Anda di halaman 1dari 18

Diabetes Mellitus

Tujuan Terapi
Farmakoterapi untuk DM Tipe 2 bertujuan:
• Untuk mengurangi resistensi (perlawanan) terhadap insulin
dan meningkatkan sensitisasi (kepekaan) insulin (obat
Metarofmin dan Troglitazone)
• Menangani pencernaan dan absorpsi makanan karbohidrat
(obat inhibitor glukosidase-alfa)
• Menambah sekresi insulin dan insulin kinetik (obat
Sulfanylureas)
Efek Obat Oral untuk Pasien DM Tipe 2
• Metformin mengakibatkan penurunan glukosa hepatik.
• Troglitazone mengakibatkan pemakaian glukosa oleh otot
meningkat.
• Sulfanylureas mengakbatkan sekresi insulin meningkat dan
produksi glukosa hepatik menurun.
• Acarbose mengakibatkan inhibisi alfa-glukosidase cernaan dan
absorpsi karbohidrat menurun.
KOMPLIKASI DIABETES MELLITUS
• Komplikasi diabetes mellitus dapat bersifat akut dan kronik
• Komplikasi akut jika kadar glukosa darah seseorang meningkat
atau menurun tajam dalam waktu relatif singkat.
• Komplikasi kronis berupa kelainan pembuluh darah yang
akhirnya bisa menyebabkan serangan jantung, ginjal, saraf, dan
penyakit berat lain.
KOMPLIKASI AKUT
Hipoglikemia
• Hipoglikemia adalah suatu keadaan seseorang dengan kadar
glukosa dibawah nilai normal ( <50 mg/dl)
• Ada 4 macam keadaan hipoglikemia;
– Hipoglikemia murni jika kadar glukosa darah kurang dari 50 mg/dl
– Reaksi hipoglikemia akibat menurunnya kadar glukosa darah secara
mendadak
– Koma hipoglikemia akibat kadar glukosa darah yang sangat rendah
– Hipoglikemia reaktif jika gejala hipoglikemia terjadi 3-5 jam setelah makan
• Kadar gula darah yang terlalu rendah menyebabkan sel-sel otak
tidak mendapat pasokan energi sehingga tidak berfungsi bahkan
dapat mengalami kerusaka
Ketoasidosis Diabetik-Koma Diabetik
• Diartikan sebagai suatu keadaan tubuh yang sangat
kekurangan insulin dan sifatnya mendadak.
• Penyebab komplikasi ini umumnya adalah infeksi. Komplikasi
ini juga bisa disebabkan oleh lupa suntik insulin, pola makan
yang terlalu bebas atau stress.
• Gejala yang sering muncul adalah poliuria, polidipsia, dan
nafsu makan menurun akibat rasa mual.
Koma Hiperosmoler Non Ketotik (KHNK)
• Diartikan sebagai keadaan tubuh tanpa penimbunan lemak
ssehingga penderita tidak menunjukkan pernapasan yang
cepat dan dalam (kussmaul)
• Gejala dari KHNK; adanya dehidrasi yang berat, hipotensi, dan
menimbulkan shock.
• Pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa kadar glukosa
penderita sangat tinggi, PH darah normal, Kadar Natrium (Na)
tinggi, dan tidak ada ketonemia.
Kemo Lakto Asidosis
• Diartikan sebagai suatu keadaan tubuh dengan asam laktat
tidak dapat diubah menjadi bikarbonat. Akibatnya kadar asam
laktat di dalam darah meningkat (hiperlaktatemia) dan
akhirnya menimbulkan koma.
• Keadaan ini dapat terjadi karena infeksi, shock, gangguan faal
hepar, ginjal, diabetes mellitus yang mendapat pengobatan
dengan phenformin.
• Gejala yang muncul biasanya berupa gejala stupor hingga
koma.
KOMPLIKASI KRONIS
Komplikasi Kronis
• Adalah komplikasi akibat kelainan pembuluh darah kecil atau
mikroangiopati diabetika (Mi.DM) dan kelainan metabolisme
dalam jaringan.
• Komplikasi kronis dibagi menjadi komplikasi spesifik, tak
spesifik, dan berdasarkan bagian tubuh yang mengalami
kelainan.
Jenis-Jenis Komplikasi Spesifik
• Retinopati diabetika (RD) • Nefropati diabetika (ND)
Gejalanya penglihatan Gejalanya ada protein dalam
mendadak buram atau seperti air kencing, terjadi pembengkakan,
berkabut. hipertensi, dan kegagalan fungsi
ginjal yang menahun.
Jenis-Jenis Komplikasi Spesifik
• Neuropati diabetika (Neu,D) • Diabetik foot (DF) dan kelainan
Gejalanya perasaan terhadap kulit
getaran berkurang, rasa panas seperti Seperti tidak berfungsinya
terbakar di bagian ujung tubuh, rasa
kulit (dermatopati diabetik), adanya
nyeri, rasa kesemuta, serta rasa
terhadap dingin dan panas berkurang. gelembung berisi cairan di bagian
kulit (bullae diabetik), dan kulit
mudah terinfeksi.
Komplikasi tak spesifik
• Kelainan pembuluh darah besar atau makroangiopati diabetika
(Ma.DM)
– Kelainan ini berupa timbunan zat lemak di dalam dan di bawah
pembuluh darah (ateroskeloris).
– Kekeruhan pada lensa mata (katarakta lentis).
– Adanya infeksi seperti infeksi saluran kencing dan tuberkulosis (TBC)
paru.
Komplikasi kronis berdasarkan bagian tubuh yang
mengalami kelainan
• Bagian mata, kelainan lensa mata (katarakta lentis) , kelainan
retina (retinopati), dan gangguan saraf mata (neuropati).
• Bagian mulut, kelainan gusi berupa radang (ginggivitis) dan
kelainan jaringan ikat penyangga gigi berupa radang
(periodentitis).
• Bagian jantung berupa gangguan saraf autonom jantung
(autonomic neuropati diabetic).
Komplikasi kronis berdasarkan bagian tubuh yang
mengalami kelainan
• Bagian urogenital berupa impotensi pada pria, tidak
berfungsinya saraf kandung kemih (diabetik neurogenic verical
disfunction), dan penyakit ginjal (nefropatidiabetic).
• Bagian saraf berupa gangguan saraf periferi, autonom dan
sentral.
• Nagian kulit berupa radang kulit (dermatotos), gangguan saraf
kulit dan gangreng.
Daftar Pustaka
• Baradero, M., Siswandi, T., Dayrit, M.W. (2009). Klien Gangguan
Endokrin :Seri Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC
• Fatimah, Restyana Noor. (2015). Diabetes Melitus Tipe 2. J
Majority vol 4 no 5 (99)
• Prapti Utami dan Tim Lentera., 2003. Tanaman Obat Untuk
Mengatasi Diabetes Mellitus. Jakarta: AgroMedia Pustaka
• Sherwood L.2007. Human Physiology From Cells to Systems.
7th edition. Canada : BROOKS / COLE CENGAGE learning. P. 722