Anda di halaman 1dari 26

KEPERAWATAN KRITIS II

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN LUKA BAKAR


INTRAHOSPITAL DAN METODE RESUSITASI CAIRAN

Kelompok 1 Kelas A2
Angkatan 2014

Dwida Rizky Pradiptasiwi 131411131015


Moh Thoriq Hidayatullah 131411133011
Sacharisa Agape Sudiani 131411133004
Putri Mei Sundari 131411131067
Amalia Fardiana 131411131017
Widya Fathul Jannah 131411131073
Roudhotul Jannah 131411131035
Gilang Dwi Kuncahyono 131411131030
Lidia Inneke Wendey 131411133012
Luka bakar adalah suatu bentuk
kerusakan atau kehilangan jaringan
yang disebabkan adanya kontak
dengan sumber panas seperti api,
air panas, bahan kimia, listrik dan
radiasi
Etiologi
• Luka bakar radiasi (Radiasi Injury)
• Luka bakar sengatan listrik (Electrical Burn)
• Luka bakar bahan kimia (Chemical Burn)
• Luka bakar suhu tinggi (Thermal Burn): gas,
cairan, bahan padat
Patofisiologi
Jaringan lunak akan mengalami cedera bila terkena suhu diatas 1150F
(460C).

Luas kerusakan bergantung pada suhu permukaan dan lama kontak.


Sebagai contoh pada kasus luka bakar tersiram air panas pada
orang dewasa, kontak selama 1 detik dengan air yang panas dari
shower dengan suhu 68,90C dapat menimbulkan luka bakar yang
merusak epidermis dan dermis sehingga terjadi cedera derajat tiga
(full-thickness injury). Sebagai manifestasi dari cedera luka bakar
panas, kulit akan melakukan pelepasan zat vasoaktif yang
menyebabkan pembentukan oksigen reaktif dan menyebabkan
peningkatan permeabilitas kapiler dan menyebabkan penurunan
tekanan onkotik. Hal ini menyebabkan kehilangan cairan serta
viskositas plasma meningkat dengan menghasilkan suatu formasi
mikrotrombus
Fase luka bakar

Zona luka bakar

Karakteristik luka bakar kedalaman luka bakar

Luas luka bakar

Berat dan ringannya


luka bakar
Fase luka bakar
1. Fase akut : Disebut fase awal atau fase syok. Dalam f
ase awal penderita akan mengalami ancaman gangguan air
way (jalan nafas), breathing (mekanisme bernafas), circulati
on (sirkulasi).

2. Fase sub akut : Berlangsung setelah fase syok tera


tasi. Masalah yang terjadi adalah kerusakan atau kehilangan
jaringan akibat kontak dengan sumber panas

3. Fase lanjut : Fase lanjut akan berlangsung hingga te


rjadinya maturasi parut akibat luka dan pemulihan fungsi or
gan-organ fungsional.
Zona luka bakar
1. Zona koagulasi, zona nekrosis : Daerah yang mengalami
kontak langsung. Kerusakan jaringan berupa koagulasi (denaturasi) protein akibat
pengaruh trauma termis.Jaringan ini bersifat non vital dan dapat dipastikan men
galami nekrosis beberapa saat setelah kontak, karenanya disebut juga zona nekro
sis.

2. Zona statis : Daerah di luar/sekitar dan langsung berhubungan de


ngan zona koagulasi.Kerusakan yang terjadi di daerah ini terjadi karena p
erubahan endotel pembuluh darah, trombosit, dan respon inflamasi loka
l; mengakibatkan terjadinya gangguan perfusi
3. Zona hiperemia : Daerah di luar zona statis.Di daerah ini terjadi r
eaksi berupa vasodilatasi tanpa banyak melibatkan reaksi sel. Tergantung kea
daan umum dan terapi yang diberikan, zona ketiga dapat mengalami penye
mbuhan spontan; atau berubah menjadi zona kedua bahkan zona pertama
Kedalaman Luka Bakar
Luka bakar derajat I
Luka bakar derajat II
Luka bakar derajat II
dibedakan menjadi:
1. Derajat II dangkal
(superficial).
2. Derajat II dalam (deep).
Luka bakar derajat III
Luas Luka Bakar
(rule of nine)

NO
AREA %

Head and neck 9

Anterior trunk 18

Posterior trunk 18

Genitalia 1

Right arm 9

Left arm 9

Right thigh 9

Left thigh 9

Right leg 9

Left leg 9

Total 100
Luas Luka Bakar
(Rule of Nine untuk usia kurang dari sama dengan 15 tahun)

NO DAERAH PERMUKAAN TUBUH 0-1 TH 5 TH 15 TH

1 Kepala, muka dan leher 18 % 14 % 10 %

2 Badan sebelah depan 18 % 18 % 18 %

3 Badan sebelah belakang 18 % 18 % 18 %

4 Alat gerak atas kanan 9% 9% 9%

5 Alat gerak atas kiri 9% 9% 9%

6 Alat gerak bawah kanan 14 % 16 % 18 %

7 Alat gerak bawah kiri 14 % 16 % 18 %

Jumlah total 100 % 100 % 100 %


AGE-YEARS
NO AREA
0-1 1-4 4-9 10-15 ADULT

1 Head 19 17 13 10 7

2 Neck 2 2 2 2 2

3 Anterior trunk 13 17 13 13 13

4 Posterior trunk 13 13 13 13 13

5 Right buttock 2½ 2½ 2½ 2½ 2½

Luas 6 Left buttock 2½ 2½ 2½ 2½ 2½

7 Genitalia 1 1 1 1 1

Luka Bakar 8 Right upper arm 4 4 4 4 4

(Lund And Browder Chart) 9 Left upper urm 4 4 4 4 4

10 Right lower arm 3 3 3 3 3

11 Left lower arm 3 3 3 3 3

12 Right hand 2½ 2½ 2½ 2½ 2½

13 Left hand 2½ 2½ 2½ 2½ 2½

14 Right thigh 5½ 6½ 8½ 8½ 9½

15 Left thigh 5½ 6½ 8½ 8½ 9½

16 Right leg 5 5 5½ 6 7

17 Left leg 5 5 5½ 6 7

18 Right foot 3½ 3½ 3½ 3½ 3½

19 Left foot 3½ 3½ 3½ 3½ 3½
Berat Dan Ringannya Luka Bakar
Luka bakar berat / kritis (major burn)
a. Derajat II-III > 20% pada klien berusia di bawah 10 tahun atau di atas usia 50 tahun.
b. Derajat II-III > 25% pada kelompok usia selain disebutkan pada butir pertama.
c. Luka bakar pada muka, telinga, tangan, kaki dan perineum.
d. Adanya trauma pada jalan napas (cedera inhalasi) tanpa memperhitungkan luas luka bakar.
e. Luka bakar listrik tegangan tinggi.
f. Disertai trauma lainnya (misal fraktur iga / lain-lain).
g. Klien-klien dengan risiko tinggi.
Luka bakar sedang (moderate burn)
a. Luka bakar dengan luas 15-25% pada dewasa, dengan luka bakar derajat III < 10%.
b. Luka bakar dengan luas 10-20% pada anak usia < 10 tahun atau dewasa > 40 tahun, dengan luka bakar
derajat III < 10%.
c. Luka bakar dengan derajat III < 10% pada anak maupun dewasa yang tidak mengenai muka, tangan, kaki
dan perineum.
Luka bakar ringan (mild burn)
a. Luka bakar dengan luas < 15% pada dewasa.
b. Luka bakar dengan luas < 10% pada anak dan usia lanjut.
c. Luka bakar dengan luas < 2% pada segala usia; tidak mengenai muka, tangan, kaki dan perineum.
Penatalaksanaan Luka Bakar
Pertolongan Awal Pada Luka Bakar
Luka bakar suhu atau thermal
Upaya pertama saat terbakar adalah mematikan api pada
tubuh, misalnya dengan menyelimuti dan menutup bagian
yang terbakar dengan kain basah. Atau korban dengan
cepat menjatuhkan diri dan berguling-guling agar bagian
pakaian yang terbakar tidak meluas. Kontak dengan bahan
yang panas juga harus cepat diakhiri, misalnya dengan
mencelupkan bagian yang terbakar atau menyelupkan diri
ke air dingin atau melepas baju yang tersiram air panas.
Pertolongan pertama setelah sumber panas dihilangkan
adalah merendam daerah luka bakar dalam air mengalir
selama sekurang-kurangnya lima belas menit.
Luka bakar kimia
Baju yang terkena zat kimia harus segera dilepas.
Sikap yang sering mengakibatkan keadaan lebih
buruk adalah menganggap ringan luka karena
dari luar tampak sebagai kerusakan kulit yang
hanya kecoklatan, padahal daya rusak masih
terus menembus kulit, kadang sampai 72 jam.
Pada umumnya penanganan dilakukan dengan
mengencerkan zat kimia secara masif yaitu
dengan mengguyur penderita dengan air
mengalir dan kalau perlu diusahakan
membersihkan pelan-pelan secara mekanis.
Luka bakar arus listrik

Terlebih dahulu arus listrik harus diputus karena


penderita mengandung muatan listrik selama
masih terhubung dengan sumber arus. Kemudian
kalau perlu, dilakukan resusitasi jantung paru.
Cairan parenteral harus diberikan dan umumnya
diperlukan cairan yang lebih banyak dari yang
diperkirakan karena kerusakan sering jauh lebih
luas. Kadang luka bakar di kulit luar tampak
ringan, tetapi kerusakan jaringan ternyata lebih
dalam.
Luka bakar radiasi
Pada kontaminasi lingkungan, penolong dapat terkena
radiasi dari kontaminan sehingga harus menggunakan
pelindung. Prinsip penolong penderita atau korban
radiasi adalah memakai sarung tangan, masker, baju
pelindung, dan detektor sinar ionisasi. Sumber
kontaminasi harus dicari dan dihentikan, dan benda
yang terkontaminasi dibersihkan dengan air sabun,
deterjen atau secara mekanis disimpan dan dibuang di
tempat aman.
Keseimbangan cairan dan elektrolit penderita perlu
dipertahankan. Selain itu, perlu dipikirkan
kemungkinan adanya anemia, leukopenia,
trombositopenia, dan kerentanan terhadap infeksi.
Indikasi hospitalisasi pasien dengan luka bakar yaitu :
1. Luka bakar pada wajah, tangan, daerah kemaluan
2. Luka bakar akibat bahan kimia dan listrik
3. Menderita gangguan atau penyakit lain: penyakit
jantung, ginjal, diabetes.
4. Luka bakar derajat 2 dengan luas ≥15% (dewasa) dan
≥10% pada anak dan lansia
5. Luka bakar derajat 3 ≥10%
Initial Intrahospital
Airway
Membebaskan jalan nafas dari sumbatan yang terbentuk akibat edema
mukosa jalan nafas ditambah sekret yang diproduksi berlebihan
(hiperekskresi) dan mengalami pengentalan.
Breathing
1. Pemberian oksigen
2. Humidifikasi
3. Terapi inhalasi
4. Lavase bronkoalveolar
5. Rehabilitasi pernafasan
6. Penggunaan ventilator
Circulation
1. Melepaskan penghalang
2. Resusitasi cairan.
3. Pemasangan CVP (Central Venous Pressure)
4. Pemasangan infus intravena atau IV line
Resusitasi Cairan
Prinsip resusitasi cairan luka bakar mengacu pada :
Rumus Parkland
4 cc/kg/luas permukaan tubuh + cairan rumatan
Cairan rumatan dapat digunakan dekstrosa 5% dalam ringer laktat
yang jumlahnya disesuaikan dengan berat badan:
≤10 Kg: 100 mL/kg
11-20 Kg: 1000 mL + (Berat badan – 10 Kg) x 50 mL
>20 Kg: 1500 mL + (Berat badan – 20 Kg) x 20 mL
Rumus Baxter
pada tahun 1979, ia memberikan teknik resusitasi cairan pada 954
pasien luka bakar dengan menggunakan formulasi cairan :
3,7– 4,3 mL/Kg/total luas permukaan tubuh (TLPT)
dan didapatkan hasil sekitar 70% yaitu 438 dewasa dan 516 anak-anak
mengalami keluaran yang baik.
Rumus Gavelstron
(5000 mL x LPT yang mengalami luka bakar) + (2000 mL x TLPT)
Rumus Evans
l. Luas luka bakar dalam % x berat badan
dalam kg = jumlah NaCl / 24 jam
2. Luas luka bakar dalam % x berat badan
dalam kg =jumah plasma / 24 jam
Rumus Curreri
Rumus ini digunakan untuk pemenuhan
kebutuhan kalori pada pasien luka bakar.
25 kcal/kgBB/hari ditambah dengan 40
kcal%luka bakar/hari
Perawatan Kritis Pasien Luka Bakar
Kebutuhan Kalori
Besarnya peningkatan kecepatan metabolisme karena luka bakar berbanding
lurus dengan luas luka bakar permukaan tubuh. Kebutuhan energy total
(total energy expenditure) dapat meningkat 15 – 100 % diatas kebutuhan
normal.
Karbohidrat
Karbohidrat dalam bentuk glukosa merupakan sumber kalori terbaik dari
golongan non-ptotein pada pasien dengan luka bakar. Cadangan glukosa
yang tersimpan dalam jaringan otot (otot skeletal) biasanya harus
dikorbankan bila kebutuhan nutrisi tidak adekeuat.
Protein
Kombinasi pemberian glukosa dengan protein akan memberikan hasil yang
lebih baik untuk memenuhi keseimbangan nitrogen daripada dengan
pemberian makanan yang terpisah. Pemberian protein akan memacu
sintesis protein visceral dan otot, tanpa mempengaruhi kecepatan
katabolisme.
cont..
Lemak
Peranan lemak sebagai sumber energi non-protein tergantung dari
luasnya luka bakar dan besarnya hipermetabolisme. Pemberian
makanan rendah lemak dapat menurunkan komplikasi infeksi,
memperbaiki penyembuhan luka, memperpendek rawat inap dan
bahkan menurunkan mortalitas
Glutamine
Beberapa asam amino berperan penting dalam pelepasan energy
karena trauma. Alanin dan glutamin (GLU) adalah asam amino
transport yang penting, dibuat dalam jumlah besar dari otot skelet
untuk menyuplai energi ke hepar dan untuk penyembuhan luka.
Arginin
Arginin juga berperan penting pada metabolism post luka bakar.
Arginin dapat menstimulasi T-lymphocyte, meningkatkan fungsi
natural killer, dan menstimulasi sintesis nitrit oksida yang berperan
penting dalam resistensi infeksi.
cont..

Asam Amino Rantai Cabang


Asam amino rantai cabang seperti leusin,
isoleusin, dan valin diketahui sebagai
katabolisme otot endogen melalui stmulasi
sintesis protein dan sebagai substrat energi.
Vitamin dan Mineral Tambahan
Vitamin dan mineral seperti vitamin A, C, D, zinc,
selenium, dan Fe juga dapat membantu
penyembuhan luka.
Komplikasi pada pasien luka bakar intrahospital
1. Keseimbangan cairan
2. Cardiac.
3. Metabolic.
4. Gastrointestinal.
5. Renal.
6. Pulmonary
7. Imun.
Suhu Tinggi/Termal Bahan Kimia Sengatan listrik Radiasi

Terpaparnya kulit dengan penyebab

Luka Bakar

Peningkatan permeabilitas kapiler Cedera jaringan kulit

Vasodilatasi pembuluh darah Kulit coklat kemerahan, hitam

Volume darah arteri ↓ Kerusakan pada dermis, epidermis dan


subkutan
Pengeluaran air, natrium klorida, protein dalam
sel
Kematian sel-sel Kerusakan intregitas
kulit
Menurunnya cairan intraseluler Oedem Nyeri

Hipovolemia
Defisit volume cairan
↓aliran darah

↓ sirkulasi dan volume vaskuar

Kebutuhan O2 ↑

Takipnea, RR ↑
WOC
Pola napas tidak efektif
Asuhan Keperawatan

Anda mungkin juga menyukai