamilan aterm ataupun
posterm.
Sampel Penelitian

TEKNIK KRITERIA
BESAR SAMPEL PENGAMBILAN
SAMPEL SAMPEL

Total Sampel Inklusi


Pengambilan
= 36 orang sampel
consecutive
sampling
Eksklusi

Andalas University
DEFINISI OPERASIONAL

VARIABEL INDEPENDEN
PROGESTERONE

Definisi Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala


Ukur
Hormon dalam serum ELISA Progesterone ng/ml Rasio
wanita yg penting untuk Colorimetric
pengaturan menstruasi dan Assay Kit
kehamilan (R&D
Systems,
USA)

Andalas University
DEFINISI OPERASIONAL

VARIABEL INDEPENDEN
KADAR NO

Definisi Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala


Ukur
Kadar serum yg berperan ELISA Nitric Oxide micromol/L Rasio
sebagai pelindung atau Colorimetric
vasoprotektif yg disintesis Assay Kit
oleh sel endotel (R&D
Systems,
USA)

Andalas University
DEFINISI OPERASIONAL

VARIABEL INDEPENDEN
KADAR NF-kB

Definisi Cara Alat Ukur Hasil Ukur Skala


Ukur Ukur
Kadar serum yg ELISA Human Nuclear Factor ng/ml Rasio
penting dalam sistem Kappa B (NF-κB) My
kekebalan tubuh yang Biosource ELISA kit
diaktivasi oleh sitokin protokol.

Andalas University
DEFINISI OPERASIONAL

VARIABEL DEPENDEN
Kehamilan

Definisi Cara Ukur Hasil Ukur Skala Ukur

Pertumbuhan dan perkembangan Umur kehamilan • Kehamilan aterm: Ordinal


janin intrauterine mulai sejak konsepsi ditentukan dari usia kehamilan
dan berakhir sampai permulaan HPHT sampai 37-40 minggu
persalinan. dengan saat
penelitian • Kehamilan
dengan rumus posterm: usia
Naegle kehamilan >40
minggu

Andalas University
BAHAN DAN ALAT

• Sampel darah (serum)


• ELISA kit

ANALISIS DATA

• Bivariat
• (Uji Independent sample T test)
• Multivariat
• (regresi binary logistik)

Andalas University
PROSEDUR PENELITIAN
• Jelaskan tujuan penelitian dan cara pengambilan sampel kpd
subjek penelitian
• Catat identitas subjek penelitian
• Siapkan spuit 3 cc dan tabung vacutainer untuk sampel darah,
dan lakukan pencatatan data subjek penelitian.
• Semua pasien dengan usia kehamilan 37-38 minggu yang
masuk kriteria inklusi menjadi subyek penelitian, diambil secara
berurutan menurut waktu kedatangan (consecutive admission).
• Pengambilan sampel darah diambil melalui vena mediana cubiti
dengan spuit 3 cc, dimasukkan kedalam tabung vacutainer
untuk mengukur kadar serum progesterone, nitric oxide, dan
NF-κB dengan menggunakan metode ELISA.
• Pemeriksaan seluruh sampel dilakukan di Bagian Biomedik
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Andalas University
2
PROSEDUR PEMERIKSAAN
SAMPEL

• SESUAI SOP LAB BIOMEDIK


FKUA
• BERDASARKAN PETUNJUK
ELISA KIT
QUALITY PERSYARATAN
CONTROL ETIK PENELITIAN

Andalas University
2
ALUR PENELITIAN
ALUR
PENELITIAN

Andalas University
2
HASIL DAN PEMBAHASAN
DATA PENELITIAN

Penelitian dilakukan pada 106 ibu hamil usia kehamilan 37-38 minggu
dan diikuti sampai usia kehamilan 40 minggu

Didapatkan 2 kelompok : 36 orang melahirkan pada usia kehamilan 40


minggu atau kurang (kehamilan aterm) dan 36 orang melahirkan pada
usia kehamilan lebih 40 minggu (kehamilan posterm).

Penelitian dilakukan di Klinik bersalin, Puskesmas rawatan dan Rumah


Sakit tipe C di kota Padang serta di Laboratorium Biomedik Fakultas
Kedokteran Universitas Andalas Padang.
HASIL PENELITIAN

KARAKTERISTIK RESPONDEN

Karakteristik Kehamilan Kehamilan p value


Aterm Posterm
(n=36) (n=36)
Usia Ibu (mean±SD) 28,05±4,08 28,69±4,94 0,552
Paritas (%)
1 15(41,7) 22(61,1) 0,225
2 12(33,3) 9(25,0) -
3 8(22,2) 3(8,3)
4 1(2,8) 2(5,6)
Leukosit 10776,97±133 10450,75±13 0,301
4,89 19,03
Index MasaTubuh
(%) 0,765
Normal 7 (19,4) 9 (25,0)
Overweight 23 (63,9) 20 (55,6)
Obesitas 6 (16,7) 7 (19,4)
PEMBAHASAN

• Menurut teori Cunningham, kelompok usia 20-35


tahun merupakan kelompok usia reproduksi sehat
dan sebagian besar kehamilan akan terjadi pada
kelompok usia ini (Cunningham, 2014).
• Hal ini sesuai dengan penelitian ini dimana, usia ibu
baik pada kehamilan aterm maupun posterm
terbanyak pada usia 28 tahun.
PEMBAHASAN

KARAKTERISTIK RESPONDEN

Kehamilan posterm jarang dijumpai pada


multipara karena wanita dengan paritas >3
memiliki uterus sudah sering meregang
(Varney, 2007).

Kehamilan posterm 95% terjadi pada ibu


dengan kehamilan pertama (Cunningham,
2014).

Multipara jarang mengalami kehamilan


posterm dikarenakan ibu telah memiliki
pengalaman sehingga mampu
menentukan HPHT (Widayati, 2017).
PEMBAHASAN

KARAKTERISTIK RESPONDEN

Menurut Manuaba angka posterm


meningkat seiring meningkatnya usia
ibu ketika hamil dan indeks massa
tubuh (Manuaba, 2010).

Selain faktor usia ibu, kehamilan


posterm juga berkaitan dengan
pengetahuan ibu yang masih
kurang tentang cara menentukan
usia kehamilan (Fibrila, 2014)
HASIL PENELITIAN

UJI NORMALITAS

Variabel p
value
Progesteron (ng/mL) 0,000
NF-κB (ng/ml) 0,200
NO (µmol/L) 0,000

• Menggunakan Kolmogorov-Smirnov
• Kadar NF-κB terdistribusi normal dengan p > 0,05,
• Kadar Progesteron dan NO terdistribusi tidak normal dengan p<0,05.
Sehingga dilakukan Transformasi data melalui fungsi Log10
• Kadar NO terdistribusi normal dengan p = 0,053 (p > 0,05)
• Progesteron masih terdistribusi tidak normal dengan p = 0,000 (p<0,05)
dan dilakukan uji nonparametric dengan Mann-Whitney test.
Andalas University
HASIL PENELITIAN

PERBEDAAN KADAR PROGESTERON ANTARA


KEHAMILAN ATERM DENGAN KEHAMILAN POSTERM

Kadar Progesterone(ng/mL)
Kelompok n Rerata ± SD p value

Kehamilan Aterm 36 26,15±13,04 0,000

Kehamilan Posterm 36 106,73 ± 124,76

Kadar progesteron pada kehamilan posterm lebih tinggi


dibandingkan kehamilan aterm. Hasil uji statistik : p=0,000
(p value < 0,05).
Terdapat perbedaan bermakna kadar progesteron pada
kehamilan aterm dengan kehamilan posterm.

Andalas University
PEMBAHASAN
Proses pelucutan progesteron (Functional progesterone withdrawal) dianggap
sebagai perangsangan utama untuk terjadinya parturisi, dimana secara fisiologis
terjadi hilangnya fungsi PR yang sebelumnya mempertahankan ketenangan uterus
dan menghambat proses persalinan.

Pada kehamilan aterm, progesteron akan mengalami penurunan sehingga terjadi


inisiasi persalinan melalui kontraksi uterus, dilatasi serviks dan pecahnya selaput
ketuban.

Apabila proses pelucutan progesterone tidak terjadi yang ditandai dengan masih
tingginya kadar progesterone pada akhir kehamilan maka kehamilan akan berlanjut
jadi kehamilan posterm
PEMBAHASAN

Apabila pelucutan progesterone tidak terjadi,


masih tingginya kadar progesterone pada
akhir kehamilan maka kehamilan akan
berlanjut jadi kehamilan posterm (Equils,
2010; Sunil, et al, 2016).

Pada persalinan aterm : peningkatan


sitokin inflamasi, prostaglandin
meningkat, akan mencetuskan
persalinan. sedangkan progesteron
memiliki efek negatif terhadap produksi
prostaglandin (M Dodd, 2009).

Andalas University
PEMBAHASAN

Elovits melakukan eksperimen : seekor tikus hamil


diinduksi untuk terjadi inflamasi intrauterin dengan
injeksi lipopolisakarida intrauterin sehingga muncul
kontraksi, kemudian di beri progesterone.

Pada eksperimen ini didapatkan bahwa terapi


progesteron berhubungan dengan supresi gen
yang mengaktivasi kontraksi dan mediator
inflamasi sehingga proses pematangan serviks
dapat dicegah.

Disimpulkan : progesteron yang tidak mengalami


penurunan, tidak akan mencetuskan proses
persalinan dan berhubungan dengan peningkatan
kejadian kehamilan posterm
Andalas University
PEMBAHASAN

Tan et al (2012) : progesteron mempunyai


efek anti inflamasi melalui reseptor PR-B.

Reseptor PR-B meningkatkan kerja inhibitor


κBα yang merupakan penghambat
transkripsi Nuclear Factor kappa B.

Sehingga pemberian progesteron akan


menghambat peningkatan kadar NF-κB,
akhirnya menghambat proses persalinan.

Andalas University
HASIL PENELITIAN

PERBEDAAN KADAR NF-κB ANTARA KEHAMILAN ATERM


DENGAN KEHAMILAN POSTERM

Kadar NF-κB (ng/mL)


Kelompok n Rerata ± SD p value

Kehamilan Aterm 36 8,16±2,64 0,766

Kehamilan Posterm 36 7,97±2,67

Kadar NF-κB pada kehamilan aterm lebih tinggi dibandingkan


dengan kehamilan posterm. Hasil uji statistik : p=0,766
(p value > 0,05),
Tidak terdapat perbedaan bermakna kadar NF-κB antara
kehamilan aterm dengan kehamilan posterm.
Andalas University
PEMBAHASAN

Pada jaringan, NF-κB merupakan


regulator kunci pelepasan sitokin pro-
inflamasi sehingga tercetusnya
persalinan (Lappas et al, 2002).

Stres pd kehamilan, penekanan


serviks, dan surfaktan janin
dapat meningkatkan NF-κB
(Condon, 2006)

Andalas University
PEMBAHASAN

Stjernholm et al : NF-kB berperan


dalam meregulasi proses inflamasi
pada akhir kehamilan dan berujung
pada proses pematangan servik.

Hasil penelitian lain Stjernholm


menyimpulkan bahwa kadar NF-kB
serum pada kehamilan posterm
lebih rendah dari kadar NF-kB pada
kehamilan aterm.

Andalas University
PEMBAHASAN

• Berbagai produk bakteri dapat mengaktifkan NF-Κb.


• Identifikasi Toll-like receptors (TLRs) sebagai molekul pengenal
pola spesifik dan temuan bahwa stimulasi TLRs dapat
mengaktivasi NF-κB.

• Aktivasi NFkB pada sel normal akan mengaktifkan beberapa


gen yang terlibat dalam proses inflamasi yang pada akhirnya
dapat mencetuskan proses persalinan (Liu, 2017).
PEMBAHASAN

• Pada kondisi obesitas, sekresi leptin di tubuh sangat berlebih.


Gen yang memproduksi leptin disebut gen obese (ob) yang
berperan penting dalam regulasi berat badan dan faktor
inflamasi (Indra, 2006).

• Inflamasi terjadi karena leptin mengaktifkan faktor transkripsi


NF-κB melalui jalur mitogen-activated protein kinase (MAPK)
 teraktifasi akan menginduksi proses inflamasi melalui
masuknya sel-sel inflamasi ke dalam uterus dan peningkatan
ekspresi sitokin pro-inflamasi  produksi COX-2  proses
persalinan (Young, 2002, David, 2005).
PEMBAHASAN

• Pada penelitian ini, kedua kelompok sampel


sama-sama memiliki kelompok overweight
yang tinggi sehingga tidak didapatkan
perbedaan bermakna kadar NF-κB pada kedua
kelompok penelitian.
PEMBAHASAN

• Berdasarkan analisis peneliti, terdapat


kencenderungan peningkatan kadar NF-κB pada
kehamilan aterm dibandingkan kehamilan posterm,
meskipun tidak bermakna secara statistik.
PEMBAHASAN

• Ini disebabkan karena berbagai macam faktor dapat


berpengaruh pada proses aktivasi NF-κB yaitu seperti stress,
radikal bebas, radiasi ultraviolet, LDL teroksidasi dan antigen
viral atau bakterial dan beberapa kondisi penyakit seperti
kanker, arthritis, inflamasi kronis, asma, penyakit saraf
degeneratif dan penyakit jantung.

• Pada penelitian ini, faktor-faktor tersebut kemungkinan


mempengaruhi kadar NF-κB pada kehamilan posterm
sehingga didapatkan kadar NF-κB tidak berbeda secara
statistik.
PEMBAHASAN

• Selain itu dikarenakan kadar leukosit pada


karakteristik kedua kelompok penelitian tidak
berbeda bermakna, sehingga membuat kadar
NF-κB juga tidak berbeda secara statistik.
HASIL PENELITIAN

PERBEDAAN KADAR NO ANTARA KEHAMILAN ATERM


DENGAN KEHAMILAN POSTERM

Kadar NO (ng/mL)
Kelompok n Rerata ± SD p value

Kehamilan Aterm 36 7,20±5,93 0,440

Kehamilan Posterm 36 6,24±4,41

Kadar NO lebih tinggi pada kehamilan aterm dibandingkan


kehamilan posterm. Uji statistik didapatkan p=0,440 (p value > 0,05).
Tidak terdapat perbedaan bermakna kadar NO antara kehamilan
aterm dengan kehamilan posterm.

Andalas University
PEMBAHASAN

• Salah satu mediator kimia peradangan yang berperan


dalam proses pematangan serviks adalah
prostaglandin yang disintesis menggunakan enzim
cyclo-oxigenase (COX) II.

• Prostaglandin dibentuk melalui reaksi oksidasi asam


arakhidonat dengan bantuan enzim COX II. NO
berperan dalam stimulasi COX II yang akan
menyebabkan pembentukan prostaglandin.
• Prostaglandin menginduksi pelepasan NO serviks
wanita hamil, dan respon pelepasan NO terhadap
prostaglandin semakin meningkat sesuai umur
kehamilan(Tommiska, 2006).

• Prostaglandin sendiri mempunyai efek stimulasi


terhadap eNOS yang akan memicu pembentukan NO
lebih besar, sehingga semakin matang serviks maka
akan semakin tinggi kadar NO.
• Ini menjelaskan lebih tingginya kadar NO pada
kehamilan aterm dibandingkan kehamilan posterm
(Tommiska, 2006).
PEMBAHASAN

Penelitian di Finlandia tahun 2004


ditemukan kadar NO serviks pada kehamilan
posterm lebih rendah, yakni 19,4 µmol/L
dibandikan dengan kehamilan aterm yang
sudah inpartu, yakni 106 µmol/L.

Rendahnya Kadar NO serviks akan


menghambat terjadinya pematangan
serviks sehingga tidak terjadinya
persalinan dan berlanjut menjadi
kehamilan posterm (Tommiska, 2004).

Andalas University
• Pada studi yang dilakukan pada manusia, eNOS
menjadi senyawa yang menstimulasi serviks selama
kelahiran pervaginam (Ledingham et al, 2000).

• Produksi berlebihan NO dapat mengakibatkan


pematangan serviks, kerapuhan membran dan
kelahiran prematur (Tommiska, 2006).
• Pada wanita dengan kehamilan lewat bulan yang
memiliki kadar NO rendah, akan lebih sering terjadi
memanjangnya durasi persalinan sampai terjadinya
kegagalan proses persalinan dibandingkan pada
wanita dengan kadar NO tinggi (Tommiska, 2006).

• Semakin matang serviks, maka kadar NO yang


dilepaskan semakin tinggi.
• Pada wanita multipara, kadar NO yang
dilepaskan lebih tinggi dibandingkan nulipara.

• NO dilepaskan dikarenakan adanya kontraksi


uterus spontan dan manipulasi pada serviks.
(Tommiska, 2006).
LANJUTAN

Pada penelitian ini


didapatkan kecenderungan
kadar NO yang lebih tinggi
pada kehamilan aterm
dibandingkan kehamilan
posterm.

Sesuai dengan hasil


penelitian : kelompok aterm
: multipara > nullipara
kelompok posterm :
nullipara > multipara.

Andalas University
HASIL PENELITIAN

Seleksi Bivariat Perbedaan Kadar Progesteron, NF-κB , dan


NO pada Kehamilan Posterm

Variabel p-value
Kadar Progesteron (ng/ml) 0,001*
Kadar NF-kB (ng/ml) 0,364
Kadar NO (𝛍mol/ml) 0,007*

Hasil seleksi bivariat diketahui bahwa variabel Progesteron dan


NO menghasilkan p value < 0,25 dan dapat dilanjutkan dengan
dilakukan analisis multivariat.

Andalas University
HASIL PENELITIAN

Hasil Analisis Multivariat Faktor-Faktor yang Berhubungan


dengan Kehamilan Posterm

Variabel B SE Wald p-value OR

Kadar Progesteron (ng/ml) -0,270 0,078 11.933 0,001 0,783

Kadar NO (𝛍mol/L) 0,706 0,249 8,075 0,004 2,026

Dari analisis multivariat dapat disimpulkan bahwa dari seluruh


variabel yang diteliti, yang menjadi faktor dominan sebagai
prediktor kehamilan posterm adalah NO dengan nilai OR
2,026 jika berkaitan dgn kadar Progesteron.

Andalas University
PEMBAHASAN

Kadar NO yang tinggi merupakan faktor utama


dalam pematangan serviks. Proses pematangan
serviks dimulai dengan adanya penurunan reseptor
Progesterone-B.

Penurunan reseptor Progesteron-B pada sel


miometrium akan menginduksi eNOS yang akan
mensintesis NO yang menyebabkan pematangan
serviks.

NO bekerja mematangkan serviks dengan


meningkatkan permeabilitas vaskuler,
meningkatkan regulasi MMP, sekresi sitokin dan
menginduksi apoptosis jaringan serviks.

Andalas University
• Pada proses pematangan serviks terjadi pemecahan
kolagen serviks serta peningkatan kandungan air,
sehingga jaringan serviks menjadi lunak dan terjadi
pembukaan ostium.

• NO mengaktifkan tahap lanjutan pematangan


serviks, bekerja sama dengan pathway prostaglandin
dengan cara menginduksi COX-II.
• Interaksi ini akan memperkuat efek pro-inflamasi NO.
• NO memegang peranan multi-fungsional dalam
proses inflamasi dan berbagai efek pro-inflamasi
berupa peningkatan permeabilitas vaskuler,
sitotoksisitas, kerusakan jaringan, perubahan sintesa
glikosaminoglikans dan apoptosis.

• MMP juga diketahui merupakan target potensial NO


(Drapier, 1996).
• Dari hasil Analisa multivariat didapatkan dari seluruh
variabel yang diteliti, yang menjadi faktor dominan
prediktor kehamilan posterm adalah NO dengan nilai
OR 2,026 jika berkaitan dgn kadar Progesterone.

• Walaupun dari analisa bivariat perbedaan kadar NO


pada kehamilan aterm dan posterm tidak bermakna
secara statistik.
• Peningkatan NO dapat menyebabkan proses parturisi
berlangsung dan berakhir dengan adanya persalinan,
namun apabila didapatkan kadar NO rendah maka
kehamilan akan terus berlangsung dan berakhir dengan
kehamilan posterm.

• Apabila dilakukan stimulasi sintesis NO pada akhir


kehamilan, maka kejadian kehamilan posterm dapat
dicegah sehingga morbiditas dan mortalitas janin dapat
menurun.
KETERBATASAN PENELITIAN

Tidak membedakan kelompok penelitian berdasarkan berat badan.

Tidak mengeksklusi infeksi tanpa manifestasi klinis.

Tidak memeriksa marker yang stabil (enzim).

Andalas University
KEBARUAN PENELITIAN

Pada penelitian ini ditemukan bahwa NO


berperan pada terjadinya kehamilan posterm
yang berkaitan dengan progesterone. Sehingga
kadar NO yang rendah dengan kadar
progesterone yang tinggi dapat
dipertimbangkan untuk dipergunakan sebagai
prediktor kehamilan posterm.

Andalas University
KESIMPULAN

1. Kadar Progesterone lebih tinggi secara bermakna pada


kehamilan Posterm dibanding dengan kehamilan Aterm.
2. Kadar NO lebih tinggi pada kehamilan Aterm dibanding
dengan kehamilan Posterm, meskipun secara statistik
tidak bermakna.
3. Kadar NF-κB lebih tinggi pada kehamilan Aterm
dibanding dengan kehamilan Posterm, meskipun secara
statistik tidak bermakna.
4. NO dapat dipergunakan sebagai prediktor kehamilan
posterm berkaitan dengan Progesterone.
SARAN

Pemeriksaan sitokin pro inflamasi yang


lain yaitu IL-1, IL-8 dan TNF-α yang
kemungkinan mempunyai
Melakukan pemeriksaan yang
kadar NO dan
NF-kB dengan memperhatikan berat
badan, infeksi virus dan pemeriksaan
marker yang stabil.

Andalas University
TERIMA KASIH