Anda di halaman 1dari 23

HUBUNGAN POLA ASUH GIZI DENGAN STATUS GIZI

STUNTING PADA ANAK USIA TODLER (1-3 TAHUN) DI


PUSKESMAS KABUPATEN SUMENEP

ROBETA L INTANG DWIWARDANI


131611123044
B19/AJ1
BAB I PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Masalah Balita pendek di Indonesia merupakan masalah kesehatan
dalam kategori masalah kronis. Stunting (pendek) merupakan salah satu
bentuk gizi kurang yang ditandai dengan indikator tinggi badan menurut
umur hasilnya berada di bawah normal (Kemenkes RI, 2015). Pada penelitian
BD Welasasih dan RB Wirjatmadi (2012) didapatkan usia terbanyak pada
kelompok balita stunting yaitu usia 25–36 bulan.
Tingginya prevalensi anak stunting telah memosisikan Indonesia ke dalam lima
besar dunia masalah stunting.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 mencatat
angka kejadian stunting nasional mencapai 37,2%. Angka ini
meningkat dari 2010 sebesar 35,6%. Menurut Kemenkes RI
tahun 2014 yang dilakukan oleh PSG (Pemantauan Status
Gizi) Prevalensi Balita pendek cenderung tinggi, dimana
terdapat 8,5% Balita sangat pendek dan 19,0% Balita
pendek. Di Jawa Timur prevalensi balita stunting yaitu
37.2%. Menurut data Dinkes Sumenep tahun 2012
prevalensi balita stunting yaitu kurang dari 32%.
Stunting merupakan akibat dari keadaan yang berlangsung lama, misalnya pola
asuh/pemberian makan yang kurang baik dari sejak anak dilahirkan yang
mengakibatkan anak menjadi pendek. Stunting tidak hanya mengakibatkan
tubuh anak yang pendek, tetapi juga memengaruhi pertumbuhan anak saat
dewasa menjadi tidak maksimal. Perkembangan mental anak juga menjadi
terganggu. Kemampuan kognitif yang terhambat pada anak kurang gizi ini
menyebabkan produktivitas ekonomi mereka menurun sehingga berdampak
pada perekonomian nasional (Hamam Hadi, 2016).
BAB I PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Oleh karena itu perlu upaya untuk menanggulangi masalah gizi
tersebut. Anak toddler yang mendapatkan kualitas pengasuhan yang lebih
baik besar kemungkinan akan memiliki angka kesakitan yang rendah dan
status gizi yang relatif lebih baik. menurut Widayani, dkk tahun 2001, ada
hubungan yang sangat kuat antara pola asuh dengan status gizi toddler.
Menurut Satoto dalam Harsiki, T, tahun 2002 faktor yang cukup dominan
yang menyebabkan meluasnya keadaan gizi kurang ialah perilaku yang
kurang benar dikalangan masyarakat dalam memilih dan memberikan
makanan kepada anggota keluarganya, terutama pada anak – anak.
Memberikan makanan dan perawatan anak yang benar mencapai status gizi
yang baik melalui pola asuh yang dilakukan ibu kepada anaknya akan
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Untuk mengetahui
bagaimana pola asuh anak toddler dan kaitannya dengan keadaan gizi anak
toddler maka peneliti merasa perlu melakukan penelitian di Puskesmas
Kabupaten Sumenep.
BAB I PENDAHULUAN

RUMUSAN MASALAH

Bagaimanakah hubungan pola asuh gizi dengan


status gizi stunting pada anak usia toddler di
puskesmas kabupaten sumenep?
BAB I PENDAHULUAN

TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan Umum
Mengidentifikasi hubungan pola asuh makan dengan
status gizi stunting pada anak usia toddler di puskesmas
kabupaten Sumenep.
2. Tujuan Khusus
1)Mengidentifikasi status gizi stunting anak toddler di
daerah kabupaten Sumenep
2)Mengidentifikasi pola asuh gizi anak toddler di daerah
kabupaten Sumenep
3)Mengidentifikasi hubungan pola asuh gizi dengan
status gizi stunting anak
BAB I PENDAHULUAN

MANFAAT PENELITIAN
1. Teoritis
hasil penelitian dapat mengidentifikasi
hubungan pola asuh makan dengan status gizi
stunting pada anak usia toddler
2. Praktis
Diharapkan ibu dapat menerapkan pola asuh
makan yang sesuai untuk meningkatkan status
gizi anak toddler
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Teori Anak usia Toddler

B. Konsep Teori Status Gizi Stunting

C. Konsep Teori Pola Asuh Gizi


BAB III KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN

KERANGKA KONSEPTUAL
BAB III KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN

HIPOTESIS PENELITIAN

H1: Ada hubungan pola asuh terhadap


status gizi stunting pada anak usia
toddler di puskesmas kabupaten
Sumenep
BAB IV METODE PENELITIAN

RANCANGAN PENELITIAN
Desain penelitian ini adalah cross sectional.
Dimana data yang menyangkut variabel bebas
dan terikat dikumpulkan pada waktu yang
bersamaan.
BAB IV METODE PENELITIAN

POPULASI, SAMPLE, SAMPLING


 Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh anak toddler (1-
3 tahun) beserta ibunya di daerah kabupaten Sumenep
 Berdasarkan penghitungan didapatkan sample sebesar 100 orang
 Kriteria inklusi: ibu yang memiliki anak usia toddler (1-3 tahun),
toddler dengan status gizi stunting, usia kehamilan > 36minggu,
berat lahir sesuai usia gestasi
 Kriteria eksklusi: balita yang mengalami drop out di tengah
penelitian, ada riwayat komplikasi perinatal, gangguan bawaan,
penyakit kronis, atau cacat perkembangan.
 Teknik pengambilan sample dilakukan secara simple random
sampling.
BAB IV METODE PENELITIAN

VARIABEL PENELITIAN
 variable independent: pola asuh
Variabel dependent: status gizi stunting
BAB IV METODE PENELITIAN

DEFINISI OPERASIONAL
Variabel Definisi Parameter Instrumen Skala Skor
Operasional
Indepen Suau proses 1. usia Kuesioner ordinal 1. Baik:
den: interaksi 2. Makanan Berjumlah 21-30
pola antara yang 30 2. Cukup:
asuh gizi orangtua dan diberikan pertanyaa 11-20
anak balita 3. Jumlah n 3. Kurang
dalam pemberian : 0-10
pemenuhan dalam sehari
gizi 4. Waktu
pemberian
makan
BAB IV METODE PENELITIAN

DEFINISI OPERASIONAL
Variabel Definisi Parameter Instrumen Skala Skor
Operasional
Depend status gizi yang 1. Tinggi Mengukur Ordin Hasil
en: didasarkan pada badan/p tinggi al pengukuran
Stunting indeks Panjang anjang badan dan dengan z
Badan menurut badan umur: score:
Umur (PB/U) atau 2. Umur • Microtois 1. Pendek: < -
Tinggi Badan e (usia 2SD
menurut Umur >2tahun) 2. sangat
(TB/U) yang • Alat ukur pendek <-
merupakan panjang 3SD.
padanan istilah badan
stunted (pendek) (usia
dan <2tahun)
severely stunted
(sangat pendek).
BAB IV METODE PENELITIAN

INSTRUMEN DAN PENGUMPULAN DATA


INSTRUMEN:
1. Microtoise untuk mengukur tinggi badan anak toddler di atas 2 tahun.
2. Alat ukur panjang badan untuk mengukur tinggi badan anak toddler di
bawah 2 tahun
3. Formulir pengukuran tinggi badan dan umur anak toddler untuk
menentukan status gizi anak toddler.
4. kuesioner
PENGUMPULAN DATA:
wawancara langsung pada ibu babita menggunakan kuesioner, status gizi
babita ditentukan menggunakan antropometri dengan mengukur berat
badan dan tinggi badan
BAB IV METODE PENELITIAN

UJI ANALISIS
Untuk melihat hubungan antara variable dilakukan
dengan menggunakan uji chi-square
BAB IV METODE PENELITIAN

LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN

Penelitian ini akan dilakukan di Puskesmas Kabupaten


Sumenep, pada Bulan Agustus 2017.
KEASLIAN PENELITIAN
NO. JUDUL KARYA ILMIAH DAN VARIABEL JENIS PENELITIAN HASIL
PENULIS

1. Hubungan pola asuh Pola asuh Cross sectional Tidak ada variable
pemenuhan nutrisi dalam pemenuhan yang berhubungan
keluarga dengan status gizi balita nutrisi dalam paling bermakna
(Ni Ketut ayu, 2012) keluarga, status dengan status gizi
gizi balita, balita.
karakteristik
keluarga
2. Beberapa factor yang Umur, jenis Cross sectional Faktor umur, jenis
berhubungan dengan status gizi konsumsi, tingkat konsumsi, tingkat
balita stunting (BD. Welasasih kehadiran ke kehadiran ke
dan RB. Wirjatmadi, 2010) posyandu, posyandu,
frekuensi sakit dan frekuensi sakit dan
sakit lama, status lama sakit
gizi stunting berhubungan
bermakna dengan
terjadinya status
gizi stunting
3. Analisis factor-factor Umur, jenis Cross sectional Faktor yang
yang berpengaruh kelamin, usia paling
terhadap status gizi orang tua, dominan
balita di pedesaan tingkat berhubungan
(Mazarina, 2010) Pendidikan dengan status
orang tua, gizi adalah
pekerjaan jenis pekerjaan
orang tua, ayah dan jenis
jumlah pekerjaan ibu
anggota
keluarga, lama
menyususi,
status gizi.
TERIMA KASIH