Anda di halaman 1dari 10

ANALISIS JURNAL

“PELAKSANAAN SELF-CARE ASSISSTANCE”

Oleh :
SARJUNINGTIYAS

PROGRAM STUDI NERS


FAKULTAS OLAHRAGA DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2018
LATAR BELAKANG
 Piramida penduduk Indonesia menunjukkan adanya
peningkatan dari 6,5% menjadi 7,8% di tahun 2010 dalam
jangka 10 tahun. Peningkatan tersebut mengindikasikan bahwa
kelompok usia lanjut semakin meningkat serta
mengindikasikan adanya peningkatan harapan hidup bagi
lansia. Peningkatan kelompok usia lanjut dalam kategori usia
ekstrim yaitu diatas 75 tahun juga meningkat dari 6,8%
menjadi 10,2% di tahun 2010. Fenomena peningkatan populasi
usia lanjut ini tidak hanya terjadi di negara maju atau negara
berkembang saja, namun dialami banyak negara-negara di
dunia. Faktor yang mempengaruhi peningkatan populasi ini
adalah penurunan tingkat kesuburan dari tiap individu
sehingga diperkirakan akan mengalami penurunan jumlah
anak-anak dimasa depan (Badan Pusat Statistik, 2011).
Untuk
mengetahui
bagaimana
TUJUAN
pelaksanaan self-
care assistance
yang dilakukan
oleh pemberi
pelayanan
perawatan pada
lansia
MANFAAT PENELITIAN
Teoritis • Penelitian ini dapat dijadikan referensi dalam
pemberian intervensi keperawatan

• Menambah ilmu
pengetahuan perawat
Praktis
tentang pelaksanaan self-
care
Self-care assistance
adalah intervensi Tujuan dari self-care
keperawatan yang assistance pada
dilakukan dengan lansia di panti
melakukan tindakan-
tindakan berupa adalah memenuhi
monitoring, kebutuhan lansia;
pendampingan, dan memandirikan
motivasi dengan tujuan lansia; mencegah
agar lansia dapat
melakukan kegiatan faktor risiko.
sehari-hari.

TINJAUAN
PUSTAKA
HASIL DAN PEMBAHASAN
Author Judul mtd Hasil Source

Syaifullah, Pelaksanaan Penelitian yang telah dilakukan merupakan Hasil penelitian ini Jurnal
2013 self-care penelitian kualitatif yang berfokus pada mendefinisikan self-care Keperawatan
assisstance di pengalaman, interpretasi, serta makna hidup assisstance, merumuskan tujuan Komunitas .
Volume 1, No. 2,
panti wreda pemberi pelayanan keperawatan pada lansia. pelaksanaan self-care assisstance,
November 2013;
Pendekatan yang digunakan peneliti adalah merumuskan bentuk-bentuk 94-10094
pendekatan fenomenologis. Pengambilan data tindakan self-care assisstance,
berupa focus group discussion (FGD), kendala yang mungkin muncul,
dilakukan pada kesembilan narasumber serta saran penatalaksaan kendala
dengan membagi mereka ke dalam dua pelaksanaan self-care assisstance
kelompok. FGD direkam secara audio dan
audio-visual, serta catatan lapangan pada tiap
FGD.
Haider,2016 Self-Care Descriptive correlation design (Quantitative) The result of the study present that International
Activities For was adopted in the current study to achieve the self-care activities are Journal of
Kufa
Patients’ With the early stated objectives.The study was interdependent andthere is a Scientific and
Stroke carried out from November, 1st, 2015 to June, significant association between Research
26th, 2016 in Al Najaf city.A (Purposive the patients' self-care activities Publications,
Sample) of (100) adult patient with stroke who with their age, gender, marital Volume 6, Issue 9
attending the outpatients in the consultation status before stroke, and
unit either for consultations, treatment, or occupational status after
both stroke,while there is high
significant relationship between
the patients' self-care activities
occupational status before
LANJUTAN
Author Judul Metode Hasil Source

Manjeet Self care deficits of A descriptive design was employed In the present study it is found that Nursing and
Kaur,2006 admitted patients to study the self-care inabilities 45.24% had feeding deficit, 44.84% had Midwifery
among the patients of Nehru bathing deficit, 36.72% had dressing Research
Hospital of PGIMER, Chandigarh.A deficit and 31.87% had deficit in Journal, Vol-2
total of 650 patients were included toileting. Menton found that 11% had
in the study deficit in eating, 45 % had bathing
deficit, which is similar to the present
study, 22% had deficit in dressing, and
25% were deficit in toileting.8 In
another study it has been reported that
17.5% had eating deficit, 27% had
bathing deficit, 17.5% had dressing
deficit, and 25% had toileting deficit
Agustina, hubungan dukungan Desain penelitian dengan survei Hasil penelitian menunjukkan bahwa
2015 keluarga dengan analitik pendekatan cross sectional. 75% responden mendapatkan dukungan
kemampuan perawatan Populasinya adalah pasien pasca keluarga tinggi, 45% responden
diri (self care) pada stroke di Puskesmas Gundih memiliki kemampuan perawatan diri
pasien pasca stroke di Surabaya, sampel sebanyak 20 dengan bantuan sebagian dan tidak
puskesmas gundih orang yang sesuai kriteria inklusi terdapat hubungan yang bermakna
surabaya yaitu tinggal bersama keluarga, usia antara dukungan keluarga dengan
35-65 tahun, <1 tahun pasca kemampuan perawatan diri pasien
serangan stroke pertama, pasca stroke dengan arah korelasi
berkomunikasi baik, kesadaran negatif berarti semakin tinggi dukungan
compos mentis, memahami bahasa keluarga, semakin rendah tingkat
Indonesia, tidak mengalami kemampuan perawatan diri (r = -0,285,
PEMBAHASAN
 Dari jurnal utama syaifullah,2013, menjelaskan bahwa Pelaksanaan self-care assisstance menjadi
pelayanan yang merupakan inti dari pelayanan yang diberikan panti wreda bagi lansia. Self-care
assisstance adalah pendampingan maupun pemenuhan kebutuhan keseharian bagi lansia,
sayangnya pelayanan perawatan lansia ini belum dapat dioptimalkan sesuai kebutuhan spesifik
tiap lansia, serta belum dapat terdokumentasi dengan baik. Jumlah pemberi pelayanan perawatan
yang jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan lansia yang ada di panti wreda merupakan salah
satu penyebabnya. Kedua hal tersebut saling terkait dan menjadi faktor dalam sulitnya proses
evaluasi yang akan dilakukan terkait dengan kualitas pelayanan di panti wreda. Pelaksanaan self-
care assisstance pada lansia sangat membantu dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari,
memandirikan lansia dan mengurangi resiko jatuh.
 Hal ini sesuai dengan penelitian dari Manjeet Kaur,2006 akan tetapi subjek penelitian berbeda.
Penelitian ini menjelaskan bahwa di rumah sakit banyak di temukan defisit perawatan diri yang
terdiri dari berat, sedang, ringan sehingga pelaksanaan self-care assistance yang merupakan
intervensi keperawatan yang harus dilakukan oleh perawat dan perbandingan perawat dan
pasien di bansal belum seimbang sehingga harus melibatkan keluarga.
 Sejalan dengan penelitian Haider,2016. Akan tetapi subjek penelitian ini berbeda yaitu pasien
stroke. Menjelaskan bahwa pelaksanaan self-care assistance pada pasien stroke di rumah sakit
irak terdapat perbedaan di mana yang di utamakan adalah usia selain itu jenis kelamin, status
sosial ekonomi, status perkawinan.
 Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Agustina,2015. Penelitian ini menjelaskan bahwa
Stroke adalah serangan yang progresif dan mendadak akibat terganggunya gangguan aliran darah
di dalam otak ditandai dengan hilangnya fungsi dari bagian tubuh tertentu (kelumpuhan). Pasien
pasca stroke membutuhkan dukungan dan bantuan keluarga dalam melakukan perawatan dirinya.
Dalam penelitian ini pelaksanaan self-care assistance pada pasien stroke dapat memberikan efek
negatif yaitu memberikan rasa ketergantungan pasien pada bantuan yang diberikan oleh keluarga
sehingga tidak dapat di terapkan menurut penelitian Agustina.
KESIMPULAN DAN SARAN
◦ Kesimpulan
 pelaksanaan self-care assistance merupakan intervensi keperawatan, padahal
pelaksanaan dari self-care assistance tidak hanya dilakukan oleh perawat. Hal
ini tentu agak membingungkan, namun hal tersebut tidak lagi
membingungkan bilamana pelaksanaan self-care assistance didelegasikan
kepada pemberi perawatan lansia. Patut diketahui, rasio perbandingan lansia
dan pemberi perawatan di panti adalah 3:40 sehingga pihak panti
melakukan modifikasi sedemikian rupa dengan meningkatkan kemandirian
lansia, juga dengan memberikan tugas bagi lansia.
◦ Saran
 Bagi Perawat
 Diharapkan literature review ini khususnya bagi perawat dapat dijadikan
intervensi keperawatan.
 Bagi Fasyankes
 Diharapkan pelaksanaan self-care assistance dapat meningkatkan pelayanan
di Fasilitas Pelayanan Kesehatan