Anda di halaman 1dari 10

Adakah Pulau Bali

Tahun 2050?

Oleh : Intan Gianita


140710150008
1. Pendahuluan

2. Kondisi Tektonik Bali

3. Pulau Bali Secara Geografis

4. Prediksi Setelah Beberapa


Tahun

OUTLINE
Pendahuluan

Indonesia terletak antara tiga pertemuan lempeng besar, yaitu Lempeng Eurasia,
Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik.

Pulau Bali merupakan bagian dari kerangka sistem tektonik Indonesia yaitu
zona pertemuan lempeng tektonik, dimana lempeng Indo-Australia
menyusup di bawah lempeng Eurasia secara konvergen.

Proses subduksi tersebut menghasilkan efek berupa struktur geologi sesar aktif di
wilayah Pulau Bali dan sekitarnya, sehingga Pulau Bali termasuk kategori kawasan
dengan tingkat aktifitas kegempaan (seismisitas) yang tinggi.
Gambar 1. Sketsa sesar naik
belakang bususr daerah Bali (Bali
back arc thrust)
– Gambar 2. Peta Tektonik
Indonesia (kiri) dan
gambaran tektonik Bali
(kanan)
Kondisi Tektonik Bali

– Pergerakan Lempeng Indo-Australia kearah Lempeng Eurasia pertama kali di


estimasi melelui penelitian GPS pada tahun 1989 yang mehasilkan bahwa gerakan
relative pulau Chrismast yang berada di lempeng Indo-Australia terhadap Jawa Barat
yang berada di lempeng Eurasia sebesar 67±7 mm/tahun dengan arah N11°E±4°,
hasil ini mendekati hasil yang dihitung secara teoritis dengan menggunakan model
NUVEL-1 yaitu sebesar 71 mm/tahun dengan arah lebih ke utara dari N20°E±3°.
– Maka dengan kondisi yang demikian akan mengakibatkan Pulau Bali sebagai salah
satu daerah yang mempunyai tingkat kegempaan yang cukup tinggi berkaitan
dengan subduksi lempeng dibawah Paparan sunda dan aktifitas tepi benua Australia
serta kelanjutan garis Busur Sunda kearah timur yang bertemu dengan Busur Banda.
Pulau Bali Secara Geografis

– Bali terletak sangat dekat dengan zona tumbukan antara Lempeng Indo-
Australia dan Lempeng Eurasia.
– Zona subduksi yang terkait mewakili area sumber utama bagi tsunami
yang dapat memengaruhi khususnya bagian selatan pulau ini.
– Tepat di pesisir utara Bali, terdapat patahan belakang (back arc fault) adalah
area sumber lainnya bagi tsunami lokal.
– Selain zona subduksi di Palung Sunda dan Sesar Sungkup, dua sumber lainnya
bahaya tsunami telah diketahui: longsor bawah laut dan aktivitas gunung
berapi.
Gambar 3. Area sumber tsunami di
sekitar Bali
Prediksi Setelah Beberapa
Tahun
Jika dilihat dari adanya slope kontinen yang naik dari Pulau
Jawa-Bali, diprediksikan bisa menyebabkan tenggelamnya Pulau
Jawa yang berdampak pada Pulau Bali

Hal tersebut diperparah dengan keadaan Indonesia yang saat


kini cuacanya ekstrim. Kenaikan suhu yang ekstrim dan
meningkatnya air muka laut akibat global warming. Anomali
cuaca dan iklim ini akan menimbulkan dampak yang lebih
drastis seperti yang akan terjadi pada Pulau Bali.

Luas Pulau Bali kini 5.632 kilometer persegi, pada 2050 akan
teredam seluas 489 kilometer persegi. Rendamannya akan
semakin luas pada 2070, hingga mencapai 557 kilometer
persegi. Dan keredaman wilayah ini akan mengakibatkan
terpisahnya Pulau Bali menjadi dua bagian.
Sumber:
• www.bmkg.go.id
PGR III Balai Besar Wilayah III Denpasar
• www.gitews.org/tsunami-
kit/id/E1/sumber_lainnya/peta_bahaya/bali/Dokumen%20Teknis%20Peta%20Bahaya
%20Tsunami%20Bali.pdf
• Daryono. 2011. Identifikasi Sesar Naik Belakang Busur (Back Arc Thrust) Daerah Bali
Berdasarkan Seismisitas dan Solusi Bidang Sesar. BMKG.