Anda di halaman 1dari 27

TEKNIK WAWANCARA DENGAN KLIEN

Adi Warman, S.H., M.H., MBA.


08179990005
Pendahuluan
KEPERCAYAAN adalah KUNCI UTAMA dalam hubungan
Advokat-Klien
Pembelaan “asal-asalan” bisa menyulut kekesalan klien.
Sebaliknya pembelaan yang “berlebihan” terhadap
klien bisa menyulut amarah pihak lain. Apalagi jika
Advokat mengeluarkan pernyataan yang menyinggung
perasaan pihak ketiga.
Advokat harus menguasasi duduk permasalahan yang
dimintakan Advice berupa saran dan/atau bantuan
hukum oleh Kliennya.
Untuk memahami duduk permasalahan suatu perkara
selain mempelajari berkas perkara juga harus menggali
informasi sebanyak mungkin dari klien dengan teknik
wawancara.
Dalam memberikan informasi baik yang bersifat
umum maupun yang bersifat rahasia/privasi
klien menginginkan “KENYAMANAN &
KEPERCAYAAN” terhadap Advokatnya.
Agar informasi yang diberikan tidak
disalahgunakan oleh Advokatnya diluar
membela kepentingan hukum Klien.
Untuk itulah “Informasi yang sejujurnya dan
saling percaya antara klien dan Advokatnya
adalah kunci keberhasilan dalam penanganan
suatu perkara”.
Seorang Advokat wajib menjaga kerahasiaan atas
informasi dari kliennya, hal ini sesuai dengan
ketentuan Pasal 19 UU No. 18 th 2003 tentang
Advokat, yang berbunyi:
Pasal 19
(1) Advokat wajib merahasiakan segala sesuatu
yang diketahui atau diperoleh dari Kliennya
karena hubungan profesinya, kecuali ditentukan
lain oleh Undang-undang.
(2) Advokat berhak atas kerahasiaan hubungannya
dengan Klien, termasuk perlindungan atas
berkas dan dokumennya terhadap penyitaan
atau pemeriksaan dan perlindungan terhadap
penyadapan atas komunikasi elektronik Advokat.
Hubungan Advokat-Klien tidak selamanya
harmonis.
Penyebabnya banyak....”
Paling umum terjadi karena: Masalah
Honorarium (fee) dan Ketidaksepahaman
Advokat-Klien mengenai Langkah Hukum
tertentu yang harus dilakukan.
Guna menjaga kepercayaan klien, maka jalan
yang harus ditempuh untuk pertama kalinya
adalah untuk mendapatkan gambaran yang
jelas dari klien, yang dapat dilakukan secara
tertulis dan atau secara lisan melalui “Teknik
Wawancara”.
Pengertian Wawancara

Wawancara adalah komunikasi lisan yang


mempunyai struktur tertentu antara dua
orang atau lebih dengan maksud untuk
menggali informasi berupa fakta untuk tujuan
tertentu.
Bekal Wawancara
1. Mental : Percaya Diri, Mengahargai semua orang.
2. Pertahankan situasi kondusif.
3. Sopan.
4. Kritis.
5. Tidak kurang ajar (jangan main perasaan).
-----------------------------------------------------------------------------------
1. Pribadi yang baik.
2. Mempunyai keberanian.
3. Jangan awal-awal berbicara tentang uang.
4. Disiplin.
5. Ilmu.
Tujuan Wawancara

Diperoleh gambaran yang sebenarnya dan


selengkap-lengkapnya bagi Advokat, guna
memperoleh jawaban atau pemecahan
perkara untuk calon kliennya.
Konsultasi Pertama,
1. Mendengarkan hal-hal yang diutarakan klien;
2. Menarik “benang merah / inti” pembicaraan.
Hal ini akan membantu seorang Advokat dalam
memberikan nasehat awal kepada kliennya
tentang perlu tidaknya perkara tersebut
diselesaikan melalui proses litigasi atau tidak.
Seorang ADVOKAT harus mampu memberikan penjelasan
kepada kliennya, tentang seberapa besar perkara
tersebut dimenangkan (tapi tidak boleh menjanjikan)
dan alternatif penyelesaiannya.
Penjelasan ini begitu penting dan strategis, sehingga
harus didasari oleh :
 Hukum
 Alat Bukti
 Fakta-fakta lain yang sah

Disamping itu, seorang ADVOKAT dalam wawancara perlu


juga mengutarakan besarnya biaya, limit waktu, dan
target yang hendak dicapai dalam menyelesaikan
perkara tersebut.
Setidaknya dalam melakukan Wawancara
dengan Klien, menjawab rumusan umum yang
berkaitan dengan permasalahan yaitu 5W+1H:

1. What : Apa : Esensi


2. Who : Siapa : Subyek
3. Where : Dimana : Tempat
4. When : Kapan : Waktu
5. Why : Kenapa : Sebab-akibat
6. How : Bagaiamana : Cara
Setelah Wawancara antara Advokat-Klien
Disusun suatu kronologis perkara “secara
tertulis”, kemudian ditandatangani oleh Klien.
Hal tersebut bertujuan agar dikemudian hari Klien
tidak dapat lagi menyangkal apa yang diutarakan
dalam somasi, gugatan, pledoi, dsb.
Juga sebagai acuan bagi Advokat untuk
menyelesaikan perkara.
Dalam membuat uraian kronologis ini biasanya
diikuti dengan alat bukti yang mendukung uraian
tersebut.
Tempat Wawancara
Diusahakan di tempat Kantor Advokat
Namun, hal tersebut “bukan harga mati”:
Karena alasan Psikologis;
Calon Klien ditahan;
Calon Klien berada disuatu tempat yang tidak
ingin diketahui... dsb”
Intinya, Klien Dapat Hadir & Merasa Nyaman.
Referensi Tempat Wawancara
1. Dalam perkara Pidana dimana calon klien ditahan
atau direhabilitasi disuatu tempat, maka wawancara
dapat dilakukan di tempat dimana calon klien ditahan
atau direhabilitasi.
2. Dalam hal perkara Pidana calon klien ditahan atau
dalam perkara selain perkara pidana dapat dilakukan
di:
a. Kantor Advokat
b. Kantor atau tempat tinggal Klien
c. Tempat yang disepakati para pihak, dalam hal ini bisa
dilakukan di Caffe, ditempat hiburan, dsb.
Penting : Jangan terima tawaran makan dari klien pada
saat belum tanda tangan “surat kuasa”, untuk sekedar
minum, boleh lah..”
Hal-hal yang HARUS dipersiapkan dalam
Wawancara
1. Penampilan (berpakaian) yang rapi, sehingga
memberi kesan yang baik dari Klien kepada
Advokat;
2. Mempersiapkan alat-alat yang akan digunakan
dalam wawancara tersebut seperti: Alat
Perekam, Peralatan Menulis, dsb.
3. Mempersiapkan materi yang berkaitan dengan
perkara yang akan ditangani, “Apabila Advokat
telah memperoleh informasi perkara dari Klien..”
Sturuktur Wawancara
Awal Wawancara
Ciptakan hubungan baik yang membuat bebas,
leluasa dan tidak terhambat serta
berkomunikasi dengan jujur, tulus dan enak,
dengan cara:
1. Menciptakan suasana saling percaya dan
saling berkehendak baik;
2. Menjelaskan maksud dan tujuan wawancara.
Bagian Tengah
Merupakan “substansi” wawancara, memakan
sebagian besar waktu dan pewawancara serta
pihak yang diwawancarai saling berkontak dan
berbicara paling “Intensif, saling bertanya,
menjawab, saling berbicara dan saling
menanggapi”.
Bagian Akhir
Merupakan kesimpulan penutup wawancara.
Pada akhir wawancara, sesudah wawancara
dirasa cukup dan berhasil diringkas isi-isinya
pokoknya, diterangkan apa yang akan
dilakukan dengan hasil wawancara itu dan
tindak lanjut apa yang akan dilakukan oleh
pewawancara dan apa yang diharapkan dari
pihak yang diwawancara.
TEKNIK BERTANYA
1. Perkenalkan diri apabila diantara Advokat dengan Klien
belum saling mengenal.
2. Mulai wawancara dengan pertanyaan yang ringan dan
bersifat umum. Lakukanlah pendekatan tidak langsung
pada persoalan, misalnya lebih baik tanyakan dulu soal
“kesenangan” atau “hobi” dari Klien kita.
3. Hindari pertanyaan yang berbelit-belit, dan hindari
penggunaan istilah-istilah atau bahasa yang kurang dapat
dipahami oleh Klien.
4. Ajukan pertanyaan kongkrit agar jawabannya tegas tidak
mengambang.
5. Harus tetap menjaga suasana agar tetap informatif, atau
buat senyaman mungkin Klien dalam memberikan
informasi.
TEKNIK MENDENGAR
1. Mendengarkan pendapat dan informasi secara
seksama dari Klien.
2. Usahakan tidak menyela agar keterangan tidak
terputus.
3. Jangan meminta pengulangan jawaban dari klien
(Perekam).
4. Menjaga Konsentrasi.
5. Mencatat pokok-pokok pembicaraan (siapa yang
berbicara & apa isinya).
6. Memberikan catatan-catatan tambahan yang
dianggap penting dan dapat menunjang pemahaman
wawancara.
7. Merangkum isi wawancara.
Menanggapi Pertanyaan Klien
Apabila dalam wawancara tersebut ada
pertanyaan dari Klien, maka dalam hal ini
harus memberi jawaban yang sebenarnya,
sesuai dengan Peraturan hukum yang berlaku,
usahakan dalam memberikan penjelasan
jangan terkesan seperti menggurui karena ada
Klien yang tidak suka digurui oleh orang lain.
Manfaat Wawancara Dalam Membangun
Kepercayaan Klien
1. Membangun Kepercayaan Klien
Kepercayaan lahir atas proses kemauan dari dua
belah pihak untuk berhubungan dan saling
percaya mempercayai dan bekerja sama dalam
menyelesaikan perkara. Kepercayaan juga dapat
lahir berdasarkan sikap “konsisten”, sehingga
segala sesuatunya terukur dan mempunyai
standar serta kualifikasi yang jelas terhadap suatu
arah penyelesaian perkara, seta kepercayaan
dapat lahir dari “rasa empati” yang cukup untuk
mengenal harapan dan keinginan menyelesaikan
perkara.
2. Menjaga Kepercayaan
Seorang Advokat dilarang keras merekayasa dan
improvisasi dalam menyelesaikan perkara
kliennya demi kepentingan pribadi. Termasuk
sikap opurtunis, mendorong-dorong klien
menyelesaikan perkaranya melalui proses
litigasi yang berlarut-larut dengan harapan
dapat menjadikan klien sebagai “lahan” untuk
dieksploitasi secara materi dan/atau untuk
kepentingan promosi dengan harapan dapat
mengangkat nama Advokat menjadi terkenal
dan populer.
Metode Penerapan Honorarium (Fee) Saat
Wawancara
Pada dasarnya penetapan Fee ditentukan oleh “kesepakatan”
Sebaiknya penerapan Fee dilakukan secara “proporsional”.
Beberapa metode penerapan Fee:
1. Nilainya, diperhitungkan per-tindakan hukum yang
diberikan oleh Advokat.
2. Nilainya, diperhitungkan dari banyaknya waktu yang
dihabiskan dalam menyelesaikan perkara.
3. Nilainya, bagi hasil dari apa yang diperoleh dalam perkara
yang dimenangkan (klaim).
4. Nilainya, diperhitungkan dengan tingkat kerumitan,
besarnya tanggung jawab.
5. Nilainya, didasarkan pada penggilan Nurani untuk
menegakkan keadilan dan kebenaran.
6. Nilainya, diperhitungkan secara akumulasi/menyeluruh
dalam menyelesaikan perkara.
CARA MENJAGA KEPERCAYAAN KLIEN
1. Advokat harus memegang prinsip Kepastian Hukum:
a. Keadilan  Menempatkan sesuatu pada tempatnya.
b. Payung hukum  seorang Advokat dalam memberikan advise
harus ada dasar hukum.
c. Kewajaran  jangan lebay / budget rasional.
2. Tertib penyelenggaraan Profesi Advokat: Keserasian,
keteraturan, keseimbangan dalam menyelenggarakan
Profesi Advokat.
3. Transparansi: Klien butuh informasi (hak klien) yang benar,
jujur, sebanyak-banyaknya, tidak diskriminasi dan tetap
menjaga rahasia klien.
4. Proporsional: Menjaga hak (honor) & Kewajiban (jasa)
Advokat.
5. Akuntabilitas: Advokat ditunjuk untuk menyadari semua
kegiatan dapat dipertanggungjawabkan terhadap klien,
organisasi, masyarakat, Tuhan.
Penutup
Dalam membela kepentingan hukum klien, seorang Advokat
harus memahami kasus posisi yan dialami klien, untuk itu
diperlukan informasi yang sejujurnya dari Klien baik secara
tertulis maupun secara lisan melalui wawancara, dengan
maksud agar Advokat dalam memberikan Advice dan/atau
bantuan hukum kepada kliennya tidak dilakukan secara
asal-asalan yang dalam merusak kepercayaan klien kepada
Advokat.
Pondasi utama hubungan Advokat-Klien adalah
“KEPERCAYAAN”. Sepanjang masih ada kepercayaan maka
hubungan Advokat dengan klien layak untuk
dipertahankan. Apabila kepercayaan sudah hilang atau
menipis kritis maka tidak berguna hubungan
dipertahankan.
TERIMA KASIH