Anda di halaman 1dari 69

Presentasi Kasus

STRABISMUS
Aditiya
Maulana
Ginting
110.2010.007
Fakultas Kedokteran
Universitas YARSI

NARASUMBER :

dr. Juniati Pax Victoria Pattiasina, Sp.M


LATAR BELAKANG

apabila tidak ditangani dengan baik dapat


menyebabkan ambliopia > kebutaan permanen

terjadi pada kira-kira 2% anak - anak usia


dibawah 3 tahun dan sekitar 3% remaja dan
dewasa muda

Strabismus (Heteropia) :penyakit di mana kedua


mata kehilangan kemampuan untuk
menyelaraskan arah penglihatan satu dengan
yang lainnya
STATUS PASIEN
IDENTITAS PASIEN
ANAMNESA

Autoanamnesa dilakukan dengan pasien di poli Mata RSPAD


Gatot Soebroto pada tanggal 9 Mei 2014, pukul 11.30
ANAMNESA (cont.)
Riwayat Penyakit Sekarang:
ANAMNESA (cont.)
ANAMNESA (cont.)

Riwayat Penyakit Dahulu :


-Pasien lahir prematur
-Pasien pernah menderita penyakit cerebral palsy.
-Pasien tidak pernah menderita trauma dan operasi
pada mata.

Riwayat Penyakit Keluarga:


Tidak ada keluarga yang memiliki penyakit yang sama
dengan pasien.
STATUS GENERALIS PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum : Baik


Kesadaran : Compos mentis
Tanda-tanda vital :
Tekanan darah : Tidak diperiksa
Nadi : 80 kali/menit
Pernapasan : 20 kali/menit
Suhu : Afebris
Kepala : Normocephali
THT : Tidak diperiksa
Leher : Tidak diperiksa
Jantung : Tidak diperiksa
Paru-paru : Tidak diperiksa
Abdomen : Tidak diperiksa
STATUS OFTALMOLOGI
2.5 Resume

• Pasien datang dengan keluhan mata tidak fokus.


• Keluhan dan mata kiri terlihat agak juling ke dalam sejak
usia 5 tahun.
• Keluhan tanpa disertai mata merah, nyeri tekan, rasa sakit
dan rasa silau di mata.
• Pasien belum pernah berobat dan tidak memakai kacamata.
• Memiliki riwayat lahir prematur dan pernah terdiagnosis
cerebral palsy.
• Tidak memiiki riwayat trauma dan operasi pada mata.
• Orang tua tidak ada yang memakai kacamata, dan pada
keluarga tidak ada yang pernah memiliki riwayat yang sama
dengan pasien.
• Pemeriksaan fisik generalis terlihat dalam batas normal.
Pemeriksaan fisik oftalmologis, didapat :
KETERANGAN OD OS

0,2 0,1
Visus
S+0,75 C-1,00 X 180o→ 1,0 S+1,75 C-2,00 X 180o→ 1,0
Koreksi

Distansia pupil 59 mm

Deviasi Tengah Mengarah ke nasal

Baik ke segala arah Keterlambatan gerak


Gerakan bola mata
Refleksi sinar tengah pupil Refleks sinar pada
Tes Hirschberg
temporal
(30o)

Sama dengan pemeriksa Sama dengan pemeriksa


Tes konfrontasi
2.6 Diagnosis Kerja
- Strabismus esotropia non akomodatif OS
- Kelainan refraksi ODS
2.7 Diagnosis Banding
Tidak ada
2.8 Anjuran pemeriksaan
a. Uji Krimsky
b. Uji sudut Kappa
c. Strick retinoskopi
c. Perimetri
d.CT-Scan Kepala
2.9 Penatalaksanaan
- Pemakaian kacamata untuk kelainan refraksi.
2.10 Prognosis
Ad Vitam : Bonam
Ad Functionam : Dubia Ad Bonam
Ad Sanactionam : Dubia Ad Bonam
TINJAUAN PUSTAKA

√ ASPEK MOTORIK STRABISMUS

 ASPEK SENSORIK STRABISMUS


ASPEK MOTORIK
STRABISMUS

Sumber: Atlas Sobotta


M.Obliquus
Superior M. Rectus
Superior

M. Rectus
Medialis M. Rectus
Lateralis

M. Rectus
Inferior
Sumber: Atlas Sobotta
 Otot-otot ekstraokular dipersarafi oleh
3 nervus kranialis, yaitu:
 Nervus Okulomotor (N.III) 
M. Rektus Superior,
M.Rektus Inferior,
M.Rektus Medialis,
M.Oblikus Inferior.
 N. Troklearis (N.IV)  M.Oblikus Superior
 N. Abdusen (N.VI)  M.Rektus Lateralis.
Nervus III
Nervus IV

Nervus VI

Sumber: Atlas Sobotta


 Setiap otot ekstraokular memiliki fungsi primer,
sekunder dan tersier masing masing:

Primer Sekunder Tersier


M.Oblikus Superior Intorsi Depresi Adduksi

M. Oblikus Inferior Ekstorsi Elevasi Abduksi

M. Rektus Superior Elevasi Intorsi Abduksi

M. Rektus Inferior Depresi Ekstorsi Adduksi


M. Rektus Medialis Adduksi

M. Rektus Lateralis Abduksi


 Hukum Herring, yaitu bahwa setiap otot ekstraokuler
memiliki pasangan yang disebut yoke pairs.
Arah Gerak Mata Pasangan Otot
Kanan Rektus Lateralis OD – Rektus Medialis OS

Kiri Rektus Lateralis OS – Rektus Medialis OD

Atas Kanan Rektus Superior OD – Oblikus Inferior OS

Atas Kiri Rektus Superior OS – Oblikus Inferior OD

Bawah Kanan Rektus Inferior OD – Oblikus Superior OS

Bawah Kiri Rektus Inferior OS – Oblikus Superior OD


Arah gerak mata :

Sumber: Medscape
ASPEK SENSORIK STRABISMUS

Fusi sensorik

2 BAYANGAN  1 GAMBAR

impresi kedalaman (stereopsis)

Sumber: Medscape
Syarat fusi sensorik :
 Bayangan jatuh pada fovea kedua bola
mata.
 Bayangan harus dipertahankan terletak di
dalam fovea sentralis.
 Kedua mata harus dapat menangkap dan
mengirimkan tangkapan sensorik
bayangan dengan baik.
 Tangkapan sensorik dari mata harus dapat
sampai ke korteks visual primer.
STRABISMUS

DEFINISI

PATOFISIOLOGI
EPIDEMIOLOGI TATALAKSANA
MANIFESTASI
KLINIS PROGNOSIS
ETIOLOGI KOMPLIKASI

DIAGNOSIS

KLASIFIKASI
STRABISMUS DEFINISI

Strabismus yang berarti juling, merupakan


penyakit di kedua mata
mana
kehilangan kemampuan untuk
menyelaraskan arah penglihatan
satu dengan yang lainnya.
EPIDEMIOLOGI

 Penelitiandari US menemukan tingkat prevalensi


dari masing-masing jenis strabismus, yaitu
64/100.000 populasi untuk eksotropia dan
12,9/100.000 populasi untuk hipertropia.

 Insiden
lebih banyak terjadi di anak-anak berusia
kurang dari 7 tahun.

 Memiliki
angka prevalensi yang lebih tinggi di
orang dengan keterbelakang mental (44,1%)
dibandingkan dengan populasi secara umum
ETIOLOGI

• Karena kelainan genetik yang diturunkan.


Genetik • Penyebab utama strabismus
nonparalitik

• Strabismus paralitik dihubungkan dengan


Kelainan kelainan dari fungsi nervus okulomotor,

Nervus Kranialis troklea dan abdusen

•Restriksi gerakan bola mata dapat juga


menyebabkan strabismus.
Restriksi •Hal ini dapat terjadi seperti dalam kasus Graves’
disease dan faktor rongga orbita

•Penurunan visus mata dapat dihubungkan dengan


Kelainan strabismus. Hal ini dibuktikan oleh sebuah
penelitian, di mana 13,5% bayi prematur dengan
sensorik mata Retinopathy of Newborn memiliki strabismus.
KLASIFIKASI

Arah
Deviasi Frekuensi Variasi
Deviasi dengan
arah
• Esotropia tatapan
• Eksotropia •Laten
• Hipertropia •Intermiten •Komitan
• Hipotropia •Konstan •Nonkom
itan
Arah deviasi

Infantil
 Sebelum usia 6 bulan
Sumber: Medscape

Akomodatif
 Akomodasi >>  Lemahnya otot divergen

Esotropia Esotropia
Nonakomodatif
 Mucul setelah usia ≥2 tahun,

Paretik
 biasanya terjadi pada orang
dewasa karena terdapat kelainan
nervus kranialis
Eksotropia

Sumber: Medscape

• Timbul pada usia ≤ 6 bulan


Infantil • Angka kejadian lebih rendah daripada
esotropia infantil

• gejala klinis usia ≤ 5 tahun


Intermiten • Bersifat progresif
• Kelanjutan dari eksoforia

• Kelanjutan dari eksotropia intermiten.


Konstan • Dapat menyebabkan supresi pada mata
yang mengalami deviasi  ambliopia
Hipertropia

Sumber: Medscape

 Disebabkan oleh kelainan anatomis dari insersi


otot-otot ekstraokular.

 Hipertropia juga dapat disebabkan paresis otot


oblik superior.

 Strabismus jenis ini biasanya muncul pada masa


dewasa.
Hipotropia

Sumber: Medscape

 Jenis strabismus yang jarang terjadi.

 Biasanya terjadi bersamaan dengan


eksotropia dan midriasis dalam kelainan
nervus okulomotor.
Frekuensi Deviasi
 Laten
 Deviasi mata hilang pada saat pasien
melakukan fiksasi penglihatan ke satu objek
 Intermiten
 Deviasiterjadi pada saat-saat tertentu saja,
sedangkan di waktu lain, tidak terjadi deviasi.
 Konstan
 Deviasi terjadi setiap saat tanpa ada perbaikan.
Variasi dengan arah tatapan
 Komitan
 sudut deviasi yang dibentuk sama untuk semua
arah tatapan. Biasanya disebabkan oleh
kelainan bawaan sejak lahir atau kelainan visus
 Nonkomitan
 sudut deviasi yang dibentuk berbeda-beda
untuk arah tatapan yang berbeda. Hal ini
disebabkan oleh hilangnya fungsi dari salah satu
atau beberapa otot ekstraokular
PATOFISIOLOGI

Sumber: Anonim
MANIFESTASI KLINIS

Deviasi arah pandang mata


 Penglihatan ganda/ diplopia
 Sering menutup sebelah mata saat
dibawah terik matahari
Memiringkan kepala saat melihat sesuatu
Mual, sakit kepala, nyeri mata
 Penurunan fungsi stereoskopik mata
Diagnosis

Anamnesis

Pemeriksaan Mata

Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis
ANAMNESIS

1.Waktu Kejadian

2.Pola Deviasi

3.Arah Deviasi

4.Riwayat Keluarga
Pemeriksaan Mata Diagnosis

1. Visus
• Pemeriksaan visus sangat penting untuk mengetahui apakah
pasien telah mengalami supresi atau ambliopia. Pemeriksaan
visus dapat menggunakan tes visus Allen bagi pasien anak
kecil, E chart dan Snellen alphabet. Apabila pasien masih
belum dapat berbicara, pemeriksaan dapat dilakukan dengan
cara melihat gerakan mata dalam mengikuti benda bergerak
yang kecil
2. Penentuan Kelainan Refraksi
• Penentuan kelainan reraksi menentukan apakah strabismus
disebabkan oleh kelainan refraksi. Perbedaan refraksi antara
mata kiri dan kanan yang jauh (anisometropi) dan derajat
hipermetropi yang tinggi dapat menyebabkan strabismus.
Pemeriksaan Mata (lanjutan)

3. Inspeksi
• Pada inspeksi, dokter melihat arah deviasi mata, pola
strabismus (apakah intermiten atau konstan), kualitas fiksasi
mata dan gerakan nistagmoid (yang menandakan fiksasi yang
tidak stabil atau dipaksakan). Harus diberikan perhatian bagi
pasien yang memiliki lipatan epikantus yang besar karena
dapat menyebabkan impresi esotropia (pseudoesotropia).
4. Penentuan Sudut Deviasi Strabismus
• Dapat dilakukan dengan 3 cara :
A. Uji Prisma dan Penutupan
B. Metode Hirschberg
C. Metode Krimsky
Pemeriksaan Mata (lanjutan)

A. Uji Prisma dan Penutupan

• Pertama yang dilakukan adalah uji penutupan


• Prinsip uji penutupan: melihat apakah mata pasien
dapat melakukan fiksasi pada saat salah satunya
ditutup.

• Orang dengan strabismus tidak dapat melakukan fiksasi


pada saat mata dengan deviasi ditutup.

• Pada tes ini, akan terlihat mata pasien melakukan fiksasi


sesaat setelah penutup dibuka.

• Arah gerakan yang dilakukan mata dapat


mencermikan jenis strabismus yang dideritanya.
(lanjutan)

• Selanjutnya adalah penentuan kekuatan prisma yang akan


digunakan.

• Hal ini dilakukan hampir seperti uji penutupan, namun


dilakuan dengan meletakkan prisma dari kekuatan paling
rendah di depan mata yang akan diukur.

• Pada saat penutup pada mata yang ingin diukur dibuka,


dokter harus melihat apakah mata pasien masih bergerak
untuk melakukan fiksasi.

• Apabila masih bergerak, tingkatkan kekuatan prisma yang


digunakan hingga mata pasien tidak melakukan fiksasi lagi
pada saat penutup dibuka.
(lanjutan)

Uji Prisma dan Penutupan


Sumber: Medscape
Pemeriksaan Mata (lanjutan)

B. Metode Hirschberg
• Metode ini dilakukan dengan meminta pasien
melihat sumber cahaya pada jarak 33 cm.

• Pada pantulan dari kornea pasien dapat terlihat


deviasi cahaya senter yang seharusnya jauh di
tengah kornea.

• Lalu diukurlah jarak pergeseran pantulan kornea


lalu dikalikan dengan 18 diopter prisma
Tes Hirschberg
Sumber: Medscape
Pemeriksaan Mata (lanjutan)

C. Metode Krimsky
• Kebalikan dari metode Hirschberg.
• Metode ini tetap dilakukan dengan pasien
melakukan fiksasi ke sumber cahaya yang berjarak
33 cm,
• Namun di tes ini, diberikan prisma pada sumber
cahaya hingga bayangan di kornea tepat di
tengah.
Pemeriksaan Mata (lanjutan)

5. Tes Versi

• Bertujuan untuk mengukur kekuatan otot-otot


ekstraokular mata.
• Tes ini memanfaatkan prinsip yoke pairs pada hukum
Herring. Tes ini dilakukan dengan meminta pasien
mengikuti arah cahaya ke 9 arah gerak mata:.
• Apabila cahaya bergerak ke area gerakan otot yang
mengalami kelemahan, akan terjadi underaction dari
otot yang mengalami kelemahan dan overaction dari
otot pasangannya.

6. Tes Duksi
• Tes duksi sama dengan tes versi, namun dilakukan
dengan satu mata tertutup.
Pemeriksaan Mata (lanjutan)

7. Tes Konvergensi

• Untuk mengukur seberapa kuat kemampuan pasien


mempertahankan penglihatan tunggal pada saat
melihat benda yang mendekat ke arah hidung.
• Tes ini sangat berguna untuk mengukur kekuatan dan
kemampuan pengontrolan otot-otot ekstraokular mata.
• Tes ini dilakukan dengan menggerakkan sebuah sumber
cahaya mendekati jembatan hidung.
• Lalu pasien diminta untuk mempertahankan pandangan
mereka jangan sampai terjadi penglihatan dobel.
• Lalu diukurlah jarak dari jembatan hidung sampai ke titik
dimana pasien tidak dapat mempertahankan
penglihatan tunggalnya.
• Jarak tersebut dianggap normal apabila masih
berukuran kurang dari 5 cm.
Tatalaksana

 Prinsip terapi strabismus ada dua, yaitu:


memulihkan efek supresi sensorik mata dan penjajaran arah
pandang mata secara maksimal.

 Terapi strabismus dilakukan secepatnya atau sebelum anak


berusia 2 tahun, untuk mencegah komplikasi ambliopia.

Tahapan terapi strabismus, sebagai berikut :


1. Koreksi Kelainan Refraksi
2. Terapi Ambliopia
3. Pembedahan Otot Ekstraokuler
4. Terapi Diplopia
5. Kemodenervasi
1. Koreksi Kelainan Refraksi
 Pengoreksian kelainan refraksi merupakan langkah
pertama dalam terapi strabismus.
 Koreksi kelainan refraksi dapat dilakuakan dengan
menggunakan kacamata atau lensa kontak.
 Tujuan dari koreksi ini adalah untuk memperbaiki
strabismus yang disebabkan oleh kelainan refraksi
(strabismus akomodatif).
2. Terapi Ambliopia
 Terapi ambliopia merupakan salah satu terapi
utama dalam strabismus, yang bertujuan untuk
mencegah progresi dari ambliopia itu sendiri.
 Terapi ini menstimulasi mata yang tersupresi agar
tidak berprogresi menjadi ambliopia.
 Biasanya diberikan pada penderita ambliopia di
bawah usia 7 tahun, karena rentang umur tersebut
mudah terjadi ambliopia.
 Terapi ini dimulai dengan terapi oklusi (occlusion
therapy).
3. Pembedahan Otot
Ekstraokuler
 Apabilaterapi sebelumnya belum dapat
mengoreksi deviasi mata, maka dapat dilakukan
pembedahan.
 Pembedahan ini memiliki beberapa prinsip:
1. Reseksi dan Resesi
2. Penggeseran titik perlekatan otot
3. Tindakan Faden
Pembedahan pada Strabismus

Sumber: Medscape
KOMPLIKASI

Ambliopia

Kosmetik
PROGNOSIS

Dengan diagnosis dan penanganan segera


masalah dapat secepatnya teratasi.

Penanganan yang terlambat 


kehilangan penglihatan mata secara
permanen.
KESIMPULAN

1. Strabismus merupakan penyakit di mana terjadi


deviasi arah pandang mata.
2. Penyakit ini berbahaya apabila tidak ditangani
dengan baik dan segera.
3. Penyakit ini sebagian besar didapat pada anak
kecil dan bayi karena ada faktor genetik yang
berperan dalam penurunan penyakit ini. Apabila
menyerang orang dewasa, kemungkinan
disebabkan oleh kerusakan persarafan otot
ekstraokular atau kerusakan langsung pada otot
tersebut.
4. Gejala khas yang timbul pada strabismus antara
lain, deviasi arah pandang mata, diplopia, kelainan
postur kepala saat melihat, sakit kepala dan nyeri
pada mata.
KESIMPULAN

5. Diagnosis strabismus dapat dilakukan dengan uji


penutupan dan prisma, yang mendeteksi arah dan
seberapa besar deviasi yang terjadi, tes Hirschberg dan
tes Krimsky.
6. Ketiga cara diagnosis tersebut dapat memberikan
informasi mengenai karakteristik strabismus yang diderita
pasien.
7. Penanganan strabismus bertujuan untuk mencegah
komplikasi utamanya, yaitu ambliopia.
8. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara
lain pengoreksian visus (untuk strabismus akomodatif),
terapi oklusi (untuk strabismus sedang hingga parah),
terapi penalisasi (apabila terapi oklusi sulit dilakukan),
terapi pembedahan (untuk reparasi definitif deviasi) dan
terapi kemodenervasi (untuk melumpuhkan otot
ekstraokular).
Daftar Pustaka

 [1] W. A. N. Dorland, Dorland’s Pocket Medical Dictionary, 28th


Edition, Saunders, 2008.
 [2] Emelin. Gambaran kejadian strabismus dengan kelainan refraksi.
Diunduh dari www.medicine.uii.ac.id. Diakses tanggal 11 Mei 2014.
 [3] P. Riordan Eva dan E. Cunningham, Vaughan & Asbury’s General
Ophtalmology, 18th Edition, McGraw-Hill, 2011.
 [4] N. Wijana, Ilmu Penyakit Mata, Jakarta: Abdi Tegal, 1993.
 [5] R. P. Rutstein., et al, “Care of the Patient with Strabismus: Esotropia
and Exotropia,” American Optometric Association, Missouri, 2010.
 [6] F. H. Netter,” Atlas of human Anatomy,” Saunders, 2006.
 [7] J. E. Hall, “Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology,”
Saunders, 2010.
 [8] W. Huang, “Extraocular Motility,” Yuan Pei University, Hsinchu.
 [9] G. J. Tortora, “Principles of Anatomy and Physiology,” Wiley, 2008.
 [10] S.H. Ilyas,” Ilmu Penyakit Mata,” Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 2010.
 [11] P. C. Wheatstone, “Stereopsis,” 28 November 2000. [Online]. Available:
http://mysite.du.edu/~jcalvert/optics/stereops.htm.
[Diakses 11 Mei 2014]
 [12] M. Govindan, B.G. Mohney, N.N. Diehl dan J.P. Burke, ‘Incidence and types of childhood
exotropia: a population based study.,” Ophtalmology, vol.112, no.1, pp. 104-8, 2005.
 [13] A. E. Greenberg, et al, “Incidence and types of childhood esotropia: a population-based
study., “Ophtalmology, vol. 114, no.1, pp. 170-4, 2007.
 [14] C. B. Yu, D. S. Fan, V. W. Wong, C.Y. Wong dan D. S. Lam, “Changing patterns of
strabismus: a decade of experience in Hong Kong., “The British Journal of Ophtalmology,
vol.86, no.8, pp.854-6, 2002.
 [15] J. S. Stilma, et al., “Prevalence of ocuar diagnoses found on screening 1539 adults with
intellectual disabilities.
 [16] A. Akinci, etc., “Refractive errors and strabismus in children with Down syndrome: a
controlled study.,”Journal of pediatric ophtalmology and strabismus, vol.46, no.2, pp.83-86,
2009.
 [17] BestPractice, “Strabismus-Basics-Aetiology,” BestPractice, 19 August 2011. [Online].
Available: http://bestpractice.bmj.com/bestpractice/monograph/689/basics/aetiology.html.
[Diakses 11 Mei 2014]
 [18] T. O. Paul dan L. K. Hardage, “The heretability of strabismus.,”Ophtalmic genetics, vol. 15,
no. 1, pp. 1-18, 1994.
 [19] “Ophtalmological follow up of preterm infants: a population based, prospective study of
visual and strabismus,” British Journal of Ophtalmology, vol. 83, no. 1, pp. 143-150, 1993.
 [20] V. V. D. Ocampo, “Infantile Esotropia,” Medscape, 17 February 2010. [Online]. Available:
http://emedicine.medscape.com/article/1198876-overview#a0199.
[Diakses 11 Mei 2014]
 [21] C. Noyes,” Accomodative Esotropia,” Medscape, 6 March 2012. [Online]. Available:
http://emedicine.medscape.com/article/1199512-overview#a0104.
[Diakses 11 Mei 2014]
 [22] M. Bashour, “Congenital Exotropia,” Medscape, 1 December 2011. [Online].
Available: http://emedicine.medscape.com/article/1199102-overview#a0199.
[Diakses 11 Mei 2014]
 [23] N. Thacker, “Acquired Exotropia,” Medscape, 15 February 2012. [Online].Available:
http://emedicine.medscape.com/article/1199004-overview#a0104.
[Diakses 11 Mei 2014]
 [24] K. W. Wright, etc., , Handbook of Pediatric Strabismus and Amblyopia, Springer
Science & Business, 2006.
 [25] R. E. Wiggins dan G. K. Von Noorden, “Monocular eye closure in sunlight., “Journal of
Pediatric Ophtalmology and Strabismus, vol. 27, no1, pp. 16-20, 1990.
 [26] T. Brandt dan M. Dieterich . “ Skew deviation with ocular torsion: a vestibular sign of
topographic diagnostic value., “ Annals of Neurology, vol.33, no.6, pp.628-34, 1993.
 [27] D. B. Henson dan D. E. Williams, “Depth perception in strabismus.” British Journal of
Ophtalmology, vol.64, no. 1, pp.349-353, 1980.
 [28] BestPractice, “Strabismus-Diagnosis-Step-by-step,” BestPractice, 19 August 2011.
[Online]. Available:
http://bestpractice.bmj.com/bestpractice/monograph/689/diagnosis/step-by-step.html.
[Diakses 11 Mei 2014]
 [29] BestPractice, “Strabismus-Treatment-Detail,” BestPractice, 19 August 2011. [Online].
Available: http://bestpractice.bmj.com/bestpractice/monograph/689/treatment.html.
[Diakses 11 Mei 2014]
 [30] A. Ron dan I. Nawratzki, “”Penalization treatment of amblyopia: a follow-up sudy of
two years in other children,” Journal of PediatricOphtalmology and Strabismus.
- Terima Kasih -