Anda di halaman 1dari 23

Artritis Reumatoid

Arien Rianti
1315207

Pembimbing: dr. Budi Liem, M.Med

Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Maranatha
2018
Definisi

• Artritis Reumatoid (AR)


adalah penyakit autoimun
yang etiologinya belum
diketahui dan ditandai oleh
sinovitis erosif yang
simetris dan pada
beberapa kasus disertai
keterlibatan jaringan
ekstraartikular.
Etiologi

Etiologi RA belum diketahui dengan pasti. Namun,


kejadiannya dikorelasikan dengan interaksi yang kompleks
antara faktor genetik dan lingkungan (Suarjana, 2009).
Genetik
Hormon Sex
Faktor Infeksi
Heat Shock Protein
Faktor Lingkungan
Faktor Risiko

Faktor risiko dalam peningkatan terjadinya RA antara lain


Jenis kelamin perempuan
ada riwayat keluarga yang menderita RA
umur lebih tua,
paparan salisilat dan merokok.
Obesitas
Prevalensi dan Insidensi
• Di Amerika Serikat dan beberapa daerah di Eropa prevalensi AR
sekitar 1%; sedangkan di Cina sekitar 0,28%. Jepang sekitar
1,7% dan India 0,75%. Insiden di Amerika dan Eropa Utara
mencapai 20-50/100000.
• Di Indonesia dari hasil survey epidemiologi di Bandungan Jawa
Tengah didapatkan prevalensi AR 0,3 %, sedang di Malang pada
penduduk berusia diatas 40 tahun didapatkan prevalensi AR 0,5
%. Di Poliklinik Reumatologi RSUPN Cipto Mangunkusumo
Jakarta, pada tahun 2000 kasus baru Artritis Reumatoid
merupakan 4,1% dari seluruh kasus baru. Di Poliklinik
reumatologi RS Hasan Sadikin didapatkan 9% dari seluruh
kasus reumatik baru pada tahun 2000-2002.
Manifestasi Klinik
Nyeri dan bengkak pada sendi saat
digerakkan adalah gejala klinik yang
paling sering.

Morning stiffness ≥1 hr

 MCP and PIP joints of hands & MTP of feet 90%


 Knees, ankles & wrists- 80%
 Shoulders- 60%
 Elbows- 50%
 TM, Acromio - clavicular & SC joints- 30%
PIP Swelling

Pembengkakan terbatas pada area kapsul sendi


Penebalan sinovial terasa seperti spons yang keras
Ulnar Deviation, MCP Swelling,
Left Wrist Swelling
Extra-articular manifestations
 Hadir dalam 30-40%
 Mungkin terjadi sebelum arthritis
Pada Pasien mungkin di dapati:
 Titer tinggi RF / anti-CCP
 HLA DR4 +
 Pria
 Kecacatan awal onset
 Riwayat Merokok
Extraarticular Involvement
 Constitutional symptoms ( paling sering)
 Rheumatoid nodules(30%)
 Hematological-
 normocytic normochromic anemia
 leucocytosis /leucopenia
 thrombocytosis

 Felty’s syndrome-
 Chronic nodular Rheumatoid Arthritis
 Spleenomegaly
 Neutropenia
 Respiratory- pleural effusion, pneumonitis , pleuro-
pulmonary nodules, ILD
 CVS-asymptomatic pericarditis , pericardial effusion,
cardiomyopathy
 Rheumatoid vasculitis- mononeuritis multiplex, cutaneous
ulceration, digital gangrene, visceral infarction
 CNS- peripheral neuropathy, cord-compression from
atlantoaxial/midcervical spine subluxation, entrapment
neuropathies
 EYE- kerato-conjunctivitis sicca, episcleritis, scleritis
Rheumatoid nodule
•Ini adalah nodul subkutan kecil yang ada
pada permukaan ekstensor tangan,
pergelangan tangan, siku dan punggung
pasien rheumatoid arthritis.

•Karakteristik rheumatoid arthritis

•Penanda aktivitas penyakit

•Bisa hadir meski gejala Rheumatoid


Arthritis lainnya tidak ada
Pemeriksaan Penunjang
 CBC- TLC, DLC, Hb, ESR & GBP

 Acute phase reactants

 Rheumatoid Factor (RF)

 Anti- CCP antibodies


Rematoid Factor
 Antibodies that recognize Fc portion of  Rheumatoid arthritis
IgG  Sjogrens syndrome
 Vasculitis such as polyarteritis nodosa
 Can be IgM , IgG , IgA
 Sarcoidosis
 85% of patients with RA over the first 2  Systemic lupus erythematosus
years become RF+  Cryoglobulinemia
 Chronic liver disease
• A negative RF may be repeated 4-6  Infections- tuberculosis , bacterial
monthly for the first two year of disease, endocarditis, infectious mononucleosis,
leprosy, syphilis, leishmaniasis.
since some patients may take 18-24  Malignancies
months to become seropositive.  Old age(5% women aged above 60)
Radiographic Features

 Peri-articular osteopenia
 Uniform symmetric joint space narrowing
 Marginal subchondral erosions
 Joint Subluxations
 Joint destruction
 Collapse
 Ultrasound detects early soft tissue lesions.
 MRI has greatest sensitivity to detect synovitis and
marrow changes.
Saat ini diagnosis AR di Indonesia mengacu pada kriteria diagnosis menurut
American College of Rheumatology/European League Against Rheumatism 2010,
yaitu :
Penatalaksanaan

 NSAIDS
 Steroids
 DMARDs
 Immunosuppressive therapy
 Surgery
Antiinflamasi non-steroid (NSAID)

• Mengurangi rasa sakit dan pembengkakan dengan


menghambat COX

• Penggunaan kronis harus diminimalkan.

• Efek samping yang paling umum terkait dengan saluran


pencernaan.
 Kortikosteroid, baik sistemik maupun intra-artikular
merupakan tambahan penting dalam pengelolaan RA.
Indikasi untuk steroid sistemik adalah: -
 Untuk pengobatan flare rheumatoid.

 Untuk RA ekstra artikuler seperti vaskulitis rheumatoid


dan penyakit paru interstisial.
 Sebagai bridge theraphy selama 6-8 minggu sebelum
tindakan DMARD dimulai.
 Dosis pemeliharaan 10mg atau kurang predinisolon
setiap hari pada pasien dengan RA aktif.
 Terkadang kehamilan saat DMARD lainnya tidak bisa
digunakan.
Immunosuppresive therapy
Agent Usual dose/route Side effects

Azathioprine 50-150 mg orally GI side effects , myelosuppression,


infection,

Cyclosporin A 3-5 mg/kg/day Nephrotoxic , hypertension ,


hyperkalemia

Cyclophosphamide 50 -150 mg orally Myelosuppression , gonadal toxicity


,hemorrhagic cystitis , bladder
cancer