Anda di halaman 1dari 41

Kelompok 4

BPJS
Ketenagakerjaan
Anggota Kelompok
1. Dira Pratiwi Kastianingsih
2. Eka Rismawati
3. Nur Azlin
4. Rio kirnanda
5. Riva Yuliani
pendahuluan
Pengertian
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)
 badan hukum yang dibentuk dengan Undang-Undang
untuk menyelenggarakan program jaminan sosial.

UU No. 24 Tahun
2011 BPJS terbagi 2 :

BPJS
BPJS Kesehatan
Ketenagakerjaan
 badan hukum publik yang bertanggung
jawab kepada Presiden dan berfungsi
menyelenggarakan program jaminan
kecelakaan kerja, jaminan hari tua,
jaminan pensiun dan jaminan kematian.

BPJS Ketenagakerjaan
Menjadi badan penyelenggara
jaminan sosial berkelas dunia,
VISI
terpercaya, bersahabat dan unggul
dalam operasional dan pelayanan.
• tenaga kerja: memberikan perlidungan yang
layak bagi tenaga kerja dan keluarga.
• pengusaha : menjadi mitra terpercaya untuk
memberikan perlindungan kepada tenaga kerja
VISI dan meningkatkan produktivitas.
• negara : berperan serta dalam pembangunan.

VISI DAN MISI BPJS


KETENAGAKERJAAN
Keanggotaan
Program ini dikhususkan untuk para
tenaga kerja, baik pegawai negeri maupun
swasta yang dapat memberikan
perlindungan atau proteksi atas resiko
sosial ekonomi yang mungkin saja dialami
oleh pekerja.

Tenaga kerja
Tenaga kerja dalam mandiri atau
hubungan kerja (PNS, perorangan (diluar
TNI/POLRI, Pensiunan hubungan kerja)
PNS/TNI/POLRI,
BUMN, BUMD dll
Melakukan dan/atau menerima pendaftaran Peserta

Memungut dan mengumpulkan Iuran dari Peserta


dan Pemberi Kerja

Menerima Bantuan Iuran dari Pemerintah

Mengelola Dana Jaminan Sosial untuk kepentinga


n Peserta

Tugas
Mengumpulkan dan mengelola data Peserta
program Jaminan Sosial

Membayarkan Manfaat dan/atau membiayai


pelayanan kesehatan sesuai dengan ke
tentuan program Jaminan Sosial

Memberikan informasi mengenai penyelenggaraan


program Jaminan Sosial kepada Peserta dan
masyarakat

Cont..
Wewenang

Menagih pembayaran iuran

Menempatkan Dana Jaminan Sosial untuk investasi


jangka pendek dan jangka panjang

Melakukan pengawasan dan pemeriksaan atas kepatuhan


peserta dan pemberi kerja dalam memenuhi
kewajibannya

Membuat kesepakatan dengan fasilitas kesehatan mengenai


besar pembayaran fasilitas kesehatan
Membuat atau menghentikan kontrak kerja dengan fasilitas
kesehatan

Mengenakan sanksi administratif kepada peserta atau


pemberi kerja yang tidak memenuhi kewajiban

Melaporkan pemberi kerja kepada instansi yang


berwenang mengenai ketidakpatuhannya dalam
memenuhi kewajiban

Melakukan kerjasama dengan pihak lain dalam rangka


penyelenggaraan program jaminan sosial
Fungsi BPJS Ketenagakerjaan


menyelenggarakan program jaminan kecela
kaan kerja, program jaminan
kematian, program jaminan pensiun, dan
jaminan hari tua
Pengelolaan Aset

Aset Dana Jaminan Sosial


Aset BPJS
(DJS).
• modal awal dari Pemerintah • iuran jaminan sosial
• hasil pengalihan aset BUMN • hasil pengembangan Dana
yang menyelenggarakan Jaminan Sosial
program jaminan sosial • hasil pengalihan aset
• hasil pengembangan aset program jaminan sosial
BPJS yang menjadi hak peserta
• dana operasional yang dari BUMN yang
diambil dari Dana Jaminan menyelenggarakan program
Sosial jaminan sosial
• sumber lain yang sah • sumber lain yang sah
sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
Aset dana jaminan sosial yang dikelola BPJS
Ketenagakerjaan :
1. Aset dana jaminan kecelakaan kerja
2. Aset dana jaminan hari tua
3. Aset dana jaminan pensiun
4. Aset dana jaminan kematian.

Aset Dana Jaminan Sosial


Pengawasan tehadap BPJS :

Pengawasan Internal Pengawasan Eksternal


• Dilakukan oleh organ • Dilakukan oleh institusi
BPJS atau satuan dari luar BPJS
pengawasan internal • Kewenangan  melakukan
yang dibentuk oleh organ monitoring dan evaluasi
BPJS untuk menjamin
• Melakukan pengawasan terselenggaranya program
fungsional sesuai dengan jaminan sosial, termasuk
bidang tugasnya untuk tingkat kesehatan
membantu pimpinan keuangan BPJS.
Pengawasan
mengelola organisasi.
Pengawas internal terdiri atas :
A. Dewan Pengawas
 Organ BPJS yang berfungsi
melakukan tugas pengawasan atas
pelaksanaan tugas BPJS

B. Satuan Pengawas Internal


 Unit khusus untuk membantu dan
atas nama pucuk pimpinan melakukan
pengawasan terhadap keseluruhan unit
organisasi dalam BPJS
Pengawas Eksternal terdiri atas :
A. Dewan Jaminan Sosial Nasional
(DJSN)
melakukan monitoring dan evaluasi untuk
menjamin terselenggaranya program
jaminan sosial

B. Lembaga Pengawas Independen,


yaitu :
1) Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
Berfungsi menyelenggarakan sistem
pengaturan dan pengawasan yang
terintegrasi terhadap keseluruhan
kegiatan di dalam sektor jasa keuangan.
Ruang lingkup tugas OJK mencakup :
 kegiatan jasa keuangan di sektor perbankan,
 kegiatan jasa keuangan di sektor pasar modal,
 kegiatan jasa keuangan di sektor perasuransian,
 kegiatan jasa keuangan dana pensiun,
 kegiatan jasa keuangan lembaga pembiayaan,
 kegiatan jasa keuangan lembaga jasa keuangan
lainnya, antara lain meliputi penyelenggaraan
jaminan sosial.

2) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)


Melakukan pemeriksaan sepanjang menyangkut
pengelolaan keuangan Negara yang dilakukan oleh
BPJS.
Pertanggungjawaban
 BPJS wajib menyampaikan pertanggungjawaban atas
pelaksanaan tugasnya dalam bentuk laporan pengelolaan
program dan laporan keuangan tahunan yang telah diaudit
oleh akuntan publik kepada Presiden dengan tembusan
kepada DJSN paling lambat 30 Juni tahun berikutnya.
 Periode laporan pengelolaan program dan laporan
keuangan tahunan mulai 1 Januari sampai dengan 31
Desember.
 Laporan keuangan BPJS disusun dan disajikan sesuai
dengan standar akuntansi keuangan.
 Ringkasan eksekutif laporan program dan ringkasan eksekutif
laporan keuangan dipublikasikan melalui media masa cetak dan
media masa elektronik paling lambat 31 Juli tahun berikutnya.
 Direksi bertanggung jawab secara renteng atas kerugian finansial
yang ditimbulkan atas kesalahan pengelolaan dana jaminan
sosial.
 Pada akhir masa jabatan, Dewan Pengawas dan Direksi wajib
menyampaikan pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugasnya
kepada Presiden dengan tembusan kepada DJSN.

Cont..
BPJS dan Kementerian/
Lembaga Negara di Pusat

Membangun Kebijakan
Kebijakan
sistem pengupahan,
perpajakan
kesehatan keselamatan
dan jamsos
nasional kerja

Sistem Sistem Kebijakan


perlindungan manajemen penyediaan
sosial informasi statistik
terintegrasi kepegawaian jamsos
Tujuan strategis hubungan
kemitraan BPJS adalah untuk:

3. Menjamin
1. Meningkatkan 2. Meningkatkan peserta
kualitas kualitas BPJS dg meperoleh
penyelenggaraan prinsip asuransi manfaat
program JKN sosial - ekuitas pemeliharaan
kesehatan
Program
bpjs ketenagakerjaan
1. Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK)
jaminan yang diberikan kepada tenaga
kerja peserta BPJS Ketenagakerjaan,
untuk menjamin para pekerja
meminimalisasi risiko hilangnya
penghasilan akibat kecelakaan kerja.
memberikan perlindungan atas
risiko-risiko kecelakaan Iuran dibayarkan oleh pemberi kerja
yang terjadi dalam hubungan kerja, yang dibayarkan (bagi peserta
termasuk kecelakaan yang terjadi penerima upah), tergantung pada
dalam perjalanan dari rumah menuju tingkat risiko lingkungan kerja,
tempat kerja atau sebaliknya dan yang besarannya dievaluasi
penyakit yang disebabkan oleh paling lama 2 (tahun) sekali
lingkungan kerja.

Program Jaminan Kecelakaan Kerja


Manfaat Yang Diberikan
1
Pelayanan kesehatan (perawatan dan pengobatan)

• Pelayanan kesehatan diberikan tanpa batasan


plafon sepanjang sesuai kebutuhan medis (medical
need).
• Diberikan melalui fasilitas kesehatan yang telah
bekerjasama dengan BPJS Ketenagakerjaan
(trauma center BPJS Ketenagakerjaan).
• Penggantian biaya (reimbursement) atas perawatan
dan pengobatan, hanya berlaku untuk daerah
remote area atau didaerah yang tidak ada trauma
center BPJS Ketenagakerjaan.
2
Santunan berbentuk uang, antara lain:

a) Penggantian biaya pengangkutan peserta yang


mengalami kecelakaan kerja/penyakit akibat kerja, ke
rumah sakit dan/atau kerumahnya, termasuk biaya
pertolongan pertama pada kecelakaan;.

 Angkutan darat/sungai/danau diganti maksimal


Rp1.000.000,- (satu juta rupiah).
 Angkutan laut diganti maksimal Rp1.500.000 (satu
setengah juta rupiah).
 Angkutan udara diganti maksimal Rp2.500.000 (dua
setengah juta rupiah).

Perhitungan biaya transportasi untuk kasus kecelakaan kerja


yang menggunakan lebih dari satu jenis transportasi berhak atas

Keterangan biaya maksimal dari masing-masing angkutan yang digunakan dan


diganti sesuai bukti/kuitansi dengan penjumlahan batasan maksimal
dari semua jenis transportasi yang digunakan
2

b) Sementara Tidak Mampu Bekerja (STMB), dengan perincian


penggantian, sebagai berikut:
 6 (enam) bulan pertama diberikan sebesar 100% dari upah.
 6 (enam) bulan kedua diberikan sebesar 75% dari upah.
 6 (enam) bulan ketiga dan seterusnya diberikan sebesar 50% dari
upah.

Dibayarkan kepada pemberi kerja (sebagai


pengganti upah yang diberikan kepada tenaga kerja)
selama peserta tidak mampu bekerja sampai peserta
Keterangan dinyatakan sembuh atau cacat sebagian anatomis atau
cacat sebagian fungsi atau cacat total tetap atau
meninggal dunia berdasarkan surat keterangan dokter
yang merawat dan/atau dokter penasehat.
2

(c) Santunan Kecacatan

 Cacat Sebagian Anatomis sebesar = % sesuai tabel x


80 x upah sebulan.
 Cacat Sebagian Fungsi = % berkurangnya fungsi x %
sesuai tabel x 80 x upah sebulan.
 Cacat Total Tetap = 70% x 80 x upah sebulan.

- jenis dan besar persentase kecacatan dinyatakan oleh dokter yang


merawat atau dokter penasehat yang ditunjuk oleh Kementerian
Ketenagakerjaan RI, setelah peserta selesai menjalani perawatan
Keterangan dan pengobatan.

- Tabel kecacatan diatur dalam Lampiran III Peraturan Pemerintah


No. 44 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan
Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian.
2

d) Santunan kematian dan biaya pemakaman


 Santunan Kematian sebesar = 60 % x 80 x upah sebulan,
sekurang kurangnya sebesar Jaminan Kematian.
 Biaya Pemakaman Rp3.000.000,-.
 Santunan berkala selama 24 bulan yang dapat dibayar
sekaligus= 24 x Rp200.000,- = Rp4.800.000,-.
3
Program Kembali Bekerja (Return to Work)
 pendampingan kepada peserta yang mengalami kecelakaan
kerja dan penyakit akibat kerja yang berpotensi mengalami
kecacatan, mulai dari peserta masuk perawatan di rumah sakit
sampai peserta tersebut dapat kembali bekerja.

4
Kegiatan Promotif dan Preventif untuk mendukung
terwujudnya keselamatan dan kesehatan kerja sehingga
dapat menurunkan angka kecelakaan kerja dan penyakit
akibat kerja.
5
Rehabilitasi berupa alat bantu (orthese) dan/atau alat
ganti (prothese) bagi Peserta yang anggota badannya hilang
atau tidak berfungsi akibat Kecelakaan Kerja

6
Beasiswa pendidikan anak bagi setiap peserta
yang meninggal dunia atau mengalami cacat total
tetap akibat kecelakaan kerja sebesar Rp12.000.000,-
(dua belas juta rupiah) untuk setiap peserta.

Masa kadaluarsa klaim 2 tahun sejak kecelakaan


terjadi dan tidak dilaporkan oleh perusahaan.
Program yang memberikan manfaat berupa uang tunai yang
diberikan kepada ahli waris ketika peserta meninggal dunia s
kepesertaan aktif bukan akibat kecelakaan kerja.

>>> bentuk perlindungan sebagai upaya meringankan beba


keluarga baik berupa biaya pemakaman ataupun santunan
berupa uang.

2. Program Jaminan Kematian (JKM)


 Santunan sekaligus sebesar Rp16.200.000,00
(enam belas juta dua ratus ribu rupiah)
 Santunan berkala selama 24 Bulan, dengan
rincian 24 x Rp200.000,00 =
Rp4.800.000(empat juta delapan ratus ribu
rupiah) yang dibayar sekaligus

Manfaat  Biaya Pemakaman sebesar Rp3.000.000,00


(tiga juta rupiah)
 Bantuan Beasiswa bagi satu orang anak dari
peserta yang telah memasuki masa iur paling
singkat 5(lima) tahun sebesar Rp 12.000.000,-
(dua belas juta rupiah)

Total manfaat keseluruhan yang diterima 


Rp36.000.000,00
 Pekerja Penerima Upah : 0.3 % (dari upah
yang dilaporkan)
 Pekerja Bukan Penerima Upah : Rp 6.800,-
 jaminan sosial yang bertujuan untuk
mempertahankan derajat kehidupan yang layak bagi
peserta dan atau ahli warisnya dengan memberikan
penghasilan setelah peserta memasuki usia pensiun

3. Program Jaminan Pensiun (JP)


Kepesertaan Program
Jaminan Pensiun

Pekerja
Pemberi
penerima
kerja
upah

1. Pekerja pada
perusahaan
2. Pekerja pada
perorangan
4. Program Jaminan Hari Tua
Berupa uang tunai yang besarnya
merupakan nilai akumulasi iuran + hasil
pengembangannya (rata-rata bunga
deposito bank pemerintah).
Dibayarkan sekaligus apabila :
 Peserta mencapai usia 56 tahun
 Meninggal dunia
 Cacat total tetap

Manfaat JHT
Manfaat JHT dapat diambil sebelum
usia 56 tahun dengan ketentuan :
 Telah mencapai kepesertaan 10
tahun
 Diambil max 10% dari total saldo
sebagai persiapan usia pensiun
 Diambil max 30% dari total saldo
untuk uang perumahan