Anda di halaman 1dari 45

H.

Deni
Sobaryaman,S.Kep.,MMRS
Pernyataan yg komprehensif dari
bentuk tugas pelayanan profesi yg
memberi tuntunan bagi anggota dlm
melaksanakan praktek dibidang
profesi, baik yg berhubungan dengan
klien, keluarga, masyarakat dan teman
sejawat, profesi, diri sendiri.
• BENAR
1 • Evidenced Based Practice

• BAIK
2 • Etis

• LEGAL
3 • Sesuai standar
PERAWAT PROFESI DOKTER

1. Knowledge
2. Berorientasikan pelayanan
3. Autonomi
4. Kode Etik

MITRA
Masing-masing akuntabel
atas tindakannya

Perawat sebagai profesi harus akuntabel kepada :


1. PASIEN yg menerima pelayanannya
2. RS yg memperkerjakannya
3. PROFESINYA
4. PEMERINTAH/LEMBAGA pemberi lisensi
5. DIRI SENDIRI dan ANGGOTA TIM lainnya
 Etik atau ‘ethics’ berasal dari bahasa Yunani : ethos =
adat, kebiasaan, perilaku, atau karakter.
= Berhubungan dengan pertimbangan pembuat keputusan, benar
tidaknya suatu perbuatan karena tidak ada UU atau peraturan yg
menegaskan hal yg harus dilakukan.
 Menurut kamus Webster etik = suatu ilmu yang
mempelajari tentang apa yang baik dan buruk secara
moral.
 Etik = ilmu tentang kesusilaan yang menentukan
bagaimana sepatutnya manusia hidup di dalam
masyarakat yang menyangkut aturan-aturan atau
prinsip-prinsip yang menentukan tingkah laku yang
benar, yaitu :
 Baik dan buruk
 Kewajiban dan tanggung jawab
 Keperawatan : pelayanan profesional yang
merupakan bagian dari pelayanan
kesehatan, berdasarkan ilmu dan kiat
keperawatan, berbentuk pelayanan bio-
psiko-sosio-spiritual yang komprehensif
dan ditujukan kepada individu, kelompok,
dan masyarakat baik sakit sehat maupun
sehat.
 Bagian dari etika kesehatan yang menerapkan nilai etika
terhadap bidang pemeliharaan atau pelayanan kesehatan
masyarakat.
 Disusun dan disahkan o/ organisasi atau wadah yg membina
profesi tertentu baik secara nasional maupun internasional.
 Kode etik keperawatan di Indonesia telah disusun oleh DPP
PPNI melalui Munas PPNI di Jakarta tanggal 29 Nopember
1989.
 Terdiri dari 4 bab dan 16 pasal.
 Keputusan Munas VI PPNI telah memberlakukan Kode Etik
Keperawatan Indonesia bagi semua warga keperawatan pd
tanggal 14 April 2000.
 Etika profesi keperawatan dikenal sebagai practice discipline
perwujudannya melalui asuhan/praktek keperawatan.
Tingkah Laku Ber-beda2 Pedoman : KODE ETIK
-Tepat PERAWAT
-Bermoral
Manusia

Perawat

Fungsi : Pelayanan Universal

Perawat akan berbuat : Berdasarkan kebutuhan manusia


- Benar
- Diperlukan
- Menguntungkan
 Untukmenciptakan dan mempertahankan
kepercayaan klien kepada perawat,
kepercayaan di antara sesama perawat,
dan kepercayaan masyarakat kepada
profesi keperawatan.
Tindakan mandiri perawat melalui
Kolaburasi dgn sistem klien dan tenaga
kesehatan lain Dlm memberikan asuhan
keperawatan sesuai dgn
lingkup wewenang dan tanggung
jawabnya.
Proses atau rangkaian kegiatan pada
Praktik keperawatan baik langsung atau
tdk langsung diberikan kpd sistem klien di
sarana dan tatanan kesehatan, dgn
menggunakan pendekatan
ilmiah keperawatan berdasarkan kode etik
Dan standar praktik keperawatan
 Prinsip: menghargai hak dan martabat
manusia, tidak akan pernah berubah
 Apabila menghadapi suatu situasi yang
melibatkan keputusan yang bersifat etis dan
moralitas, perawat hendaknya bertanya
kepada dirinya sendiri :
1. Bagaimana pengaruh tindakan saya kepada pasien?
2. Bagaimana pengaruh tindakan saya terhadap atasan
dan orang-orang yang ekerja sama dengan saya?
3. Bagaimana pengaruh tindakan saya terhadap diri
saya sendiri?
4. Bagaimana pengaruh tindakan saya terhadap profesi?
 Prinsip etik
- Respek : menghormati/menghargai
pasien/klien
- Menghargai hak-hak pasien/klien : hak
untuk pencegahan bahaya dan
mendapatkan penjelasan secara benar
 Berartikemampuan untuk menentukan
sendiri atau mengatur diri sendiri.
 Menghargai otonomi berarti menghargai
manusia sebagai seseorang yang
mempunyai harga diri dan martabat yang
mampu menentukan sesuatu bagi dirnya.
 Perawat harus menghargai harkat dan
martabat manusia sebagai individu yang
dapat memutuskan hal yang terbaik bagi
dirinya.
 Contoh tindakan yang tidak memperhatikan
otonomi :
1. Melakukan sesuatu bagi klien tanpa mereka
diberitahu sebelumnya.
2. Melakukan sesuatu tanpa memberi nformasi relevan
yang penting diketahui klien dalam membuat suatu
pilihan
3. Memberitahukan klien bahwa keadaanya baik,
padahal terdapat gangguan atau penyimpangan.
4. Tidak memberikan informasi yang lengkap walaupun
klien menghendaki informsi tersebut.
5. Memaksa klien memberi informasi tentang hal-hal
yang mereka sudah tidak bersedia menjelaskannya.
Kewajiban u/ melakukan hal yg baik dan
tidak
membahayakan orang lain.
- Membuat keputusan apakah lebih baik
memperpanjang hidup dgn
ketidakmampuan
atau mengakhiri penderitaannya.
 Berarti tidak melukai atau tidak menimbulkan
bahaya/cedera bagi orang lain.
 Johnson (1989)menyatakan bahwa prinsip
untuk tidak melukai orang lain berbeda dan
lebih keras daripada prinsip untuk
melakukan yang baik.
 Beneficience merupakan prinsip untuk
melakukan yang baik dan tidak merugikan
orang lain.
 Contoh : kasus transfusi darah.
Penghargaan perawat thd semua informasi
tentang pasien/klien yg dirawatnya.
- Informasi pasien/klien dihargai dan tidak
akan disampaikan ke pihak lain dengan
tidak benar
 Merupakan prinsip moral untuk semua
individu.
 Tindakan yang dilakukan untuk semua
orang sama
 Tindakan yang sama tidak selalu identik,
tetapi dalam hal ini persamaan berarti
mempunyai kontribusi yang relatif sama
untuk kebaikan kehidupan seseorang.
 Setiap orang hrs mendapatkan perlakuan
yg sama sesuai kebutuhannya.
Kewajiban u/ selalu setia pada
kesepakatan dan
tanggung jawab yang telah dibuat.
- Mempertanggung jawabkan asuhan
keperawatan kpd individu, pemberi
kerja, pemerintah dan masyarakat.
 Kesehatan dan kesejahteraan
Perawat hrs peduli trhdp kesehatan dan
kesejahteraan serta membantu orang lain
mencapai tingkat kesehatan yang
optimal dlm rentang situasi sehatnormal,
sakit, cedera atau dlm proses
menghadapi kematian.
 Pilihan
Mendukung dan menghargai otonomi
klien serta membantunya
mengekspresikan kebutuhan dan nilai
kesehatan serta mendapatkan informasi
pelayanan yang tepat.
 Martabat
Menghargai dan mengadvokasi
martabat dan kehormatan diri manusia.
Melaksanakan AsKep bertanggung
jawab terhadap kebutuhan, nilai-nilai dan
pilihan klien.
 Akuntabilitas
Bertindak secara konsisten sesuai
dengan standar praktik dan tanggung
jawab profesi. Berorientasi pada praktik
keperawatan yang aman, kompeten dan
berlandaskan etik.
 IdentifikasiMasalah etik
 Kumpulkan fakta-fakta
 Evaluasi tindakan alternatif
 Buat keputusan dan uji coba
 Bertindaklah, refleksikan pd keputusan
tsb.
1. Masalah perawat dan sejawat
2. Masalah perawat dan klien
3. Masalah perawat dan profesi kesehatan
lain
1. Uraian tugas, tanggung jawabnya, dan
wewenang yang jelas
2. Komunikasi vertikal dan horisontal
3. Adanya mekanisme penyampaian keluhan
4. Keterbukaan
5. Keadilan
6. Pengamatan atau pemantauan gairah kerja
7. Keikutsertaan semua tim kesehatan dalam
mengambil keputusan
8. Bimbingan dan penyuluhan.
H. Deni Sobaryaman,S.Kep.,MMRS
 Etika
kerja = nilai-nilai atau norma
tentang sikap, perilaku dan budaya yang
baik dan telah disepakati oleh masing-
masing kelompok profesi kamar operasi.

 Tujuan: agar anggota tim melaksanakan


kewajiban dan tanggung jawabnya
dengan baik serta penuh kesadaran
terhadap pasien/keluarga.
1. Persetujuan Operasi
2. Tata Tertib Kamar Operasi
3. Pencatatan dan Pelaporan
4. Keselamatan dan keamanan kerja
 Persetujuan operasi dari pasien atau keluarga
merupakan hal yang mutlak diperlukan sebelum
pembedahan untuk menghindarkan tim
bedah/rumah sakit dari tuntutan hukum bila ada
hal-hal yang terjadi sehubungan dengan operasi
yang dilakukan serta untuk melindungi pasien
dari mal praktek.
1. Setiap tindakan pembedahan kecil, sedang, maupun
besar harus ada persetujuan operasi secara tertulis.
Persetujuan operasi ini berdasarkan ketentuan
Permenkes No.585/MEN.KES/PER/1989, Perihal :
Persetujuan Tindakan Medik.
b. Persetujuan operasi diperoleh dari
pasien/keluarga yang bersangkutan atau
perwalian yang sah menurut hukum.
Izin bedah dapat diperoleh dari pasien
yang bersangkutan, keluarga atau
perwalian yg sah menurut hukum.
b. Dalam keadaan emergency pasien tidak
sadar, tidak ada keluarga/perwalian
persetujuan operasi dapat diberikan oleh
Direktur RS yang bersangkutan/pejabat
yang berwenang.
d. Pasien harus mendapat informasi yang
lengkap dan jelas tentang prosedur
tindakan pembedahan yang akan
dilakukan serta akibatnya.
e. Persetujaun operasi merupakan dasar
pertanggungjawaban yang sah bagi
dokter kepada pasien/keluarga/wali/.
f. Persetujuan operasi harus disimpan
dalam berkas dokumen pasien/rekam
medis.
 Tata tertib kamar operasi disusun dengan tujuan
agar semua petugas dan anggota tim bedah
memahami dan mentaati ketentuan-ketentuan
yang berlaku sehingga program operasi yang
direncanakan dapat berjalan dengan lancar.
 Tata tertib yang perlu ditaati antara lain :
a. Semua orang yang masuk kamar operasi, tanpa kecuali
wajib memakai baju khusus sesuai dengan ketentuan.
b. Semua petugas memahami tentang adanya ketentuan
pembagian area kamar operasi dengan segala
konsekuensinya dan memahami ketentuan tersebut.
c. Setiap petugas harus memahami dan
melaksanakan teknik aseptik sesuai dengan
peran dan fungsinya.
d. Semua anggota tim harus melaksanakan jadual
harian operasi yang telah dijadwalkan oleh
perawat kepala kamar operasi.
e. Perubahan jadwal operasi harian yang
dilakukan atas indikasi kebutuhan dan kondisi
pasien harus ada persetujuan antara ahli bedah
dan perawat kepala kamar operasi
f. Pembatalan jadual harus dijelaskan oleh ahli
bedah kepada pasien/keluarganya.
g. Setiap petugas dikamar operasi harus bekerja
seusia dengan uraian tugas yang diberlakukan.
h. Setiap perawat di kamar operasi harus
melaksanakan asuhan keperawatan perioperatif
sesuai dengan peran dan fungsinya, agar dapat
memberikan asuhan secara paripurna
i. Setiap petugas melaksanakan pemeliharaan alat-
alat dan ruangan kamar operasi dengan penuh
tanggung awab dan disiplin.
j. Semua tindakan yang dilakukan dan peristiwa
yang terjadi selama pembedahan harus dicatat
dengan teliti.
k. Anggota tim bedah mempunyai kewajiban untuk
menjamin kerahasiaan informasi/data pasien yang
diperoleh pada waktu pembedahan terhadap
pihak yang tidak berkepentingan
l. Khusus pada pasien dengan pembiusan regional
(lumbal anestesi) perlu diperhatikan hal sebagai
berikut :
Tim bedah harus bicara seperlunya, karena pasien
dapat melihat dan mendengar keadaan sekitarnya.
m. Ahli anestesi harus menjelaskan kepada pasien/
keluarga tentang efek obat bius yang digunakan
dan hal-hal yang harus ditaati.
 Pencatatan dan pelaporan merupakan salah
satu aspek dari suatu proses akhir dalam
perioperatif yang mencerminkan
pertanggungjawaban dari tim bedah dalam
pelaksanaan pembedahan kepada
pasien/masyarakat dan rumah sakit.
 Adapun pencatatan dan pelaporan tersebut
meliputi :
a. Asuhan keperawatan
b. Registrasi pasien kamar bedah
c. Pemakaian obat-obatan, harus ditulis dengan
lengkap dan jelas di formulir yang telah tersedia.
d. Peristiwa/kejadian luar biasa harus segra
dilaporkan sesuai dengan sistem yang berlaku.
e. Catatan kegiatan rutin
f. Catatan pengiriman bahan pemeriksaan
laboratoroum harus ditulis lengkap, jelas dan
singkat pada formulir yang telah tersedia.
g. Laporan operasi harus ditulis lengkap, jelas
dan singkat oleh ahli bedah/operator
h. Laporan operasi harus ditulis lengkap, jelas
dan singkat oleh dokter ahli anestesi/perawat
anestesi.
 Keselamatan dan keamanan kerja ditujukan
kepada pasien, petugas, dan alat, meliputi hal-hal
berikut :
a. Keselamatan dan keamanan pasien.
Untuk menjamin keselamatan dan keamanan pasien
semua anggota tim bedah meneliti kembali :
1. Identitas pasien
2. Rencana tindakan
3. Jenis pemberian anestesi yang akan dipakai
4. Faktor-faktor alergi
5. Respon pasien selama perioperatif
6. Menghindari pasien dari bahaya fisik akibat penggunaan
alat/kurang teliti.
b. Keselamatan dan keamanan petugas
1. Melakukan pemeriksaan periodik sesuai ketentuan
2. Beban kerja harus sesuai dengan kemampuan dan
kondisi kesehatan petugas
3. Perlu adanya keseimbangan antara kesejahteraan ,
penghargaan dan pendidikan berkelanjutan
4. Melakukan pembinaan secara terus menerus
dalam rangka mempertahankan hasil kinerja.
5. Membina hubungan kerja sama yang baik inter
dan antara profesi, dalam pencapaian tujuan
tindakan pembedahan.
c. Keselamatan dan kemanan alat-alat
1. Menyediakan pedoman/manual dalam bahasa
Indonesia tentang cara penggunaan alat-alat dan
menggantungkannya pada alat tersebut
2. Memeriksa secara rutin kondisi alat dan memberi
label khusus untuk alat yang rusak
3. Semua petugas harus memahami penggunaan alat
dengan tepat
4. Melaksanakan pelatihan tentang cara penggunaan
dan pemeliharaan alat secara rutin dan
berkelanjutan.
5. Memeriksa setiap hari ada tidaknya kebocoran
pada pipa gas medis. Pemeriksaan dilakukan oleh
petugas IPSRS
6. Memeriksa alat ventilasi udara agar
berfungsi dengan baik
7. Memasang simbol khusus untuk daerah
rawan bahaya atau mempunyai resiko
mudah terbakar
8. Menggunakan diatermi tidak boleh
bersamaan dengan pemakaian obat bius
ether.
9. Memeriksa alat pemadam kebakaran agar
dalam keadaaaan siap pakai.
10. Pemeriksaan secara rutin alat elektro
medis yang dilakukan oleh petugas IPSRS.
d. Program jaminan mutu
1. Melaksanakan evalausi pelayanan dikamar
operasi melalui macam-macam audit.
2. Melakukan surveilans infeksi nosokomial
secara periodik dan berkesinambungan.

Anda mungkin juga menyukai