Anda di halaman 1dari 14

Konsep Asuhan

Keperawatan Maternitas
Ibu denganHIV saat ANC, INC, dan Bayi denganIbu HIV

Oleh Kelompok 6
Alfian Muhammad
Brian Brahmmad P
• AIDS adalah kumpulan gejala klinis akibat penurunan sistem
kekebalan tubuh yang timbul akibat infeksi HIV. Penyebab Human
Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyebabkan
penyakit AIDS (Kemenkes RI, 2012)

• Penularan HIV dari ibu ke anak dapat terjadi selama hamil (5-
10%), melahirkan (10 - 20%) dan saat menyusui (5-20%)

• Diseluruh dunia pada tahun 2013 ada 35 juta orang hidup


dengan HIV yang meliputi 16 juta perempuan dan 3,2 juta
berusia <15 tahun. jumlah infeksi baru HIV pada tahun 2013
sebesar 2,1 juta yang terdiri dari 1,9 juta dewasa dan 240.000
anak berusia <15 tahun.
Faktor Yang Berperan Dalam
Penularan HIV Dari Ibu Ke Anak
• Faktor ibu antara lain jumlah virus dalam tubuh, jumlah sel
CD4, status gizi selama hamil, penyakit infeksi selama hamil
dan gangguan pada payudara
• Faktor bayi antara lain usia kehamilan dan berat badan bayi
saat lahir, periode pemberian ASI, adanya luka di mulut bayi
• Faktor obstetrik antara lain jenis persalinan, lama persalinan,
ketuban pecah dini dan tindakan episiotomi
Prenatal
• Pemeriksaan fisik, riwayat kesehatan dan pemeriksaan
laboratorium harus dilakukan pada ibu hamil dengan HIV agar
dapat menerima perawatan yang tepat.
• Kehamilan dapat menyebabkan gejala klinis meningkat, wanita
hamil mengalami gejala perkembangan HIV lebih cepat daripada
yang tidak hamil
• Obat primer yang disetujui untuk terapi infeksi HIV adalah azido-
3-deoksitimidin (zidovudin, AZT (retrovir)). Walaupun obat ini
menjanjikan hasil yang baik, penggunaannya dalam kehamilan
dibatasi karena adanya potensi efek mutagenik atau toksik
potensial pada janin
Intranatal
• Menghindari kontak langsung dengan cairan tubuh
• Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
• Dekontaminasi cairan tubuh pasien.
• Memakai alat kedokteran sekali pakai atau sterilisasi semua alat
kedokteran yang dipakai (tercemar)
• Pemeliharaan kebersihan tempat pelayanan kesehatan.
• Membuang limbah yang tercemar berbagai cairan tubuh secara
benar dan aman
Pengobatan HIV pada ibu
hamil
• HIV dan AIDS sampai saat ini belum ada obatnya,
Antiretroviral ( ARV ) yang harus diminum oleh orang dengan
HIV dan AIDS ( ODHA ) hanya berfungsi menekan kadar HIV
dalam darah (viral load) dengan cara menghentikan proses
penggandaan diri virus sehingga tidak menginfeksi sel-sel baru
Pemberian ARV pada ibu hamil dan bersalin
Kondisi Ibu Regimen untuk ibu
ODHA hamil dengan indikasi Tunda terapi sampai setelah trimester satu
penggunaan ARV
ODHA hamil dan belum ada AZT dimulai pada kehamilan usia 28 minggu,
indikasi terapi ARV dilanjutkan selama persalinan.
Ibu HIV positif yang datang • Untuk ibu yang belum diketahui status HIVnya,
pada saat persalinan,tetapi bila ada waktu tawarkan pemeriksaan dan
belum pernah mendapat konseling segera setelah persalinan
pengobatan ARV • Bila hasil test positip, berikan NVP dosis tunggal
• Bila persalinan sudah terjadi jangan berikan NVP
atau berikan AZT+3CT pada saat persalinan,
dilanjutkan satu minggu setelah persalinan
Pengkajian Keperawatan
Status awal yang harus dinilai pada ibu hamil dengan infeksi HIV:
riwayat penyakit HIV berdasarkan status klinis, imunologis (jumlah CD4
<400/ml) dan virologis (viral load tinggi).
Riwayat pengobatan, operasi, sosial, ginekologi dan obstetrik
sebelumnya harus dilakukan pada kunjungan prenatal pertama.
Pemeriksaan fisik lengkap penting untuk membedakan proses penyakit
HIV dengan perubahan fisik normal pada kehamilan
Pemeriksaan Diagnostik
Tes Laboratorium
• Serologis
• Neurologis
• Tes Antibodi
Diagnosa Keperawatan
1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan
pola hidup yang beresiko.
2. Resiko tinggi penularan infeksi pada bayi berhubungan dengan adanya
kontak darah dengan bayi sekunder terhadap proses melahirkan.
3. Resiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan output cairan
berlebih sekunder terhadap diare.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keadaan mudah letih,
kelemahan, malnutrisi, gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, dan
hipoksia yang menyertai infeksi paru
5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake yang kurang, meningkatnya kebutuhan metabolic, dan
menurunnya absorbsi zat gizi.
6. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan gangguan pencernaan atau diskontinuitas ASI pada bayi.
Intervensi Keperawatan
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola
hidup yang beresiko.
Intervensi:
• Monitor tanda-tanda infeksi baru.
• gunakan teknik aseptik pada setiap tindakan invasif. Cuci tangan
sebelum meberikan tindakan.
• Anjurkan pasien metoda mencegah terpapar terhadap lingkungan
yang patogen.
• Kumpulkan spesimen untuk tes lab sesuai order.
• Atur pemberian antiinfeksi sesuai order
Resiko tinggi penularan infeksi pada bayi berhubungan dengan adanya
kontak darah dengan bayi sekunder terhadap proses melahirkan.
• Intervensi:
• Anjurkan pasien atau orang penting lainnya metode mencegah
transmisi HIV dan kuman patogen lainnya.
• Gunakan darah dan cairan tubuh precaution bial merawat pasien.
Gunakan masker bila perlu.
Intervensi Keperawatan
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan gangguan pencernaan atau diskontinuitas ASI pada bayi.
Intervensi:
• Mengkaji adanya alergi makanan
• Monitoring tanda-tanda vital
• Kolaborasikan dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan
nutrisi yang dibutuhkan klien.
• Pada bayi, barikan makanan pengganti ASI, misalnya dengan pemberian
PASI
TERIMA KASIH