Anda di halaman 1dari 17

 Halitus (Latin) = nafas; osis = proses

 Bau mulut, oral malodor, bad breath


 Umum terjadi saat bangun tidur (pagi hari)
= morning halitosis
› Terjadi karena penurunan aliran saliva dan
pembersihan mulut saat tidur
› Dapat hilang secara alami setelah makan,
minum, dan membersihkan mulut (gosok gigi)
 Alasan utama pasien datang ke dokter gigi
setelah karies dan penyakit periodontal
- Parsley (Itali)
- Cengkeh (Irak) Resep alami untuk
Halitosis terjadi sejak
menghilangkan bau mulut
- Kulit jambu (Thailand) berabad-abad lalu
sejak dahulu
- Kulit telur (China)

Sepertiga populasi dunia mengalami bau mulut kronis


sedang (moderate halitosis), dimana sekitar 5%
diantaranya mengalami halitosis berat (Rösing &
Loesche, 2011)
Oral dan organ
lain (telinga,
hidung,
tenggorokan)
Sumber bau mulut

Extra-oral (sistemik)
Oral and related Systemic
causes
causes
Oral related conditions and diseases
Acute gingivitis Acute febrile illness
Adult and aggressive periodontitis
Respiratory tract infection (bronchitis,
Dry socket asthma)
Xerostomia
H. Pylori infection
Too much sugar, caries in children
Oral ulceration Gastro-esophageal reflux disease (GERD)
Habits- mouth breathing, smoking, alcohol Hepatic failure
Renal failure
Trimethylaminuria (fish odour syndrome)
Respiratory disease Overeating and Poor digestion
Sinusitis, tonsilitis
Stress, not well-rested
Postnasal drip, nasal
polyps

Drugs
Volatile food stuffs Chloral hydrate, nitrites and nitrates
Garlic, onion, spiced Amphetamines
food

(Madhushankari et al, 2015)


 Patogenesis yang sebenarnya tidak diketahui,
kemungkinan utama adalah karena mikroba yang
menyebabkan pembusukan sisa makanan, sel-sel mati,
saliva dan darah di dalam mulut.
 Interaksi bakteri yang umum terjadi pada halitosis adalah
proses proteolitik (pemecahan protein atas kerja suatu
enzim) dan anaerob
 Bakteri Gram negatif (umumnya), Gram positif yang
diketahui menyebabkan halitosis: Stomacoccus
mucilaginous
 Tidak berhubungan dengan infeksi bakteri
 Pemecahan enzimatik oleh bakteri menghasilkan
senyawa yang menyebabkan bau mulut:
› Volatile sulphur compounds (VSC)
› Diamin
› Asam lemak rantai pendek
(Scmidt et al, 2015)
•Tes sensorik yang diukur berdasar persepsi pemeriksa
untuk menentukan bau mulut pasien
•Tata cara: mencium nafas pasien dan menilai level
bau mulutnya, dengan memasukkan pipa
transparan ke mulut pasien, pasien tarik nafas
perlahan, lalu dihembuskan perlahan.
Pemeriksaan •Untuk hasil yang reliable, evaluasi dilakukan pada 2
atau 3 hari berbeda, terutama pada kasus
organoleptis pseudohalitosis atau halitophobia
•Sebelum uji organoleptis kondisi pasien dijaga
(dilarang menggunakan antibiotik 3 minggu
sebelumnya, makan bawang dan makanan pedas
48 jam sebelumnya dan kosmetik yang berbau 24
jam sebelumnya, dilarang merokok 12 jam sebelum
uji)

•Untuk mendeteksi adanya sulfur dalam nafas subjek


Gas •Gold standard utk halitosis karena dapat
chromatography menganalisis kandungan VSC secara spesifik pada
(GC) bau mulut, tapi prosedurnya butuh operator yang
handal

•Bisa dengan Halimeter, tapi tidak spesifik untuk VSC


Monitoring sulfida (sensitif terhadap hidrogen sulfida, tapi tidak
terhadap metil merkaptan)
Halimeter
 Secara klinis, dibagi menjadi 3 (Madhushankari et al,
2015):

• Halitosis fisiologis = morning halitosis


Real halitosis • Halitosis patologis = halitosis patologis oral dan
extra-oral (sistemik)

• Keluhan halitosis tanpa adanya halitosis yang


nyata
Pseudohalitosis • Dapat diatasi dengan konseling dan prosedur
pembersihan mulut sederhana

•Pasien mengalami ketakutan berlebih terhadap bau


mulut
Halitophobia •Pasien merasakan gejala bau mulut, tapi tidak
mengalami bau mulut (delusi/ dihantui bau mulut)
•Diidentifikasi melalui tes kejiwaan/ psikologis
(Yaegaki & Coil, 2000)
Klasifikasi Deskripsi

I. Real halitosis 1. Bau mulut jelas dengan intensitas yang tidak dapat diterima secara sosial

A. Halitosis fisiologis 1. Bau mulut muncul karena proses pembusukan pada lubang gigi.
2. Berasal dari bagian belakang lidah

B. Halitosis patologis

(i) Oral 1. Halitosis disebabkan oleh penyakit, kondisi patologis jaringan oral
2. Halitosis berasal dari lapisan lidah ditambah dengan kondisi patologis
(penyakit periodontal, xerostomia)
(ii) Extra-oral 1. Bau mulut berasal dari nasal, paranasal, dan/ laring
2. Bau mulut berasal dari saluran nafas atau saluran pencernaan atas

II. Pseudo-halitosis 1. Bau mulut tidak jelas terasa bagi orang lain, meski pasien merasa
demikian
2. Kondisi lebih baik setelah konseling, edukasi, dan pembersihan mulut
sederhana
III. Halitophobia 1. Pasien tetap merasa bau mulut setelah treatment untuk real halitosis
dilakukan
2. Tidak ada bukti fisik dan sosial bahwa pasien bau mulut
1. Saliva

2. Gingivitis dan periodontitis

3. Lapisan lidah

4. Pernafasan mulut

5. Penyakit dan peningkatan produksi mukus yang berhubungan dg pernafasan

6. Patologi gastointestinal

7. Kondisi sistemik

8. Makanan dg bau menyengat


1. Saliva
• Fungsi utama:
• Proteksi: beraksi membersihkan mulut dari bakteri dan sisa makanan
• Antibakteri: mengandung IgA salivary, lisozim, lactoferin, glikoprotein,
bersifat sedikit asam (pH 6,5) menghambat pertumbuhan bakteri Gram
negativ dan anaerob
• Xerostomia (mulut kering) menyebabkan penurunan aliran saliva
penurunan aktivitas pembersihan  bau mulut
• Endapan mukus dan alkalisasi  mendukung lingkungan proteolitik oleh
bakteri
• Saat tidur produksi saliva menurun  terjadi morning halitosis  hilang di
siang hari

2. Gingivitis dan periodontitis


• Celah antara gigi dan gusi = tempat sisa makanan  terjadi pembusukan
oleh bakteri
• Pendarahan pada gingivitis dan periodontis memperparah halitosis
3. Lapisan lidah

•Orang dengan kebersihan mulut terjaga dapat mengalami halitosis, karena bagian
posterior dorsal lidah (lidah bagian depan) atau area papillary menjadi tempat
bertahannya sel-sel mati, leukosit, konstituen saliva, dan mikroorganisme sehingga
memungkinkan pembusukan oleh bakteri
•Solusi: Pembersihan permukaan lidah

4. Pernafasan mulut

•Bernafas dengan mulut menyebabkan mulut kering (biasanya pada anak2) karena
menyebabkan permukaan mulut kering akibat penguapan saliva

5. Penyakit dan peningkatan produksi mukus yang berhubungan


dengan pernafasan
•Penyakit yang berhubungan dg pernafasan:
•Sinusitis
•Tonsilitis
• meningkatkan produksi mukus  meningkatkan aktivitas bakteri
•Kebiasaan merokok dan alkoholik meningkatkan produksi mukus
6. Patologi gastrointestinal
• Jarang menyebabkan halitosis
• Mungkin terjadi karena infeksi Helicobacter pylori dan refluks GI
7. Kondisi sistemik
• Penyakit tertentu menimbulkan halitosis dengan aroma tertentu:
• Asma  bau asam
• Masalah ginjal  bau amoniak

8. Makanan dengan bau menyengat


• Makanan diabsorpsi tubuh dan diedarkan ke seluruh tubuh
sehingga mempengaruhi bau badan dan mulut
Pengendalian halitosis dapat dilakukan
dengan:
Edukasi pasien

Mengatasi penyebab: peran dokter diperlukan untuk menangani halitosis


karena penyakit sistemik

Menghindari rokok dan makanan berbau tajam (bawang, daun bawang,


durian)

Menjaga kebersihan mulut: sikat gigi, flossing dan membersihkan lidah

Menggunakan produk perawatan mulut, seperti mouthwashes yang


mengandung chlorhexidine, triclosan, zinc

Permen karet, parsley, mint, cengkeh dapat membantu menyamarkan bau


mulut