Anda di halaman 1dari 29

 Pasal 9 ayat (2) Peraturan Menteri

Kesehatan Nomor
889/MENKES/PER/V/2011 tentang
Registrasi, Izin Praktik dan Izin Kerja
Tenaga Kefarmasian : Sertifikat Kompetensi
berlaku selama 5 (lima) tahun
 Pasal 40 dan Pasal 55 PP 51/2009).
PRAKTEK APOTEKER:
MENTERI
Sertf. Kompetensi Syarat STR-Apoteker
Legal
Status

Syarat Legitimasi
Syarat Keahlian

Dinkes Kab/Kota
Syarat Syarat Rekomendasi Syarat Legal
Kompetensi Profesi
Administratif
Organisasi

Standar Profesi
Sertifikasi
Binwas
Binwas

Ujian Kompetensi APOTEKER Surat Ijin Praktek

Wewenang

Praktek/Kerja
Serangkaian upaya sistematis pembelajaran
seumur hidup untuk meningkatkan dan
mengembangkan kompetensi apoteker yang
meliputi berbagai pengalaman/pelatihan
keprofesian setelah pendidikan formal dasar
yang bertujuan untuk meningkatkan
pengetahuan, keterampilan dan moral serta
sikap professional apoteker agar apoteker
senantiasa layak untuk menjalankan profesinya
(CPD : Continuing Professional Development)
Sertifikasi Ulang (re-sertifikasi) adalah
proses pemberian keterangan tanda
pengakuan terhadap kemampuan seorang
apoteker untuk menjalankan praktek
kefarmasian di seluruh Indonesia setelah
melalui serangkaian program
pengembangan pendidikan berkelanjutan
yang memenuhi persyaratan
Tim Sertifikasi dan Re-Sertifikasi adalah tim semi
otonom yang dibentuk oleh Pengurus Daerah yang
mempunyai tugas untuk mengelola dan
menyelenggarakan Program Sertifikasi, Re-
Sertifikasi dan Program Pengembangan Pendidikan
Apoteker Berkelanjutan (Program P2AB) di Daerah
yang bersangkutan.
Satuan Kredit Partisipasi(SKP) adalah ukuran atas
kegiatan pendidikan berkelanjutan yang dilakukan
oleh Apoteker selama kurun waktu berlakunya
Sertifikat Kompetensi dan Rekomendasi

Re-Sertifikasi diselenggarakan oleh Tim Sertifikasi


dan Re-Sertifikasi Daerah dengan membentuk
Verifikator (Pengurus Cabang dan/atau Pengurus
Himpunan Seminat) sesuai dengan kebutuhan yang
menjalankan tugas dan fungsi berdasarkan
Pedoman ini.
Untuk dapat mengikuti Program Re-Sertifikasi, Apoteker harus
memenuhi Syarat Administratif sebagai berikut :
 Mengajukan Permohonan kepada Tim Sertifikasi dan Re-
Sertifikasi di Daerah dengan mengisi formulir yang telah
disiapkan.
 Mengisi lengkap borang-borang dalam Buku Log (Log Book).

 Mengisi lengkap berkas-berkas dalam Portofolio


Pembelajaran.
 Membayar biaya penyelenggaraan Re-Sertifikasi.

 Membayar Sertifikat Kompetensi bagi yang Lolos Verifikasi

 Syarat-syarat dan ketentuan lain mengenai kepesertaan Re-


Sertifikasi ditentukan oleh Tim Sertifikasi dan Re-Sertifikasi.
Untuk dapat mengajukan administrasi
permohonan sebagaimana dimaksud seorang
Apoteker dalam 5 (lima) tahun yang terhitung
sejak terbitnya Sertifikat Kompetensi
Porsi Nilai Nilai
Pencapain Maksimum Maksimum
No Domain Kegiatan
yang dalam 1 dalam 5
dianjurkan tahun tahun
Kinerja
1. 40 - 50% 12 - 15 60 - 75
Profesional
Kinerja
2. 40 - 50% 12 - 15 60 - 75
Pembelajaran
Kinerja
3. Pengabdian 5 - 15% 1,5 - 4,5 7,5 – 22,5
Masyarakat
Kinerja Publikasi
4. 0 - 25% 0 - 7,5 0 - 37,5
ilmiah/popular
 Dalam 5 (lima) tahun dibutuhkan 150 SKP yang
terbagi dalam 5 (lima) Kinerja
 Pencapaian SKP dalam 5 (lima) tahun diharapkan
terdistribusi dengan baik. Contoh tahun 1 = 30
SKP, tahun 2 = 31 SKP, tahun 3 = 32 SKP dst.
Bukan tahun 1 = 15 SKP, tahun 2 = 40 SKP,
tahun 3 = 35 SKP, tahun 4 = 15 SKP dan tahun 5
= 45 SKP
 Kinerja Profesional (berasal dari praktik),
merupakan persyaratan utama seseorang dapat
mengikuti proses Resertifikasi
Satuan Kredit Profesi (SKP) sebagaimana dimaksud dibuktikan
dengan kepemilikan Sertifikat-SKP yang diterbitkan oleh Organisasi
Profesi, dengan ketentuan sebagai berikut :
 Bobot SKP-Pembelajaran dalam Sertifikat-SKP yang diterbitkan
oleh IAI (baik PP dan/atau PD), diakui sesuai dengan fokus
pekerjaan kefarmasian Apoteker yang bersangkutan.
 Bobot SKP dalam Sertifikat-SKP yang diterbitkan oleh Organisasi
Profesi di luar IAI, hanya diakui dan dipandang sebagai Kegiatan
Pembelajaran atau Kegiatan Pengabdian Masyarakat (sebagai SKP-
Pembelajaran atau SKP-Pengabdian) sesuai konversi bobot SKP
yang ditentukan
 Penentuan bobot SKP dalam Sertifikat-SKP yang diterbitkan oleh
IAI hanya dapat ditetapkan melalui SK Pengurus Pusat atau SK
Pengurus Daerah.
 Penentuan mengenai besarnya konversi bobot SKP atas Sertifikat-
SKP yang Organisasi Profesi di luar IAI hanya dapat dilakukan oleh
Badan dan/atau Tim Sertifikasi dan Re-Sertifikasi.
 Anggota hanya memburu SKP, sehingga muncul
SKP abal-abal seperti : Dalam 2 hari ada di 2
Provinsi melakukan kegiatan.
 Anggota tidak mengetahui tata cara
pengumpulan SKP
 Anggota tidak peduli dengan resertifikasi, karena
menganggap “ sudah profesi dan kuliah susah2 “
kok resertifikasi lagi..
 Anggota malas dalam menghitung SKP praktek
 Resertifikasi diajukan pada saat memasuki masa
yang kritis seperti : STRA habis, SIPA habis
 SKP yang diajukan tidak mencukupi dan tidak
sesuai dengan persyaratan
 Anggota lebih rela untuk dilakukan OSCE dari
pada resertifikasi
 PDIAI Riau di “ Terkesan “ lama dalam proses Re-
sertifikasi, tetapi sebenarnya berkas yang masuk
belum layak dinyatakan lolos
 Berkas langsung dikirim ke PDA tanpaverifiksi
PCIAI
 Belum maksimalnya kemampuan verifikator
dalam memverifikasi berkas
 Berkas seharusnya sudah berupa kelulusan atau
total nilai SKP dari PCIAI
 Perlu pelaksaan Training Of Trainer bagi timv
verifikator , untuk peningkatan kemampuan dan
pengetahuan
 Perlu peranan dari Pengurus Cabang dalam hal
membantu pelaksanaan Resertifikasi
 Dalam hal memverifikasi harus teliti
 Perlu data dari anggota yang akan habis
resertifikasi,sehingga pengurus dapat
mengingatkannya
 Dalam hal verifikasi perlu dilakukan survey ke
tempat praktek sejawat apoteker tentang
kebenaran prakteknya..
SEKIAN DAN TERIMAKASIH