Anda di halaman 1dari 25

IMAGING FOR

BLUNT ABDOMINAL TRAUMA

PEMBIMBING :

dr. Frans Sigala, Sp. Rad

Disusun oleh : Monica Caroline Molenaar (20180811018111)


Pendahuluan
 Trauma tumpul abdomen menyumbang 15% kematian akibat
trauma.
 Lebih dari 75% kasus seperti ini dapat di tangani dengan
cara operatif maupun non operatif.
 Beberapa tahun terakhir ini penanganan non operatif dinilai
aman dan perawatan berdasarkan panduan pencitraan
gambaran radiologi dilakukan kepada sebagian besar
korban trauma tumpul.
 Deteksi dini dan pilihan terapi sangat dipengaruhi oleh
pencitraan gambaran radiologi yang semakin canggih dan
terapi minim risiko yang dipandu dengan gambar, yang mana
merupakan terapi yang nonivasif.
Gangguan pada diafragma dan
dinding abdomen akibat trauma tumpul
 Radiografi konvensional (fluoroskopi) menunjukan abnormalitas
pada 60 hingga 90% ruptur diafragma traumatik akut, namun
tidak memberi temuan yang spesifik sehingga sulit dibedakan
dengan hemothorax, atelectasis, dll.
 Sensitivitasnya 46% untuk menilai ruptur diafragma sisi kiri dan 17
% untuk ruptur diafragma sisi kanan
 Dalam beberapa kasus, keakuratan diagnostik computed
tomography (CT) cukup baik, tetapi tidak lebih unggul dibandingkan
teknik radiografi konvensional. Sensitivitas dan spesifitas nya 40-
75%.
 MRI tidak menggambarkan gangguan diafragma
Cedera pada organ padat intraperitoneal

 Untuk pasien yang tidak stabil secara hemodinamik yang tidak


segera dibawa ke ruang operasi, Foccused Assesment Sonograph
Trauma (FAST) dan Diagnostic peritoneal lavage (DPL) secara
diagnostik baik dalam mendeteksi perdarahan intraperitoneal
karena cedera organ padat.
 Pada pasien dengan hemodinamik stabil, tes diagnostik tambahan
dan rangkaian pemeriksaan fisik mendukung manajemen non-
operatif. CT menunjukkan sensitivitas hingga 90% untuk mendeteksi
cedera pada hepar.
Cedera pada organ padat intraperitoneal

 Pada laserasi hepar yang melibatkan hilus, khususnya yang terkait


dengan avulsi parsial kantung empedu, dapat memanfaatkan
pemindaian berulang dengan CT atau USG, cholescintigraphy, atau
cholangiography langsung untuk mendeteksi kemungkinan komplikasi
empedu.
 Pada pemantauan pasca-trauma, jika gambaran radiologi
diindikasikan maka USG adalah alternatif yang lebih hemat biaya
daripada CT scan
Gambar 1
Seorang wanita 42 tahun mengalami laserasi hepar grade IV karena jatuh dari
sebuah gedung. (A) CT scan aksial dengan kontras pada hepar di tingkat vena
portal menunjukkan laserasi yang dalam yang melibatkan kubah hepar sampai ke
vena porta dan vena cava inferior. (B) CT scan degan kontras aksial menunjukkan
trombus kecil di vena cava inferior (panah) dan hematom perihepatic. Tidak
ditemukan adanya perdarahan yang aktif.
Gambar 2

Pria 60 tahun jatuh dari tangga. (A, B) CT scan dengan kontras melalui kubah
hepar (A) dan pada tingkat vena splenica (B) menunjukkan laserasi yang luas
pada limpa. Terdapat cairan di sekitar hepar dan splen, tetapi cairan di
sekitar splen lebih padat, menunjukkan adanya bekuan sentinel (panah). Lebih
dari 1 liter perdarahan ditemukan saat operasi.
Gambar 3
Seorang pria 43 tahun pasca kecelakaan kendaraan bermotor (MVC).
CT scan dengan kontras aksial melalui hepar dan splen menunjukkan laserasi
splen anterior dengan perdarahan aktif (panah panjang). Kontras menyebar
ke hematoma perisplenica lateral (panah pendek). Dua liter perdarahan
ditemukan pada operasi.
Gambar 4
Seorang gadis 7 tahun MVC penumpang duduk di
depan. (A) CT scan kontras aksial awal
menunjukkan laserasi hepar yang dalam dan
meluas ke vena porta, porta hepatis, dan kantung
empedu. Splen mengalami perfusi yang buruk,
yang bisa menjadi tanda hipovolemia. Ada
hemoperitoneum besar . (B) CT scan kontras awal
menunjukkan bahwa dinding anterior kandung
empedu tidak meninggi (panah). (C) CT scan
lanjutan dengan kontras yang diperoleh 16 hari
kemudian menunjukkan biloma besar di permukaan
inferior lobus kiri hati.
Gambar 5

Seorang wanita 69 tahun post MVC. (A) CT scan dengan kontras aksial pada
tingkat pankreas menunjukkan perdarahan aktif (panah) pada daerah triad
portal. (B) CT scan dengan kontras aksial menunjukkan akumulasi
intraperitoneal dari ektravasasi kontras secara inferior.
Cedera pada Retroperitoneum
 CT adalah prosedur diagnostik pilihan, karena baik (FAST)
maupun DPL tidak cukup memadai untuk menilai
retroperitoneum. Prosedur radiografi konvensional
(fluoroskopi) dapat membantu dalam evaluasi lanjutan dari
individu yang diketahui memiliki cedera berkelanjutan pada
duodenum dan saluran kemih bagian atas.
 CT relatif tidak sensitif terhadap cedera pankreas akut,
bahkan hingga cedera berat yang benar-benar mengganggu
saluran pankreas utama atau sambungan pancreatico-
duodenal.
Cedera pada Retroperitoneum ;
Duodenum
 CT juga dapat digunakan untuk menilai cedera duodenum.
Gambaran CT dari cairan retroperitoneal yang berdekatan
dengan duodenum, terutama bila dilihat bersamaan dengan
adanya udara / gas retroperitoneal, menunjukkan cedera
duodenum. CT dengan kontras tinggi intravena mungkin juga
menunjukkan peninggian dinding yang asimetris, dan
hematoma duodenum.
Gambar 6
Seorang pria 11 tahun dengan trauma stang sepeda pada bagian atas
abdomen. CT scan aksial dengan kontras intravena pada tingkat bagian
kedua dan ketiga dari duodenum menunjukkan perdarahan periduodenal
retroperitoneal dengan adanya penebalan usus yang fokal dan diskontinuitas
di sambungan bagian ke-2 dan ke-3 duodenum (panah).
Cedera pada Retroperitoneum ;
Renal
 Cedera parenkim ginjal dapat tersembunyi atau dapat
juga bersamaan dengan cedera retro- dan
intrapperitoneal. Cedera ginjal lebih sering dibanding
cedera duodenum dan pankreas.
 ketika FAST atau DPL adalah "negatif," CT scan dengan
contras diindikasikan untuk hematuria pada semua
kelompok umur
 CT dengan kontras yang dinamis idealnya menunjukkan
secara klinis vaskular ginjal yang penting, cedera
parenkim, dan cedera collecting sytem.
 Pemindaian CT berulang 24 hingga 72 jam setelah trauma
membantu dalam mendeteksi komplikasi pada pasien
dengan cedera ginjal yang parah
 Gambar 7

Gambar 7
Laki-laki 29 tahun, post MVC. (A) CT scan kontras axial di daerah interpolar ginjal kanan
menunjukkan ginjal kanan mengalami laserasi yang dalam. (B) CT scan dengan kontras aksial
pada level kutub kanan atas menunjukkan perdarahan aktif (panah). (C) Foto CT scan kontras
aksial yang disempurnakan menunjukkan difusi dan dilusi dari ekstravasasi kontras dalam
hematoma perinephric pada tingkat yang sama dengan (A). Angiografi menunjukkan
ekstravasasi arteri, yangl mengalami embolisasi.
Cedera pada Retroperitoneum ;
adrenal
 Adrenal kanan lebih sering cedera dibanding kiri
dan perdarahan adrenal bilateral relatif jarang.
 Gambaran CT dari cedera adrenal biasanya
menunjukkan adanya pembengkakan globular
kelenjar yang ireguler, biasanya berukuran 40
hingga 70 HU.
Gambar 8
(A) Status laki-laki 40 tahun riwayat jatuh dari lantai 3. CT
scan cystogram aksial pada tingkat atap acetabular
menunjukkan konfigurasi "molar tooth" dari ekstravasasi
kontras ke dalam ruang prevesical
(B) Seorang pria 45 tahun yang terlibat kecelakaan sepeda
motor (MCA). CT scan cystogram aksial pada tingkat simfisis
pubis menunjukkan ruptur dinding kandung kemih bagian
depan dengan sejumlah besar kontras dan sejumlah kecil
udara meluas ke dinding abdomen.
(C) Seorang pria 45 tahun kecelakaan motor. CT scan
cystogram aksial pada tingkat paha atas menunjukkan
kontras yang meluas ke skrotum, testikel yang menonjol, dan
ke fasia dari kaki kiri.
Gambar 9
(A) Seseorang wanita 25 tahun dalam kecelakaan antara mobil dengan pejalan kaki. CT
scan cystogram aksial pada tingkat L2-L3 menunjukkan kontras intraperitoneal di saluran
paracolik kanan dan sekitar lingkaran usus kecil.
(B) Laki-laki 33 tahun post MCA. CT scan cystogram aksial pada tingkat atap acetabular
mengidentifikasi kontras intraperitoneal pada recessus rectovesical (panah panjang) dan
pada recessus peritoneal inferior anterolateral kanan dan kiri (panah pendek)
Cedera pada rongga intraperitoneal
abdomen
 Cedera usus termasuk antara lain kontusio pada dinding, perforasi,
dan hematoma.
 Diagnostic peritoneal lavage (DPL) merupakan tes yang sensitif
dibanding CT untuk menilai cedera rongga viskus yang tersembunyi.
 CT tanpa kontras secara oral atau intravena mungkin menunjukkan
adanya hematoma pada bagian dalam dinding dengan gambaran
hiperdensitas asimetris dalam dinding usus dengan edema
mesenterika yang berdekatan ("misty mesentery").
 Kontusio usus ditunjukkan pada contrast-enhanced CT dengan
adanya gambaran penebalan usus dan peninggian dinding usus.
Yang fokal atau multifokal
 Kontras oral (positif atau negatif) dapat membantu untuk
mengetahui adanya hematoma diantara dinding usus.
Gambar 10
Seorang pria 63 tahun di MCA. CT scan dengan kontras
intravena aksial pada bagian dada menunjukkan perdarahan
adrenal bilateral yang baru
Gambar 11 Gambar 12
Seorang pengemudi 38 tahun post Gadis 10 tahun terlibat dalam MVC
MVC, kecepatan tinggi. CT scan kecepatan tinggi, CT scan kontras
kontras abdomen pada tingkat mid- aksial abdomen di mid-abdomen
abdomen menunjukkan adanya menunjukkan cairan intraperitoneal
penebalan jejunum yang fokal di bebas dengan penebalan multifokal di
abdomen kiri. jejunum dan sekum.
Gambar 13
Seorang wanita 23 tahun, kecelakaan sepeda motor berkecepatan tinggi. CT
scan dengan kontras aksial abdomen pada tingkat hilus ginjal menunjukkan
penebalan usus yang menyebar konsisten , tersdapat hemoperitoneum, dan
vena cava inferior seperti celah; dan ada cedera pada hilus ginjal kanan.
Cedera aorta abdominal serta
percabangannya dan vena cava
 Gangguan traumatis pada pembuluh darah garis
tengah sangat jarang
 Cedera aorta umumnya terkait dengan cedera lapbelt
(gangguan tulang belakang torakolumbar cedera) dan
dapat bersamaan dengan sindrom aorta akut.
 Cedera vena cava Infrahepatik ditandai dengan
gambaran adanya hematoma di sekitar pericaval atau
juxtacaval, kontur tidak teratur, kontras tampak tidak
jelas disertai dengan batas/pinggiran lumen yang
ireguler, atau ektravasasi kontras pada CT scan.
Kesimpulan
 CT dan FAST merupakan pilihan yang dapat digunakan
untuk mengevaluasi pasien dengan trauma tumpul.
 CT dengan kontras secara intravena tetap merupakan
cara yang paling umum dan efektif untuk
mengkategorikan pasien ke dalam 2 kelompok yaitu
yang memerlukan penanganan non-operatif dan yang
membutuhkan pembedahan.
 Meningkatnya kecenderungan manajemen non-operatif
membutuhkan identifikasi lesi yang lebih awal, yang mana
ditopang oleh peningkatan kecanggihan teknik CT. CT
juga memberi peran yang sangat penting dalam
menindaklanjuti pasien dan mendeteksi komplikasi yang
tidak didiagnosis pada awalnya.
TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai