Anda di halaman 1dari 156

METODE MAGNETIK

APLIKASI METODE MAGNETIK


• Eksplorasi minyak dan gas bumi
• Eksplorasi Panas Bumi
• Eksplorasi Bijih Besi
• Eksplorasi Air
DASAR TEORI METODE
MAGNETIK
Surinah (155090701111004)
Aditya Nur Ramadhan (15509070711006)
PRINSIP DASAR MAGNETIK

Gaya Magnetik
Charles Augustin de Coulomb pada tahun 1785 menyatakan bahwa gaya magnetik
berbanding terbalik terhadap kuadrat jarak antara dua muatan magnetik, yang
persamaannya mirip seperti hukum gaya gravitasi Newton.
Dengan demikian, apabila dua buah kutub P1 dan P2 dari monopole magnetik yang
berlainan terpisah pada jarak r, maka persamaan gaya magnetik dinyatakan seperti berikut,
Kuat Medan Magnetik
Gaya magnetik 𝐹 m per satuan muatan P1 didefinisikan sebagai kuat medan magnetik
terukur (H).
Dengan demikian dihasilkan kuat medan magnet pada muatan P1, dapat dinyatakan
sebagai,

• Intensitas magnetik
Jika suatu benda terinduksi oleh medan magnet 𝐻 , maka besar intensitas magnetik yang
dialami oleh benda tersebut adalah
𝑀 = 𝑘. 𝐻 dimana, 𝐻 adalah intensitas magnetisasi, k adalah suseptibilitas magnetik.
Suseptibilitas
- Dinyatakan sebagai tingkat termagnetisasinya suatu benda karena
pengaruh medan magnet utama, dimana
𝑘 = 4𝜋𝑘′ dimana, k’ adalah suseptibilitas magnetik (semu), k adalah
suseptibilitas magnetik
- Medan magnetik induksi dan magnetik total
Adanya medan magnetik regional yang berasal dari bumi dapat
menyebabkan terjadinya induksi magnetik pada batuan di kerak bumi yang
mempunyai suseptibilitas yang tinggi. Medan magnetik yang dihasilkan
pada batuan ini sering disebut sebagai medan magnetik induksi atau medan
magnetik sekunder.
Kemagnetan bumi
Medan magnet bumi secara sederhana dapat digambarkan sebagai medan
magnet yang ditimbulkan oleh batang magnet raksasa yang terletak di
dalam inti bumi, namun tidak berimpit dengan garis utara-selatan geografis
Bumi.
Beberapa alasan sehingga bumi memiliki medan magnetik, diantaranya;
• 1.Kecepatan rotasi Bumi yang tinggi
• 2.Proses konveksi mantel dengan inti luar bumi (bersifat kental)
• 3.Inti dalam (padat) yang konduktif, kandungan yang kaya besi.
Kutub geomagnetik
Geomagnetical pole (kutub geomagnetik/kutub dipole) adalah persimpangan sudut
kutub geografis dari permukaan bumi dengan sumbu magnet batang hipotesis yang
ditempatkan di pusat bumi dan diperkirakan sebagai bidang geomagnetik
• Geomagnetical pole (kutub geomagnetik / kutub dipole) adalah
persimpangan sudut kutub geografis dari permukaan bumi dengan sumbu
magnet batang hipotesis yang ditempatkan di pusat bumi dan
diperkirakan sebagai bidang geomagnetik
• Terdapat dua macam kutub pada belahan bumi yang disebut geomagnetik
poles yaitu : Kutub utara geomagnet dan kutub selatan geomagnet.
• a. Kutub utara magnet terletak di Canadian Artic Island dengan lintang :
75,5º BT dan bujur : 100,4º BB.
• b. Kutub selatan magnet terletak di Coast of Antartica South of Tasmania
dengan lintang : 66,5º LS dan bujur : 140º BT.
The international geomagnetic reference field (IGRF)

IGRF adalah nilai matematis standar dari medan magnet utama bumi
akibat rotasi dan jari–jari bumi. IGRF merupakan upaya gabungan antara
pemodelan medan magnet dengan lembaga yang terlibat dalam
pengumpulan dan penyebarluasan data medan magnet dari satelit,
observatorium, dan survei di seluruh dunia yang setiap 5 tahun diperbarui
Medan magnet bumi terdiri dari 3 bagian :

-Medan magnet utama (main field)


-Medan magnet luar (external field)
-Medan magnet anomali
Medan magnet utama (main field)

Medan magnet utama dapat didefinisikan sebagai medan rata-rata hasil


pengukuran dalam jangka waktu yang cukup lama mencakup daerah
dengan luas lebih dari 106 km2.
Medan magnet luar (external field)

Pengaruh medan magnet luar berasal dari pengaruh luar bumi yang
merupakan hasil ionisasi di atmosfir yang ditimbulkan oleh sinar
ultraviolet dari matahari. Karena sumber medan luar ini berhubungan
dengan arus listrik yang mengalir dalam lapisan terionisasi di atmosfir,
maka perubahan medan ini terhadap waktu jauh lebih cepat
Medan magnet anomali

Medan magnet anomali sering juga disebut medan magnet lokal (crustal
field). Medan magnet ini dihasilkan oleh batuan yang mengandung
mineral bermagnet seperti magnetit (Fe7S5), titanomagnetite (Fe2TiO4)
dan lain-lain yang berada di kerak bumi.
Secara garis besar anomali medan magnetik disebabkan oleh medan
magnetic remanen dan medan magnetik induksi. Anomali yang diperoleh
dari survei merupakan hasil gabungan medan magnetik remanen dan
induksi, bila arah medan magnet remanen sama dengan arah medan
magnet induksi maka anomalinya bertambah besar. Dan sebaliknya
Dalam survei magnetik, efek medan remanen akan diabaikan apabila
anomali medan magnetik kurang dari 25% medan magnet utama bumi
(Telford et al, 1990), sehingga dalam pengukuran medan magnet berlaku:

dimana, H T adalah medan magnet total bumi, H A adalah medan magnet


anomali, H M adalah medan magnet utama bumi, H L adalah medan
magnet luar.
Suseptibilitas Batuan

Harga suseptibilitas (k) ini sangat penting di dalam pencarian benda


anomaly karena sifat ferromagnetik untuk setiap jenis mineral dan batuan
yang berbeda antara satu dengan lainnya. Nilai (k) pada batuan semakin
besar jika dalam batuan tersebut semakin banyak dijumpai mineral-mineral
bersifat magnetik.
Berdasarkan nilai (k) dibagi menjadi kelompok-kelompok jenis material dan batuan
peyusun litologi bumi, yaitu;
-Diamagnetik : Mempunyai suseptibilitas (k) negatif dan kecil dan Suseptibilitas (k)
tidak tergantung dari pada medan magnet luar. Contoh : bismuth, grafit, gipsum,
marmer, kuarsa, garam
-Paramagnetik : Suseptibilitas k positif dan sedikit lebih besar dari satu. Suseptibilitas
k bergantung pada temperatur. Contoh : piroksen, olivin, garnet, biotit, amfibolit dll
-Ferromagnetik : Suseptibilitas k positif dan jauh lebih besar dari satu. Suseptibilitas k
bergantung dari temperatur.
Ferromagnetik dibagi menjadi dua yaitu;
-Antiferromagnetik
-Ferrimagnetik
Antiferromagnetik

Pada bahan antiferromagnetik domain-domain tadi menghasilkan dipole


magnetik yang saling berlawanan arah sehingga momen magnetik secara
keseluruhan sangat kecil. Bahan antiferromagnetik yang mengalami cacat
kristal akan mengalami medan magnet kecil dan suseptibilitasnya seperti
pada bahan paramagnetic, tetapi harganya naik sampai 20 dengan titik
curie kemudian turun lagi menurut hukum curie-weiss.
Contoh : hematit (Fe2O3).
Ferromagnetik
Suseptibilitasnya tinggi dan tergantung temperatur. Contoh : magnetit (Fe3O4), ilmenit
(FeTiO3), pirhotit (FeS), hematit (Fe2O3), ferrite (NiOFe2O3), yttrium (Y3Fe5O12).
Berdasarkan proses terjadinya maka ada dua macam magnet:
Magnet induksi: bergantung pada suseptibilitasnya menyebabkan anomali pada medan
magnet bumi.
Magnet permanen: bergantung pada sejarah pembentukan batuan tadi
AKUISISI METODE
MAGNETIK
Dimas Ayu Elsanti (155090701111011)
Andri Dwi N (155090701111013)
PERANGKAT AKUISISI DATA MAGNETIK

• Desain Survey
• Kompas Geologi
• Jam Digital
• Data sheet
• GPS
• Magnetometer
DESAIN AKUISISI

Fungsi :
Untuk mengetahui persebaran titik pengukuran, kondisi geologi, topografi
Yang perlu diperhatikan
-Target
-Luasan survey
-Spasi antar titik
GPS

Fungsi : Untuk membantu dalam mencari titik pegukuran

Yang perlu diperhatikan adalah Akurasi GPS


JAM DIGITAL

Fungsi : Untuk mengetahui waktu pengukuran


KOMPAS GEOLOGI

Fungsi : Menunjukkan arah mata angin


DATA SHEET
Fungsi : Mancatat Hasil Pengukuran
MAGNETOMETER PPM G-856

• Tiang Penyangga
• Concole
• Sensor
SENSOR
Terdiri dari kumparan induksi dan cairan yang kaya hidrogen
CONCOLE
• Mengatur jenis pengukuran dan mengatur sensitivitas alat melalui sinyal strength
TIANG PENYANGGA

• Fungsinya untuk meletakkan sensor


AKUISISI METODE MAGNETIK

• Pengukuran medan magnet dapat dilakukan di darat , laut dan udara.


• Teknik pengukukuran berbeda untuk masing-masing tempat sesuai dengan maksud
eksplorasinya.
• Biasanya untuk eksplorasi mineral, panas bumi, hidrokarbon juga untuk penelitian
geologi tinjau.
• Titik amat dan pengamat harus bebas dari gangguan magnetik (listrik,
jembatan,barang dari besi, jam tangan, pisau lipat dll).
TEKNIK PENGUKURAN METODE MAGNETIK

• Dalam akuisisi data magnetik dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu secara looping,
base rover, atau gradient vertikal.
• Perbedaan dalam beberapa cara tersebut hanya di tekankan dalam penggunaan instrument
dalam pengukuran.
• 1. Looping adalah Pengukuran yang dimulai dari base dan di akhiri di base lagi. Pengukuran
looping ini hanya menggunakan satu alat PPM yang menjadi base dan rover. Dimana
sekaligus pengukuran looping ini mencatat nilai variasi harian dan intensitas medan magnet
total.
• 2. Base – Rover
• 3. Gradien Vertikal
CARA PENGOPERASIAN MAGNETOMETER
PPM G856
Prosedur Menghidupkan
1. Hubungkan soket Baterai
2. Tekan Erase 3 kali Enter
3. Tekan Tune hingga muncul display tune 500
4. Tekan Tune Shift Nilai medan Magnet total Enter
5. Tekan Time Shift Julian Day Enter
6. Tekan Tombol read untuk membaca data
ALAT METODE MAGNETIK PPM G856
PETA NILAI MEDAN MAGNET TOTAL

Di indonesia nilai medan magnet total sekitar 4000 hingga 4500


Baterai yang digunakan untuk dapat mengoperasikan alat ini berjumlah 9 baterai
PROSEDUR MEMATIKAN ALAT PPM G856

1. Matikan fungsi auto terlebih dahulu (tekan AUTO 2 kali CLEAR)


2. Setelah itu baterai di lepas
3. Ketika alat dalam kondisi mati, dilarang tekan tombol agar baterai internal tidak
cepat habis
AKUSISI METODE MAGNETIK
• Dalam melakukan akuisisi data magnetik yang pertama dilakukan adalah menentukan base
station dan membuat station – station pengukuran (usahakan membentuk grid – grid).
Ukuran gridnya disesuaikan dengan luasnya lokasi pengukuran, kemudian dilakukan
pengukuran medan magnet di station – station pengukuran di setiap lintasan
• Base station sebaiknya ditempatkan di tempat yang mudah dijangkau dan terhindar dari
suatu hal yang dapat mengganggu data contohnya, tiang listrik, sutet dan sebagainya.
• Penentuan titik-titik station pengukuran dilakukan tergantung dari tujuan pengambilan data
serta luas dari area pengamatan.
• Pada akhir survey tiap hari pembacaan harus dilakukan kembali di titik base station dengan
tujuan mengetahui perbedaan pembacaan.
• Data yang dicatat selama proses pengukuran adalah hari, tanggal, waktu, longitude dan
latitude, elevasi, dan nilai pembacaan magnetik
CONTOH DATA YANG DIAMBIL PADA SAAT AKUSISI
KOREKSI METODE
MAGNETIK
Yusuf Pratama (155090700111004)
Ira Rizkillah (155090707111003)
Untuk memperoleh nilai anomali medan magnetik yang
diinginkan, maka dilakukan koreksi terhadap data medan
magnetik total hasil pengukuran pada setiap titik lokasi atau
stasiun pengukuran, yang mencakup koreksi harian, IGRF dan
topografi.
KOREKSI HARIAN

Koreksi harian (diurnal correction) merupakan penyimpangan nilai medan magnetik


bumi akibat adanya perbedaan waktu dan efek radiasi matahari dalam satu hari.

ΔH = Htotal ± ΔHharian
KOREKSI IGRF

Data hasil pengukuran medan magnetik pada dasarnya adalah konstribusi dari tiga
komponen dasar, yaitu medan magnetik utama bumi, medan magnetik luar dan medan
anomali. Nilai medan magnetik utama tidak lain adalah niali IGRF. Jika nilai medan
magnetik utama dihilangkan dengan koreksi harian, maka kontribusi medan magnetik
utama dihilangkan dengan koreksi IGRF. Koreksi IGRFdapat dilakukan dengan cara
mengurangkan nilai IGRF terhadap nilai medan magnetik total yang telah terkoreksi
harian pada setiap titik pengukuran pada posisi geografis yang sesuai. Persamaan
koreksinya (setelah dikoreksi harian) dapat dituliskan sebagai berikut
ΔH = Htotal ± ΔHharian ± H0 (H0 = IGRF)
PETA ANOMALI MAGNETIK
(A) SEBELUM KOREKSI IGRF (B) SETELAH KOREKS IGRF
FILTER PADA PENGOLAHAN METODE
MAGNETIK
FILTER REDUKSI KE BIDANG DATAR
Data yang diperoleh dari pengukuran memiliki elevasi yang tidak teratur mengikuti
topografi lokasi pengambilan data menyebabkan terpengaruhnya permukaan yang
termagnetisasi oleh medan magnet bumi. Untuk memperkecil pengaruh dari
topografi, dilakukan perataan kontur anomali medan magnetik total ke dalam bidang
datar. Bidang datar dalam hal ini merupakan topografi rata-rata di lokasi
pengambilan data. Menurut Blakely (1995), harga medan potensial titik (x,y) pada
permukaan baru, dikarenakan kontinuasi medan potensial U(x,y,zo) yang terukur
pada level suface(permukaan rata dengan zo = konstan) di uneven surface
(permukaan tidak rata), dapat dirumuskan:
• Konvergensi pada persamaan sebelumnya, secara empiris paling cepat jika zo diletakan pada
pertengahan z(x,y). Solusi persamaan tersebut dapat diperoleh menggunakan kawasan
Fourier untuk turunan vertikal medan terukur. Perumusan transformasi Fourier untuk
turunan vertikal ke n medan potensial adalah :

Untuk transformasi dari uneven surface (permukaan tidak rata) ke level surface
(permukaan rata), dapat dirumuskan dengan pengaturan kembali persamaan (2.7)
sehingga menjadi :
FILTER PENGANGKATAN KE ATAS
Menurut Satiawan (2009), kontinuasi ke atas merupakan metode yang digunakan sebagai filter untuk
menghilangkan noisedari benda-benda dekat permukaan dan juga mengurangi efek dari anomali
dangkal. Diasumsikan bahwa sumbu z pada koordinat Cartesian mengarah ke bawah, medan
potensial diukur pada permukaan datar dimana z = zo dan pada titik tunggal P(x,y,zo-Δz) diatas
permukaan datar dimana Δz>0. Pada gambar 2.8, permukaan S dengan radius α terdiri atas dua
tingkat yaitu permulaan datar dan hemisphere, sedangkan sumber berada pada z>zo. Ketika
didapatkan persamaan sebagai berikut :
Di mana

dan Δz > 0.

Gambar (a) Dalam batas S, dari perilaku R dapat diketahui fungsi harmonik tiap titiknya dalam wilayah R. (b)
Pada z=zo, terdapat medan potensial dan diharapkan berada pada titik P(x,y,zo-Δz) dimana Δz > 0. Bidang
horizontal dan setengah bola merupakan permukaan dari S dengan jari-jari α. Titik P diproyeksikan terhadap
bidang horizontal sehingga menghasilkan cerminan berupa P’ (Blakely, 1995).
Gambar (atas) Kompilasi aeromagnetik
Nevada Utara-Tengah dari Kucks dan
Hildenbrand. (bawah) Anomali magnetik
total yang telah di kontinuasi ke atas
sejauh 5 km (Blakely,1995).
TRANSFORMASI PAD
PENGOLAHAN DATA
MAGNETIK
TRANSFORMASI PSEUDOGRAVITASI
Transformasi pseudogravitasi baik digunakan untuk interpretasi anomali
magnetik dikarenakan transformasi tersebut merupakan analogi dari data
gravitasi untuk benda magnet dengan massa jenis yang sebanding.
Kesebandingan yang terjadi dalam transformasi ini bernilai 100kg/m3per
A/m, sehingga 1 A/m ≈ 102 gamma dan 1 gamma ≈ 1 kg/m3 . Menurut
Blakely (1995), benda termagnetisasi dan rapat massa uniform yang
menyebabkan potensial magnetik V dan potensial gravitasi U dapat
direlasikan menggunakan persamaan poison sebagai berikut (dengan asumsi
M dan ρ adalah konstan) :
Dimana ρ = Densitas M = Intensitas magnetisasi
= Arah magnetisasi
= Komponen medan gravitasi saat arah magnetisasi
Hasil dari transformasi pseudogravitasi ini dapat digambarkan sebagaimana berikut :
Untuk mempermudah pengerjaan transformasi pseudogravitasi, dapat digunakan
deret Fourier untuk persamaan di bawah dengan asumsi pada tiap titik, rasio
adalah konstan. Berikut transformasi Fourier dari persamaan

Untuk mendapatkan persamaan yang menghubungkan anomali medan magnet total


dengan komponen medan gravitasi, diperlukan kombinasi oleh persamaan di atas
dengan persamaan berikut :

sehingga menghasilkan persamaan


Anomali gravitasi pada komponen vertikal didapatkan dengan membagi kedua sisi
dengan
Dengan menyatakan anomali pseudogravitasi sebagai
maka dapat diperoleh :

dimana:

Fungsi tersebut merupakan filter untuk mentransformasi anomali medan magnet total pada
permukaan horizontal ke anomali pseudogravitasi (Blakely,1995).
Gambar atas : Kompilasi aeromagnetik
Nevada Utara-Tengah dari Kucks dan
Hildenbrand. Gambar bawah : Anomali
pseudografitasi hasil transformasi dari
gambar (a) (Blakely,1995).
GRADIEN HORIZONTAL

Gradien Horizontal digunakan pada pengukuran gravitasi yang berfungsi untuk melokalisasi
perubahan densitas yang secara tiba-tiba kearah lateral dengan cara mengkarakterisasi
anomali gravitasi (Cordell,1979).Metode ini dapat dilakukan juga pada metode magnetik
dengan mengubahnya terlebih dahulu ke dalam anomali pseudogravitasi, dimana gradien
horizontal yang curam menunjukkan bahwa dalam magnetisasi terdapat perubahan lateral
secara tiba-tiba (Cordell dan Grauch, 1985). Menurut Blakely (1995), perumusan magnitude
dari gradien horizontal anomali gravitasi adalah :
Gradien horizntal cenderung memiliki titik puncak di sekitar tepi sumber gravitasi (atau
pseudogravitasi)

Anomali magnetik, anomali


pseudogravitasi, dan gradien
horizontal dengan sumber
batangan (Lesmana,2007).
Gambar Atas Anomali total yang telah di
transformasi pseudogravitasi dan gradien
horizontal. Gambar bawah Titik menunjukkan
grafik maksimum dari gradiem horizontal yang
secara otomatis diketahui menggunakan
metode Blakely dan Simpson (Blakely,1995).
Pasted from
KORELASI PADA METODE MAGNETIK
CROSS KORELASI
Cross korelasi data magnetik digunakan dalam Naudy’s Method dengan
membandingkan anomali profil magnetik (sayatan), di cross korelasi dengan
anomali profil magnetik teoritis. Tujuannya untuk mencari hubungan antara
profil magnetik teoritis dengan profil magnetik hasil akuisisi sehingga diperoleh
estimasi kedalaman sumber.
KONVOLUSI PADA MAGNETIK
• Persamaan Konvolusi Sinyal Diskrit

• Konvolusi dalam pengolahan medan magnetik merupakan salah satu


perhitungan dalam filter kontinuitas ke atas
PENGOLAHAN METODE MAGNETIK
MENGGUNAKAN SURFER
Mahathir Wiaam (155090700111007)
Tabel nilai H terukur
Tabel perhitungan anomali magnetik tanpa pengaruh Higrf
Jika data pada gambar diatas menggunakan X dan Y
yaitu koordinat dalam UTM, maka tabel diatas ini
merupakan datasheet anomali manetik tiap jarak dalam 6
meter pengukuran yang berdasarkan jarak
MENGUBAH DATA MENJADI GRID
Untuk mengubah data lapangan magnetic yang sudah dikoreksi oleh data magnetic igrf,
menggunakan software surfer untuk mengolah data mentah (excel) yang berisi data koordinat
dan nilai magnetic pada titik tersebut, kemudian menggunakan surfer dimasukkan data
tersebut pada worksheet,
Kemudian data ini safe sebagai .bln, lalu untuk membuat suatu kontur
dari file .bln ini buka pada lembar plot, grid->data lalu pilih file .bln
yang sudah kita buat pada lembar worksheet dan akan muncul proses
seperti pada gambar : Menu disamping
menunjukkan bahwa
proses grid selesai dan bisa
dilanjutkan untuk dibuka
pada program magpick
untuk diolah lebih lanjut.
Adapun jika ingin melihat
hasil kontur .grd ini
dengan menggunakan
toolbar sebagai berikut :
PENGOLAHAN DATA LANJUTAN DENGAN
MAGPICK
Data hasil pengukuran yang sudah dirubah dalam fomat grid kemudian dibuka pada
software Magpick untuk melakukan kontinusitas keatas sehingga didapatkan anomali
regional dan anomali lokal. Data yang ditampilkan dilapangan seperti gambar dibawah

Data suseptibilitas magnetik hasil pengukuran dilapangan


• Untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik, dapat dilakukan dengan meningkatkan
resolusi dengan fungsi Bi-linear.

Cara peningkatan resolusi gambar


Data suseptibilitas magnetik hasil pengukuran dilapangan
yang telah ditingkatkan resolusinya
• Kemudian dilakukan kontinuitas keatas dengan menggunakan fungsi operations upward
continuation pada software Magnetic.

Pada table diisi nilai kontinuitas ke atas pada kolom


evaluation dari 3 sampai 19. Kemudian didapatkan hasil
anomali regional yang hampir sama antara 18 dengan 19
terlihat seperti gambar dibawah, ditambah dengan
evaluation 17 sebagai pembanding.
Anomali regional dengannilai evaluation 17 (kiri), 18
(tengah), dan19 (kanan)
SLICING DATA MAGNETIK PADA SOFTWARE SURFER
Setelah mendapatkan anomaly regional dengan menggunakan software magpick, kemudian dilakukan
slicing pada data .grd yang sudah di olah agar diketahui bentuk 2D magnetic pada garis/slice yang
diterapkan pada peta anomaly, slice dilakukan dua kali secara menyilang. Untuk menslice suatu data
pertama kita harus digitasi daerah yang ingin kita slice terlebih dahulu, caranya. Digitasipada Surfer
Kemudian mendigit daerah yang ingin dislice, adapun daerah yang di slice seperti pada gambar,

Kuning : Slice 1, Coklat : Slice 2


• Kemudian untuk slicing menggunakan toolbar berikut,
• Kemudian pilih file .grd hasil dari magpick (upward) dan file hasil digitasi, lalu save sebagai
.DAT. Lalu buka file .DAT yang sudah dibuat pada lembar worksheet, kemudian akan tampil
tampilan data sebagai berikut,

Tampilan data slicing


Pada kolom A paling atas menunjukkan jumlah data (45 data
pada hasil slicing), Apabila hasil slicing diinginkan
mempunyai fill (isi berupa warna) maka data diatas
ditambahkan pada akhirnya,

Menambahkan opsi fill


Di kolom A yang terakhir isikan nilai terakhir pada kolom A
lalu pada kolom B masukkan nilai terkecil, lalu pada kolom A
yang selanjutnya isikan nilai nol (0) dan kolom B nilai
terkecil, terakhir kolom A diisikan nilai nol (0) dan nilai
pertama pada kolom B. Kemudian jumlah data diganti
menjadi 48 (sesuai jumlah data setelah ditambah opsi fill).
Lalu setelah menerapkan cara ini grafik hasil slicing dapat di
beri fill.Kemudian data slicing tersebut di save sebagai format
file .bln, dan dibuka pada plot sebagai base map, sehingga
didapatkan hasil slicing pertama adalah sebagai berikut :
Slicing pertama Slicing kedua
Peta anomali lokal Peta anomali regional
PENGOLAHAN METODE MAGNETIK
MENGGUNAKAN OASIS MONTAJ
Afif Haris Maulana (155090707111020)
STUDY CASE
ABSTRAK
PENDAHULUAN
• Manifestasi panas bumi di daerah Parangtritis, kec. Kretek, kab. Bantul, ditandai
dengan adanya mata air panas (MAP) yang muncul di Parangwedang 1 dan 2,
masing-masing dengan temperatur 43°C dan 49°C dengan PH normal. MAP
Parangwedang terletak beberapa ratus meter sebelah utara obyek wisata
parangtritis.
• Dalam eksplorasi panas bumi metode magnetik digunakan untuk mengetahui
variasi medan magnet di daerah penelitian. Variasi medan magnet disebabkan
oleh sifat kemagnetan yang tidak homogen dari kerak bumi. Dimana batuan di
dalam sistem panas bumi pada umumnya memiliki magnetisasi rendah
dibnadingkan batuan sekitarnya. Hal ini disebabkan adanya proses
demagnetisasi oleh proses alterasi hidrotermal, dimana proses tersebut
mengubah mineral yang ada menjadi mineral-mineral paramagnetik atau
bahkan diamagnetik.
• Nilai magnet yang rendah dapat menginterpretasikan zona-zona potensial
sebagai reservoar dan sumber panas.
GAMBAR SISTEM GEOTHERMAL
METODE PENELITIAN

• Studi pendahuluan mengenai


daerah penelitian dilakukan
untuk membuat perencanaan
survei, yaitu jalur lintasan yang
akan ditempuh, posisi titik (base
station) magnetik, dan posisi titik
ukur magnetik.
• Pengambilan data dilakukan
dengan luas area sebesar 12,3 x
8,3 km, dengan spasi antar titik
pengukuran 500-1000 m.
• Gambar 1: Posisi Titik Ukur
Penelitian • Pengambilan data sebanyak ±
81 titik ukur dan 1 titik base
station.
HASIL DAN PEMBAHASAN
• Anomali medan magnetik total
dihasilkan dengan melakukan
beberapa koreksi terhadap data
hasil pengukuran di lapangan.
Koreksi yang dilakukan adalah
koreksi IGRF.
• Pola kontur anomali medan
magnetik total di topografi terdiri
dari pasangan klosur positif dan
klosur negatif yang berjumlah
banyak. Pasangan klosur positif
dan klosur negatif ini
menunjukkan anomali magnetik
adalah dipole (dwi kutub).
• Gambar 2: Peta Anomali Jumlah pasangan dipole
Medan Magnet Total magnetik yang banyak
menunjukkan anomali medan
magnetik total di topografi masih
sangat dipengaruhi oleh anomali
lokal.
HASIL DAN PEMBAHASAN

• Penetuan anomali
regional dilakukan
dengan proses
pengangkatan ke atas
(upward continuation)
pada anomali medan
magnetik total.
• Dilakukan
pengangkatan ke atas
(upward continuation)
setinggi 300 m untuk
• Gambar 3: Peta anomali memisahkan anomali
medan magnet setelah
dilakukan pengangkatan ke regional dengan
atas anomali lokal (residual).
HASIL DAN PEMBAHASAN
• Reduksi ke kutub adalah
salah satu filter
pengolahan data
magnetik untuk
menghilangkan pengaruh
sudut inklinasi magnetik.
• Reduksi ke kutub
diperlukan karena sifat
dipole anomali magnetik
menyulitkan interpretasi
data lapangan yang
umumnya masih berpola
asimetrik.
• Hasil dari reduksi ke kutub
• Gambar 3: Peta anomali medan menunjukan anomali
magnet setelah dilakukan magnetik menjadi satu
reduksi ke kutub kutub, sehingga dapat
ditafsirkan posisi benda
penyebab anomali medan
magnet berada
dibawahnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Interpretasi Kualitatif • Menurut Idral dkk (2003), pada
• Anomali magnet total didaerah peta anomali negatif dan
kecamatan Kretek, Sanden, Pundong positif, pola kontur tampak
dapat dikelompokkan menjadi 3 lebih merapat, hal ini
kelompok anomali, yaitu: mengindikasikan adanya
1. Kelompok anomali magnet total struktur sesar pada daerah
positif tinggi dengan besaran > tersebut, karena struktur sesar
500 nT. dicirikan oleh lineasi anomali,
2. Kelompok anomali magnet total kerapatan kontur,
positif sedang dengan besaran pembelokan anomali, dan
500 nT sampai 0 nT.
pengkutuban anomali (negatif
3. Kelompok anomali magnet total
dan positif ).
rendah < -500 nT sampai 0 nT.
• Pada daerah penelitian didapatkan
nilai anomali magnet positif –
negatif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
• Pemodelan profil A-A’ didapatkan
interpretasi bawah permukaannya
berupa 3 buah batuan yang
mempunyai kontras suseptibilitas
berbeda dengan batuan sekitarnya.
Suseptibilitas yang didapatkan yaitu
dengan nilai (0,0405) cgs untuk
benda pertama (warna merah tua),
(0,0425) cgs untuk benda ke dua
(warna merah) dan benda ke tiga
(warna biru) dengan susebtibilitas (-
• Gambar 3: Pemodelan pada sayatan
0,0085) cgs dengan arah utara-
A – A’ selatan. Benda pertama dengan
kedalaman 6 m dari permukaan,
Interpretasi Kuantitatif benda kedua dengan kedalaman
• Interpretasi kuantitatif dilakukan antara 177 m dari permukaan bumi,
dengan pemodelan dan benda ke tiga dengan
menggunakan perangkat lunak kedalaman 580 m.
Geomodel, dengan memasukan
intensitas, inklinasi, deklinasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
• Pada benda pertama diperkirakan
merupakan alluvium yang menutupi
daerah penelitian, benda ke dua
diperkirakan berupa batuan breksi
lapili dan batu pasir tuf, pada batuan
ketiga berwarna biru diperkirakan
berupa terubahkan sangat kuat
karena adanya proses demagnetisasi
oleh proses alterasi hidrotermal.
• Nilai magnet yang rendah dapat
menginterpretasikan zona-zona
potensial sebagai reservoar.
• Gambar 3: Pemodelan pada sayatan • Pada pemodelan profil A-A’,
A – A’
diperkirakan merupakan batuan
reservoar manifestasi panas bumi
berada pada kedalaman 580 meter
dengan ditandai adanya batuan
yang telah terubahkan secara kuat.
HASIL DAN PEMBAHASAN
• Pemodelan yang dilakukan • Manifestasi panas bumi terdapat
disesuaikan dengan informasi di sekitar pantai selatan Provinsi D.I.
geologi maupun kenampakan Yogyakarta. Struktur sesar
permukaan di daerah penelitian. diperkirakan terdapat di daerah
Pundong dengan arah selatan
• Berdasarkan informasi geologi di
utara dan didaerah sanden
daerah penelitian terdapat tiga
dengan arah barat daya – timur
lapisan batuan umumnya
laut. Sesar tersebut diperkirakan
berumur tersier. Ketiga lapisan
sebagai jalannya manifestasi
yang dibuat dalam pemodelan
panas bumi. Reservoar MAP di
ini terdiri dari endapan Alluvium,
daerah Parangtritis akibat adanya
formasi Semilir dan formasi Kebo-
zona subduksi di selatan jawa.
Butak. Kurva hasil pemodelan
Berdasarkan hasil pemodelan
harus cocok dengan kurva
pada penelitian ini, reservoir panas
pengamatan.
bumi di daerah ini diperkirakan
berada pada kedalaman 580
meter.
KESIMPULAN

• Benda penyebab timbulnya anomali medan magnet pada daerah


survei adalah akibat adanya daerah panas bumi yang terlihat dari
perbedaan nilai suseptibilitas rendah pada lapisan batuan pada
struktur bawah permukaan.
• Suseptibilitas yang didapatkan yaitu dengan nilai (0,001) cgs untuk
benda pertama, (0,0034) cgs untuk benda ke dua dan benda ke tiga
(-0,048) cgs.
SEKIAN 
• Buat slicing kenapa datanya dikurangi 48 data?
• Bagaimana akuisisi metode gradient vertikal?
• Gimana model akuisisi gradient vertikal? Bagaimana metode praktikum yg
kita punya, yang sama2 pakai 2 sensor?
SEKIAN 

Anda mungkin juga menyukai