Anda di halaman 1dari 39

Dampak Perubahan Penduduk

Terhadap Permintaan Pangan


FERINA YOLLANDA
1611221016
OUTLINE
 a. Dampak perubahan komposisi penduduk terhadap
permintaan pangan
 b. Susenas dan Neraca Bahan Makanan
 c. Pola konsumsi pangan (nasional, regional & menurut
pendapatan)
Dampak Perubahan Komposisi Penduduk
Terhadap Permintaan Pangan
 Pangan merupakan komoditas penting dan strategis bagi
bangsa Indonesia mengingat pangan adalah kebutuhan dasar
manusia yang harus dipenuhi oleh pemerintah dan masyarakat
secara bersama-sama seperti diamanatkan oleh Undang
Undang Nomor 7 tahun 1996 tentang pangan.
 Dalam UU tersebut disebutkan Pemerintah
menyelenggarakan pengaturan, pembinaan, pengendalian dan
pengawasan, sementara masyarakat menyelenggarakan proses
produksi dan penyediaan, perdagangan, distribusi serta
berperan sebagai konsumen yang berhak memperoleh pangan
yang cukup dalam jumlah dan mutu, aman, bergizi, beragam,
merata, dan terjangkau oleh daya beli mereka
 A. Perubahan Komposisi Penduduk Dari Aspek
Demografi
 Demografi adalah studi ilmiah tentang penduduk, terutama
tentang jumlah, sturuktur dan perkembangannya. Penduduk
adalah hasil tingkat kelahiran, tingkat migrasi dan tingkat
kematian.
 B. Perubahan Komposisi Penduduk Dari Aspek
Perubahan Sosial
 Perubahan Sosial menurut para pakar :
 Kingsley Davis mandefenisikan Perubahan Sosial sebagai
perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.
Misal: pengorganisasian buruh menyebabkan perubahan
hubungan buruh dan majikan.
 Bentuk-bentuk perubahan sosial yang terjadi di dalam kehiduan
bermasyarakat:
 Perubahan yang Lambat dan Cepat
 Perubahan Kecil dan Besar
 Perubahan yang Dikehendaki dan yang Tidak Dikehendaki
 DAMPAK PERUBAHAN PENDUDUK TERHADAP
PANGAN
 Teori Malthus ringkasnya menyatakan peningkatan produksi
pangan mengikuti deret hitung dan pertumbuhan penduduk
mengikuti deret ukur sehingga manusia pada masa depan akan
mengalami ancaman kekurangan pangan (Malthus, 1798).
 Pertumbuhan penduduk yang signifikan akan berdampak pada
perubahan sosial kehidupan masyarakat Indonesia. Perubahan
sosial merupakan perubahan-perubahan dalam suatu masyarakat
yang mempengaruhi system sosialnya, termasuk di dalamnya
nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola perilaku dalam masyarakat.
 Berikut adalah penjelasan mengenai pengaruh pertumbuhan
penduduk terhadap perkembangan sosial di masyarakat.
a.Meningkatnya permintaan terhadap kebutuhan sandang, pangan,dan
papan
b.Berkurangnya lahan tempat tinggal
c.Meningkatnya investor yang datang
d. Meningkatnya angka pengangguran
e.Lingkungan Hidup
Susenas dan Neraca Bahan Makanan
A. SUSENA
 Sosialisasi Hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas)
adalah survei yang dirancang untuk mengumpulkan data
sosial kependudukan yang relatif sangat luas dan dilaksanakan
setiap tahun.
 Data yang dikumpulkan antara lain menyangkut bidang-
bidang pendidikan, kesehatan/gizi, perumahan, sosial
ekonomi lainnya, kegiatan sosial budaya,
konsumsi/pengeluaran dan pendapatan rumahtangga,
perjalanan, dan pendapat masyarakat mengenai kesejahteraan
rumah tangganya.
 Susenas sudah dilaksanakan sejak tahun 1963 dengan kuesioner
yang dibagi dalam dua bagian besar yaitu
 Kor adalah kumpulan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat
umum yang selau ditanyakan setiap tahun,
 Modul adalah pertanyaan-pertanyan khusus sesuai dengan
topiknya dan lebih rinci yang di lakukan tiga tahun sekali untuk
setiap topic. Keterangan dalam modul-modul yang ada
dikumpulkan secara bergiliran dalam kurun waktu tiga tahun.
 Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas)
 Dapat memberikan gambaran kondisi sosial ekonomi
masyarakat secara umum sampai tingkat propinsi.
 Melalui data Susenas dapat diketahui antara lain gambaran
tingkat konsumsi pangan penduduk (energi dan protein)
serta gambaran distribusi pengeluaran yang dapat
digunakan dalam perencanaan program ketahanan pangan.
 Beberapa rekomendasi hasil Sosialisasi Situasi Konsumsi
Pangan antara lain :
 Dalam rangka Perencanaan Pembangunan Ketahanan
Pangan Nasional dan Wilayah diperlukan informasi penting
mengenai :
 Ketersediaan pangan (produksi pangan, penggunaan pangan,
ekspor - impor dan ketersediaan untuk konsumsi); tercermin
pada Neraca Bahan Makanan.
 Konsumsi pangan dan zat gizi penduduk serta perilaku konsumsi
pangan (elastisitas harga dan pendapatan); tercermin pada dfata
Susenas, Survey, Survey Konsumsi Gizi dan Survey khusus
lainnya.
 Data Susenas yang dikumpulkan oleh BPS, merupakan
gambaran konsumsi yang berasal dari belanja terhadap
pangan, dan bukan merupakan gambaran food intake.
 Hasil data Susenas diperkirakan underestimate20% karena
beberapa faktor antara lain : kemampuan petugas, daya
ingat responden, serta waktu pelaksanaan pengumpulan
data yang hanya dilakukan 1 sub round dalam 1 tahun.
 Data Susenas dapat digunakan untuk mengetahuiproksi
konsumsi secara makro, sebaiknya tidak dianalisa sampai
dengan tingkat gizi mikro
 Manfaat data Susenas :
 mengevaluasi keberhasilan pembangunan ketahanan pangan (sub
sistem konsumsi) pada tingkat nasional dan wilayah, dengan
melihat tingkat kecukupan pangan dan mutu gizi konsumsi
pangan;
 mengevaluasi perkembangan tingkat kemiskinan;
 perencanaan penyediaan pangan untuk memenuhi kebutuhan
konsumsi penduduk pada kondisi normal dan hari-hari besar
(prognosa kebutuhan pangan nasional dan wilayah).
 mengetahui estimasi jumlah penduduk rawan pangan, namun
tidak dapat mendeteksi rawan gizi di tingkat individu
 Untuk estimasi kebutuhan pangan nasional dan wilayah,
diperlukan dukungan/data informasi lainnya seperti :
elastisitas pendapatan, elastisitas harga, proyeksi tingkat
pendapatan, dan proyeksi tingkat harga, serta kebutuhan
pangan non konsumsi
 Penghitungan prognosa pangan selanjutnya, perlu
mengacu pada data Susenas; karena bila menggunakan data
Neraca Bahan Makanan (NBM) untuk beberapa komoditas
(minyak sawit dan gula) ketersediaan untuk konsumsinya
upper limited disbandingkebutuhan seseorang untuk hidup
sehat.
 Dengan semakin berkembangnya aneka olahan pangan, agar data
yang dihasilkan semakin akurat, dalam menanalisa data konsumsi
pangan sebaiknya menggunakan acuan Daftar Komposisi Bahan
Makanan (DKBM) yang terbaru.
 Untuk memperkaya DKBM dengan komoditas spesifik wilayah,
dapat melakukan uji melalui kerjasama dengan FMIPA dan Poltekkes
di masing-masing wilayah.
 Mengingat kualitas konsumsi pangan masyarakat pada tahun 2008
mengalami penurunan dibanding tahun 2007, maka untuk
mendorong perbaikan kualitas konsumsi pangan masyarakat
pelaksanaan kegiatan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi
Pangan perlu pembinaan dan pendampingan secara intensif sehingga
tujuan dan sasaran yang ditetapkan dapat tercapai.
B. NERACA BAHAN MAKANAN
 NBM : Tabel yang memberikan gambaran situasi
ketersediaan pangan untuk dikonsumsi penduduk suatu
wilayah (negara/prov/kab/kota) dalam kurun waktu
tertentu (bulan/ tahun)
 NBM menyajikan informasi situasi pangan suatu wilayah
dalam suatu periode waktu yang menunjukkan PASOKAN,
PENGGUNAAN, dan KETERSEDIAAN pangan untuk
dikonsumsi masyarakat
TUJUAN NBM
 Mengetahui gambaran pengadaan (produksi, stok, impor)
makanan
 Mengetahui penggunaan dan ketersediaan makanan untuk
konsumsi penduduk
 Memperoleh gambaran detail tentang ketersediaan makanan,
swamsembada pangan, ketergantungan pada impor, efisiensi
pasca panen, kompetisi penggunaan pangan untuk manusia
dan ternak, kecenderungan produksi, ekspor, impor, stok
pangan, maupun kualitas dan komposisi pangan yang tersedia.
MANFAAT DAN SUMBER DATA
 Manfaat NBM :
 untuk EVALUASI : pengadaan, penggunaan, komposisi/ pola
ketersediaan energi/ zat gizi
 Sebagai Acuan dalam perencanaan produksi/ pengadaan pangan
 Sebagai acuan / bahan kebijakan pangan dan gizi
 Sumber Data : komponen penyediaan merupakan data pokok
untuk menyusun NBM, sumbernya dari instansi terkait:
 Data produksi padi, palawija, hortikultura  BPS
 Produksi Sub Sektor perkebunan, peternakan, perikanan  instansi
terkait (deptan)
 Data impor, ekspor, industri, jumlah penduduk tengah tahun  BPS
 Stok Beras  Perum Bulog
Mekanisme Penyusunan NBM
1. Membentuk tim penyusun NBM yang bertugas
mengumpulkan data dan menetapkan situasi ketersediaan
pangan.
2. Mengumpulkan data yang diperlukan
3. Konsolidasi data
4. Penyusunan data oleh tim penyusun NBM
5. Analisis ketersediaan pangan wilayah berdasarkan SKPD
6. Pelaporan atau publikasi
7. Advokasi
8. Pemanfaatan NBM untuk menyusun perencanaan pangan
wilayah.
BAHAN MAKANAN
 Padi-padian : terdiri dari padi/gabah, gabah/beras, jagung, jagung basah
atau muda, gandum, dan tepung gandum
 Makanan berpati : Terdiri dari ubi jalar, ubi kayu, gaplek, tapioka, sagu
atau tepung sagu.
 Gula : terdiri dari gula pasir dan gula mangkuk.
 Buah biji berminyak: terdiri dari kacang tanah berkulit, kacang tanah
lepas kulit, kedelai, kacang hijau, kelapa berkulit dan kelapa daging atau
kopra.
 Buah-buahan : terdiri dari alpokat, jeruk, duku, durian, jambu, mangga,
nanas, pepaya, pisang, rambutan, salak, sawo, semangka, belimbing,
manggis, nanka/cempedak, markisa, sirsak, sukun dan lainnya.
 Sayur-sayuran : terdiri dari bawang merah, ketimun, kacang merah,
kacang panjang, kentang, kubis, tomat, wortel, cabe, terong, petsai/sawi,
bawang daun, kangkung, lobak, labu siam, buncis, bayam, bawang putih,
kembang kol, jamur, melinjau, petai dan lainnya.
 Daging : terdiri dari daging sapi, daging kerbau, daging kambing,
daging domba, daging kuda/lainnya, daging babi, daging ayam buras,
daging ayam ras, daging itik dan jeroan semua jenis.
 Telur : terdiri dari telur ayam buras, telur ayam ras dan telur itik.
 Susu: terdiri dari susu sapi dan susu impor.
 Ikan : terdiri dari ikan tuna/cakalang/tongkol, kakap, cucut, bawal,
teri, lemuru, kembung, tenggiri, bandeng, belanak, mujair, ikan mas,
udang, rajungan, kerang darah, cumi-cumi, sotong dan lainnya.
 Minyak dan lemak: terdiri dari kacang tanah/minyak, kopra/minyak
goreng, minyak sawit/ minyak goreng, lemak sapi, lemak kerbau,
lemak kambing, lemak domba, dan lemak babi..
KOLOM NBM
PENJELASAN KOLOM
 Kolom 1 berisi jenis bahan makanan dalam NBM itu dikelompokan
dalam 11 komoditi utama, yaitu padi-padian, makanan berpati, gula,
buah/biji berminyak, buah, sayuran, ikan, daging, susu, telur, minyak
dan lemak (hewani dan nabati). Bisa diringkas menjadi 9 komoditi
utama, padi-padian, umbi-umbian, kacang-kacangan, buah, sayur, biji
berminyak, minyak gula, pangan hewani.

 Kolom 2 & 3 merupakan jumlah produksi hasil pertanian, baik yang


belum atau sudah mengalami pengolahan, dibedakan menjadi :
masukan dan keluaran. Produksi masukan adalah hasil produksi yang
masih dalam bentuk asli atau olahan yang akan mengalami proses
pengolahan selanjutnya. Produksi keluaran adalah hasil produksi
pertanian yang sudah menjadi produksi hasil turunan.
 Kolom 4 berisi perubahan stok yang merupakan selisih dari stok
akhir dikurangi stok awal. Bila stok meningkat (+) berarti
ketersediaan menurun, sebaliknya bila stok menurun (-)
ketersediaan meningkat.
 Kolom 5 berisi data impor bahan pangan yang masuk dari negara
atau wilayah administrasi lain melalui perdagangan antar pulau
dan provinsi.
 Kolom 6 merupakan data penyediaan dalam negeri sebelum
ekspor. Sejumlah bahan makanan dari produksi keluaran
dikurangi dengan perubahan stok dan ditambah impor.
 Kolom 7 berisi data ekspor, yaitu jumlah pangann yang
dikeluarkan ke negara atau wilayah administratif lain.
 Kolom 8 penyediaan bahan makanan : produksi (keluaran) –
perubahan stok + impor – ekspor.
 Penggunaan bahan makanan untuk bibit, pakan, penggunaan
dalam industri makanan dan non makanan, yang
tercecer/penyusutan dan bahan makanan terdapat pada kolom 8-
14.
 Kolom 15-19 mencakup sejumlah bahan makanan yang dapat
dikonsumsi oleh setiap penduduk dalam suatu negara atau
daerah.
CARA PERHITUNGAN
 Tabel NBM dibagi menjadi 3 kelompok penyajian :
 A. Pengadaan/ Penyediaan
 B. Penggunaan / Pemakaian
 C. Ketersediaan Per Kapita
PENYEDIAAN
PENGGUNAAN
PERLAKUAN
KETERSEDIAAN KHUSUS
Ketersedian bahan makanan  Bagi komoditas yang data
(pangan) per kapita, diperoleh produksinya tidak tersedia,
perhitungan dimulai dari kolom
dari ketersediaan masing-masing 15 yaitu ketersediaan perkapita
bahan makanan dibagi dengan (kg/tahun). Kolom 15 ini
jumlah penduduk, disajikan diperoleh dengan menggunakan
dalam bentuk kuantum pendekatan data konsumsi hasil
(volume) dan kandungan gizinya Susenas (modul) di-mark-up 10%
dengan asumsi bahwa perbedaan
dalam satuan Kalori energi, antara angka kecukupan energi
gram protein dan gram lemak. pada tingkat konsumsi dengan
angka kecukupan energi di
tingkat ketersediaan sebesar
10%.
KONSUMSI BERAS
PERTIMBANGAN DALAM PENYUSUNAN
NBM
 Posisi Pangan berperan menjaga kestabilan politik & sosial
 Pangan : kebutuhan dasar manusia pemenuhannya merupakan hak asasi
manusia. Juga Sebagai komponen dasar dalam membangun SDM yang
berkualitas
Setiap negara melakukan pengamanan terhadap kebutuhan pangan
penduduknya, karena melalui penguatan ketersediaan pangan dapat
dilakukan perbaikan konsumsi pangan dan status gizi).
 Regulasi Pangan
 (PP 68/2002 tentang Ketahanan Pangan, Inpres no. 5 tahun 2011 tentang
pengamanan produksi beras nasional dalam menghadapi cuaca ekstrim,
dan PP 38/2009 tentang tugas dan kewenangan pemerintah pusat dan
daerah dalam urusan wajib pangan).
 Kebijakan Pangan
 (Kebijakan umum pembangunan ketahanan pangan 2010-2014, DKP
2011)
Pola Konsumsi Pangan
(Nasional, Regional & Pendapatan)
 Penilaian terhadap pengembangan pola konsumsi pangan
tingkat nasional dan Regional dilaksanakan
dengan pendekatan Pola Pangan Harapan (PPH),
menggunakan data Survai Sosial Ekonomi Nasional
(SUSENAS )
 Pola Pangan harapan (PPH) adalah suatu komposisi pangan
yang seimbang untuk dikonsumsi guna memenuhi kebutuhan
gizi penduduk. PPH dapat dinyatakan
 (1) dalam bentuk komposisi energi (kalori) anekaragam pangan
dan/atau
 (2) dalam bentuk komposisi berat (gram atau kg) anekaragam
pangan yang memenuhi kebutuhan gizi penduduk.
 PPH berguna
 (1) sebagai alat atau instrumen perencanaan konsumsi pangan,
ketersediaan pangan dan produksi pangan;
 (2) sebagai instrumen evaluasi tingkat pencapaian konsumsi pangan,
penyediaan pangan dan produksi pangan, baik penyediaan dan
konsumsi pangan;
 (3) dapat pula digunakan sebagai basis pengukuran diversifikasi dan
ketahanan pangan;
 (4) sebagai pedoman dalam merumuskan pesan-pesan gizi.
 Untuk menjadikan PPH sebagai instrumen dan pendekatan dalam
perencanaan pangan di suatu wilayah atau daerah diperlukan
kesepakatan tentang pola konsumsi energi dan konsumsi pangan
anjuran dengan mempertimbangkan
 Pola konsumsi pangan penduduk saat ini;
 Kebutuhan gizi yang dicerminkan oleh pola kebutuhan energi
(asumsi : dengan makan anekaragam pangan, kebutuhan akan zat gizi
lain akan terpenuhi);
 Mutu gizi makanan yang dicerminkan oleh kombinasi makanan yang
mengandung protein hewani, sayur dan buah;
 Pertimbangan masalah gizi dan penyakit yang berhubungan dengan
gizi;
 Kecenderungan permintaan (daya beli);
 Kemampuan penyediaan dalam konteks ekonomi dan wilayah.
 Penilaian Konsumsi Pangan Wilayah dengan
Pendekatan PPH.
 Analisis konsumsi pangan wilayah diarahkan untuk menganalisis
situasi konsumsi pangan dengan mempertimbangkan potensi
sumberdaya dan sosial ekonomi wilayah.
 Dalam menganalisis konsumsi pangan wilayah yang berbasis
sumberdaya, perlu diperhatikan faktor pendukung utama yang
mempengaruhi pola konsumsi yaitu
 (1) ketersediaan;
 (2) kondisi sosial dan ekonomi;
 (3) letak geografis wilayah (desa - kota) serta
 (4) karakteristik rumah tangga.
 Dengan menggunakan data Susenas dapat dianalisis beberapa
faktor yang mempengaruhi konsumsi pangan wilayah dan
dilakukan melalui tabulasi dengan mengelompokkan data
konsumsi pangan sebagai berikut :
1. Data konsumsi dan pengeluaran pangan dilakukan
pengelompokkan menjadi 9 kelompok pangan .
2. Pendapatan rumah tangga didekati dengan pengeluaran rumah
tangga untuk kebutuhan pangan dan non pangan dikelompokkan
(1) di daerah pedesaan dan (2) di daerah perkotaan.
3. Pendapatan rumah tangga juga didekati dengan pengelompokkan
tingkat pengeluaran berdasarkan golongan pengeluaran perkapita
perbulan.
 4. Dalam melakukan analisis, berbasis pada :
- Angka kecukupan energi rata-rata untuk Indonesia pada tingkat
konsumsi sebesar 2200 Kkal/orang/hari dengan tingkat
ketersediaan sebesar 2500 Kkal/orang/hari.
- Angka kecukupan protein rata-rata untuk penduduk Indonesia
sebesar 50 gram/orang/hari pada tingkat konsumsi dan 55
gram/orang/hari pada tingkat ketersediaan.
- Angka kecukupan konsumsi lemak minimum setara dengan 10
% dari total energi dan maksimum 25 % dari total energi, dengan
konsumsi yang bersumber dari lemak rata-rata sebesar 20 %.
TERIMA KASIH