Anda di halaman 1dari 8

Mekanisme trauma toraks

1. Akselerasi: Kerusakan yang terjadi merupakan akibat langsung dari


penyebab trauma. Gaya perusak berbanding lurus dengan massa
dan percepatan (akselerasi) sesuai dengan hukum Newton II.
Kerusakan yang terjadi juga bergantung pada luas jaringan tubuh
yang menerima gaya perusak dari trauma tersebut.
2. Deselerasi: Kerusakan terjadi akibat mekanisme deselerasi dari
jaringan. Biasanya terjadi pada tubuh yang bergerak dan tiba-tiba
terhenti akibat trauma. Kerusakan terjadi oleh karena pada saat
trauma organ-organ dalam keadaan masih bergerak dan gaya yang
merusak terjadi akibat tumbukan pada dinding toraks/rongga
tubuh lain atau oleh karena tarikan dari jaringan pengikat organ
tersebut.
3. Torsio dan rotasi: Gaya torsio dan rotasi yang terjadi umumnya
diakibat-kan oleh adanya deselerasi organ-organ dalam yang
sebagian strukturnya memiliki jaringan pengikat/terfiksasi.
4. Blast injury: Kerusakan jaringan terjadi tanpa adanya kontak
langsung dengan penyebab trauma, sebagai contoh: ledakan
kendaraan saat terjadi kecelakaan lalu lintas (KLL). Gaya merusak
di terima oleh tubuh melalui penghantaran gelombang energi.
PNEUMOTORAKS
• Pneumotoraks adalah suatu keadaan dimana terdapatnya
udara pada rongga potensial diantara pleura visceral dan
pleura parietal.
• Terdapat 2 jenis pneumotoraks, yaitu:
1. Pneumotoraks spontan primer adalah pneumotoraks
yang terjadi tanpa riwayat penyakit paru sebelumnya
ataupun trauma, dan dapat terjadi pada individu yang
sehat. Terutama lebih sering pada laki-laki, tinggi dan
kurus, dan perokok.
2. Pneumotoraks spontan sekunder adalah pneumotoraks
yang terjadi pada penderita yang memiliki riwayat
penyakit paru sebelumnya seperti PPOK, TB paru dan
lain-lain.
PNEUMOTORAKS
• Hasil Anamnesis (Subjective)
Keluhan
1. Pneumotoraks dapat menimbulkan keluhan atau tidak.
Keluhan yang dapat timbul adalah sesak napas, yang
dapat disertai nyeri dada pada sisi yang sakit. Nyeri dada
tajam, timbul secara tiba-tiba, dan semakin nyeri jika
menarik napas dalam atau terbatuk. Keluhan timbul
mendadak ketika tidak sedang aktivitas.
2. Faktor risiko, di antaranya:
a. Infeksi, misalnya: tuberkulosis, pneumonia
b. Trauma
c. Merokok
PNEUMOTORAKS
• Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)
Pemeriksaan Fisik
Gejala klinis :
1. Hiperkapnia
2. Hipotensi
3. Takikardi
4. Perubahan status mental
5. Pemeriksaan fisik paru :
a. Inspeksi paru, tampak sisi yang sakit lebih menonjol dan tertinggal
pada pernapasan
b. Palpasi paru, suara fremitus menurun di sisi yang sakit
c. Perkusi paru, ditemukan suara hipersonor dan pergeseran
mediastinum ke arah yang sehat
d. Auskultasi paru, didapatkan suara napas yang melemah dan jauh
PNEUMOTORAKS
• Pemeriksaan Penunjang:
1. Foto toraks, didapatkan garis penguncupan paru
yang sangat halus (pleural line), dan gambaran
avaskuler di sisi yang sakit. Bila disertai darah
atau cairan lainnya, akan tampak garis mendatar
yang merupakan batas udara dan cairan (air fluid
level).
2. Pulse oxymetry. Pemeriksaan ini tidak untuk
menegakkan diagnosis, namun untuk menilai
apakah telah terjadi gagal napas.
PNEUMOTORAKS
• Penegakan Diagnostik (Assessment)
Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan untuk diagnosis definitif
dengan pemeriksaan penunjang.
Komplikasi
1. Kegagalan respirasi
2. Kegagalan sirkulasi
3. Kematian
PNEUMOTORAKS
• Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)
1. Oksigen
2. Jika ada tanda kegagalan sirkulasi, dilakukan pemasangan IV line dengan
cairan kristaloid
3. Rujuk

Konseling dan Edukasi


Menjelaskan kepada pasien dan keluarga mengenai:
1. Bahaya dan komplikasi pneumotoraks
2. Pertolongan kegawatdaruratan pada pneumotoraks
3. Perlunya rujukan segera ke RS

Kriteria Rujukan
Segera rujuk pasien yang terdiagnosis pneumotoraks, setelah dilakukan
penanggulangan awal.
PNEUMOTORAKS
• Prognosis
Ad vitam : Dubia
Ad functionam : Dubia
Ad sanationam : Dubia