Anda di halaman 1dari 66

GLAUKOMA

Fia Widya Fitri 030.13.261


Pembimbing : dr. Azrina Noor, Sp. M
 Glaukoma  kebutaan nomor 2
 Glaukoma : kerusakan saraf optik yang menyebabkan kehilangan
penglihatan
 Jenis yg paling umum :
PENDAHULUAN  Glaukoma sudut terbuka
 Glaukoma sudut tertutup

 TIO yg tinggi  faktor risiko utama kehilangan penglihatan dari


sudut terbuka dan tertutup
 Glaukoma adalah suatu neuropati optik kronik didapat yang
ditandai oleh pencekungan (cupping) diskus optikus dan
DEFINISI pengecilan lapangan pandang; biasanya disertai peningkatan
tekanan intraokular.
 Dibentuk oleh jar.
Korneoskleral dengan
pangkal iris
 Sudut ini terdapat :
ANATOMI  Trabekular meshwork
SUDUT BILIK  Kanal schlemm
 Garis schwalbe
MATA DEPAN  Sklera spur
 Proc. iris
 Trabecular meshwork terdiri
dari :
1. Korneoskleral (tdd lap.
stroma kornea – k.
Schlemm)
ANATOMI 2. Uveal (stroma kornea –
m. siliaris & siliaris
SUDUT meridional)

FILTRASI 3. Garis schwalbe (m. siliaris


radialis & sirkularis)
4. Lig. pektinatum
rudimenter (iris –
trabekula)
FISIOLOGI 1. Produksi aquos humor
 Aquos humor diproduksi corpus ciliare
AQUOUS
 Ultrafiltrate plasma yang dihasilkan stroma proc. ciliares
HUMOR dimodifikasi oleh fungsi sawar dan proc. sekretorius epitel siliaris
2. Komposisi aquous humor
 Aquos humor  cairan jernih yg mengisi COA dan COP
 Volume : 250 µL, dan kecepatan pembentukkannya, yang memiliki
variasi diurnal adalah 2,5 µL/menit
 Konsentrasi askorbat, piruvat, dan laktat yang lebih tinggi;
protein, urea dan glukosa yang lebih rendah.
3. Mekanisme pengaliran aquous humor
 Aliran aqueous humor
dipengaruhi oleh beberapa
faktor, diantaranya :
 Tekanan intraokular yang
tinggi
 Tekanan episcleral yang
tinggi
 Viskositas dari aqueous itu
sendiri (eksudat, sel darah)
 Ciliary block, pupillary
block
 Bilik mata depan yang
sempit
 Sebagian besar, glaukoma tidak disertai dengan penyakit mata
lainnya (glaukoma primer)
 Glaukoma sudut terbuka primer, bentuk tersering pada ras kulit
hitam

EPIDEMIOLOGI  Ras kulit hitam memiliki risiko > mengalami onset dini,
keterlambatan diagnosis, dan penurunan penglihatan yang berat
dibandingkan ras kulit putih
 Glaukoma sudut tertutup didapatkan pada 10-15% kasus ras kulit
putih. Presentase ini jauh lebih tinggi pada orang Asia dan suku
Inuit
 Peningkatan produksi humor aquous
 Adanya hambatan aliran aquous
ETIOLOGI  Meningkatnya tekana vena episklera
Riwayat keluarga glaukoma Riwayat penyakit mata, bedah atau trauma
mata

Hipertensi Penggunaan steroid

Diabetes Tembakau, alkohol, penggunaan narkoba

FAKTOR Miopia Penyakit paru, jantung

RISIKO Hipermetropia Penyakit serebrovaskular

Kornea tipis Batu ginjal

Keluhan kepala Penyakit Raynaund

Usia, ras, pendudukan Migrain


PATOFISIOLOGI
Glaukoma
absolut

KLASIFIKASI Glaukoma
Glaukoma Glaukoma
primer berdasarkan sekunder
GLAUKOMA etiologi

Glaukoma
kongenital
Glaukoma sudut
tertutup
Glaukoma
KLASIFIKASI
berdasarkan
GLAUKOMA mekanisme↑TIO
Glaukoma sudut
terbuka
 Paling sering
GLAUKOMA  Kecenderungan familial yang kuat dan kerabat dekat
SUDUT  Gambaran patologik : proses degeneratif anyaman trabekular,
pengendapan materi ekstrasel di dalam anyaman dan di bawah
TERBUKA lapisan endotel kanal Schlemm.  ↓ drainase aquous humor yg
menyebabkan ↑ TIO
PRIMER
 Diagnosis : kelainan
glaukomatosa diskus optic,
gangguan lapang pandang,
dan ↑ TIO
 Prognosis :
 tanpa pengobatan 
kebutaan total
 Antiglaukoma 
mengontrol TIO (walaupun
lapang pandang dapat terus
berlanjut pada TIO normal )
 Trabekulektomi 
perburukan setelah terapi
medis
 Peningkatan TIO tanpa kelainan diskus optikus atau lapangan
pandang

HIPERTENSI  Risiko meningkat seiring dengan ↑TIO, > usia, semakin beratnya
“cupping” diskus optikus, riwayat glaukoma keluarga, dan riwayat
OKULAR miopia, diabetes melitus, serta penyakit kerdiovaskular dalam
keluarga
 Perdarahan diskus
 Kelainan glaukomatosa pada diskus optikus atau lapangan
pandang memiliki TIO yang tetap dibawah 21 mmHg.

GLAUKOMA  Patogenesis : kepekaan yg abnormal terhadap TIO karena


kelainan vaskular atau mekanis di caput nervi optici, atau bisa juga
TEKANAN murni karena penyakit vaskular
 faktor predisposisi : kelainan pada gen optineurin di kromosom 10
NORMAL
 Perdarahan diskus lebih sering
 Progresivitas penurunan lapangan pandang
 Presdiposisi anatomis
 Peningkatan TIO terjadi
karena sumbatan aliran
keluar aquos akibat adanya
GLAUKOMA oklusi anyaman trabekular
oleh iris perifer
SUDUT
 Diagnosis : pemeriksaan
TERTUTUP segmen anterior daan
gonioskopi yang cermat
PRIMER
 Faktor risiko : usia,
perempuan, riwayat keluarga
glaukoma, etnis Asia
Tenggara, China dan Inuit.
1. Akut :
 Visus ↓ mendadak
GLAUKOMA  Nyeri hebat, halo

SUDUT 

Mual dan muntah
COA dangkal, injeksi siliar
TERTUTUP
PRIMER
 Terapi medikamentosa
 Miotik kuat : Pilokarpin 2% atau 4% tiap 15 menit sampai 4 kali
pemberian sebagai inisial terapi. Tidak efektif pada serangan yang
sudah lebih dari 1-2 jam
 Beta-bloker : dapat menurunkan TIO dengan cara mengurangi
produksi aquous humor. Sebagai inisial terapi dapat diberikan 2 kali
dengan interval setiap 20 menit dan diulang dalam 4, 8 dan 12 jam

 Observasi respon terapi


 Monitor ketajaman visus, edema kornea, dan ukuran pupil.
 Ukur tekanan intraokular setiap 15 menit.
 Periksa sudut dengan gonioskopi terutama apabila TIO nya sudah
turun dan kornea sudah mulai jernih.
 Bila respon terapinya baiklaser iridektomi
 Bila respon terapinya jelek laser iridoplasti.
 Parasintesis :jika terapi medikamentosa secara intensif masih
dianggap lambat dalam menurunkan TIO ke tingkat yang aman,
dan kadang-kadang justru setelah pemberian 2 atau 4 jam masih
tetap tinggi. Yaitu dilakukan dengan mengeluarkan cairan aquous
humor sebanyak 0,05 ml.
2. Subakut
 episode peningkatan TIO nya berlangsung singkat dan rekuren
GLAUKOMA  nyeri, kemerahan, visus ↓, halo di sekitar cahaya pada satu mata
SUDUT  Serangan sering terjadi pada malam hari dan sembuh dalam
semalam
TERTUTUP  Diagnosis dapat dipastikan dengan gonioskopi.
PRIMER  Terapinya adalah iridotomi perifer dengan laser
4. Kronik
5. Iris plateu
GLAUKOMA  pemeriksaan : ↑ TIO, sudut
bilik mata depan yang  Jarang
SUDUT sempit disertai sinekia
anterior perifer, serta
 COA normal : dalam
 Sudut bilik mata sempit
TERTUTUP kelainan diskus optikus
dan lapangan pandang
karena posis proc. Ciliare
terlalu anterior
PRIMER  Penanganan : Iridotomi
perifer dengan laser
 Gejala klinis :
 Epifora
GLAUKOMA  Fotofobia
 Berkurangnya kilau kornea
KONGENITAL
 Tanda utama : ↑ TIO,
cupping diskus optikus
1. Glaukoma pigmentasi
 Sering pria miopia berusia antara 25 dan 40 tahun yang memiliki
GLAUKOMA bilik mata depan yang dalam dengan sudut bilik mata depan yang
lebar
SEKUNDER  Khas : episode-episode peningkatan TIO secara bermakna terutama
setelah berolahraga atau dilatasi pupil
 Ditandai pengendapan
abnormal pigmen di bilik
mata depan-terutama di jala
trabekularmengganggu
aliran keluar aquos, dan di
permukaan kornea posterior
(Krukenberg’s spindle)-
disertai defek transiluminasi
iris
2. Glaukoma pseudoeksfoliasi
 endapan-endapan bahan berserat warna putih di permukaan
anterior lensa, diprocesus ciliares, zonula, permukaan posterior iris,
melayang bebas di bilik mata depan, dan di anyaman trabekular
 orang berusia lebih dari 65 tahun
GLAUKOMA  bangsa Skandinavia
SEKUNDER
3. Glaukoma Akibat Kelainan Lensa
a. Dislokasi Lensa
 akibat trauma atau secara spontan, misalnya pada sindrom Marfan.
GLAUKOMA  Dislokasi anterior sumbatan pada apertura pupil yang
SEKUNDER menyebabkan iris bombe dan penutupan sudut
 Dislokasi posterior  berkaitan dengan glaukoma meskipun
mekanismenya belum jelas
 Dislokasi anterior terapi
definitifnya adalah
ekstraksi lensa segera
GLAUKOMA setelah TIO terkontrol.
 Dislokasi posterior, lensa
SEKUNDER biasanya dibiarkan dan
glaukoma diobati sebagai
glaukoma sudut terbuka
primer
b. Intumesensi lensa
 Lensa dapat menyerap > cairan sewaktu mengalami perubahan
katarak  ukuran membesar.
 Lensa ini dapat melanggar batas bilik mata depan  sumbatan
pupil dan pendesakan sudut, serta menyebabkan glaukoma sudut
tertutup.
GLAUKOMA  Terapi berupa ekstraksi lensa, segera setelah tekanan intraokular
terkontrol secara medis.
SEKUNDER
c. Glaukoma Fakolitik
 katarak stadium lanjut dapat mengalami kebocoran kapsul lensa
anterior, dan memungkinkan protein-protein lensa yang mencair
masuk ke dalam bilik mata depan
 Terjadi reaksi peradangan di bilik mata depan, anyaman
GLAUKOMA trabekular menjadi edema dan tersumbat oleh protein-protein
lensa, dan menimbulkan peningkatan TIO akut. Ekstraksi lensa
SEKUNDER merupakan terapi definitif.
4. Glaukoma Akibat Kelainan Traktus Uvealis
a. Uveitis
GLAUKOMA  Anyaman trabekular dapat tersumbat oleh sel-sel radang dari bilik
mata depan, disertai edema sekunder atau peradangan mengenai
SEKUNDER sel trabekula (trabekulitis).
 Terapi utama yang ditujukan adalah mengontrol uveitis disertai
pemberian terapi glaukoma sesuai keperluan
b. Tumor
 Melanoma traktus uveali dapat menimbulkan glaukoma akibat
GLAUKOMA pergeseran corpus ciliare ke anterior yang menyebabkan
penutupan sudut sekunder, meluas ke sudut bilik mata depan,
SEKUNDER memblok sudut filtrassi dengan dipersi pigmen, dan
neovaskularisasi sudut
 Biasanya diperlukan enukleasi
5. Sindrom Iridokornea Endotel
GLAUKOMA  Kelainan idiopatik pada dewasa muda yang jarang ini biasanya
SEKUNDER unilateral dan bermanifestasi sebagai dekompensasi kornea,
glaukoma, dan kelainan iris (corectopia dan polycoria)
6. Glaukoma Akibat Trauma
 Cedera kontusi bola mata dapat disertai dengan peningkatan dini
GLAUKOMA tekan intraokular akibat perdarahan ke dalam bilik mata depan
(hifema).
SEKUNDER
 Darah bebas menyumbat anyaman trabekular, yang juga
mengalami edema akibat cedera
7. Glaukoma Setelah Tindakan Bedah Okular
a. Glaukoma sumbatan siliaris (Glaukoma Maligna)
GLAUKOMA  Tindakan bedah pada mata dapat menimbulkan peningkatan
tekanan intraokular bermakna dan sudut sempit atau tertutup
SEKUNDER dapat menyebabkan glaukoma sumbatan siliaris
 Pasien awalnya merasakan penglihatan jauh kabur, tetapi
penglihahtan dekatnya membaik, diikuti nyeri dan peradangan
b. Sinekia anterior perifer
 Tindakan bedah yang menyebabkan mendatarnya bilik mata
depan akan menimbulka pembentukan sinekia anterior perifer.
8. Glaukoma Neovaskular
 Neovaskularisasi iris dan sudut bilik mata depan paling sering
disebabkan oleh iskemia retina yang luas seperti yang terjadi pada
retinopati diabetik stadium lanjut dan oklusi vena centralis retinae
GLAUKOMA iskemik.
SEKUNDER
9. Glaukoma Akibat Peningkatan Tekanan Vena Episklera
GLAUKOMA  Dapat berperan menimbulkan glaukoma pada sindrom Sturge-
Weber, yang juga terdapat anomali perkembangan sudut, dan
SEKUNDER fistula karotis-kavernosa, yang juga dapat menyebabkan
neovaskularisasi sudut akibat iskemia yang luas.
10. Glaukoma Akibat Steroid
 Kortikosteroid intraokular, periokular dan topikal dapat
GLAUKOMA menimbulkan sejenis glaukoma yang mirip dengan glaukoma
sudut terbuka primer, terutama individu dengan riwayat penaykit
SEKUNDER ini pada keluarganya dan akan memperparah peningkatan
tekanan intraokular pada para pengidap glaukoma sudut terbuka
primer
1. Riwayat anamnesis
 Sakit mata
PEMERIKSAAN  Sakit kepala
GLAUKOMA  Penglihatan kabur
 Gangguan lapang pandang
 Hiperemia
1. Tonometri
 Mengukur TIO
 Normal adalah 10-20
mmHg
 Usia lanjut : batasan 24
mmHg
PEMERIKSAA  Ketebalan kornea
berpengaruh terhadap
N GLAUKOMA keakuratan pengukuran
 4 macam :
 Digital
 Schiotz
 Aplanasi Goldmann
 Mackay - marg
2. Gonioskop
 Sudut bilik mata anterior
 Keseluruhan anyaman
trabekular, taji sklera, dan
proc. iris dapat terlihat 
PEMERIKSAAN sudut terbuka.
 Garis Schwalbe atau
GLAUKOMA sebagian kecil dari
anyaman trabekular yang
dapat terlihat  sudut
sempit.
 Garis Schwalbe tidak
terlihat  sudut tertutup
3. Lapang pandang
 Pemeriksaan : 4. Ketajaman visus
 Konfrontasi  Visus harus diuji
 Perimeter dan (undilated), tanpa bantuan
kampimeter dan dengan koreksi terbaik
PEMERIKSAAN  Tangent screen pada jarak jauh dan
GLAUKOMA  Normal : dekat. Visus sentral
mungkin terkena glaukoma
 Temporal 90° lanjut.
 Nasal 50°
 Superior 60°
 Inferior 70°
4. Refractive error
 Kesalahan refraksi akan membantu untuk mengerti risiko glaukoma
sudut terbuka (myopia) atau glaukoma sudut tertutup (hyperopia).
PEMERIKSAAN
5. Kornea
GLAUKOMA  Ketebalan kornea diukur tolong tafsirkan bacaan IOP. Kornea tebal
cenderung melebih-lebihkan pembacaan IOP, dan kornea tipis
cenderung meremehkan bacaan.
1. Scleral ring atau disc
 Nervus optikus normal CDR
0,3 atau kurang
 Pelebaran CDR ditandai
oleh adanya warna
Evaluasi kepucatan dan perubahan
pembuluh darah retina
Retinal Nerve yang mengikuti bentuk
optic cup
Faber Layer  Rata-rata ukuran
horizontal: 1.77 mm
(RNFL)  Rata-rata ukuran vertical:
1.88 mm
 Ukuran normal diameter
optical nerve head
bervariasi antara 1.2 -
2.5mm
2. Neuroretinal rim
 Daerah yang dibatasi oleh
tepi luar cup dan tepi
Evaluasi dalam disc
 Penyempitan neuroretinal
Retinal Nerve rim lebih menggambarkan
luasnya defek
Faber Layer lapang pandang dibanding
pembesaran CDR
(RNFL)  Tentukan ukuran rim
neuroretinal: Memeriksa
rasio C / D
3. Periksa lapisan serat saraf
retina (RNFL).
Evaluasi  Di bawah cahaya merah
bebas, RNFL harus tampil
Retinal Nerve terang dan lurik. Hilangnya
serat RNFL dapat
Faber Layer dilokalisasi berbentuk
wedge-shaped defect
Wedge-shape
defect

(RNFL) namun juga bisa difus (dan


sulit dilihat atau tersamar).
4. Perdarahan pada disc
 Perdarahan berbentuk
splinter pada disc rim
berkaitan dengan kerusakan
papil nervus optikus akibat
glaukoma yang progresif.
Evaluasi  Disc hemorrhages ini terjadi
Retinal Nerve apabila terdapat iskemi pada
daerah tersebut
Faber Layer  Splinter hemorrhages atau
(RNFL) perdarahan berbentuk
serpihan adalah tanda yang
umum dijumpai pada
glaukoma, biasanya berada
berbentuk di tepi papil
nervus optikus
5. Atrofi peripapil
 bentuk atrofi pada bagian
luar retina yang berbatasan
dengan diskus optikus
 Jonas dan Nauman membagi
Evaluasi zona atrofi peripapil menjadi
2 zona yaitu
Retinal Nerve  Zona alfa berhubungan
secara histolopatologi
Faber Layer terhadap retina yang tipis
(atrofi epitel pigmentum
(RNFL) retina) dan letaknya lebih
perifer.
 Zona beta yang lebih dekat
dengan diskus optikus,
berhubungan dengan atrofi
koroid dan koriokapilaris
yang berat.
 Optical Coherence Tomography6
 OCT pada glakoma telah ditegaskan bahwa hilangnya RNFL dapat
mendeteksi adanya glaukoma sebelum terjadi defek pada lapang
pandang dan perubahan saraf optik.
 Analisa OCT yang sering digunakan pada glaukoma adalah RNFL
thickness analysis, RNFL map, dan optic nerve head analysis.
1. Mata tenang visus turun perlahan
 Katarak
 Retinopati

2. Mata merah visus turun mendadak (Glaukoma akut)


DIAGNOSIS  Keratitis
 Uveitis
BANDING  Endoftalmitis
 Oftalmia simpatika
 Ulkus kornea
 Keratokonjungtivitis
 Panoftalmitis
 Prinsip terapi glaukoma :
 Tujuan terapi adalah untuk menjaga fungsi visual pasien
 Penurunan TIO
 Terapi kausal harus diberikan untuk semua faktor penyebab yang
dapat diobati
 Deteksi dini
 Mencapai efek maksimal dengan obat yang dibutuhkan minimum
 Memilih antara obat-obatan, perawatan laser, dan pembedahan
1. Tindakan bedah
a. Laser iridotomi
 Tujuan : Untuk meringankan blok pupil, menyamakan perbedaan
tekanan antara ruang anterior dan posterior, dan buka sudut
anterior chamber
 Indikasi : Prosedur ini merupakan terapi pilihan pertama pada
glaukoma sudut primer atau sekunder karena blok pupil. Hal ini juga
dapat dilakukan pada pasien dengan dugaan sindrom dataran tinggi
yang dicurigai untuk menghilangkan faktor blok pupil.
b. Laser trabekuloplasti
 Tujuan : Jaring trabekular diiradiasi dengan laser untuk
memperbaiki arus keluar air.
 Indikasi : Glaukoma sudut terbuka primer (definisi luas), glaukoma
pengelupasan kulit, glaukoma pigmen, glaukoma sudut penutup
utama mengikuti iridotomi laser, glaukoma campuran, dan lain-
lain
c. Laser gonioplasti (iridoplasti perifer laser)
 Tujuan : Untuk mengontrak pinggiran iris dengan efek termal laser
untuk membuka sudut ruang anterior
 Indikasi : Dilakukan pada kasus glaukoma dataran tinggi, kasus
dimana iridotomi laser tidak dapat dilakukan karena opasitas
kornea pada penutupan sudut karena blok pupil, kasus glaukoma
sudut terbuka primer dengan pendekatan sudut sempit sebagai
langkah persiapan untuk Laser trabeculoplasty
d. Cyclophotocoagulation
 Tujuan : Pelepasan siklodestruksi dengan laser untuk menekan
produksi berair dan dengan demikian mengurangi IOP.
 Indikasi : yang ditunjukkan saat operasi glaukoma lainnya seperti
operasi penyaringan telah gagal, atau layak dilakukan. Karena
komplikasi serius mungkin terjadi, prosedur ini dianggap sebagai
upaya terakhir untuk mengurangi IOP
e. Laser suturelysis
 Tujuan : Untuk meningkatkan filtrasi mengikuti trabekulektomi.
 Indikasi : Kasus dimana filtrasi air melalui flap skleral mengikuti
trabekulektomi tidak mencukupi dan dinilai bahwa filtrasi tidak
akan menjadi berlebihan.
PENATALAKSANAAN
& PERAWATAN
GLAUKOMA
PENATALAKSANAAN
& PERAWATAN
GLAUKOMA
PENATALAKSANA
AN & PERAWATAN
GLAUKOMA
TERIMA KASIH