Anda di halaman 1dari 65

CASE REPORT II

HIV AIDS

Pembimbing :
dr. A. Sentot Suropati, Sp.PD

Disusun oleh
Yoga Nuswantoro, S.Ked
J510170036

BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM


RS IR SOEKARNO KABUPATEN SUKOHARJO
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2018
IDENTITAS

Nama lengkap : Jenis Kelamin :


Umur : 31 tahun Status : Janda
Ny. T Perempuan

Tanggal Masuk
Pekerjaan : Alamat : Gatak,
Agama : Islam RS : 23
Wiraswasta Sukoharjo
Agustus 2018

Tanggal
No. CM :
Pemeriksaan : 24
199xxx
Agustus 2018
ANAMNESIS

Keluhan Demam 7 hari


Utama

Keluhan Lemas (+), mual (+), muntah(-), Riwayat


Tambahan B20
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

• Pasien perempuan 31 tahun datang ke IGD RSUD Ir. Soekarno


Sukoharjo dengan keluhan demam sejak 7 hari yang lalu.
• Demam dirasakan naik turun. Suhu tubuh pasien dirasa meningkat
ketika malam hari.
• Pasien juga sudah meminum obat parasetamol untuk menurunkan
demam, namun pasien mengalami alergi parasetamol, pasien
menjadi gatal gatal dan kemerahan di seluruh tubuh.
• Pasien juga sempat berobat ke dokter umum namun keluhan pasien
tidak membaik.
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

• Pasien masih demam, tubuh lemas, pusing (+), mual (+), muntah
(-), batuk (+) tidak berdahak, sesak (-), BAB cair (-), BAK (+) tidak
ada keluhan, penurunan nafsu makan (+), penurunan berat badan (-).
• Pasien mengaku memiliki riwayat B20 dan sedang dalam
pengobatan ARV satu minggu ini.
• Pasien menceritakan bahwa suaminya juga mengidap penyakit serupa
namun sudah meninggal 7 bulan yang lalu.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Riwayat Hipertensi : disangkal

Riwayat sakit jantung : disangkal

Riwayat penyakit asma : disangkal

Riwayat penyakit TB paru : disangkal

Riwayat Diabetes Melitus : disangkal

Riwayat Penyakit Ginjal : disangkal

Riwayat Alergi : diakui (Parasetamol)

Riwayat Mondok : diakui (8 thn yang lalu karena operasi SC atas indikasi Plasenta Previa)

Kesan:
Tidak didapatkan riwayat penyakit dahulu yang berhubungan dengan riwayat penyakit pasien
sekarang
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Riwayat Sakit Serupa : diakui (Oleh suami pasien)

Riwayat Hipertensi : diakui (Oleh ibu pasien)

Riwayat Diabetes Melitus : disangkal

Riwayat Sakit Jantung : disangkal

Riwayat Alergi : disangkal

Riwayat Penyakit Ginjal : disangkal

Riwayat TB : disangkal

Riwayat Asma : disangkal

Kesan:
Didapat riwayat penyakit keluarga pada pasien yang berhubungan dengan kondisi pasien.
SOSIAL, EKONOMI, LINGKUNGAN
Sosial Ekonomi

• Pasien bekerja sebagai jasa laundry. Penghasilan keluarga di dapat


dari kerja ibu kira-kira Rp 1.000.000, -. Keadaan sosial ekonomi
menurut pasien kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Personal Higiene

• Kebersihan dari pasien selalu terjaga. Menggunakan alat makan


yang terpisah dengan anak. Serta senantiasa menjaga kebersihan
diri seperti cuci tangan sebelum makan dan minum.
SOSIAL, EKONOMI, LINGKUNGAN
Lingkungan

• Rumah ditempati oleh pasien, 2 anak pasien dan bapak ibu pasien.
Terdapat 4 kamar tidur, ruang tamu, dapur, rumah berlantaikan
semen, pencahayaan dan sirkulasi udara baik, terdapat genteng kaca
dan jendela, terdapat 1 kamar mandi yang menyatu dengan toilet di
dalam rumah yang terpisah, 2 hari sekali dikuras,
• menggunakan air sumur yang jernih dan tidak berbau, pembuangan
air dikelola dengan baik dalam penampungan, jarak septi tank
dengan rumah ±10 meter, Di rumah pasien tidak memelihara
hewan piaraan, sampah tidak pernah ditimbun, langsung dibuang ke
TPS. Tidak terdapat tetangga yang menderita sakit serupa.
ANAMNESIS SISTEM
Serebrospinal : Kejang (-), Nyeri kepala (-), demam (+), Penurunan kesadaran (-)

Kardiopulmoner : Kulit kebiruan (-), Kuku-kuku jari berwarna biru (-)

Respiratorius : Batuk (+), Pilek (-), sesak (-), mimisan (-)

Gastrointestinal : Nyeri perut (-), mual (+), muntah (-), kembung (-), BAB sulit (-), diare (-)

Urogenital : BAK sulit (-), nyeri saat BAK (-)

Integumentum : Pucat (+), bintik merah (-), kuning (-), gatal-gatal (-), kemerahan (-)

Muskuloskeletal : Nyeri otot (-), nyeri saat berjalan/bergerak (-), nyeri sendi (-)
KESAN UMUM
Keadaan umum : Tampak lemas

Kesadaran : Compos mentis

Vital Sign :
• Tekanan darah : 90/60 mmHg
• Suhu : 38.9ºC
• Nadi : 86x/menit
• RR : 24x/menit
PEMERIKSAAN KHUSUS
Kepala
• Normochephal, rambut hitam.
• Mata : Conjuctiva anemis (+/+), Sklera ikterik (-/-),
edema palpebra (-/-), reflek cahaya (+/+) isokor (+/+)
2mm, mata cowong (-/-)
• Hidung : Sekret (-), epistaksis (-), nafas cuping
hidung (-/-)
• Telinga : Normotia (+/+), Sekret (-/-),
hiperemis (-/-)
• Mulut : Mukosa bibir kering (+), perdarahan gusi (-),
sianosis (-), lidah kotor (+), pharynx hiperemis (-),
tonsil membesar (-).
• Leher : ada pembesaran limfonodi leher dan
tidak ada peningkatan vena jugularis
PEMERIKSAAN KHUSUS

Jantung
Batas jantung :
Inspeksi : Iktus cordistak tampak
Palpasi : Iktus cordis Tidak kuat angkat
Perkusi : Kanan atas : SIC II Linea Parasternal dekstra
Kanan bawah : SIC IV Linea Parasternal dekstra
Kiri atas : SIC II Linea Parasternal sinistra
Kiri bawah : SIC IV-V Linea Midclavilularis sinistra
Auskultasi : Suara jantung I-IIreguler, bising jantung (-)
PEMERIKSAAN KHUSUS
Paru-paru Kanan Kiri

Simetris (+), ketinggalan Simetris(+), ketinggalan gerak (-


gerak (-), retraksi (-) Inspeksi ), retraksi (-) subcostal,
subcostal, suprasternal (-) suprasternal (-)

Thorax Depan : BentukFremitus


normal,normal,tidak terlihat adanya kelainan
Palpasi
pada
Fremitus dinding
normal, ketinggalan

dada ketinggalan gerak (-) gerak (-)


Sonor Perkusi Sonor

SDV (+) normal, RBH (-), SDV (+) normal, RBH (-),
Auskultasi
wheezing (-) wheezing (-)

Simetris, ketinggalan gerak


Inspeksi Simetris, ketinggalan gerak (-)
(-)
Fremitus normal, Fremitus normal, ketinggalan
Palpasi
Belakang ketinggalan gerak (-) gerak (-)
Sonor Perkusi Sonor

SDV (+) normal, RBH (-), SDV (+) normal, RBH (-),
PEMERIKSAAN KHUSUS
Inspeksi : Distensi (-), sikatrik (-), purpura (-)
Auskultasi : Peristaltik (+) normal
Perkusi : Timpani (+), acites (-)
Palpasi : Supel, massa abnormal (-), nyeri tekan pada epigastrium (+),
turgor kulit menurun (-)
Hepar : Hepatomegali (-)
Lien : Splenomegali (-)

Ekstremitas dan Status Neurologis


Edema (-/-), Sianosis (-/-), akral dingin (-/-), petekie (-/-), a. dorsalis pedis
teraba kuat CRT normal < 2 detik.
EKSTREMITAS DAN STATUS NEUROLOGIS

LENGAN TUNGKAI

Kanan Kiri Kanan Kiri

Gerakan Bebas Bebas Bebas Bebas

Tonus Normal Normal Normal Normal

Trofi Eutrofi Eutrofi Eutrofi Eutrofi

Clonus Negatif Negatif

Reflek fisiologis Biseps (+), triceps (+) Patella (+), achilles (+)

Reflek patologis Hoffman (-), tromner (-) Babinski (-), chaddock (-), gordon (-)

Meningeal sign Kaku kuduk (-), brudzinski I (-), brudzinski II (-), kernig (-)

Sensibilitas Normal
PEMERIKSAAN
LABORATORIUM
Kamis, 23 Agustus 2018
PEMERIKSAAN
LABORATORIUM
8 Agustus 2018
DAFTAR MASALAH

HIV AIDS (B20)


Faringitis
Limfadenopati coli
Pansitopenia
RENCANA PENGELOLAAN

Rencana Tindakan
• Pantau keadaan diare, derajat dehidrasi,
Keadaan Umum, Vital Sign, serta
kemungkinan komplikasi, pantau cairan yang
masuk dan keluar.
• Bed Rest

Rencana Penegakan diagnosis


•Cek lab DR
RENCANA TERAPI
Zidovudine 1 x 300mg

Lamivudin 1 x 100 mg

Nevirapin 1 x 200 mg

Cotrimoxazole 2 x 1
RENCANA TERAPI
Ringer Laktat 20 tpm

Inj. Ceftriaxon 1g /12 jam

Inj. Antalgin 1 amp / 8 jam

Inj. Ondancentron 1 amp / 8 jam

Inj. Ranitidin 1 amp / 12 jam


RENCANA EDUKASI

Saat di rumah sakit, keluarga diminta ikut


mengawasi kondisi pasien

Istirahat cukup
• Memperhatikan kebersihan makanan dan minuman
yang dikonsumsi dan mengatur pola makan

Mengkonsumsi air putih yang banyak


Tanggal SO AP
Jumat, 24 S/ A/
Pasien lemas, demam (-), diare(-), mual (+) muntah (-), nyeri perut HIV AIDS (B20)
Agustus 2018
(-), batuk (+) pilek (-), BAK (+), nyeri berkemih (-), nafsu makan Faringitis
menurun. Limfadenopati coli
Pansitopenia
O/
P/
Vital sign:
- Zidovudine 1 x 300mg
TD: 110/80 HR: 82x/menit
- Lamivudin 1 x 100 mg
T : 36.5°C RR: 22x/menit
- Nevirapin 1 x 200 mg
KU : Sedang, CM.
- Cotrimoxazole 2 x 1
Kepala: CA +/+, SI -/-, PKGB -/-, lidah kotor (+), normocephal, faring
- Ringer Laktat 20 tpm
hiperemis (+), detritus (-)
- Inj. Ceftriaxon 1g /12 jam
Thorax: Paru : SDV +/+, Rh -/-, Wh -/- Cor : BJ I/II reguler
- Inj. Antalgin 1 amp / 8 jam
Abdomen: Nyeri tekan (-), hepatomegali (-), turgor kulit sedikit
- Inj. Ondancentron 1 amp / 8 jam
menurun
- Inj. Ranitidin 1 amp / 12 jam
Ekstemitas: Akral dingin (-), ADP Kuat
Tanggal SO AP
Jumat, 24 S/ A/
Pasien lemas, demam (-), diare(-), mual (+) muntah (-), nyeri perut HIV AIDS (B20)
Agustus 2018
(-), batuk (+) pilek (-), BAK (+), nyeri berkemih (-), nafsu makan Faringitis
menurun. Limfadenopati coli
Pansitopenia
O/
P/
Vital sign:
- Zidovudine 1 x 300mg
TD: 110/80 HR: 82x/menit
- Lamivudin 1 x 100 mg
T : 36.5°C RR: 22x/menit
- Nevirapin 1 x 200 mg
KU : Sedang, CM.
- Cotrimoxazole 2 x 1
Kepala: CA +/+, SI -/-, PKGB -/-, lidah kotor (+), normocephal, faring
- Ringer Laktat 20 tpm
hiperemis (+), detritus (-)
- Inj. Ceftriaxon 1g /12 jam
Thorax: Paru : SDV +/+, Rh -/-, Wh -/- Cor : BJ I/II reguler
- Inj. Antalgin 1 amp / 8 jam
Abdomen: Nyeri tekan (-), hepatomegali (-), turgor kulit sedikit
- Inj. Ondancentron 1 amp / 8 jam
menurun
- Inj. Ranitidin 1 amp / 12 jam
Ekstemitas: Akral dingin (-), ADP Kuat
Tanggal SO AP
Jumat, 24 S/ A/
Pasien lemas, demam (-), diare(-), mual (+) muntah (-), nyeri perut HIV AIDS (B20)
Agustus 2018
(-), batuk (+) pilek (-), BAK (+), nyeri berkemih (-), nafsu makan Faringitis
menurun. Limfadenopati coli
Pansitopenia
O/
P/
Vital sign:
- Zidovudine 1 x 300mg
TD: 110/80 HR: 82x/menit
- Lamivudin 1 x 100 mg
T : 36.5°C RR: 22x/menit
- Nevirapin 1 x 200 mg
KU : Sedang, CM.
- Cotrimoxazole 2 x 1
Kepala: CA +/+, SI -/-, PKGB -/-, lidah kotor (+), normocephal, faring
- Ringer Laktat 20 tpm
hiperemis (+), detritus (-)
- Inj. Ceftriaxon 1g /12 jam
Thorax: Paru : SDV +/+, Rh -/-, Wh -/- Cor : BJ I/II reguler
- Inj. Antalgin 1 amp / 8 jam
Abdomen: Nyeri tekan (-), hepatomegali (-), turgor kulit sedikit
- Inj. Ondancentron 1 amp / 8 jam
menurun
- Inj. Ranitidin 1 amp / 12 jam
Ekstemitas: Akral dingin (-), ADP Kuat
Tanggal SO AP
Jumat, 24 S/ A/
Pasien lemas, demam (-), diare(-), mual (+) muntah (-), nyeri perut HIV AIDS (B20)
Agustus 2018
(-), batuk (+) pilek (-), BAK (+), nyeri berkemih (-), nafsu makan Faringitis
menurun. Limfadenopati coli
Pansitopenia
O/
P/
Vital sign:
- Zidovudine 1 x 300mg
TD: 110/80 HR: 82x/menit
- Lamivudin 1 x 100 mg
T : 36.5°C RR: 22x/menit
- Nevirapin 1 x 200 mg
KU : Sedang, CM.
- Cotrimoxazole 2 x 1
Kepala: CA +/+, SI -/-, PKGB -/-, lidah kotor (+), normocephal, faring
- Ringer Laktat 20 tpm
hiperemis (+), detritus (-)
- Inj. Ceftriaxon 1g /12 jam
Thorax: Paru : SDV +/+, Rh -/-, Wh -/- Cor : BJ I/II reguler
- Inj. Antalgin 1 amp / 8 jam
Abdomen: Nyeri tekan (-), hepatomegali (-), turgor kulit sedikit
- Inj. Ondancentron 1 amp / 8 jam
menurun
- Inj. Ranitidin 1 amp / 12 jam
Ekstemitas: Akral dingin (-), ADP Kuat
DEFINISI

• Virus yang
menyerang sel darah
putih (CD4) dan
merubahnya menjadi
HIV (Human tempat berkembang
Immunodeficiency biak Virus HIV baru
Virus) kemudian
merusaknya sehingga
tidak dapat
digunakan lagi.
DEFINISI

• Kumpulan
gejala atau
AIDS syndroma
(Acquired akibat
imunodeficiency menurunnya
virus) kekebalan tubuh
karena infeksi
virus HIV
HIV AIDS
HIV( human imunodeficiency virus)

CD4( pada sel darah putih biasanya limfosit)

Nilai normal (1400-1500)

Pada HIV jumlah CD4 TURUN
• HIV : virus RNA
berbentuk sferis yang
termasuk retrovirus
dari famili Lentivirus.
ETIOLOGI
• Dua tipe HIV : HIV1
dan HIV2.
• yang paling sering
terjadi adalah HIV 1
Struktur HIV
STRUKTUR HIV
STRUKTUR HIV

• Retrovirus RNA
• Secara mortologis HIV terdiri atas 2 bagian besar yaitu bagian inti (core) dan bagian
selubung (envelop).
• Bagian inti berbentuk silindris tersusun atas dua untaian RNA (Ribonucleic Acid).
• Bagian selubung terdiri atas lipid dan glikoprotein (gp 41 dan gp 120).
• Gp 120 berhubungan dengan reseptor Lymfosit (T4) yang rentan. Karena bagian
luar virus (lemak) tidak tahan panas, bahan kimia, maka HIV termasuk virus sensitif
terhadap pengaruh lingkungan seperti air mendidih, sinar matahari dan mudah
dimatikan dengan berbagai disinfektan seperti eter, aseton, alkohol, jodium
hipoklorit dan sebagainya, tetapi telatif resisten terhadap radiasi dan sinar utraviolet.
Cara penularan
CARA PENULARAN

Transmisi Transmisi
seksual non seksual
Transmisi parentral:
jarum suntik dan alat
homoseksual
tusuk lainnya, darah/
produk darah

Transmisi
heteroseksual
transplasental
Risiko penularan HIV dari cairan
Risiko tinggi Risiko masih sulit Risiko rendah selama tidak
ditentukan terkontaminasi darah
Darah, serum Cairan amnion Mukosa seriks
Semen Cairan serebrospinal Muntah
Sputum Cairan pleura Feses
Sekresi vagina Cairan peritoneal Saliva
Cairan perikardial Keringat
Cairan synovial Air mata
Urin
PENULARAN
• Hubungan
sexual, jarum • Bersentuhan,
Bersalaman,
suntik pada Berpelukan
pengguna (kontak sosial)
narkoba, Batuk, Bersin,
tranfusi, dari Berbagi makanan/
menggunakan
ibu yang (+)
x
peralatan makan
√ kepada bayi
yang
bersama,
Gigitan nyamuk
dilahirkan, atau serangga lain,
tertusuk jarum Berenang bersama,
Memakai toilet
suntik yang bersama
terkontaminasi
PATOFISIOLOGI
Sel Target
• HIV adalah retrovirus yang
menggunakan RNA sebagai
genom. Untuk masuk ke dalam sel,
virus ini berikatan dengan receptor
(CD4) yang ada di permukaan sel.
Artinya, virus ini hanya akan
menginfeksi sel yang memiliki
receptor CD4 pada permukaannya.
Karena biasanya yang diserang
adalah sel T lymphosit (sel yang
berperan dalam sistem imun
tubuh), maka sel yang diinfeksi
oleh HIV adalah sel T yang
mengekspresikan CD4 di
permukaannya (CD4+ T cell).
PATOGENESIS
• HIV secara selektif menginfeksi sel yang berperan membentuk zat antibodi
pada sistem kekebalan yaitu sel lymfosit T4.
• Setelah HIV mengikat diri pada molekul CD 4, virus masuk kedalam target
dan ia melepas bungkusnya kemudian dengan enzym reverse transcryptae ia
merubah bentuk RNA agar dapat bergabung dengan DNA sel target.
• Selanjutnya sel yang berkembang biak akan mengandung bahan genetik virus.
• Infeksi HIV dengan demikian menjadi irreversibel dan berlangsung seumur
hidup.
Sel CD4 adalah jenis sel darah putih atau limfosit. Sel yang
merupakan target utama HIV adalah sel yang mempunyai reseptor
CD4, yaitu limfosit CD4+ (sel T helper atau Th) dan
monosit/makrofag.
Perjalanan penyakit hiv
HIV masuk ke tubuh

Oleh APC ke KGB regional

Virus bereplikasi di KGB

Viremia terdeteksi 1-3


minggu setelah infeksi
- Demam
- Ruam - Nyeri Menelan
- Pembesaran GEJALA INFEKSI HIV AKUT - Batuk
KGB - Diare

Terjadi pembentukan Ab,


ditandai dengan viremia menurun

Replikasi dalam keadaan


‘steady state’
Perkembangan Klinis
Window Period
Pada Fase ini pasien tetap seronegatif
Bersifat menular
selama beberapa bulan

Fase Infeksi Akut


Merupakan tahap serokonversi dari Gejala mungkin berupa malaise, demam,
status antibodi negatif menjadi positif diare, limfadenopati,dll

Fase Asimtomatik
Kadar limfosit CD4+ umumnya sudah Virus maupun antibodi virus dapat
kembali mendekati normal ditemukan di dalam darah

Fase Simtomatik
Kadar limfosit CD4+ umumnya turun
Timbul gejala-gejala immunosupresi
sampai di bawah 300 sel/mikroliter
DIAGNOSIS HIV AIDS
FAKTOR RISIKO
• Penjaja seks laki-laki atau perempuan
• Pengguna napza suntik
• Homoseksual atau lesbian
• Berhubungan seks tanpa pelindung
• Pernah atau sedang menderita penyakiut infeksi menular
seksual
• Pernah mendapat tranfusi darah atau resipient produk darah
• Suntik, tato, tindik dengan menggunakan alat non steril
GEJALA MAYOR GEJALA MINOR

• Berat badan turun lebih • Batuk menetap lebih


dari 10 % dalam 1 bulan dari 1 bulan
• Diare kronik yang • Dermatitis generalisata
berlangsung lebih dari 1 yang gatal
bulan • Herpes Zooster
• Demam berkepanjangan berulang
lebih dari 1 bukan • Kandidiosis Orofaring
• Penurunan kesadaran • Herpes Simpleks kronis
dan gangguan neurologi progresif
• Demensia / ensefalopati • Limfadenopati
HIV generalisata
• Infeksi jamur berulang
pada alat kelamin wanita
STADIUM KLINIS HIV/AIDS
STADIUM 1: ASIMPTOMATIK

1. Tidak ada penurunan berat badan


2. Tidak ada gejala atau hanya : Limfadenopati Generalisata Persisten

STADIUM 2: SAKIT RINGAN

1. Penurunan BB 5-10%
2. ISPA berulang, misalnya sinusitis atau otitis
3. Herpes zoster dalam 5 tahun terakhir
4. Luka di sekitar bibir (keilitis angularis)
5. Ulkus mulut berulang
6. Ruam kulit yang gatal (seboroik atau prurigo -PPE)
7. Dermatitis seboroik
8. Infeksi jamur kuku
STADIUM 3: SAKIT SEDANG

1. Penurunan berat badan > 10%


2. Diare, Demam yang tidak diketahui penyebabnya, lebih dari 1 bulan
3. Kandidosis oral atau vaginal
4. Oral hairy leukoplakia
5. TB Paru dalam 1 tahun terakhir
6. Infeksi bakterial yang berat (pneumoni, piomiositis, dll)
7. TB limfadenopati
8. Gingivitis/Periodontitis ulseratif nekrotikan akut
9. Anemia (Hb <8 g%), netropenia (<5000/ml), trombositopeni kronis (<50.000/ml)
STADIUM 4: SAKIT BERAT

1. Sindroma wasting HIV


2. Pneumonia pnemosistis*, Pnemoni bakterial yang berat berulang
3. Herpes Simpleks ulseratif lebih dari satu bulan.
4. Kandidosis esophageal
5. TB Extraparu*
6. Sarkoma kaposi
7. Retinitis CMV*
8. Abses otak Toksoplasmosis*
9. Encefalopati HIV
10. Meningitis Kriptokokus*
11. Infeksi mikobakteria non-TB meluas
Penatalaksanaan
secara umum penatalaksanaan ODHA terbagi menjadi:
• Pengobatan untuk menekan replikasi virus HIV dengan obat
antiretroviral (ARV).
• Pengobatan untuk mengatasi berbagai penyakit infeksi
oportunistik dan kanker yang menyertai infeksi HIV/AIDS.
• Pengobatan suportif
Terapi Antiretroviral (ARV)

• zidovudin, zalsitabin, stavudin,


nucleoside reverse
transcriptase inhibitors
(NRTI)
lamivudin, didanosin, abakavir

non-nucleoside reverse
transcriptase inhibitors
• evafirens dan nevirapin
(NNRTI)

• sakuinavir, ritonavir, nelvinavir,


PROTEASE
INHIBITOR (PI) amprenavir
No Nama Golongan Fungsi

1 NRTI (nucleoside reverse-transcriptase inhibitor ) penghambat kuat enzim reversetranscriptase dari


RNA menjadi DNA yang terjadi sebelum
penggabungan DNA virus dengan kromosom sel
inang.

2 NNRTI (non-nucleoside reverse-transcriptase inhibitor menghambat aktivitas enzim reverse-transcriptase


(NNRTI) dengan mengikat secara langsung tempat yang aktif
pada enzim tanpa aktivasi sebelumnya.

3 PI (Protease Inhibitor ) menghambat enzim protease HIV yang dibutuhkan


untuk memecah prekursor poliprotein virus dan
membangkitkan fungsi protein virus.
Nama Dagang Nama Generik Golongan Sediaan Dosis (per hari)

Duviral Tablet, kandungan: 2x1 tablet


zidovudin 300mg,
lamivudin 150mg

Stavir Stavudin (d4T) NsRTI Kapsul: 30mg, 40mg >60kg: 2x40mg


Zerit <60kg: 2x30mg

Hiviral Lamivudin (3TC) NsRTI Tablet 150mg Lar.oral 2x150mg


3TC 10mg/ml <50kg: 2mg/kg, 2x/hari

Viramune Neviral Nevirapin (NVP) NNRTI Tablet 200mg 1x200mg selama 14


hari, dilanjutkan,
2x200mg

Retrovir Adovi Zidovudin (ZDV, AZT) NsRTI Kapsul 100mg 2x300mg, atau 2x250mg
Avirzid (dosis alternative)

Videx Didanosin (ddI) NsRTI Tablet kunyah: 100mg >60kg: 2x200mg, atau
1x400mg
<60kg: 2x125mg, atau
1x250mg

Stocrin Efavirenz (EFV, EFZ) NNRTI Kapsul 100mg 1x600mg, malam

Nelvex Nelfinavir (NFV) PI Tablet 250mg 2x1250mg


Viracept
Target Stadium Jumlah sel Rekomend
Populasi Klinis CD4 asi
ODHA dewasa Stadium klinis 1 dan 2 > 350 sel/mm Belum mulai
terapi.
Monitor
gejala klinis
dan jumlah
sel CD4
setiap 6- 12
bulan
< 350 sel/mm Mulai terapi

Stadium klinis 3 dan 4 Berapapun Mulai terapi


jumlah sel CD4

Pasien dengan ko-infeksi TB Apapun Stadium klinis Berapapun Mulai terapi


jumlah sel CD4

Pasien dengan ko-infeksi Hepatitis B Kronik Apapun Stadium klinis Berapapun Mulai terapi
aktif jumlah sel CD4

Ibu Hamil Apapun Stadium klinis Berapapun Mulai terapi


jumlah sel CD4
• Kombinasi ARV
INFEKSI OPORTUNISTIK
Infeksi oportunistik (IO) adalah infeksi yang timbul akibat penurunan
kekebalan tubuh. Infeksi ini dapat timbul karena mikroba (bakteri, jamur,
virus) yang berasal dari luar tubuh, maupun yang sudah ada dalam tubuh
manusia namun dalam keadaan normal terkendali oleh kekebalan tubuh.
Cytomegalovirus (CMV) selain hati, limpa, atau kelenjar getah bening
CMV, retinitis (dengan penurunan fungsi penglihatan)
Ensefalopati HIV a
Herpes simpleks, ulkus kronik (lebih dari 1 bulan), bronchitis, pneumonitis, atau esofagitis
Histoplasmosis, diseminata atau ekstraparu
Isosporiasis, dengan diare kronis (> 1 bulan)
Kandidiasis bronkus, trakea, atau paru
Kandidiasis esophagus
Kanker serviks invasif
Koksidioidomikosis, diseminata, atau ekstraparu
Kriptokokosis, ekstraparu
Kriptokosporidiosis, dengan diare kronis (> 1 bulan)
Leukoensefalopati multifocal progresif
Limfoma Burkitt
Limfoma imunoblastik
Limfoma primer pada otak
Mycobacterium avium complex atau M. kansasii, diseminata atau ekstraparu
Mycobacteriumi tuberculosis, di paru atau ekstraparu
Mycobacteriumi spesies lain atau tak teridentifikasi, di paru atau ekstraparu
Pneumonia Pneumocystis carinii
Pneumonia rekuren b
Sarkoma Kaposi
Septikemia Salmonella rekuren
Toksoplasmosis otak
Wasting syndrome c
a Terdapat gejala klinis gangguan kognitif atau disfungsi motorik yang
mengganggu kerja atau aktivitas sehari-hari, tanpa dapat dijelaskan oleh
penyebab lain selain infeksi HIV. Untuk menyingkirkan penyakit lain
dilakukan pemeriksaan lumbal pungsi dan pemeriksaan pencitraan otak (CT
scan atau MRI)
b Berulang lebih dari satu episode dalam 1 tahun
c Terdapat penurunan berat badan lebih dari 10% ditambah diare kronik

(minimal 2 kali selama > 30 hari), atau kelemahan kronik dan demam lama
(>30 hari, intermiten, atau konstan) tanpa dapat dijelaskan oleh penyakit/
kondisi lain (missal kanker, tuberkulosis, enteritis spesifik) selain HIV.
PROGNOSIS

Mortalitas pasien AIDS mendekati 100%  tetapi dengan


adanya pengobatan ARV bermanfaat menurunkan
morbiditas & mortalitas dini akibat infeksi oportunistik.
PENANGGULANGAN

Program yang dianjurkan oleh WHO :


1. Pendidikan kesehatan reproduksi
2. Program penyuluhan sebaya
3. Paket pencegahan komprehensif untuk pengguna
narkotik
4. Program pendidikan agama
5. Program layanan pengobatan infeksi menular seksual
6. Program promosi kondom
7. Program pengadaan tempat untuk tes HIV
8. Dukungan untuk anak jalanan
9. Program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak
dengan pemberian obat ARV.
PEMBAHASAN
• Pasien perempuan usia 24 tahun datang ke IGD RSUD Sukoharjo dengan keluhan
dada terasa sesak dan lemas, sesak disertai keringat dingin dan mual. Pada saat di
lakukan pemeriksaan fisik didapatkan pasien konjungtiva tidak anemis dan kedua
mata tidak ikterik.
• Pada saat dilakukan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan Hematology
didapatkan hasil + HIV. Hal ini membantu menegakkan bahwa pasien mengalami
HIV AIDS.
• Penatalaksanaan yang diberikan pada pasien ini adalah O2 3L/mnit, RL 30 tpm,
Ranitidin 1 amp /12 jam, Candistatin 3x1.
KESIMPULAN

• AIDS adalah kumpulan gejala atau penyakit yang diakibatkan karena


penurunan kekebalan tubuh akibat adanya infeksi oleh Human Imunodeficiency
Virus (HIV) yang termasuk famili retroviridae. AIDS merupakan tahap
akhir dari infeksi HIV.
• Infeksi HIV terjadi melalui tiga jalur transmisi utama yakni transmisi
melalui mukosa genital (hubungan seksual) transmisi langsung ke peredaran
darah melalui jarum suntik yang terkontaminasi atau melalui komponen
darah yang terkontaminasi, dan transmisi vertikal dari ibu ke janin.
• Secara umum, obat ARV dapat dibagi dalam 3 kelompok besar yakni:
nucleoside reverse transcriptase inhibitors (NRTI) , non-nucleoside reverse transcriptase
inhibitors (NNRTI), dan protease inhibitors (PI).
• Masalah HIV/AIDS adalah masalah besar yang mengancam Indonesia dan
banyak Negara di seluruh dunia. Tidak ada satupun negara di dunia ini
yang terbebas dari HIV.
TERIMA KASIH
Wassalamu’alaikum, Wr Wb