Anda di halaman 1dari 57

Case Report

Session

Kejang Demam Sederhana

Oleh
Kelvin Aidil Fitra
1310070100109

PRESEPTOR
dr. Irwandi, Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK
SMF ILMU PENYAKIT ANAK
RSUD SOLOK
Kejang Demam

Defenisi
Kejang demam adalah bangkitan
kejang yang terjadi pada anak
berumur 6 bulan sampai 5 tahun
yang mengalami kenaikan suhu
tubuh (suhu di atas 380C, dengan
metode pengukuran suhu apa pun)
yang tidak disebabkan oleh proses
intrakranial
www.themegallery.com
Epidemiologi
• Kejang demam terjadi pada 2-5% anak
berumur 6 bulan – 5 tahun. Puncak umur
mulainya adalah sekitar 14-6 bulan. Studi
populasi di Eropa dan Amerika melaporkan
insiden kejang demam sebesar 2-5% dari
anak.

www.themegallery.com
klasifikasi

Kejang Demam Sederhana Kejang Demam Kompleks

- Berlangsung Singkat (<5 menit) - Kejang lama (>15 menit)


- Kejang tonik dan atau klonik - Kejang fokal atau parsial
- Tidak berulang dalam 24 jam - Berulang >1x dalam 24 jam

www.themegallery.com
Etiologi
Hingga kini belum diketahui dengan pasti.
Demam sering disebabkan infeksi saluran
pernapasan atas, otitis media, pneumonia,
gastroenteritis dan infeksi saluran kemih.

www.themegallery.com
Patofisiologi
> Pada keadaan demam  setiap kenaikan suhu 1oC akan meningkatkan
metabolisme basal sebesar 10% - 15% dan kebutuhan O2 sebesar 20%

> Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah
oleh ion kalium (K+) dan sangat sulit bagi ion natrium (Na+) akibatnya
konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na+ rendah,
sedangkan diluar sel neuron memiliki konsentrasi K+ rendah dan
konsentrasi Na+ tinggi  perbedaan potensia ini yang disebut dengan
potensial membran dari sel neuron

> Untuk menjaga keseimbangan potensial membran diperlukan energi dan


bantuan enzim Na-K-ATPase dari permukaan sel

www.themegallery.com
• Keseimbangan potensial membrane ini
dapat dirubah oleh adanya :
– Perubahan konsentrasi ion ekstrasel
– Rangsangan yang datang mendadak
(mekanis, kimiawi, aliran listrik, dll)
– Perubahan patofisiologi dari membran
akibat penyakit atau keturunan

www.themegallery.com
• Kenaikan suhu tubuh tertentu dapat
terjadi perubahan keseimbangan dari
membran sel neuron  difusi ion kalium
dan natrium melalui membrane sel
neuron  lepas muatan listrik, jika
muatan listrik yang besar  meluas ke
seluruh sel maupun membrane sel
disampingnya dengan bantuan
neurotransmitter  menyebabkan
kejang
www.themegallery.com
Manifestasi Klinis
• Serangan kejang biasanya terjadi dalam
24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung
singkat dengan sifat bangkitan dapat
berbentuk tonik–klonik, tonik, klonik, fokal atau
akinetik. Postur tonik (kontraksi dan kekakuan
otot menyeluruh yang biasanya berlangsung
selama 10-20 detik), gerakan klonik (kontraksi
dan relaksasi otot yang kuat dan berirama,
biasanya berlangsung selama 1-2 menit

www.themegallery.com
• lidah atau pipinya tergigit, gigi atau
rahangnya terkatup rapat, inkontinensia
(mengeluarkan air kemih atau tinja diluar
kesadarannya), gangguan pernafasan,
apneu (henti nafas), dan kulitnya
kebiruan.9

www.themegallery.com
www.themegallery.com
• Kejang umumnya berhenti sendiri.
Begitu kejang berhenti, anak tidak
memberi reaksi apapun untuk sejenak,
tetapi beberapa detik/menit kemudian
anak akan terbangun dan sadar kembali
tanpa kelainan saraf.

www.themegallery.com
Diagnosis

• Anamnesis
– Waktu terjadi kejang, durasi, frekuensi,
interval antara 2 serangan kejang
– Sifat kejang (fokal/umum)
– Bentuk kejang (tonik, klonik, tonik-klonik)
– Kesadaran sebelum dan sesudah kejang
– Riwayat demam (sejak kapan, timbul
perlahan/mendadak, menetap/naik-turun)
– Menentukan penyakit yang mendasari
demam
www.themegallery.com
– Riwayat kejang sebelumnya
– Riwayat gangguan neurologis
– Riwayat keterlambatan pertumbuhan dan
perkembangan
– Trauma kepala

www.themegallery.com
• Pemeriksaan fisik
– Tanda vital (terutama suhu)
– Manifestasi kejang yang terjadi
– Kesadaran tiba-tiba menurun sampai koma
dan berlanjut dengan hipoventilasi, henti
nafas, kejang tonik, posisi deserebrasi,
reaksi pupil terhadap cahaya negatif, dan
terdapatnya kuadriparesis flasid
mencurigakan terjadinya perdarahan
intraventikular.

www.themegallery.com
– Pada kepala apakah terdapat fraktur,
depresi atau mulase kepala berlebihan
yang disebabkan oleh trauma.
– Pemeriksaan umum penting dilakukan
misalnya mencari adanya sianosis dan
bising jantung (diagnosis iskemia otak)
– Pemeriksaan tanda-tanda infeksi diluar SSP
– Pemeriksaan refleks patologis
– Pemeriksaan tanda rangsang meningeal

www.themegallery.com
• Pemeriksaan laboratorium
– Darah tepi lengkap
– Elektrolit dan glukosa darah
– Pemeriksaan fungsi hati dan ginjal
– Kadar TNF alfa, IL-1 alfa & IL-6 pada CSS

www.themegallery.com
• Pemeriksaan penunjang lain

membedakan
kejang demam
dengan infeksi
intrakranial

pemeriksaan CSS
melalui pungsi
lumbal
Gambaran klinis

www.themegallery.com
• Pungsi lumbal
– Usia < 12 bulan sangat dianjurkan
– Usia 12 – 18 bulan dianjurkan
– Usia > 18 bulan selektif

www.themegallery.com
• Pemeriksaan lumbal pungsi dilakukan
pada anak dengan kejang demam
pertama kali dengan umur dibawah 6
bulan karena tidak tampaknya tanda
meningeal pada umur dibawah 6 bulan,
sehingga sulit mendeteksi adanya
meningitis maupun infeksi intrakranial
lain tanpa dilakukannya lumbal pungsi.
Namun, jika yakin bukan meningitis
secara klinis tidak perlu lumbal pungsi.
www.themegallery.com
EEG tidak dapat
memprediksi
• tidak diperlukan
berulangnya kejang
demam / kejadian
epilepsi setelah
kejang demam

• tidak dilakukan
CT-scan atau MRI
pada KDS yang
terjadi pertama
kali
www.themegallery.com
Diagnosis Banding
Klinis/Lab Ensefalitis Meningitis bacterial/ Meningitis TB Meningitis virus Kejang demam
Herpes simpleks purulenta

Awitan Akut Akut Kronik Akut Akut

Demam <7 hari < 7hari >7hari <7hari <7hari

Tipe kejang Fokal/ Umum umum umum Umum/


umum fokal

Singkat/ singkat Singkat singkat lama >15 menit


Lama

Kesadaran Sopor-koma Apatis-somnolen Somnolen-sopor Sadar-apatis somnolen

Pemulihan kesadaran lama Cepat lama cepat cepat

Tanda rangsangan - ++/- ++/- +/- -


meningeal

Tekanan intrakranial Sangat meningkat meningkat Sangat meningkat Normal Normal

Paresis +++/- +/- +++ - -

Pungsi lumbal Jernih Keruh/ Jernih/ Jernih Jernih


Normal/ opalesen xanto normal Normal
limfo Segmenter/ Limfo/
limfo segmen

Etiologi Virus VS Bakteri M. TB virus Diluar SSP Penyakit


dasar

Terapi Antivirus Antibiotik Simtomatik www.themegallery.com


Penatalaksanaan

Apabila saat pasien datang dalam


keadaan kejang, obat yang paling cepat
untuk menghentikan kejang adalah
diazepam intravena. Dosis diazepam
intravena adalah 0,2-0,5 mg/kg
perlahan-lahan dengan kecepatan 2
mg/menit atau dalam waktu 3-5 menit,
dengan dosis maksimal 10 mg.

www.themegallery.com
• Obat yang praktis dan dapat diberikan
oleh orangtua di rumah (prehospital)
adalah diazepam rektal. Dosis diazepam
rektal adalah 0,5-0,75 mg/kg atau
diazepam rektal 5 mg untuk anak
dengan berat badan kurang dari 12 kg
dan 10 mg untuk berat badan lebih dari
12 kg.

www.themegallery.com
• Bila setelah pemberian diazepam rektal
kejang belum berhenti, dapat diulang
lagi dengan cara dan dosis yang sama
dengan interval waktu 5 menit. Bila
setelah 2 kali pemberian diazepam rektal
masih tetap kejang, dianjurkan ke rumah
sakit. Di rumah sakit dapat diberikan
diazepam intravena.

www.themegallery.com
www.themegallery.com
• Antipiretik
• Tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan
antipiretik mengurangi risiko terjadinya kejang
demam. Meskipun demikian, dokter neurologi
anak di Indonesia sepakat bahwa antipiretik
tetap dapat diberikan. Dosis parasetamol yang
digunakan adalah 10-15 mg/kg/kali diberikan
tiap 4-6 jam. Dosis ibuprofen 5-10 mg/kg/kali,
3-4 kali sehari.

www.themegallery.com
Komplikasi
Komplikasi gastritis dibagi menjadi dua yaitu
gastritis akut dan gastritis kronik.
– Gastristis akut komplikasinya adalah
perdarahan saluran cerna bagian atas
berupa hematemesis dan melena, dapat
berakhir syok hemoragik.
– Gastritis kronik komplikasinya adalah
perdarahan saluran cerna bagian atas,
ulkus, perforasi dan anemi.

www.themegallery.com
Prognosis

• . Kejang demam akan berulang


kembali pada sebagian kasus. Faktor risiko
berulangnya kejang demam adalah:
• Riwayat kejang demam dalam keluarga
• Usia kurang dari 12 bulan
• Temperatur yang rendah saat kejang
• Cepatnya kejang setelah demam
• Bila seluruh faktor diatas ada, kemungkinan
berulangnya kejang demam adalah 80% ,
sedangkan bila tidak terdapat faktor tersebut
kemungkinan berulangnya kejang 10–15%.
www.themegallery.com
Laporan kasus

Nama : An. R

Umur : 5 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat : Simpang Rumbio


• Anamnesis (diberikan oleh ibu
kandung)
• Seorang anak laki-laki datang ke IGD
RSUD Solok dengan :
• Keluhan utama :
• Kejang 6 jam sebelum masuk rumah
sakit

www.themegallery.com
• Riwayat penyakit sekarang :
• Kejang 6 jam sebelum masuk rumah
sakit, kejang terjadi pada seluruh tubuh,
frekuensi 1 kali, lama kejang ± 5 menit,
anak sadar sebelum dan sesudah
kejang.
• Demam tinggi 14 jam sebelum kejang,
saat kejang anak masih demam, demam
tetap tinggi walaupun sudah diberikan
paracetamol sirup oleh ibu pasien.
www.themegallery.com
• Batuk kering sejak 1 hari sebelum
masuk rumah sakit.
• Muntah 1x setelah demam, muntah
berisi makanan yang dimakan pasien.
• Penurunan nafsu makan ada sejak 1
hari sebelum masuk rumah sakit.
• BAB normal, konsistensi padat warna
kuning.
• BAK normal, warna kuning jernih.
www.themegallery.com
• Riwayat penyakit dahulu
• Pasien memiliki riwayat kejang
sebelumnya, kejang terjadi 3 tahun yang
lalu, pasien mendapatkan pengobatan
namun tidak kontrol rutin.

www.themegallery.com
• Riwayat penyakit keluarga
• Tidak ada anggota keluarga yang pernah
mengalami kejang sebelumnya
• Riwayat persalinan
• Anak lahir spontan ditolong bidan, cukup
bulan. Berat badan lahir 3100 gram,
panjang lahir 48 cm, dan langsung
menangis saat lahir.
• Kesan : tidak ada masalah saat
kelahiran www.themegallery.com
• Riwayat imunisasi
• Pasien mendapat imunisasi dasar
lengkap

www.themegallery.com
Riwayat pertumbuhan dan Umur Riwayat gangguan perkembangan dan Umur
perkembangan mental

Ketawa 3 bulan Isap jempol -

Miring 3 bulan Gigit kuku -

Tengkurap 4 bulan Sering mimpi -

Duduk 7 bulan Mengompol -

Merangkak 8 bulan Aktif sekali -

Berdiri 10 bulan Apatik -

Lari 18 bulan Membangkang -

Gigi pertama 8 bulan Ketakutan -

Bicara 12 bulan Pergaulan jelek -

Membaca - Kesukaan belajar -

Prestasi di sekolah -

Riwayat pertumbuhan dan perkembangan


Kesan : pertumbuhan dan perkembangan normal www.themegallery.com
Pemeriksaan fisik umum

Keadaan Kesadaran:
umum: sakit compos mentis
sedang kooperatif

Tekanan darah:
110/80 mmHg Nadi: 98x/menit

Pernapasan:
Suhu : 38.60C
24x/menit

www.themegallery.com
Berat badan Tinggi badan
: :
16 kg 110 cm

BB/U TB/U : 101%


: 88 %

BB/TB Kesan : gizi


: 84% kurang

www.themegallery.com
Konjungtiva
Tidak tampak pucat, anemis (-/-),
edema tidak ada, ikterus sclera ikterik
tidak ada Kulit (-/-)
Mata Mata cekung (-
/-)

Mulut
Berwarna hitam
Tidak ada tidak mudah
sianosis, bibir dicabut
lembab
Rambut

Normochepal
Kepala
Paru-paru :
Inspeksi : Dinding simetris kiri dan
kanan dalam keadaan statis dan dinamis
Palpasi: Fremitus sama kanan dan kiri
Perkusi : Sonor diseluruh lapangan
paru
Auskultasi : vesikuler,rhonki (-/-), wheezing
(-)

www.themegallery.com
• Jantung
• inspeksi : iktus cordis tidak terlihat
• palpasi : iktus cordis teraba 1 jari
LMCS RIC V
• perkusi : batas atas RIC II, batas
kanan LSD,batas kiri 1 jari medial LMCS
RIC V
• auskultasi : irama reguler, gallop (-),
bising (-)
www.themegallery.com
• Abdomen
• inspeksi : distensi (-)
• palpasi : supel, hepar dan lien tidak
teraba, turgor kulit baik
• perkusi : timpani
• auskultasi : bising usus (+) normal

www.themegallery.com
• Eksremitas
• akral hangat, CRT < 2’’
• refleks fisiologis +/+
• refleks patologis : Babinski -/-,
Oppenheim -/-, Chadoks -/-, Gordon -/-,
Schaefer -/-

www.themegallery.com
• Tanda rangsangan meningeal :
• Kaku kuduk (-)
• Brudzinski I dan Brudzinski II (-)
• Kernig sign (-)

www.themegallery.com
Pemeriksaan Penunjang

• Tidak terdapat pemeriksaan penunjang

www.themegallery.com
D : Kejang demam sederhana
Diagnosa
Diagnosa
Banding

DD : Kejang Demam Kompleks


Rencana

• - Pemeriksaan darah rutin


• - Pemeriksaan elektrolit

www.themegallery.com
Penatalaksanaan
Umum

IVFD KAEN – 1B 54cc/jam


O2 nasal kanul 2 liter/menit
Khusus Diazepam 8mg iv

Stesolid Supp 10mg


Paracetamol syr 120mg/5ml
Khusus 3Xcth 1 1/2 (T ≥ 38,50 C)
Luminal 2 x 40mg
Tanggal Subjektif Objektif Assesment Planing

13 Juli 2018 -Kejang (-) KU: Sakit kejang - IVFD KAEN


Demam (+) sedang – 1B
Batuk kering Kesadaran: demam 54cc/jam
(+) composmenti sederhana - O2 nasal
Muntah (-) s kooperatif kanul 2
BAB dan BAK HR: dalam liter/menit
normal 92x/menit perbaikan - Luminal
RR: 2x40mg
24x/menit - Paracetamol
T: 38,8 C syr
BB: 16 kg 120mg/5ml
3Xcth 1 1/2 (T
≥ 38,50 C)

www.themegallery.com
Tanggal Subjektif Objektif Assesment Planing

14 Juli 2018 -Kejang (-) KU: Sakit kejang - IVFD KAEN


Demam (-) sedang – 1B
Batuk kering Kesadaran: demam 54cc/jam
(-) composmenti sederhana - Luminal
Muntah (-) s kooperatif 2x40 mg
BAB dan BAK HR: dalam - Paracetamol
normal 80x/menit perbaikan syr
RR: 120mg/5ml
18x/menit 3Xcth 1 1/2 (T
T: 37,1 C ≥ 38,50 C)
BB: 16 kg

www.themegallery.com
Diskusi
• Seorang pasien anak laki-laki, usia 5 tahun
dibawa dengan keluhan utama kejang 6 jam
sebelum masuk rumah sakit, seluruh tubuh,
frekuensi 1 kali, lama kejang ± 5 menit, anak
sadar sebelum dan sesudah kejang. Follow up
dalam 24 jam pertama tidak terdapat kejang
ulangan setelahnya. Sebelum kejang, pasien
sudah merasakan demam selama 14 jam
sebelum masuk rumah sakit. Pola gambaran
kejang sesuai dengan gambaran kejang
demam sederhana.

www.themegallery.com
• Pasien kemungkinan mengalami infeksi
yang ditunjukkan dengan adanya
keluhan batuk sejak 1 hari sebelum
masuk rumah sakit dan hal ini
kemungkinan merupakan salah
pencetus timbulnya demam dan bahkan
bisa mencetuskan munculan demam
kembali. Sehingga perlu diketahui
penyebab infeksi pada pasien ini dan
diberikan penatalaksanaan yang sesuai.
www.themegallery.com
• Hasil pemeriksaan fisik pasien menunjukkan tidak ada
kelainan selain peningkatan suhu tubuh. Tidak
ditemukan adanya ronkhi pada pasien dan perubahan
pola nafas pada pasien kecuali batuk yang mungkin
menunjukkan adanya infeksi saluran nafas pada
pasien namun penyebabnya perlu dipastikan.
• Pada pasien ini, kecenderungan diagnosis kearah
kejang demam bukan akibat infeksi intrakranial karena
pada pasien terjadi peningkatan suhu tubuh secara
cepat yang diikuti oleh kejang, bukan demam yang
terjadi bersamaan atau setelah kejang.

www.themegallery.com
• Pada pasien ini,diberikan infus KAEN I B, obat
anti kejang dan paracetamol diberikan per
oral. Pasien dirawat dengan tujuan untuk
observasi apakah terdapat kejang ulangan
yang mungkin dapat merubah diagnosis serta
prognostik penyakit pasien.
• Walaupun pasien tidak mengalami kejang lagi,
pasien tetap diberikan anti kejang berupa
luminal 2x40 mg po dengan tujuan untuk
mengurangi angka kejadian kejang berikutnya
pada pasien sebab pasien masih dalam
kondisi demam yang potensial untuk
www.themegallery.com
mencetuskan kembali kejang.
• Prognostik penyakit pasien ini adalah baik, namun dengan
kondisi pasien sekarang potensi untuk kembali kejang
adalah besar. Sehingga, pasien diberikan anti pireutik,
dianjurkan untuk sering minum dan dikompres untuk
menurunkan suhu tubuh pasien. Kejang demam akan
berulang kembali pada sebagian kasus. Faktor risiko
berulangnya kejang demam yaitu apabila kejang demam
pertama merupakan kejang demam kompleks, riwayat
kejang demam, atau epilepsi dalam keluarga, usia kurang
dari 12 bulan, suhu tubuh kurang dari 39 derajat celcius
saat kejang dan interval waktu yang singkat antara awitan
demam dengan terjadinya kejang. Bila seluruh faktor diatas
ada, kemungkinan berulangnya kejang adalah 80 %,
sedangkan bila tidak terdapat faktor tersebut maka
kemungkinan berulangnya kejang demam hanya 10-15%.
www.themegallery.com
Kepaniteraan Klinik Senior Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUD Solok

L/O/G/O