Anda di halaman 1dari 18

 Syokseptik  sepsis berat yang disertai

adanya hipotensi atau hipoperfusi.

 Awalnya didahului oleh systemic inflammatory


response syndrome (SIRS).
 SIRS  suatu respon peradangan terhadap adanya
infeksi bakteri, fungi, ricketsia, virus, dan
protozoa.

 Sepsis  SIRS yang disertai adanya bukti infeksi.

 Sepsisberat  sepsis yang disertai dengan salah


satu disfungsi organ kardiovaskular atau acute
respiratory distress syndrome, atau ≥2 disfungsi
organ lain (hematologi, renal, hepatik).
 Tahun 2009 di RSCM divisi Pediatrik Gawat
Darurat (PGD) Departemen Ilmu Kesehatan
Anak (IKA) Persentase kejadian sepsis
19,3% dari 501 pasien yang dirawat di
Pediatric Intensive Care Unit (PICU) dengan
angka mortalitas 10%.
 Jenis kuman gram negatif yang sering menyebabkan
syok septik adalah Escherichia coli dan grup Klebsiella-
Aerobacter.
 Jenis kuman gram positif yang sering menyebabkan
syok septik adalah Diplococcus pneumonia,
Staphylococcus aureus, dan Streptococcus β
hemolyticus.
 Staphylococcus Aureus dan bakteri gram negatif lebih
sering ditemukan di negara berkembang.
 Produk yang berperan penting terhadap sepsis
adalah lipopolisakarida, komponen terluar dari
bakteri gram negatif.
 Lipopolisakarida merupakan penyebab sepsis
terbanyak, dapat langsung mengaktifkan sistem
imun seluler dan humoral yang dapat
menimbulkan gejala septikemia.
 Lipopolisakarida
tidak toksik, namun
merangsang pengeluaran mediator inflamasi.
 Padasyok septik, seringkali hipotensi yang timbul
adalah akibat kegagalan dari otot-otot halus
pembuluh darah berkonstriksi.
 Syok septik merupakan kombinasi dari tiga tipe
klasik syok yaitu:
• Hipovolemik terjadi akibat kehilangan cairan intravaskular
melalui kebocoran kapiler
• Kardiogenik terjadi karena efek depresan miokardium akibat
sepsis
• Distributif diakibatkan oleh menurunnya tahanan vaskular
sistemik.
 Syok
septik dibedakan ke dalam 2 jenis, yaitu
warm Shock dan cold shock.
• Warm shock ditandai dengan curah jantung yang
meningkat, kulit yang hangat dan kering, serta
bounding pulse
• cold shock ditandai oleh curah jantung yang menurun,
kulit lembab dan dingin, serta nadi yang lemah
Endotoksin antagonis Memicu pelepasan mediator
Infeksi masuk secara
(komponen-komponen dinding inflamasi (sitokin, prostaglandin,
sistemik/sirkulasi
bakteri) yg masuk akan leukotrien, histamin, komplemen,
darah
berikatan dengan makrofag faktor koagulasi)

SIRS -> SEPSIS

Proses inflamasi yg terjadi secara


Terjadi proses inflamasi destruktif
terus menerus dapat melebihi
kemampuan homeostasis

Disfungsi endotel Disfungsi miokard

Terjadi Akan menyebabkan


vasodilatasi terjadinya penurunan
curah jantung

Menyebabkan terganggunya
distribusi aliran darah ke
organ –organ dan jaringan

Kemudian terjadi
hipoperfusi jaringan
Syok Septik
 Perubahan suhu (hipertermia atau hipotermia)
 Takikardia
 Takipnea
 Hipotensi
 Hipoperfusi (Capillary refill time melambat,
Akral dingin, tekanan nadi yang melemah)
 Penurunan kesadaran
SIRS Respons inflamasi sistemik berupa kumpulan
manifestasi klinis yang ditandai dengan minimal 2
dari 4 kriteria berikut, salah satunya harus berupa
suhu tubuh atau jumlah leukosit yang abnormal:
 Suhu tubuh >38 atau <36 C
 Takikardi / bradikardia
 Frekuensi pernapasan >2SD di atas normal
berdasarkan usia
 Jumlah leukosit meningkat atau menurun
berdasarkan usia
Sepsis
 SIRS pada keadaan atau akibat infeksi

Sepsis berat
 Sepsis disertai salah satu kondisi berikut:
disfungsi kardiovaskuler ATAU acute respiratory
distress syndrome (ARDS) ATAU dua atau lebih
disfungsi organ.
Syok septik
 Sepsis dan disfungsi kardiovaskuler.
Pemeriksaan laboratorium:
 Darah lengkap
 Urinalisis
 Elektrolit

Pemeriksaan radiologis:
 Rontgen toraks.

Pemeriksaan kultur:
 Darah dan
 Urin
 kultur cairan serebrospinal (CSF)

Pemeriksaan petanda biologis:


 C-reactive protein (CRP)
Angka mortalitas syok septik tergantung
pada lokasi pertama kali infeksi,
patogenisitas organisme penyebab,
timbulnya multiorgan disfunction
syndrome (MODS), serta respon imun dari
pejamu.
1. Enrionne MA, Powell KR. Sepsis, Septic Shock, and Systemic
Inflammatory Response Syndrome. Dalam: Kliegman RM, Jenson
HB, Behrman RE, Stanton BF, penyunting. Nelson Textbook of
Pediatrics. Edisi ke-18. Philadelphia: Saunders
Elsevier;2007.h.1094-99.
2. Effendi SH, Meinardaniawati D. Syok septik pada neonatus.
Bandung: IKA Universitas Padjajaran; 2014.h.2-14.
3. Saraswati DD, Pudjiadi AH, Mulyadi MD, Supriyatno B, Syarif DR,
Kurniati N. Faktor risiko yang berperan pada mortalitas sepsis.
Sari Pediatri. 2014;15(5):281-282.
4. Pudjiadi A. Syok septik pediatrik. Tata Laksana Berbagai
Keadaan Gawat Darurat pada Anak. Jakarta: Departemen Ilmu
Kesehatan Anak FKUI-RSCM. 2013.h.11-20.
5. IDAI. Pedoman pelayanan medis. Jakarta: Ikatan Dokter Anak
Indonesia;2009.h. 295-297.
6. El-wiher N, Cornell TT, Kissoon N, Shanley P. Management and
Treatment Guidelines for Sepsis in Pediatric Patients. Open
Inflamm J. 2011 Oct 7; 4: 101–109.