Anda di halaman 1dari 28

Journal Reading

Syphilis
Pemeriksaan
PEMERIKSAAN SEROLOGI

Digunakan untuk :
Mendiagnosa seluruh stadium sifilis

Treponemal Tests (TT) :


• Treponema Pallidum Particle Agglutination
(TPPA)
• IgM/IgG Enzyme Imunoassay (EIA)

Non-Treponemal (Anti Cardiolipin) Tests (NTT)


• Rapid Plasma Reagin (RPR)
• Veneral Disease Research Laboratory (VDRL)
1. Treponemal Tests (TT)

Hasil positif lebih dahulu muncul


pada pemeriksaan TT yaitu sekitar 2
minggu pasca infeksi

biasanya akan tetap positif untuk


seumur hidup.
2. Non-Treponemal Tests (NTT)

digunakan untuk menilai respon


terapi

INTERPRETASI:
 Hasil titer tinggi  infeksi yang aktif (infeksi awal)
 Hasil titer rendah  infeksi yang tenang (infeksi
laten) / infeksi yang telah diterapi sebelumnya.
FALSE:
 positif palsu (seperti pada kehamilan, adanya
riwayat vaksinasi sebelumnya, dan penyakit
autoimun)
 negatif palsu (seperti pada titer yang terlalu
tinggi yang disebabkan oleh fenomena
prozone).

hasil pemeriksaan NTT dapat menunjukkan


nilai negatif pada infeksi primer awal.
Pemeriksaan serologi dapat dilakukan dengan
memeriksa cerebrospinal fluid (CSF).

Hasil pemeriksaan NTT Hasil pemeriksaan TT yang


yang positif: negatif pada sampel CSF
– sangat spesifik untuk dengan hitung sel darah
menunjukkan adanya merah yang rendah:
neurosifilis, namun – sangat efektif untuk
sensitivitasnya rendah. mengeksklusi adanya
neurosifilis.
Pemeriksaan Lain

Sifilis primer dan sifilis sekunder juga dapat


didiagnosa dengan cara menemukan secara langsung
kuman T pallidum menggunakan:
1. Darkground Microscopy (DGM)
2. Polymerase Chain Reaction (PCR)
• DGM
– tingkat sensitivitas 80%
– Kontaminasi oleh kuman treponema komensal
pada lesi yang lokasinya berada di mulut dan
rektum seperti Treponema denticola, dapat
menurunkan tingkat spesifisitas DGM

• PCR
– tingkat sensitivitas 80-100%
– spesifisitas 92,1-99,8%
Penatalaksanaan
(1). Benzylpenicillin (Penicillin G)

Pertama kali digunakan untuk mengobati sifilis pada


tahun 1943 dan penisilin masih menjadi terapi lini
pertama untuk semua stadium dari sifilis.

• Durasi dan rute pemberiannya bervariasi,


tergantung dari stadium penyakit penderita.
– Jika tidak ditemukan kelainan neurologi  penisilin
secara parenteral merupakan lini pertama.
Pada pasien dengan riwayat alergi, terapi
alternatifnya adalah doksisiklin dan
seftriakson.
(2). Skrining

Pasien dengan sifilis juga berisiko mengalami jenis


penyakit menular seksual yang lainnya


• gali secara menyeluruh riwayat seksual pada pasien
• skrining terhadap penyakit menular seksual lain,
termasuk tes HIV.
(3). Abstain Coitus

Pasien harus berhenti Semua pasangan seksual


berhubungan seks dalam tiga bulan terakhir
dalam waktu 2 minggu harus dihubungi dan
sejak dimulainya terapi dilakukan pemeriksaan
sifilis awal.
Pasien yang terinfeksi HIV-1 dengan
jumlah CD4 <350sel/ml dan atau titer RPR
≥1:32 berisiko tinggi mengalami
keterlibatan neurologi.
(4). Jarisch-Herxheimer Reaction (JHR)

Pasien dengan gambaran klinis yang jelas


perlu diberitahukan mengenai JHR sebelum
terapi dimulai.

JHR:
gejala demam akut yang dapat sembuh sendiri,
yang secara khas terjadi dalam waktu12 jam
setelah terapi dan akan berakhir dalam 12 jam
kemudian.

Pada sebagian besar kasus, istirahat dan


pemberian parasetamol cukup untuk mengatasi
JHR ini.
CONTOH KASUS
Seorang pria berkebangsaan Jamaica
berusia 78 tahun dengan gangguan memori:

dilakukan pemeriksaan serologi terhadap


sifilisnya, sebagai tahapan dari skrining
demensia.

Hasilnya menunjukkan EIA positif, TPPA


positif, dan RPR negatif.
RIWAYAT YANG PENTING DIKETAHUI

(1).
Jika memungkinkan, gali riwayat seksualnya
dengan meyakinkan pasien bahwa
kerahasiaannya terjaga.
RIWAYAT YANG PENTING DIKETAHUI

(2).
Riwayat menderita sifilis atau terapi
sifilis sebelumnya
– Jika pernah, pastikan apakah
terapinya adekuat (mencakup
kerelaan pasien mengikuti terapi,
terapi apa yang diberikan, dan
apakah pasangan seks juga diobati)
RIWAYAT YANG PENTING DIKETAHUI

(3).
Pemeriksaan sifilis sebelumnya (pada pasien wanita,
pemeriksaan sifilis bisa jadi telah dilakukan pada
skrining antenatal).
– Jika negatif, maka kemungkinan ini adalah
infeksi baru
RIWAYAT YANG PENTING DIKETAHUI

(4).
Riwayat menderita infeksi frambusia
– Jika pernah, maka hasil pemeriksaan serologinya
bisa dipengaruhi oleh frambusia.
– Jika terdapat riwayat yang jelas mengenai terapi
dan hasil RPR negatif, maka pasien tidak
memerlukan terapi lebih jauh
RIWAYAT YANG PENTING DIKETAHUI

(5).
• Gejala-gejala sebelumnya yang menandakan
sifilis primer atau sekunder
• Gejala-gejala saat ini yang menunjukkan infeksi
tersier (selain dari gangguan memori)
PEMERIKSAAN

• Cari tanda-tanda lain dari neurosifilis


sebagai tambahan dari guma dan penyakit
kardiovaskular. Waspada terhadap adanya
kemungkinan sifilis kongenital onset lambat
PENATALAKSANAAN

Jika ditemukan tanda-tanda keterlibatan neurologi, perlu


dilakukan pemeriksaan CSF
(dengan sebelumnya dilakukan pemeriksaan radiologi
terhadap otak seperti CT Scan atau MRI).


Jika pasien menolak dilakukannya lumbal pungsi,
pertimbangkan terapi neurosifilis.
Namun pasien ini memiliki hasil tes RPR negatif,
sehingga kemungkinan terjadinya neurosifilis sangat
kecil.
Tawarkan skrining terhadap pasangan seks yang
sekarang dan sebelumnya (jika dapat dihubungi), dan
terhadap anak-anak jika tidak ada bukti bahwa ibu
pasien telah diperiksa.
KESIMPULAN
Sifilis telah muncul kembali sebagai infeksi
menular seksual yang penting.

Diagnosis dan terapi yang tepat diperlukan


untuk mencegah transmisi selanjutnya dan
berkembangnya kerusakan jaringan yang
ireversibel.

Jika dicurigai adanya infeksi, dianjurkan


untuk dilakukan pemeriksaan serologi dan
dirujuk kepada ahli urogenitologi.
TERIMAKASIH