Anda di halaman 1dari 26

IGD RSSA 2016

PPGD
 Trauma capitis penyebab utama mortalitas dan
morbiditas.
 Curiga trauma Leher sampai terbukti tidak!
 Pemeriksa tidak dapat mengandalkan hasil
pemeriksaan neurologi sebelum perfusi dan
oksigenasi yang adekuat telah diberikan.
 Monroe kelly TIK =
massa otak + cairan
otak + darah
 Sindroma herniasi
tanda peningkatan TIK
+ defisit neurologi.
 Lucid interval harus
menjadi pertanda
adanya hematoma
ekstradural yang akut.

CPP = MAP – ICP, CPP > 60 mmHg


ICP < 15 mm Hg
MAP > 80 mm Hg
 Hipertensi dan bradikardi (Cushing reflex)
menunjukkan adanya peningkatan tekanan
intrakranial.
 Dilatasi pupil unilateral atau respon cahaya
yang lemah massa yang berkembang pada
sisi yang sama .
 Tanda ini terjadi pada tahap akhir
peningkatan intrakranial
6
8
9
10
11
 Defisit motorik fokal baru merupakan tanda
penting yang menunjukkan bahwa penderita
membutuhkan perawatan yang agresif dan
segera.
 Jangan pernah memberikan sedasi pada pasien
cedera kepala yang gelisah sebelum
mengetahui hasil CT scan.
 Hipoksemia dan hipotensi merupakan
penyebab sistemik yang paling sering
menyebabkan secondary brain injury.
 Walaupun tidak ada terapi spesifik untuk
mengatasi primary brain injury, secondary brain
injury dapat dicegah atau diterapi.
 Jangan mengasumsikan Penurunan Kesadaran
pada penderita trauma kepala terjadi karena
intoksikasi alkohol, pertimbangkan ;
hipoglikemi, hiperkarbi, hipotensi atau
konkomitant dengan intoksikasi obat.
 Prioritas resusitasi menurut ATLS;
Kontrol jalan nafas dan cervical spine
 Pernafasan
 Sirkulasi : perfusi ? ,DL, urea/elektrolit/kreatinin,
profil koagulasi, cross match ± kadar serum etanol,
GDA.
• Pemeriksaan neurologik
 Koma (GCS <8).
 Deteriorasi GCS yang cepat ≥ 2.
 GCS ≤ 14 dengan adanya dilatasi pupil
unilateral.
 Distress respirasi secara klinis, RR > 30x/menit
atau < 10x/menit.
 Cedera penyerta pada maxillofacial
 kejang berulang
 Concurrent edema paru berat, cedera jantung
atau abdominal bagian atas
Indikasi penggunaan Mannitol ;
 Pasien koma dengan pupil yang normal dan
reaktif namun kemudian berkembang menjadi
dilatasi disertai atau tanpa adanya hemiparesis.
 Dilatasi pupil bilateral dan nonreaktif tetapi
tidak hipotensive.
 Dosis Mannitol : 1g/kgBB, [5x BB (kg)] ml larutan
mannitol 20% dalam infus cepat selama 5 menit.
 Perhatian sebelum menggunakan mannitol :
 Pasang kateter urin
 Pastikan penderita tidak hipotensi
 Pastikan penderita tidak menderita gagal ginjal kronis
Indikasi;
 Large boggy scalp hematoma.

 Suspek benda asing radioopaque pada laserasi


kulit kepala .
 namun dengan tidak adanya fraktur
tengkorak tidak akan menghilangkan
pentingnya CT scan untuk dikerjakan.
 fraktur tulang tengkorak linear atau depressed.
 posisi midline dari Calsified glandula pineal.
 air-fluid level pada sinus.
 aerocele
 fraktur facial
 benda asing
 diastasis (pelebaran) sutura.
Indikasi
 GCS ≤ 13 tanpa adanya intoksikasi alkohol atau
fraktur tulang tengkorak.
 GCS ≤ 14 dengan adanya fraktur tulang tengkorak

 Pupil yang berdilatasi unilateral pada keadaan


AMS
 depressed skull fracture

 Defisit neurologik fokal

 Pasien cedera kepala yang membutuhkan ventilasi

 Pasien cedera kepala yang membutuhkan anestesi


general
 Cedera kepala dengan deteriorasi GCS
 Depressed skull fracture
 Pneumokranium
 Penetrating skull injuries
 penemuan yang positif pada CT scan
 Hilang kesadaran > 10 menit
 Amnesia
 Kejang post traumatic
 Tanda klinis fracture basis cranii
 Sakit kepala moderate atau severe, atau vomiting
 Intoksikasi alcohol
 Penetrating injury
 Fraktur tulang tengkorak
 Associated injuries yang signifikan
 Tidak adanya pengawas yang dapat diandalkan
dirumah
 Sakit kepala hebat
 Muntah yang sering

 Keluarnya cairan dari hidung atau telinga

 Kebingungan yang tidak appropriate

 kejang

 bawa ulang ke RS.