Anda di halaman 1dari 21

BIOAVAILABI LITAS OBAT DAN

FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHINYA
Husnul Warnida
PENDAHULUAN
Biofarmasetika mengkaji penerapan ilmu fisika,
kimia, dan biologi terhadap obat, bentuk sediaan
obat dan absorpsi obat. Pertimbangan
biofarmasetika berperan penting dalam
keberhasilan merancang bentuk sediaan obat.
Evaluasi dan interpretasi studi biofarmasetika
merupakan bagian integral dari pengembangan
obat (drug product design).
Hal-hal yang dikaji dalam bidang biofarmasetika
antara lain :

 Pengaruh dan interaksi antara formulasi obat dan


teknologi
 Pengaruh dan interaksi antara obat dan lingkungan
biologik pada site absorpsi dan cara pemberian
obat → menentukan disposisi zat aktif dalam tubuh
 Pengaruh dan interaksi antara zat aktif dengan
tubuh → menentukan bioavailabilitas obat secara
biologis
 Fase biofarmasi obat per oral meliputi :
pembebasan obat dari bentuk sediaan,
disintegrasi dan disolusi di dalam cairan tubuh,
absorpsi obat ke dalam peredaran sistemik,
sehingga obat tersedia secara biologis untuk
bekerja.
BIOAVAILABILITAS OBAT
 dua produk obat yang secara kimia setara (pada
penilaian in vitro) dapat memberikan perbedaan
jumlah kadar obar yang dicapai dalam plasma
darah (penilaian in vitro). Hal ini disebabkan
perbedaan jumlah zat berkhasiat yang tersedia
untuk memberikan efek terapetik.
 Biological availability (ketersediaan biologis)
adalah jumlah relatif obat atau zat aktif suatu
produk obat yang diabsoprsi, serta kecepatan obat
itu masuk ke dalam peredaran darah sistemik.
Obat dinyatakan available (tersedia) jika setelah
diabsoprsi obat tersebut tersedia untuk bekerja
pada jaringan yang dituju dan memberikan efek
farmakologis setelah berikatan dengan reseptor di
jaringan tersebut.
Pharmaceutical availability
 ukuran untuk bagian obat yang in vitro dilepaskan dari
bentuk sediaannya dan siap diabsorpsi. Dengan kata lain,
kecepatan larut obat yang tersedia in vitro.
Dari penelitian pharmaceutical availability sediaan tablet
diketahui bahwa setelah ditelan, tablet akan pecah
(terdesintegrasi) di dalam lambung menjadi granul-granul
kecil. Setelah granul pecah, zat aktif terlepas dan melarut
(terdisolusi) di dalam cairan lambung atau usus. Setelah
melarut, obat tersedia untuk diabsorpsi. Peristiwa ini disebut
fase ketersediaan farmasetik.
 Biovailabilitas diukur secara in vivo dengan
menentukan kadar plasma obat setelah tercapai
keadaan tunak (steady state). Pada keadaan ini,
terjadi kesetimbangan antara kadar obat di semua
jaringan tubuh dan kadar obat di plasma relatif
konstan karena jumlah obat yang diabsorpsi dan
dieliminasi adalah sama. Umumnya terdapat
korelasi yang baik antara kadar plasma dan efek
terapetik obat.
 Biovailabilitas obat sangat bergantung pada 2
faktor, yaitu faktor obat dan faktor pengguna
obat. Terdapat kemungkinan obat yang sama
diberikan pada orang yang sama, dalam keadan
berbeda, memberikan kurva dosis-respon yang
berbeda.
Faktor obat
 Kelarutan obat
 Ukuran partikel
 Bentuk fisik obat
 Dosage form
 Teknik formulasi
 Excipient
Faktor Pengguna
 Umur, berat badan, luas permukaan tubuh
 Waktu dan cara obat diberikan
 Kecepatan pengosongan lambung
 Gangguan hepar dan ginjal
 Interaksi obat lain
PARTICLE SIZE
 Kecepatan disolusi obat berbanding lurus dengan
luas permukaan yang kontak dengan cairan.
Semakin kecil partikel, semakin luas permukaan
obat, semakin mudah larut
DRUG SOLUBILITY
Pengaruh daya larut obat bergantung pada :
 sifat kimia (atau modifikasi kimiawi obat)
 sifat fisika (atau modifikasi fisik obat)
Modifikasi Kimiawi Obat
a. Pembentukan Garam
Obat yang terionisasi lebih mudah dalam air
dari[pada bentuk tidak terionisasi. Pembentukan
garam ini terutama penting dalam hal zat aktif
berada dalam saluran cerna, kelarutan modifikasi
sewaktu transit di dalam saluran cerna, karena
perbedaan pH lambung dan usus.
b. Pembentukan Ester
Daya larut dan kecepatan melarut obat dapat
dimodifikasi dengan membentuk ester. Secara
umum, pembentukan ester memperlambat kelarutan
obat
Beberapa keuntungan bentuk ester, antara lain :
1. Menghindarkan degradasi obat di lambung
2. Memperlama masa kerja obat
3. Menutupi rasa obat yang tidak enak
Modifikasi Bentuk Fisik Obat
a. Bentuk Kristal atau Amorf
Bentuk amorf tidak mempunyai struktur tertentu, terdapat
ketidakteraturan dalam tiga dimensinya. Secara umum, amorf
lebih mudah larut daripada bentuk kristalnya
b. Pengaruh Polimorfisme
Fenomena polimorfisme terjadi jika suatu zat menghablur dalam
berbagai bentuk Kristal yang berbeda, akibat suhu, teakanan,
dan kondisi penyimpanan
c. Bentuk Solven dan Hidrat
Sewaktu pembentukan Kristal, cairan-pelarut dapat membentuk
ikatan stabil dengan obat, disebut solvat
FAKTOR FISIKA KIMIA LAIN
a. pKa dan Derajat Ionisasi
b. Koefisien Partisi Lemak-Air
TEKNIK FORMULASI
 Faktor-faktor manufaktur (pembuatan obat) dapat mengurangi bioavailabilitas
obat, diantaranya :
1. Peningkatan kompresi (tekanan) pada waktu pembuatan meningkatkan
kekerasan tablet. Hal ini menyebabkan waktu disolusi dan disintegrasi menjadi
lebih lama.
2. Penambahan jumlah bahan pengikat pada formula tablet atau granul akan
meningkatkan kekerasan tablet, mengakibatkan perpanjangan waktu
disintegrasi dan disolusi
3. Peningkatan jumlah pelincir (lubricant) pada formula tablet akan mengurangi
sifat hidrofilik tablet sehingga sulit terbasahi (wetted). Hal ini memperpanjang
waktu disintegrasi dan disolusi
4. Granul yang keras dengan waktu kompresi yang cepat serta kekuatan yang
tinggi akan menyebbakan peningkatan suhu kompresi, sehingga obat yang
berbentuk kristal mikro akan membentuk agregat yang lebih besar.
EXCIPIENT
 Obat jarang diberikan tunggal dalam bahan aktif.
Biasanya dibuat dalam bentuk sediaan tertentu
yang membutuhkan bahan-bahan tambahan
(excipients). Obat harus dilepaskan (liberated) dari
bentuk bentuk sediaannya sebelum mengalami
disolusi, sehingga excipients dapat
mengakibatkan perubahan disolusi dan absorpsi
obat.
BENTUK SEDIAAN
 Kecepatan disolusi sangat dipengaruhi oleh
bentuk sediaan obat. Kecepatan disolusi dari
berbagai sediaan oral menurun dengan urutan
berikut :
Larutan < suspensi < emulsi < serbuk < kapsul <
tablet < film coated (salut film) < dragee (salut
gula) < enteric coated (salut selaput) < sustained
release/retard
Terima kasih....

Anda mungkin juga menyukai