Anda di halaman 1dari 26

DHF

Dengue Hemorragic Fever


Apa itu DHF
 Penyakit yang terdapat pada anak dan
dewasa dengan gejala utama demam,
nyeri otot dan sendi, yang biasanya
memburuk setelah dua hari pertama (Arief
Mansjoer, 2001: 428).
 Penyakit yang bersifat infeksi sekunder
yang disebabkan oleh virus dengue.
Apa etiologi DHF
 DHF disebabkan oleh salah satu dari 4 serotipe
virus yang berbeda antigen. Serotipenya adalah
DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4.
 Ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes
Aegypty dan Aedes Albopictus .
 Infeksi oleh salah satu jenis serotipe ini akan
memberikan kekebalan seumur hidup tetapi
tidak menimbulkan kekebalan terhadap serotipe
yang lain.
Bagaimana Pathway penyakit DHF
 Lihat pada ms word
MANIFESTASI KLINIK
 Kriteria klinis DHF menurut WHO 1999 adalah;
 Demam akut, yang tetap tinggi selama 2-7 hari, kemudian
turun secara lisis. Demam disertai gejala tidak spesifik
seperti anoreksia, malaise, nyeri pada penggung, tulang,
persendian dan kepala.
 Menifestasi perdarahan seperti uji turniket positif, petekie,
purpura, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi,
hematemesis dan melena.
 Pembesaran hati dan nyeri tekan tanpa ikterus.
 Dengan/ tanpa renjatan, renjatan yang terjadi saat demam
biasanya mempunyai prognosis yang buruk.
 Kenaikan nilai hematokrit/hemokonsentasi yaitu sedikitnya
20%.
4 TINGKATAN DHF

 Derajat I : demam diikuti gejala tidak spesifik. satu-


satunya manifestasi perdarahan adalah tes torniquet
yang positif atau mudah memar.
 Derajat II : gejala yang ada pada tingkat I ditambah
dengan perdarahan spontan. perdarahan bisa terjadi di
kulit atau di tempat lain.
 Derajat III : kegagalan sirkulasi ditandai oleh denyut nadi
yang cepat dan lemah, hipotensi, suhu tubuh yang
rendah, kulit lembab dan penderita gelisah.
 Derajat IV : syok berat dengan nadi yang tidak teraba
dan tekanan darah tidak dapat diperiksa. fase kritis pada
penyakit ini terjadi pada akhir masa demam.
Penderita harus segera dirawat bila ditemukan
gejala-gejala berikut :
 Takikardi, denyut jantung meningkat
 Kulit pucat dan dingin
 Denyut nadi melemah
 Terjadi perubahan derajat kesadaran, penderita
terlihat ngantuk atau tertidur terus menerus.
 Urine sangat sedikit (kurang 100 cc per 24 jam)
 Peningkatan konsentrasi hematokrit secara tiba-
tiba.
 Tekanan darah menurun sampai kurang dari 20
mmhg.
 Hipotensi.
Pemeriksaan Penunjang
 Darah, pada demam dengue terdapat
leukopenia pada hari ke-2 atau hari ke-3,
pada DHF dijumpai trombositopenia dan
hemokonsentrasi. Masa pembekuan
masih normal, masa perdarahan
biasanya memanjang, pada pemeriksaan
kimia darah tampak hipoproteinemia,
hiponatremia, hipokloremia, SGOT,
SGPT, ureum dan pH darah mungkin
meningkat, reserve alkali menurun.
 Sum-sum tulang pada awal sakit biasanya
hiposelular kemudian menjadi hiperselular
pada hari ke-5 dengan gangguan maturasi
pada hari ke-10 sudah kembali normal untuk
semua sistem.
 Air seni mungkin ditemukan albuminuria ringan
Penatalaksanaan DHF tanpa penyulit adalah;

- Tirah baring
- Makanan lunak dan bila belum nafsu makan
diberi minum, 1,5 liter dalam 24 jam (susu, air
dengan gula, sirop, atau air tawar ditambah
garam).
- Medikamentosa yang bersipat simtomatis, untuk
hiperpireksia dapat diberi kompres, antipiretik
golongan asetaminofen, eukinin atau dipiron dan
jangan diberikan asetosal karena bahaya
perdarahan.
- Antibiotik diberikan bila terdapat kemungkinan
terjadi infeksi sekunder.
Pada pasien dengan tanda renjatan
dilakukan:

 Pemasangan infus dan dipertahankan


selama selama 12-48 jam setelah renjatan
diatasi.
 Observasi keadaan umum; nadi, tekanan
darah, suhu, dan pernapasan tiap jam
serta Hb dan Ht tiap 4-6 jam pada hari
pertama selanjutnya tiap 24 jam.
(Mansjoer, 2001: 433)
Pengkajian keperawatan
 Identitas (umur, jenis kelamin, tempat tinggal)
 Keluhan utama
(Penderita mengeluh badannya panas, sakit kepala,
lemah, nyeri ulu hati, mual dan nafsu makan menurun.
 Riwayat penyakit sekarang.
 Riwayat penyakit terdahulu.
Tidak ada hubungan antara penyakit yang pernah
diderita dahulu dengan penyakit DHF yang dialami
sekarang, tetapi kalau dahulu pernah menderita DHF,
penyakit itu bisa terulang dengan strain yang berbeda.
 RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Penyakit ini tidak ada hubungan dengan
faktor genetik dari ayah atau ibu.
Riwayat adanya penyakit DHF didalam
keluarga yang lain (yang tinggal didalam
satu rumah atau beda rumah dengan
jarak rumah yang berdekatan) sangat
menentukan karena penyakit ini dapat
ditularkan melalui gigitan nyamuk.
PEMERIKSAAN FISIK
 Sistem Respirasi
Sesak, perdarahan melalui hidung (epistaksis),
pernapasan dangkal, tachypnea, pergerakan
dada simetris, perkusi sonor, pada auskultasi
terdengar ronchi, effusi pleura (crackless).

 Sistem neurologi
Pada grade I dan II kesadaran compos mentis.
Pada grade III dan IV gelisah, rewel, cengeng →
apatis → sopor → coma. Grade 1 sampai
dengan IV dapat terjadi kejang, nyeri kepala dan
nyeri di berbagai bagian tubuh, penglihatan
fotopobia dan nyeri di belakang bola mata.
 Sistem Cardiovaskuler

Pada grade I: uji tourniquet positif,


trombositipenia, perdarahan spontan dan
hemokonsentrasi.
Pada grade II: disertai perdarahan spontan di
kulit atau perdarahan lain.
Pada grade III: dapat terjadi kegagalan sirkulasi
yaitu nadi cepat dan lemah
(tachycardia),tekanan nadi sempit, hipotensi,
cyanosis sekitar mulut, hidung dan jari-jari, kulit
dingin dan lembab.
Pada grade IV: nadi tidak teraba dan tekanan
darah tak dapat diukur.
 Sistem perkemihan
Produksi urine menurun, kadang kurang dari 30 cc/jam
terutama pada grade III, akan mengungkapkan nyeri
saat kencing, kencing berwarna merah.
 Gastrointestinal
Perdarahan pada gusi, Selaput mukosa kering, kesulitan
menelan, nyeri tekan pada epigastrik, pembesaran
limpa, hepatomegali disertai dengan nyeri tekan tanpa
disertai dengan ikterus, abdomen teregang, penurunan
nafsu makan, mual, muntah, nyeri saat menelan,
hematemesis, melena).
 Sistem integumen
Terjadi peningkatan suhu tubuh (Demam), kulit kering
 Gastrointestinal
Perdarahan pada gusi, Selaput mukosa kering, kesulitan
menelan, nyeri tekan pada epigastrik, pembesaran
limpa, hepatomegali disertai dengan nyeri tekan tanpa
disertai dengan ikterus, abdomen teregang, penurunan
nafsu makan, mual, muntah, nyeri saat menelan,
hematemesis, melena).

 Sistem integumen
Terjadi peningkatan suhu tubuh (Demam), kulit kering
DIAGNOSIS KEPERAWATAN
 Hipertermia berhubungan dengan penyakit.
 Perfusi jaringan tidak efektif (Spesifik) berhubungan
dengan aliran arteri yang melambat.
 Kekurangan volume cairan berhubungan dengan
kehilangan volume cairan aktif.
 Ketidakseimbangan Nutrisi : kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan kesulitan mengunyah
atau menelan sekunder terhadap penurunan
kesadaran.
 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan tirah baring
atau imobilisasi.
 Risiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan
imobilisasi.
Hipertermi
 Body temperature elevated above normal range.
 Definisi Karakteristik
- Kejang, Peningkatan pada suhu tubuh di
atas batas normal, kulit kering, tachikardi,
tachipnea, hangat saat di sentuh.
 Faktor yang berhubungan
- Anesthesi, dehidrasi, trauma, terpapar
lingkungan yang panas.
Kekurangan volume cairan tubuh
 Penurunan cairan pada intravaskular, interstitial, dan/atau
intrasel. Hal ini merujuk pada keadaan dehidrasi,
kehilangan cairan tanpa perubahan sodium.
 Definisi karakteristik
- Perubahan status mental, penurunan tekanan darah,
penurunan tekanan nadi, penurunan, turgor kulit,
penurunan urine output, penurunan venous filling, membran
mokusa kering, kulit kering, peningkatan HT, peningkatan
suhu tubuh, peningkatan nilai nadi, peningkatan
konsentrasi urin, haus, kelemahan. Kehilangan berat badan
secara mendadak.
 Faktor yang berhubungan
- Kehilangan volume cairan secara aktif.
- Kegagalan mekanisme regulasi.
Berikut ini 5 diagnosis banding  penyakit
dengan gejala  demam :
1. Demam Berdarah. Demam terus menerus 2-
7 hari, disertai tanda perdarahan seperti:
petekie
(bintik merah pada kulit), epistaksis
(mimisan), atau berak darah (melena). Hasil
pemeriksaan laboratorium: jumlah trombosit
menurun (trombositopenia), kadar hematokrit
meningkat (hemokonsentrasi), hasil tes
serologis positif antigen virus  dengue.
2. Demam Chikungunya. Demam dirasakan 3-5
hari, dengan keluhan nyeri otot, sakit kepala
seperti rasa tegang, Dengan pemeriksaan
serologis (tes darah) akan diketahui antigen
penyebabnya dari strain golongan virus
chikungunya
3. Demam Influenza. Biasanya diawali keluhan pilek,
batuk, demam 1-2 hari, sakit kepala, dan
gangguan saluran pernafasan lainnya seperti sesak
nafas, hidung tersumbat, sakit menelan. Dari hasil
pemeriksaan darah hanya ada sedikit peningkatan
jumlah leukosit (sel darah putih), kriteris darah
lengkap lainnya umumnya dalam batas normal.
4. Demam Malaria. Perasaan demam dialami 2-
7 hari berturut-turut, disertai keluhan nyeri
kepala, otot-otot, seluruh badan, menggigil
dan berkeringat dingin. Pemeriksaan darah
lengkap khususnya tes darah tepi
menunjukkan hasil positif terhadap salah satu
parasit plasmodium  yang menginfeksi.
5. Demam Tifoid. Panas badan bisa lebih dari 7
hari, mual, muntah, diare, dan gangguan
pencernaan lainnya. Melalui tes darah Widal,
diketahui titer antigen penyebab yakni
Salmonella
typhosa atau paratyphosa akan menunjukkan
tanda peningkatan postitif.
Virus dengue

tubuh

Antibodi non netralisasi

Infeksi o/ serotif lain

Komplek imun yg > banyak

AB non netralisasi beredar pd sir darh


dn menempel
Pd sel pagosit monunuklear dn mnjdi reseptor
Dn generator replikasi virus

VD dgn mudh masuk dn menginfeksi sel fagosit


(mekanisme aferen)

Virus bereplikasi dlm sel fagosit


Bersama2 dgn fagosit menyebar
Keorgan lainya spt hati,limpe,sum2 tulang
(mekanisme eferen)

Sel fagosit yg terinfeksi akn memicu


Sel imun lain

Muncul manefestasi klinis


(mekanisme efektor)
Mekanisme efektor