Anda di halaman 1dari 33

Urinalysis

Basic Urinalysis
Urine
• Biopsi cairan dari saluran kemih
• Tidak menimbulkan rasa sakit pada saat
pengambilan
• Dapat memberikan banyak informasi dalam
waktu singkat dan ekonomis
• Pemeriksaan urine perlu dikerjakan dengan
hati-hati dan terkontrol
Tujuan pemeriksaan urine
• Membantu diagnosis penyakit
• Tes penyaring pada kelainan asimtomatik, kongenital dan
penyakit herediter
• Memahami perkembangan penyakit
• Memantau efektivitas atau komplikasi pengobatan

• Dengan memperhatikan urine harihari, bulanbulan,


tahuntahun dapat memberikan serial keterangan
bermanfaat mengenai kondisi ginjal
Pre Analitik pada pemeriksaan Urine
• Pengumpulan urine :
– Jenis urine : urine pagi, 24 jam, midstream, punksi
suprapubik
– Pada wanita sebaiknya pengambilan urine setelah 2-3 hari
setelah haid selesai
– Harus diperiksa secepat mungkin
– Bila ditunda pada suhu 40C, pemeriksaan ditunggu sampai
suhu urine = suhu kamar
• Persiapan pasien :
– Puasa 8-10 jam / urin pagi
– Tidak sedang menstruasi
– Aktivitas fisik normal / biasa
– Bila mungkin : tidak mengkonsumsi obat
• Syarat spesimen :
– Midsteram
– Diperiksa segar
– pH asam
– BJ ≥ 1.015
– Urine tidak boleh dibekukan  merusak RBC,
WBC dan silinder  mengacaukan hasil
pemeriksaan sedimen
– Untuk pemeriksaan kimia urine spesimen tidak
boleh disentrifus dan terpapar sinar matahari
– Untuk pemeriksaan nitrit sebaiknya menggunakan
urine pagi atau yang telah 4 jam di kandung kemih
Pemeriksaan Urine
• Makroskopik
– Volume, warna, bau, dan kejernihan
• Kimia
– BJ, pH, esterase, nitrit, albumin, glukosa
• Mikroskopik
– Eritrosi, lekosit, sel epitel, silinder/cast, kristal, sel
ganas
Pemeriksaan Makroskopik Urine

Volume, Warna, Bau, Kejernihan


1. Volume / Jumlah Urine
(Produksi urine per 24 jam )
• Bayi : 30 – 500 mL
• Anak ( 1-14 tahun ) : 500 – 1400 mL
• Dewasa : 700 – 2000 mL

Beberapa kondisi berdasar vol. urine :


• Anuria : ≤ 100 mL
• Oliguria : 100 – 500 mL
• Poliuria : > 2000 mL
2. Warna
• Normal : kuning tua  muda
• 3 pigmen : urokrom ( kuning )
uroeritrin ( merah )
urobilin ( oranye – merah )
• Merah muda : Sel Darah Merah
• Teh coklat : bilirubin ( Hepatitis )
3. Bau
 Aseton : ketonuria pada asidosis metabolik,
kelaparan, DM yang tidak terkontrol
 Fetor Hepaticus: Amoniak pada hepatic
encephalopathies
 Alkohol : keracunan etanol
 Amoniak : Infeksi saluran kemih oleh bakeri yang
menceraikan urea
 Busuk : H2S karena infeksi saluran kemih yang berat
disertai pembusukan protein oleh bakteri
 Busa : ada fistula antara sauran kemih dan usus
4. Kejernihan
• Urine normal : jernih, transparan
• Urine yang keruh :
– Pada pH alkali : bakteri, fosfat, karbonat, leukosit
– Pada pH asam : urat
– Piuria : infeksi bakteri / jamur
– Lipiduria : sindroma nefrotik
atau kontaminasi minyak
Pemeriksaan Kimia Urine

BJ, pH, Protein, Glukosa, Keton, Bilirubin, Darah


samar, Urobilinogen, Nitrit, Esterase, Vit C
1. BJ (Berat Jenis)

 Normal BJ : 1.005 – 1.030 ( 1.010 – 1.025 )

 Prasyarat urinalisis rutin


 Punya nilai kondisi hidrasi
 Fungsi reabsorpsi tubulus
2. pH
• Orang sehat : 4,6 – 8,0
• Asidosis : urine asam
• Alkalosis : urine basa
• Urine segar pagi hari : pH 5 – 6
• Pada temperatur kamar tanpa penanganan yang
layak  urea dikonversi menjadi amonia oleh
bakteri  pH meningkat
3. Protein ( Albumin )
1. Proteinuria Benigna ( jinak )
– Kriteria proteinuria benigna : nitrit, eritrosit, lekosit dan tek
darah normal
• Pasca olahraga, emosi
• Hipotermia, panas
• Penggunaan vaso konstriktor
• Hamil ( 20% kehamilan )

2. Ekstra renal proteinuria


– Karena kelainan akut : kolik, epilepsi, infark, stroke, trauma
kepala pasca bedah
– Demam
3. Renal proteinuria
– Kelainan gromerulus
– Kelainan tubuli
4. Postrenal proteinuria
– Karena inflamasi kandung kemih, prostat atau
perdarahan sal kemih
4. Glukosa
• Normal : urine puasa pagi hari < 20mg/dL,
urine siang < 30 mg/dL
• Glukosuria :
– adanya glukosa didalam urine
– Daya reabsorpsi tubulus menurun
– Tidak selalu sejalan dengan hiperglikemia
Spesifisitas

• Spesifik untuk pemeriksaan glukosa


• Dipengaruhi Vit C  negatif palsu
5. Keton
• Benda keton didalam urine : As Aseto Asetat
dan Aseton
• Nilai normal untuk as aseto asetat urine <
5mg/dL
• Spesifitas :
– Lebih sensitif untuk deteksi as aseto asetat dan
aseton
6. Bilirubin
• Normal bilirubin urine < 0,2 mg/dL
• Spesifitas :
– Kadar bilirubin 0,2 – 0,4 mg/dL sudah
memberikan reaksi yang positif  perlu
pemeriksaan konfirmasi bilirubinuria
– Dipengaruhi oleh vit C
7. Darah
• Normal urine mengandung < 5 eritrosit /µL
• Spesifisitas :
– Test ini dapat menguji eritrosit, hemoglobin dan
mioglobin
– Eritrosit utuh akan tampak sebagai bintik hijau bila
jumah sedikit
– Hemoglobin akan tampak sebagai warna hijau
yang difus
8. Urobilinogen

• Normal dalam urine < 1 mg/dL


• Spesifisitas :
– Spesifik untuk urobilinogen
9. Nitrit
• Urine normal tidak mengandung bakteri 
test nitrit negatif
• Spesifisitas :
– Test nitrit spesifik untuk bakteriuria
– Reaksi dipengaruhi oleh pH urin
10. Esterase Leukosit
• Nilai normal < 10 leukosit / µL
• Borderline 10-20 leukosit / µL
• Patologis > 20 leukosit / µL
• Spesifitas :
– Bereaksi dengan granulosit dan histiosit yang inact
dan lisis
– Tidak dipengaruhi oleh pH 4,5 – 9, bakteri, vit C
dan keton
11. Vitamin C
• Vit C tidak dapat disintesis ole tubuh karena itu vit C
adalah vit esensial yang diperoleh hanya dari
makanan
• Larut dalam air, bila berlebih akan dikeluarkan dalam
urine sebagai vit C atau garam oksalat ( 50% )
• Urin normal tanpa suplementasi mengandung vit c <
5 mg/dL
• Dilaporkan bahwa vit C mempengaruhi pemeriksaan
urine khususnya dengan carik celup : darah, glukosa,
nitrit, bilirubin, urobilinogen ( negatif palsu )
Vit C dalam urine berasal dari:
• Makanan dan minuman yang mengandung vit C :
– Terigu, roti, kue, sosis, cereal, buah, sayur hijau, kol,
bir, minuman keras dan vit C megadosis
• Dipergunakan pasien sebagai antioksidan
• Vit C 100 mg/hari atau 1 gelas juice, mengsekresi vit C
dalam urine 10 mg/dL

Dapat mengganggu reaksi dengan carik celup


Pemeriksaan urine kimia
• Menggunakan reagen strip ( pita reagen )
• Pita reagen terdiri dari 4 lapis
1. Carrier foil
2. Absorbent paper
• Mencegah penyerapan urine yang berlebihan
• Menyetop reaksi pada perubahan warna
3. Reagent paper
4. Nylon mesh
• Menghindari kontaminasi
• Fiksasi reagen dengan lapisan bawah
• Menjamin pembentukan warna yang uniform setelah urine meresap
• Mencegah perubahan warna yang palsu oleh lem
Note :
• Strip reagen yang baru dilapis dengan Kalium
permanganat sebagai oksidator
• Penyimpanan carik celup
– Tidak boleh di tempat yang lembab
– Tidak boleh didalam lemari es
– Stabil sampai waktu kadaluwarsa
– Penggunaan mengikuti instruksi
Cara pemeriksaan
Urine Reagent Strips