Anda di halaman 1dari 19

PSIKOLOGI DAN

PENDIDIKAN ANAK
BERBAKAT
Dinda Fitri Annisa (15011113)
FAKTOR GENETIK DAN BIOLOGIS LAINNYA

 Adanya pedebatan menyeleksi pasangan unggul dalam hal reproduksi manusia


 Dalam penelitian genetika perilaku menyatakan bahwa setiap jenis dari
perkembangan perilaku di pengaruhi secara signifikan melalui gen/keturunan
 Walaupun pengaruh genetika tak dapat dibantahkan, akan tetapi pengaruh
biologic ini tidak lebih penting daripada lingkungan dimana anak di asuh
 Faktor biologic belum bersifat genetic, yang mempunyai andil dalam inteligensi
adalah factor gizi dan neurologi
 Kekurangan nutrisi pada masa kecil dan gangguan neurologi dapat menyebabkan
cacat mental
 Study Terman terhadap orang yang memiliki
IQ tinggi menunjukkan : keunggulan fisik :
tinggi,berat, daya tarik kesehatan,
dibandingkan dengan anak dengan IQ yang
lebih rendah
 Individu yang tidak diwariskan IQ tinggi atau
bakat yang diwariskan adalah sekumpulan
gen yang bersama dengan pengalaman-
pengalaman, menentukan kapasitas dari
inteligensi dan kemampuan-kemampuan
lainnya.
FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN

 Keluarga, sekolah, teman sebaya, dan masyarakat memiliki pengaruh dalam


perkembangan dari keberbakatan
 Stimulasi-stimulasi, kesempatan-kesempatan, tuntutan-tuntutan, imbalan-
imbalan untuk suatu kinerja akan mempengaruhi proses belajar pada anak
 Penelitian menunjukan bahwa orangtua memperlakukan yang berbeda-beda
kepada anak berbakat, ada yang memandang positif dan negatif.
Penelitian tentang anak berbakat yang sukses
menunjukkan masa kecil di dalam keluarga
yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
 Anggota keluarga memiliki minat pribadi terhadap bakat anak dan memberikan
dorongan besar dalam masa perkembangannya.
 Kebanyakan dari orangtua adalah panutan, contoh, terutama dalam gaya
kehidupannya
 Adanya dorongan khusus dari orangtua bagi anak untuk menjelajah, berpartisipasi
dalam kegiatan-kegiatan rumah tangga, berkaitan dengan bidang keberbakatan yang
dikembangkan; dimana usaha anak selalu mendapat pengukuhan (reward).
 Orang tua memberikan jaminan bahwa anak dapat belajar dalam lingkungan
keberbakatan mereka.
 Keluarga menampilkan/menunjukkan tingkah laku dan nilai (value) yang
diharapkan, yang berkaitan dengan talent, termasuk mengenai jadwal yang jelas
dan standar untuk penampilan (performance) yang tepat sesuai dengan tahapan
perkembangan anak.
 Pengajaran bersifat informal dan terjadi dalam berbagai situasi. Proses belajar awal
lebih mengarah pada eksplorasi dan bermain.
 Keluarga berinteraksi dengan tutor/mentor dan menerima
informasi bagaimana mengarahkan kegiatan-kegiatan
anak.
 Keyakinan orangtua bahwa anak-anak mereka mendalami
bakat mereka sebagaimana juga mereka belajar bahasa.
 Adanya perilaku-perilaku dan nilai-nilai yang diharapkan
berkaitan dengan keberbakatan di dalam keluarga. Ada
penjadwalan kegiatan dan standar yang jelas bagi kinerja
yang sesuai dengan tahap perkembangan anak.
 Orangtua menjadi pengamat latihan-latihan, menekankan
minimum waktu berlatih, memberi pengarahan bila di
perlukan, dan memberi pengukuran pada perilaku anak
yang di lakukan dengan terpuji dan memenuhi standard
yang di tetapkan
 Orang tua mencarikan instruktur khusus dan guru khusus
bagi anak
 Orang tua mendorong keikutsertaan anak dalam berbagai
acara (konsert, resital, kontes dan lain-lain) di mana
kemampuan anak di pertunjukkan kepada khalayak ramai.
 Anak-anak yang menyadari potensi mereka perlu di kembangkan, perlu memiliki keluarga yang penuh
rangsangan, pengarahan, dorongan dan imbalan-imbalan untuk kemampuan-kemampuan mereka itu
 Sekolah perlu mengidentifikasi keberbakatan, instruksi untuk siswa, model kurikulum, dan pengukuhan (reward)
dari performa yang ditampilkan memliki dampak yang baik pada apa yang siswa dapatkan
 Sekolah dapat memfasilitasi performa dari seluruh siswanya dimana seluruh siswanya mampu untuk meraih
tingkat superior pada area yang spesifik, maka keberbakatan akan ditemukan hampir diseluruh siswa.
 Kelompok budaya atau etnik-etnik tertentu menghasilkan lebih banyak anak-anak berbakat walaupun tingkat
sosial ekonominya berbeda
 Dari segi gender, wanita tampaknya tidak memperoleh kesempatan dan motivasi yang sama untuk bisa masuk ke
berbagai disiplin akademik dan karir yang secara tradisi dominasi oleh pria
Pengaruh lingkungan banyak berkaitan
dengan bagaimana pembentukan genetik
anak di ekspresikan dalam unjuk kerjanya.
Faktor-faktor keturunan lebih menentukan
rentang dimana seseorang akan berfungsi,
dan faktor-faktor lingkungan menentukan
apakah individu akan berfungsi pada
pencapaian lebih rendah atau lebih tinggi
dari rentang tersebut.
Identifikasi, Diagnosis dan Asesmen

 Pengukuran anak berbakat sangat kompleks


 Ada beberapa komponen yang tidak dapat diukur dengan menggunakan cara
biasa dan juga ada beberapa bagian dari definisi keberbakatan akan
menentukan bagaimana tes skor diinterpretasikan.
 Menggunakan metode yang tepat dalam melakukan identifikasi awal
keberbakatan untuk membantu anak dengan special talents meraih
pemenuhan diri (self-fulfillment) dan membantu mereka untuk
mengembangkan potensi untuk memberikan kontribusi bagi lingkungan.
 Dalam menentukan prosedur identifikasi yang adil bagi individu dari seluruh
kebudayan dan kelompok etnis, pada seluruh kelompok sosial, pakar/pendidik
perlu menentukan variasi definisi keberbakatan dan dikenali sebagai dampak
dari variasi budaya pada tingkah laku anak.
Ada delapan identifikasi umum yang
ditentukan Hunser dan Callahan (1995 dalam
Hallahan, Kauffman & Pullen, 2009) :
 Pengukuran mengenai keberbakatan melebihi konsep sempit dari talents.
 Strategi identifikasi tepat dan terpisah diperlukan dalam melakukan identifikasi
aspek yang berbeda dari keberbakatan.
 Instrumen dan strategi yang reliabel dan valid dibutuhkan dalam menilai
keberbakatan.
 Instrumen yang tepat digunakan untuk underserver population (populasi yang
dilayani).
 Setiap anak dilihat secara individu, dikenali dari skor tunggal pada semua
pengukuran.
 Pendekatan multiple-measure/multiple-criteria (menggunakan beberapa kriteria
dan pengukuran) diijinkan.
 Apresiasi ditunjukkan pada nilai dari kasus setiap individu dan keterbaatasan
kombinasi pengukuran.
 Identifikasi dan penempatan didasarkan pada kebutuhan individu dan kemampuan
dibandingkan dengan jumlah individu.
 Di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, identifikasi keberbakatan
intelektual pada siswa menggunakan penilaian berdasarkan konsep Renzulli,
menggunakan pengukuran inteligensi, kreatifitas, dan komitmen pada tugas.
Selain tingkat lnteligensi, kreativitas, dan komitmen pada tugas yang
menonjol, yang diperoleh dari asil asesmen alat ukur yang handal, perlu juga
dilakukan pengamatan dari perilaku akademis siswa sehari-harinya.
Dampak Keberbakatan dari segi Psikologis,
Sosial-Emosional dan Pendidikan
Sebagian anak dapat menerima hal itu dalam kondisi yang positif :
 Mereka dapat hidup dengan bahagia, disukai oleh teman kelompoknya, mereka
temiliki kestabilan emosi dan self-sufficient.
 Anak berbakat memiliki minat yang luas dan bervariasi serta dapat menerima diri
mereka dengan positif.
 Anak berbakat yang berasal dari tingkat sosial ekonomi menengah ke atas
mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan diri mereka, mendapatkan
kesempatan pendídikan yang tepat, kesempatan untuk menggali minat mereka
secara dalam.
 Anak berbakat juga bersikap peka/tanggap terhadap perasaan diri sendiri dan
orang lain, memiliki kepedulian yang tinggi mengenai hubungan interpersonal,
pernyataan diri, dan isu moral.
 Anak berbakat menggunakan kemampuan kognitif yang luar biasa untuk membantu
anak lain berkembang secara sosial dan emosional dengan menggunakan strategi
yang dilakukan oleh orang dewasa.
Sebagian anak dapat menerima hal itu dalam kondisi yang negatif :
 Anak berbakat yang lolos seleksi dan ditempatkan dalam program khusus
seperti akselerasi atau pengayaan (enrichment) mengalami tekanan dengan
tugas-tugas yang membuat mereka tidak punya cukup waktu lain selain
belajar untuk mempertahankan prestasinya karena persaingan yang tinggi.
 Anak-anak berbakat yang tidak mendapatkan kesempatan untuk
mengembangkan apa yang menjadi bakat mereka karena kondisi lingkungan
mereka.
 Anak berbakat dapat menampilkan tingkah laku yang luar biasa buruknya.
 Anak berbakat juga bisa menjadi individu yang melakukan bullying terhadap
lingkungan, atau menjadi korban bullying dari teman-temannya.
 Anank berbakat memiliki kecenderungan untuk menjauh dari kelompok usia
mereka
Intervensi dan Bantuan Pendidikan

 Sekolah seharusnya dapat memfasilitasi anak berbakat dalam mengidentifikasi dan


memahami kemampuan terbaik yang dimilikinya
 mengajar anak berbakat menuntut konsep mengajar yang berbeda, peran, teknik mengajar,
dan penilaian hasil belajar yang berbeda pula.
 anak berbakat memerlukan pendidikan yang berdiferensiasi yaitu pendidikan yang sesuai
dengan minat dan kemampuan intelektualnya.
 keberbakatan tidak akan muncul jika kegiatan belajar terlalu mudah dan kurang memiliki
tantangan.
 pengembangan kurikulum yang berdiferensiasi dan cara-cara belajar yang memungkinkan
terwujudnya bakat-bakat siswa, maka keberbakatan akan muncul dengan sendirinya dalam
bentuk prestasi dan karya-karya mereka
 Kurikulum berdiferensiasi dikembangkan dari kurikulum umum.
 pengalaman belajar khusus melalui kurikulum yang berdiferensiasi baik melalui materi,
proses, dan produk belajar dapat mengoptimalkan pengembangan bakat dan minat anak
secara optimal
Ada tiga karakteristik mengenai pendidikan
yang dikhususkan bagi siswa dengan
kemampuan dan bakat yang spesifik yaitu :
 Kurikulum dirancang untuk mengakomodasi kemampuan kognitif siswa.
 Strategi instruksi yang diberikan konsisten dengan pembelajaran siswa dengan
kemampuan yang diatas rata-rata pada bagian isi dari kurikulum.
 Penyusunan administrasi memfasilitasi instruksi pada kelompok yang tepat.
Rencana yang dikembangkan untuk
membantu pengoptimalan pengembangan
bakat dan minat anak berbakat :

 Program enrichment adalah program dimana siswa diberikan pengalaman


pembelajaran, namun siswa tetap berada ditingkat kelas yang sesuai dengan
usia kronologis mereka.
 Program akselerasi adalah program penempatan bagi siswa berbakat pada
tingkat kelas yang lebih tinggi dari tingkat kelas anak yang seusia mereka.
Anak Berbakat dan Program Percepatan
Belajar

Definisi anak berbakat yang dikemukakan oleh Pemerintah Indonesia digunakan


sebagai acuan pemerintah untuk menyelenggarakan Program Percepatan Belajar di
Indonesia dibatasi oleh dua hal berikut yaitu:
 mereka yang mempunyai taraf inteligensi atau IQ diatas 140; atau
 mereka yang oleh psikolog dan atau guru diidentifikasikan sebagai peserta didik
yang telah mencapai prestasi yang memuaskan, dan memiliki kemampuan
intelektual umum yang berfungsi pada tingkat kecerdasan, serta keterikatan
terhadap tugas yang tergolong baik serta kreativitas yang memadai.
 Definisi mengenai program percepatan belajar diajukan oleh Direktorat
Pendidikan Luar Biasa sebagai pemberian pelayanan pendidikan sesuai dengan
potensi siswa berbakat, dengan memperbolehkan mereka menyelesaikan
program reguler dalam jangka dan waktu yang lebih singkat dibandingkan
dengan teman sebayanya.