Anda di halaman 1dari 47

LBM 2 MATA

LAODE MUHAMMAD SUKARNO K


30101306973
SGD 3
Injeksi konjungtiva
Injeksi silier
Injeksi episkleral
perdarahan subkonjungtiva
• Eksudat konjungtiva sangat spesifik, berwarna putih
susu kental, lengket, elastic dan fibrinous. Peningkatan
sekresi mucus yang kental dan adanya peningkatan
jumlah asam hyaluronat, mengakibatkan eksudat
menjadi lengket. Hal ini memberikan keluhan adanya
sensasi seperti ada tali atau cacing pada matanya.
• Penutupan kelopak mata yang lama akan membuat
suhu sama dengan suhu badan. Pada kelopak mata
yang terbuka biasanya suhunya lebih rendah
dibandingkan suhu badan akibat penguapan air mata.
Suhu mata yang sama dengan suhu badan akan
mengakibatkan berkembang biaknya kuman dengan
baik. Suhu badan merupakan inkubator yang optimal
untuk kuman sehingga kuman akan memberikan
peradangan yang lebih berat pada konjungtiva,
sehingga sekret akan bertambah diwaktu bangun pagi.
Saat ada benda asing masuk, tubuh akan membentuk
suatu mekanisme pertahanan tubuh yaitu melalui
reaksi inflamasi atau peradangan, yang pertama kali
terjadi adalah adanya kalor (panas) karena vasodilatasi
pembuluh darah, tapi hal ini sangat jarang terjadi pada
mata karena organ nya kecil dan pembuuh darahnya
tidak banyak dan kecil-kecil, kemudian akan timbul
rubor (kemerahan) karena vasodilatasi pembuluh
darah dan meningkatnya aliran darah pada daerah
yang terkena, kemudian terjadi tumor (pembengkakan)
karena adanya peningkatan masa jaringan akibat
edema dan transudasi jaringan, lalu timbul dolor (rasa
nyeri) karena akibat rangsangan pada serabut saraf
sensoris dan akhirnya dapat menyebabkan fungsiolesa
(fungsi organ yang terkena menjadi terganggu) .
• Gatal
Reaksi alergi melibatkan antibodi spesifik IgE. Bila alergen
berikatandengan molekul IgE yang sebelumnya telah melekat
pada permukaan mastositatau basofil, maka hal itu akan
menyebabkan dilepaskannya berbagai mediatoroleh mastosit
atau basofil. Keadaan ini menyebabkan manifestasi klinik
sepertimata berair, peningkatan sekresi hidung dan bersin
pada hay fever, sesak danbatuk pada asma, kulit kemerahan
dan gatal pada urtikaria, bahkan bisa jugamengakibatkan
kematian.
Pajanan allergen berikutnya terjadi di tempat yang berbeda dari
pajanan awalnya, yan menyebabkan alergen bisa menembus
melewati epitel konjungtiva superfisialmenuju daerah
subepitel, lalu antigen akan mengikat spesifik alergen IgE
tersebutpada permukaan sel mast. Selanjutnya dalam 60
menit akan terjadi degranulasi,diawali dengan pelepasan
mediator-mediator yang dapat menyebabkan chemosis dan
rasa gatal di konjungtiva.
Peradangan sistemik terjadi jika sistem imunitas tubuh tidak
mampu untuk menahan agen penyerang. Mekanisme dari
peradangan tersebut adalah sebagai berikut. Respon pertama
adalah respon imun nonspesifik. Basofil atau lebih tepatnya
sel mast yang berada di jaringanlah yang mengetahui
masuknya suatu agen penyerang. Basofil atau mastosit 
mengeluarkan faktor-faktor untuk memanggil leukosit jenis
lain. Contohnya faktor kemotaktik eosinofil untuk memanggil
eosinofil. Basofil juga melepaskan mediator kimiawi seperti
bradikinin untuk melebarkan pembuluh darah agar teman-
temannya dapat masuk--> Setelah itu tugas diambil alih oleh
netrofil. Netrofil dapat memfagosit benda asing dengan cepat
namun kekurangannya hanya dapat sekali pakai. Netrofil akan
mati setelah memfagosit. Pertahanan selanjutnya adalah
makrofag. Makrofag berasal dari monosit yang sudah
teraktivasi. Makrofag dapat memakan lebih banyak dan
berkali-kali namun sayang aktifasinya lambat.
Jika respon imun nonspesifik ini tidak berhasil maka respon
imun spesifik akan bekerja. Makrofag akan berubah fungsi
sebagai Antigen Presenting Cell (APC) yang memperlihatkan
serpihan antigen penyerang dengan membawanya di Major
Histocompatability Complex (disingkat MHC, pada manusia
disebut Human Leukocyte Antigen [HLA]) tipe II  MHC II
akan berikatan dengan Limfosit T helper (CD4) pada bagian T
Cell Receptor (TCR) Sel T helper akan memproduksi
mediator kimiawi seperti interleukin 2,4,5 yang digunakan
untuk pematangan sel B pembentuk antibodi, interferon
gamma untuk memanggil makrofag lain, interleukin 2 juga
digunakan untuk mengaktifkan sel T lain sperti T sitotoksik
(CD8) yang dapat membunuh dengan menggunakan enzim
perforase yang dapat melubangi membran sel target. Jadi
dapat dikatakan bahwa sel T helper adalah jenderal dar
sistem imun. Makrofag sebagai APC juga akan mengeluarkan
interleukin 1 sebagai respon atas keluarnya mediator kimiawi
T helper.
Menurut penelitian interleukin 1 dapat
mengaktivasi prostatglandin yang kemudian
berdampak pada pengaturan suhu tubuh. Hal
inilah yang menyebabkan adanya demam
pada sebagian besar proses inflamasi.
Setelah dirangsang pematangannya oleh sel T
helper, sel B berkembang menjadi
imunoglobluin (antibodi) yang akan bertugas
menetralisir agen penyerang.
• Adanya kompleks antigen-antibodi akan memicu
sistem komplemen tipe klasik yang bertugas untuk
menjaga respon imun tetap terus berlanjut sampai
agen penyerang mati.
• Contohnya C3b yang mengakibatkan opsonisasi
yaitu penempelan beberapa kompleks antigen
antibodi untuk bersama-sama dikeluarkan atau
dihancurkan. Komplemen C5b6789 berfungsi
sebagai zat pelisis membran sel target bersama-
sama dengan sel T sitotoksik. Semua hal itu
membutuhkan kerjasama yang baik antar semua
komponen sistem imun.
Patogenesis terjadinya kelainan ini belum diketahui secara jelas, tapi
terutama dihubungkan dengan reaksi hipersensitivitas pada mata.
Reaksi hipersensitivitas tipe I merupakan dasar utama terjadinya
proses inflamasi pada KV. Pemeriksaan histopatologik dari lesi di
konjungtiva menunjukkan peningkatan sel mast, eosinofil dan
limfosit pada subepitel dan epitel. Dalam perjalanan penyakitnya,
infiltrasi sel dan penumpukan kolagen akan membentuk papil
raksasa. Penemuan ini menjelaskan bahwa KV bukan murni
disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas tipe I fase cepat,
melainkan merupakan kombinasi tipe I dan IV. Bonini dkk,
menemukan bahwa hiperreaktivitas non spesifik juga mempunyai
peran dalam KV. Faktor lain yang berperan adalah aktivitas
mediator non Ig E oleh sel mast. Reaksi hipersensitivitas tipe I
dimulai dengan terbentuknya antibodi IgE spesifik terhadap
antigen bila seseorang terpapar pada antigen tersebut. Antibodi
IgE berperan sebagai homositotropik yang mudah berikatan
dengan sel mast dan sel basofil. Ikatan antigen dengan antibodi IgE
ini pada permukaan sel mast dan basofil akan menyebabkan
terjadinya degranulasi dan dilepaskannya mediator-mediator kimia
seperti histamin, slow reacting substance of anaphylaxis,
bradikinin, serotonin, eosinophil chemotactic factor, dan faktor-
faktor agregasi trombosit.
Histamin adalah mediator yang berperan penting, yang mengakibatkan efek
vasodilatasi, eksudasi dan hipersekresi pada mata. Keadaan ini ditandai
dengan gejala seperti mata gatal, merah, edema, berair, rasa seperti
terbakar dan terdapat sekret yg bersifat mukoid. Terjadinya reaksi
hipersensitivitas tipe I fase lambat mempunyai karakteristik, yaitu dengan
adanya ikatan antara antigen dengan IgE pada permukaan sel mast, maka
mediator kimia yang terbentuk kemudian akan dilepaskan seperti histamin,
leukotrien C dan derivat-derivat eosinofil yang dapat menyebabkan
inflamasi di jaringan konjungtiva. Reaksi hipersensitivitas tipe IV, terjadi
karena sel limfosit T yang telah tersensitisasi bereaksi secara spesifik
dengan suatu antigen tertentu, sehingga menimbulkan reaksi imun dengan
manifestasi infiltrasi limfosit dan monosit (makrofag) serta menimbulkan
indurasi jaringan pada daerah tersebut. Setelah paparan dengan alergen,
jaringan konjungtiva akan diinfiltrasi oleh limfosit, sel plasma, eosinofil dan
basofil. Bila penyakit semakin berat, banyak sel limfosit akan terakumulasi
dan terjadi sintesis kolagen baru sehingga timbul nodul-nodul yang besar
pada lempeng tarsal. Aktivasi sel mast tidak hanya disebabkan oleh ikatan
alergen IgE, tetapi dapat juga disebabkan oleh anafilatoksin, IL-3 dan IL-5
yang dikeluarkan oleh sel limfosit. Selanjutnya mediator tersebut dapat
secara langsung mengaktivasi sel mast tanpa melalui ikatan alergen IgE.
Reaksi hiperreaktivitas konjungtiva selain disebabkan oleh rangsangan
spesifik, dapat pula disebabkan oleh rangsangan non spesifik, misal
rangsangan panas sinar matahari, angin.
KONJUNGTIVITIS
Definisi : Adalah radang pada konjungtiva dengan
kausa : infeksi, alergi atau trauma
Etiologi :
» Infeksi
• Bakteri ( stafilokokus, streptokokus, pneumokokus, neisseria
GO
• Virus ( adenovirus, herpes simplek, varicela-zoster)
• Fungi ( kandida)
• Parasit ( ascaris lumrokaides)
» Imunologi/ alergi
• Reaksi imonologik cepat (konjungtiva vernal, konjungtiva
atopik, konjungtiva giant papil)
• Reaksi imonologik lambat ( phligtenulosis)
• Penyakit autoimun (kerato konjungtiva sicca)
» Iritatif/ kimiawi
• Iatrogenik (miotiko, obat- obat topikal, larutan lensa kontak)
• Berhubungan dengan asap ( asap, asam, sinar UV)
Tanda dan gejala konjungtivitis secara
umum
Dari anamnesis didapatkan keluhan mata merah, sensasi benda
asing/ mengganjal, sensasi tergores atau panas, gatal, berair
dan keluar kotoran mata/ lodok. Tidak didapatkan penurunan
tajam penglihatan.
Tanda penting pada konjungtivitis adalah :
– Hiperemi :
Kemerahan yang paling nyata pada fornix dan mengurang ke
arah limbus. Hal ini disebabkan oleh dilatasi pembuluh –
pembuluh konjungtiva posterior. Pembuluh darah konjungtiva
posterior berasal dari cabang nasal dan lakrimal yang
merupakan cabang teminal arteri oftalmika, menuju kelopak
mata melalui forniks. Diantara keduanya terdapat
anastomosis. Injeksi konjungtiva menunjukkan adanya
kelainan pada konjungtiva superficial.
– Lakrimasi :
• Sekresi air mata oleh karena adanya sensasi
benda asing, sensasi terbakar/ gatal.
– Eksudasi :
• Adanya secret yang keluar saat bangun tidur dan
bila berlebihan palpebra saling melengket.
– Kemosis :
Udem konjungtiva oleh karena transudasi cairan dari
pembuluh darah kapiler konjungtiva. Klinis tampak
seperti gelembung/benjolan bening pada konjungtiva
bulbi atau fornix. Kemosis dapat terjadi secara :
– Aktif : peningkatan permeabilitas pada peradangan (
eksudat )
– Pasif : akibat stasis ( perbandingan “ tissue fluid “ didalam
jaringan/organ tergantung pada keseimbangan antara
produk cairan dari arteri, penyerapan ke vena dan drainage
oleh limfatik ). Ketidakseimbangan salah satu factor ini
dapat menyebabkan kemosis.
– Folikel :
Tampak pada kebanyaan kasus konjungtivitis virus,
kasus konjungtivitis khlamidia. Sering terdapat pada
tarsus terutama tarsus superior. Secara klinik dapat
dikenali sebagai struktur kelabu atau putih yang
avaskuler dan bulat. Pada pemeriksaan slit lamp,
pembuluh-pembuluh kecil tampak muncul pada
batas folikel dan mengintarinya.
– Pseudomembran :
Adalah haasil proses eksudatif dan hanya berbeda
derajatnya. Pseudomembran adalah pengentalan di
atas permukaan epitel, bila diangkat epitel tetap
utuh. Bila sebuah membran adalah pengentalan
yang meliputi seluruh epitel epitel jika diangkat
akan meninggalkan permukaan yg kasar dan
berdarah. Pseudomembran atau membran dapat
menyertai konjungtivitis virus herpes, pemphigoid
sikatriks, difteria. Membran dan pseudomembran
dapat berupa sisa akibat luka bakar kimiawi.
– Hipertrofi papila :
• Reaksi konjungtiva non spesifik yang terjadi
karena konjungtiva terikat pada tarsus atau
limbus. Konjungtiva papiler merah
mengesankan penyakit bakteri atau klamidia.
. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan yang sering dilakukan pada


penyakit konjungtivitis adalah:
- Pemeriksaan sitologi melalui pewarnaan gram
atau giemsa.
- Pemeriksaan darah (sel-sel eosinofil) dan
kadar IgE.
Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan secara langsung dari kerokan atau


getah mata setelah bahan tersebut dibuat
sediaan yang dicat dengan pengecatan gram
atau giemsa dapat dijumpai sel-sel radang
polimorfonuklear. Pada konjungtivitis yang
disebabkan alergi pada pengecatan dengan
giemsa akan didapatkan sel-sel eosinofil.
Pencegahan Penyakit Dari
Konjungtivitis
Untuk mencegah makin meluasnya penularan konjungtivitis, kita
perlu memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut:
§ Usahakan tangan tidak megang-megang wajah (kecuali untuk
keperluan tertentu), dan hindari mengucek-ngucek mata.
§ Mengganti sarung bantal dan handuk dengan yang bersih setiap
hari.
§ Hindari berbagi bantal, handuk dan saputangan dengan orang
lain.
§ Mencuci tangan sesering mungkin, terutama setelah kontak
(jabat tangan, berpegangan, dll) dengan penderita konjungtivitis.
§ Untuk sementara tidak usah berenang di kolam renang umum.
§ Bagi penderita konjungtivitis, hendaknya segera membuang
tissue atau sejenisnya setelah membersihkan kotoran mata.
Pentalaksanaan
Secara umum pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan
sulfonamide (sulfacetamide 15%) atau antibiotic (gentamycin
0,3%), chloramphenicol 0,5%. Konjungtivitis akibat alergi dapat
diobati dengan antihistamin (antazoline 0,5%, naphazoline 0,05%)
atau dengan kortikosteroid (dexamentosone 0,1%). Umumnya
konjungtivitis dapat sembuhmtanpa pengobatan dalam waktu 10-
14 hari, dan dengan pengobatan, sembuh dalam waktu 1-3 hari.
Adapun penatalaksanaan konjungtivitis sesuai dengan klasifikasinya
adalah sebagai berikut:
1. Konjungtivitis Bakteri
Sebelum terdapat hasil pemeriksaan mikrobiologi, dapat diberikan
antibiotic tunggal, seperti gentamisin, kloramfenikol, folimiksin
selama 3-5 hari. kemudian bila tidak memberikan hasil yang baik,
dihentikan dan menunggu hasil pemeriksaan. Bila tidak ditemukan
kuman dalam sediaan langsung, diberikan tetes mata disertai
antibiotic spectrum obat salep luas tiap jam mata untuk tidur atau
salep mata 4-5 kali sehari.
Konjungtivitis Bakteri Hiperakut
· Pasien biasanya memerlukan perawatan di rumah sakit
untuk terapi topical dan sistemik. Secret dibersihkan dengan
kapas yang dibasahi air bersih atau dengan garam fisiologik
setiap ¼ jam.
· Kemudian diberi salep penisilin setiap ¼ jam.
Pengobatan biasanya dengan perawatan di rumah sakit dan
terisolasi, medika menstosa :
· Penisilin tetes mata dapat diberikan dalam bentuk larutan
penisilin G 10.000-20.000/ml setiap 1 menit sampai 30 menit.
· Kemudian salep diberikan setiap 5 menit selama 30 menit.
Disusul pemberiansalep penisilin setiap 1 jam selama 3 hari.
· Antibiotika sistemik diberikan sesuai dengan pengobatan
gonokokus.
· Pengobatan diberhentikan bila pada pemeriksaan
mikroskopik yang dibuat setiap hari menghasilkan 3 kali
berturut-turut negative.
Konjungtivitis Alergi
Penatalaksanaan keperawatan berupa kompres dingin
dan menghindarkan penyebab pencetus penyakit.
Dokter biasanya memberikan obat antihistamin atau
bahan vasokonstkiktor dan pemberian astringen,
sodium kromolin, steroid topical dosis rendah. Rasa
sakit dapat dikurangi dengan membuang kerak-kerak
dikelopak mata dengan mengusap pelan-pelan dengan
salin (gram fisiologi). Pemakaian pelindung seluloid
pada mata yang sakit tidak dianjurkan karena akan
memberikan lingkungan yang baik bagi
mikroorganisme.
Konjungtivitis Viral
Beberapa pasien mengalami perbaikan gejala setelah
pemberian antihistamin/dekongestan topical. Kompres
hangat atau dingin dapat membantu memperbaiki
gejala.
Penatalaksanaan pada konjungtivitis blenore berupa
pemberian penisilin topical mata dibersihkan dari
secret. Pencegahan merupakan cara yang lebih aman
yaitu dengan membersihkan mata bayi segera setelah
lahir dengan memberikan salep kloramfenikol.
Pengobatan dokter biasnay disesuaikan dengan
diagnosis. Pengobatan konjungtivitis blenore :
· Penisilin topical tetes atau salep sesering mungkin.
Tetes ini dapat diberikan setiap setengah jam pada 6
jam pertama disusul dengan setiap jam sampai terlihat
tanda-tanda perbaikan.
· Suntikan pada bayi diberikan 50.000 U/KgBB selama
7 hari, karena bila tidak maka pemberian obat tidak
akan efektif.
· Kadang-kadang perlu diberikan bersama-sama
dengan tetrasiklin infeksi chlamdya yang banyak terjadi.