Anda di halaman 1dari 9

 Hamil anggur, sering juga disebut molar pregnancy

atau mola hidatidosa adalah tumor nonkanker (jinak)


yang tumbuh pada rahim. Hamil anggur terjadi saat
telur yang dibuahi yang semestinya menjadi janin,
bertumbuh sebagai kista yang tidak normal pada
rahim Anda. Walau bukan embrio bayi, pertumbuhan
kista ini tetap akan memicu gejala-gejala kehamilan,
sehingga banyak penderitanya mengira ia sedang
hamil. Kondisi ini fatal dan memerlukan penanganan
segera.
 Kecurigaan biasanya terjadi pada minggu ke 14 – 16
 Hamil anggur disebabkan sel telur abnormal
yang dibuahi malah menjadi tumor,
bukannya janin.
 Kehamilan molar komplit. Sel telur tanpa
informasi genetik dibuahi oleh sperma. Sel
telur tidak menjadi janin karena tidak
memiliki sistem genetik lengkap, namun
bertumbuh sebagai jaringan abnormal dan
terlihat seperti gumpalan anggur yang
memenuhi rahim.
 Kehamilan anggur sebagian. Sel telur
dibuahi 2 sperma, mengandung 2 informasi
genetik, sehingga tidak normal. Janin yang
terbentuk kemungkinan memiliki cacat.
 Usia. Hamil anggur lebih rawan terjadi pada
wanita di atas 35 tahun atau di bawah 20 tahun.
 Hamil anggur sebelumnya. Jika Anda pernah
mengalami hamil anggur sebelumnya, Anda
memiliki kemungkinan mengalaminya lagi.
Kehamilan anggur berulang terjadi, rata-rata,
pada 1 hingga 2 dari 100 wanita.
 Riwayat keguguran.
 Kekurangan karoten. Karoten adalah bentuk
dari vitamin A. Wanita yang tidak mendapatkan
cukup vitamin A memiliki risiko lebih tinggi
mengalami hamil anggur komplit.
 Pembesaran perut ibu hamil yang tidak sesuai dengan
usia kehamilan.
 Mengalami Tekanan darah tinggi.
 Mempunyai tanda-tanda pre-eklampsia pada
trimester I. seperti pembengkakan pada kaki dan
tungkai, peningkatan tekanan darah, proteinuria.
 Hiperemesis gravidarum (Mual muntah berlebihan &
menyebabkan 10% pasien masuk RS)
 Bercak berwarna merah darah beserta keluarnya
materi seperti anggur pada pakaian dalam
(Pengeluaran gelembung mola)
 Muka dan badan tampak pucat kekuning-kuningan
atau disebut muka mola (mola face)
 Pertumbuhan rahim yang pesat
 Tidak dirasakan adanya tanda-tanda gerakan janin,
balotemen negative kecuali pada mola parsial.
 Tidak terdengar DJJ hanya terdengar bising dan bunyi
khas.
 Anemia
 Gejala – gejala hipertitoidisme seperti gugup,
penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan,
tangan gemetar dan berkeringat, kulit lembab.
 Adanya tekanan atau sakit di panggul, tetapi jarang
terjadi.
 Untuk wanita yang masih ingin punya anak,
pengobatan dapat dilakukan dengan
membersihkan rahim (kuret). Sedangkan
untuk yang tidak ingin punya anak, dapat
dilakukan dengan pengangkatan rahim