Anda di halaman 1dari 31

Penyakit Paru Obstruksi Kronis

Disusun Oleh ; APT 29 - Kelas Sore


1. Alexander
2. Annisa Mahmudawati
3. Dian Intannya
4. Dina Hafizah
5. Indah Afrilianti
6. Nouval Audia A
7. Risti Nurhasanah
8. Yulyasni Permatasari

PROGRAM STUDI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI DAN SAINS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA
2018
Aspek Pembahasan

Definisi & Fisiologi Nomal

Patofisiologi Penyakit

Gejala Klinis

Guideline Pengobatan

Treatment

Studi Kasus
Definisi
PPOK adalah penyakit paru (bronkitis kronik dan emfisema) yang
ditandai oleh hambatan aliran udara di saluran napas yang bersifat
progressif nonreversibel atau reversibel parsial.

>Bronkitis kronik
Kelainan saluran napas yang ditandai oleh batuk kronik
berdahak minimal 3 bulan dalam setahun, sekurang-kurangnya
dua tahun berturut - turut, tidak disebabkan penyakit
lainnya.

>Emfisema
Suatu kelainan anatomis paru yang ditandai oleh pelebaran
rongga udara distal bronkiolus terminal, disertai kerusakan
dinding alveoli.
Source : DIPIRO 2015
Fisiologi Paru Normal
Bronkitis Kronik
Emfisema
Patogenesis
Patofisiologi
Faktor resiko
1.Perokok
Kebiasaan merokok merupakan faktor resiko yang paling umum
menyebabkan 85%-90% kasus PPOK. Hanya 15%-20% dari
perokok yang mengalami PPOK dan tidak semua perokok
memiliki tingkat kerusakan paru yang sama. Hal itumenunjukkan
bahwa adafaktor resiko lainnya, yaitu:

2. Riwayat terpapar polusi udara di lingkungan dan tempat kerja

3. Riwayat infeksi saluran napas bawah berulang

4. Genetik (defisiensi antitripsin alfa – 1)

Source : Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan PPOK di Indonesia


Perbedaan PPOK dan ASMA
Gejala Klinis

1. Batuk kronis
2. Produksi sputum yang kronis
3. Sianosis membran mukosa
4. “barrel chest” karena hiperinflasi paru-paru
5. mengerucutkan bibir selama ekspirasi, dan penggunaan otot
pernafasan aksesori.
6. Pada Pasien eksaserbasi PPOK mengalami dispnea yang
memburuk, peningkatan volume dahak, sesak dada,
peningkatan kebutuhan bronkodilator, malaise, kelelahan, dan
penurunan toleransi latihan fisik

Source : DIPIRO 2015


Penegakkan Diagnosis PPOK
1. Gambaran Klinis
- Anamnesis
• Keluhan
• Riwayat penyakit
• Faktor predisposisi (BBLR, Lingkungan Perokok)
- Pemeriksaan Fisik
palpasi, perkusi, auskultasi

2. Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan Rutin
• Faal Paru (Spirometri dan Uji Bronkodilator)
• Pemeriksaan Darah (Hb, Ht, Leukosit)
• Radiologi (Foto Toraks)
- Pemeriksaan Khusus (uji provokasi bronkus, analisis gas darah, EKG, dsb)
Spirometri

Source : GOLD 2017, DIPIRO 2015


Klasifikasi keparahan dari Airway Limitation
pada COPD

Source : GOLD 2017, DIPIRO 2015


Pengelompokan pasien PPOK

Assessment of
Spirometrically Assessment of airflow
symptoms/risk of
confirmed diagnosis limitation
exacerbation

Exacerbation
history

FEV1
(% predicted) ≥ 2 atau ≥ 1
menyebabkan
hospitalisasi C D
GOLD 1 ≥ 80
Post-bronchodilator
FEV1/FVC < 0.7 GOLD 2 50 – 79
GOLD 3 30 – 49 0 atau 1 (tidak

GOLD 4 < 30
menyebabkan
hospitalisasi)
A B

mMRC 0-1 mMRC ≥ 2


CAT < 10 CAT ≥ 10
Tatalaksana PPOK/ COPD
Tujuan Terapi PPOK

 Menghilangkan gejala
 Meningkatkan toleransi latihan Mengurangi
gejala
 Meningkatkan status kesehatan

 Mencegah perkembangan penyakit


 Mencegah dan mengobati eksaserbasi menurunkan
 menurunkan angka kematian risiko
Treatment
Studi Kasus
Patients case

• Pria usia 70 tahun


• Gejala: Batuk, wheezing, napas pendek
- Lega dengan neb salbutamol
- Terdapat sputum berwarna putih, sulit tidur
• Perokok
• 3 bulan lalu pernah di rawat karena napas
pendek
• Wheezing pada kedua paru

Pengobatan?

24
Pilihan terapi PPOK

Beta2 - agonis
Short – acting Beta2 – agonis (SABA)
Long – acting Beta2 – agonis (LABA)
Antikolinergi
Short-acting anticholinergics (SAMA)
Long-acting anticholinergics (LAMA)
Kombinasi short-acting beta2-agonists + anticholinergic dalam satu inhaler
Kombinasi long-acting beta2-agonists + anticholinergic dalam satu inhaler
Methylxanthines
Kombinasi long-acting beta2-agonists + ICS dalam satu inhaler
Phosphodiesterase-4 inhibitors

GOLD 2017 Global Strategy for the Diagnosis, Management and Prevention of COPD. Available online at http://goldcopd.org/. Accessed 21stNovember
2016.

25
Pengelolaan PPOK Stabil: Farmakologi

Grup A Grup B

Lanjut, berhenti atau coba


kelas bronchodilator lainnya LAMA + LABA

Evaluasi hasil Gejala


persisten

Bronchodilator LABA atau LAMA

GOLD 2017 Global Strategy for the Diagnosis, Management and Prevention
Preferred treatment = of COPD. Available online at http://goldcopd.org/. Accessed 21stNovember
2016.

26
Pengelolaan PPOK Stabil: Farmakologi

Grup C

LAMA + LABA LABA + ICS

Eksaserbasi lebih
lanjut

LAMA

Preferred treatment = GOLD 2017 Global Strategy for the Diagnosis, Management
and Prevention of COPD. Available online at
http://goldcopd.org/. Accessed 21stNovember 2016.
Pengelolaan PPOK Stabil: Farmakologi

Grup D

Pertimbangkan Roflumilast Pertimbangkan antibiotic gol.


jika FEV1 < 50% pred. dan makrolida (pada pasien
pasien bronkitis kronis sebelumnya perokok)

Eksaserbasi lebih
lanjut

LAMA
+ LABA Gejala
+ ICS persisten/eksaserbasi lebih
lanjut
Eksaserbasi lebih
lanjut

LAMA LAMA + LABA LABA + ICS

Preferred treatment =

GOLD 2017 Global Strategy for the Diagnosis, Management and Prevention of COPD. Available online at http://goldcopd.org/. Accessed 21stNovember
2016.

28
Pengelolaan PPOK Stabil: Farmakologi

Grup D

Pertimbangkan Roflumilast Pertimbangkan antibiotik gol.


jika FEV1 < 50% pred. dan makrolida (pada pasien
pasien bronkitis kronis sebelumnya perokok)

Eksaserbasi lebih
lanjut

LAMA Gejala
+ LABA persisten/eksaserbasi
+ ICS lebih lanjut
Eksaserbasi lebih
lanjut

LAMA LAMA + LABA LABA + ICS

Preferred treatment =

GOLD 2017 Global Strategy for the Diagnosis, Management and Prevention of COPD. Available online at http://goldcopd.org/. Accessed 21stNovember
2016.

29
Penggunaan ICS/LABA pada PPOK (GOLD 2017)

Di sebagian pasien terapi awal dengan LABA/ICS dapat menjadi pilihan pertama.

• Yaitu pada pasien dengan riwayat dan/atau diketahui Asthma-COPD Overlap (ACOS).

• Atau pasien dengan jumlah eosinofil yang tinggi pada darah, walaupun ini masih dalam
debat

(Evidence A)
Penggunaan jangka panjang dengan ICS dapat dipertimbangkan dengan LABA untuk pasien
dengan riwayat eksaserbasi, walaupun pasien sudah menggunakan LABA yang sesuai

GOLD 2017 Global Strategy for the Diagnosis, Management and Prevention of COPD. Available online at http://goldcopd.org/. Accessed 21stNovember
2016.

30
Penggunaan ICS/LABA pada PPOK (GOLD 2017)

Penghentian ICS pada pasien PPOK, di beberapa penelitian, menunjukkan peningkatan


eksaserbasi dan/atau gejala pada pasien, walaupun ada beberapa yang tidak.

Ada bukti yang menunjukkan terjadi penurunan VEP1 (~ 40 mL) ketika ICS dihentikan,
yang dapat dikaitkan dengan peningkatan kadar Eosinofil.

GOLD 2017 Global Strategy for the Diagnosis, Management and Prevention of COPD. Available online at http://goldcopd.org/. Accessed 21stNovember
2016.

31