Anda di halaman 1dari 89

Kekhasan Bidang Studi dan

Implementasi Pendekatan
Pembelajaran di SD
Kekhasan Bidang Studi Bahasa
Indonesia
Bahasa Indonesia merupakan sarana untuk mengungkapkan segala sesuatu yang
ada dalam diri seseorang, baik berbentuk
perasaan, pikiran, gagasan, dan keinginan yang dimilikinya (sebagai alat ekspresi
diri) serta untuk menyatakan dan memperkenalkan keberadaan diri seseorang
kepada orang lain dalam berbagai tempat dan situasi.

Hakikat mata pelajaran Bahasa Indonesia antara lain:

Sarana berpikir

Sarana perekat bangsa

Penghela ilmu pengetahuan

Penghalus budi pekerti

Pelestari budaya bangsa


Kegiatan Berbahasa Indonesia

berbicara

 Kegiatan Produktif
menulis

membaca
 Kegiatan Reseptif

menyimak
Prinsip pembelajaran bahasa berbasis teks terdiri dari:
(1)bahasa dipandang sebagai teks, bukan semata-mata kumpulan
kata-kata atau kaidah-kaidah kebahasaan,
(2)penggunaan bahasa merupakan proses pemilihan bentuk-
bentuk kebahasaan untuk mengungkapkan makna,
(3)bahasa bersifat fungsional, yaitu penggunaan bahasa yang yang
tidak pernah dapat dilepaskan dari konteks karena dalam
bentuk bahasa yang digunakan itu tercermin ide, sikap, nilai,
dan ideologi penggunanya, dan
(4)bahasa merupakan sarana pembentukan kemampuan berpikir
manusia.
Pembelajaran bahasa Indonesia dalam kurikulum
2013 menerapkan pendekatan berbasis teks
Pembelajaran bahasa Indonesia yang berbasis teks
terdiri dari langkahlangkah sebagai berikut

Membangun konteks

Pemodelan

Menyusun teks
secara bersama

Menyusun teks
secara mandiri
Kekhasan Bidang Studi Matematika

Matematika sebagai ilmu memiliki beberapa karakteristik sebagai ciri khasnya antara lain:

a. Memiliki objek kajian yang abstrak


b. Bertumpu pada kesepakatan
c. Berpola pikir deduktif
d. Konsisten dalam sistemnya
e. Memperhatikan semesta pembicaraan
Berdasarkan karakteristik dan tujuan di atas, pembelajaran
Matematika sekolah dasar hendaknya dirancang sebagai berikut:

a. Pembelajaran matematika menggunakan metode spiral


b. Pembelajaran matematika dilakukan secara bertahap
c. Pembelajaran matematika menggunakan metode induktif
d. Pembelajaran matematika menganut kebenaran konsistensi
e. Pembelajaran matematika hendaknya bermakna
f. Pembelajaran matematika menerapkan pendekatan matematika
realistic
g. Pembelajaran matematika menerapkan metode penemuan terbimbing
h. Pembelajaran matematika berbasis masalah
i. Pembelajaran matematika menerapkan pendekatan kontekstual
j. Pembelajaran matematika menggunakan hubungan-hubungan
(koneksi)
Kekhasan Bidang Studi Ilmu Pengetahuan Alam

ruang
lingkup • Makhluk hidup dan proses kehidupannya,
yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan
bahan interaksinya dengan lingkungan, serta
kajian IPA kesehatan.
untuk • Benda/materi, sifat-sifat kegunaannya
meliputi: benda cair, padat dan gas.
Sekolah • Energi dan perubahannya meliputi : gaya
Dasar ,bunyi, panas, magnet, listrik, cahaya, dan
meliputi pesawat sederhana.
• Bumi dan alam semesta meliputi: tanah
aspek- ,bumi, tata surya, dan benda-benda langit
aspek lainnya.
berikut:
Menurut BNSP (2006: 484) mata pelajaran IPA bertujuan agar
siswa memiliki kemampuan sebagai berikut:

a. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa


berdasarkan keberadaban, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya.
b. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang
bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
c. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran adanya hubungan
yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat.
d. Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar,
memecahkan masalah dan membuat keputusan.
e. Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga dan
melestarikan lingkungan alam.
f. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya
sebagai salah satu ciptaan Tuhan.
g. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar
untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/ MTs.
PRINSIP PEMBELAJARAN IPA DI SD

 Peserta didik difasilitasi untuk mencari tahu


 Peserta didik belajar dari berbagai sumber belajar
 Proses pembelajaran menggunakan pendekatan
ilmiah
 Pembelajaran berbasis kompetensi
 Pembelajaran terpadu
 Pembelajaran yang menekankan pada jawaban
divergen yang memiliki kebenaran multi dimensi
 Pembelajaran berbasis keterampilan aplikatif
 Peningkatan keseimbangan, kesinambungan, dan keterkaitan antara
hard-skills dan soft-skills
 Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan
peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat
 Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan
(ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun
karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses
pembelajaran (tut wuri handayani)
 Pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di
masyarakat
 Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan
efisiensi dan efektivitas pembelajaran m. Pengakuan atas perbedaan
individual dan latar belakang budaya peserta didik n. Suasana belajar
menyenangkan dan menantang.
Kekhasan Bidang Studi Ilmu Pendidikan Sosial

Ruang lingkup IPS terdiri atas pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap yang
dikembangkan dari masyarakat dan disiplin ilmu sosial.
a. Pengetahuan: tentang kehidupan masyarakat di sekitarnya, bangsa, dan umat
manusia dalam berbagai aspek kehidupan dan lingkungannya. Ruang lingkup
materi IPS SD terdiri dari kehidupan manusia dalam: 1) Tempat dan Lingkungan
2) Waktu Perubahan dan Keberlanjutan 3) Organisasi dan Sistem Sosial 4)
Organisasi dan Nilai Budaya 5) Kehidupan dan Sistem Ekonomi 6) Komunikasi
dan Teknologi
b. Keterampilan: berpikir logis dan kritis, membaca, belajar (learning skills, inquiry),
memecahkan masalah, berkomunikasi dan bekerjasama dalam kehidupan
bermasyarakat-berbangsa
c. Nilai: nilai-nilai kejujuran, kerja keras, sosial, budaya, kebangsaan, cinta damai,
dan kemanusiaan serta kepribadian yang didasarkan pada nilai-nilai tersebut
d. Sikap: rasa ingin tahu, mandiri, menghargai prestasi, kompetitif, kreatif dan
inovatif, dan bertanggungjawab
Kekhasan Bidang Studi Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan
Ruang lingkup mata pelajaran PPKn terdiri atas:
(1) Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa
diperankan dan dimaknai sebagai identitas inti yang menjadi sumber
rujukan dan kriteria keberhasilan pencapaian tingkat kompetensi
dan pengorganisasian dari keseluruhan ruang lingkup mata pelajaran
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan;
(2) Substansi dan jiwa Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, nilai dan semangat Bhinneka Tunggal Ika,
dan komitmen Negara Kesatuan Republik Indonesia ditempatkan
sebagai bagian integral dari Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan, yang menjadi wahana psikologis-pedagogis
pembangunan warganegara Indonesia yang berkarakter Pancasila.
Secara umum tujuan mata pelajaran PPKn pada jenjang pendidikan dasar dan
menengah adalah mengembangkan potensi siswa dalam seluruh dimensi
kewarganegaraan, yakni: (1) sikap kewarganegaraan termasuk keteguhan,
komitmen dan tanggung jawab kewarganegaraan (civic confidence, civic
committment, and civic responsibility); (2) pengetahuan kewarganegaraan; (3)
keterampilan kewarganegaraan termasuk kecakapan dan partisipasi
kewarganegaraan (civic competence and civic responsibility).
Secara khusus Tujuan PPKn yang berisikan keseluruhan dimensi tersebut
sehingga siswa mampu:
a. menampilkan karakter yang mencerminkan penghayatan, pemahaman,
dan pengamalan nilai dan moral Pancasila secara personal dan sosial
b. memiliki komitmen konstitusional yang ditopang oleh sikap positif dan
pemahaman utuh tentang Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945
c. berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif serta memiliki semangat
kebangsaan serta cinta tanah air yang dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila,
Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,
semangat Bhinneka Tunggal Ika, dan komitmen Negara Kesatuan
Republik Indonesia
d. berpartisipasi secara aktif, cerdas, dan bertanggung jawab sebagai
anggota masyarakat, tunas bangsa, dan warga negara sesuai dengan
harkat dan martabatnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa
yang hidup bersama dalam berbagai tatanan sosial budaya.
Kekhasan Bidang Studi Seni Budaya dan Prakarya

• Mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) merupakan


aktivitas belajar yang menampilkan karya seni estetis,
artistik, dan kreatif yang berakar pada norma, nilai,
perilaku, dan produk seni budaya bangsa.
• Mata pelajaran ini bertujuan mengembangkan kemampuan
siswa untuk memahami seni dalam konteks ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni serta berperan dalam
perkembangan sejarah peradaban dan kebudayaan, baik
dalam tingkat lokal, nasional, regional, maupun global.
Kekhasan Bidang Studi Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) pada hakikatnya adalah


proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan
perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta
emosional.
Ruang Lingkup Mata
pelajaran PJOK :
• Pola gerak dasar
• Aktivitas permainan bola besar dan
bola kecil
• Aktivitas kebugaran
• Aktivitas senam dan gerak ritmik
• Aktivitas air
• Kesehatan
Tujuan mata pelajaran PJOK sesuai dengan ruanglingkup di atas adalah sebagai berikut:
1. Mengembangkan kesadaran tentang arti penting aktivitas fisik untuk mencapai pertubuhan dan
perkembangan tubuh serta gaya hidup aktif sepanjang hayat.
2. Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan
kebugaran jasmani, mengelola kesehatan dan kesejahteraan dengan benar serta pola hidup
sehat
3. Mengembangkan keterampilan gerak dasar, motorik, keterampilan, konsep/ pengetahuan,
prinsip, strategi dan taktik permainan dan olahraga serta konsep gerakan.
4. Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai percaya diri,
sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, pegendalian diri, kepemimpinan, dan
demokratis dalam melakukan aktivisas fisik.
5. Meletakkan dasar kompetitif diri (self competitive) yang sportif, percaya diri,disiplin, dan jujur.
6. Menciptakan iklim sekolah yang lebih positif g. Mengembangkan muatan lokal yang berkembang
di masyarakat
7. Menciptakan suasana yang rekretif, berisi tantangan, ekspresi diri
8. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan untuk aktif dan sehat sepanjang hayat, dan
meningkatkan kebugaran pribadi.
Pendekatan Pembelajaran dan
Implementasinya di SD
Pendekatan pembelajaran adalah cara pandang guru
terhadap proses pembelajaran yang dilatarbelakangi dengan
landasan konsep tertentu dan dihasilkan dari kajian teoretik.
Ada tiga pasangan pendekatan yang berbeda, yaitu
1. pendekatan yang berpusat pada siswa versus berpusat
pada guru
2. pendekatan proses versus pendekatan konsep,
3. pendekatan induktif versus pendekatan deduktif.
Dalam menentukan strategi pembelajaran perlu
memperhatikan prinsip perumusan strategi yaitu:
1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan
kualifikasi hasil (out put) pembelajaran yang harus
dicapai siswa.
2. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah
yang akan ditempuh sejak titik awal sampai akhir
sehingga tercapai sasaran.
3. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur atau
kriteria keberhasilan dari proses pembelajaran.
Pendekatan Deduktif
Guru dituntut untuk
memilih dan
mengajukan konsep,
prinsip atau aturan yang
Guru menanyakan
kemudian diterangkan
definisi ini dan itu dan
dengan contoh-contoh
guru “bersemangat”
khusus sehingga siswa
untuk menjelaskan di
menyusun hubungan
depan kelas
antara keadaan khusus
itu dengan aturan atau
pinsip umum yang telah
diajukan
Prinsip perumusan strategi dalam
pendekatan deduktif:
1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil
(out put) pembelajaran yang harus dicapai siswa.
2. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah yang akan
ditempuh sejak titik awal sampai akhir sehingga tercapai sasaran.
3. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur atau kriteria
keberhasilan dari proses pembelajaran.
Pendekatan belajar dengan cara deduktif tidak
dianjurkan, karena tidak sesuai dengan prinsip
pada standar proses pembelajaran
Setelah strategi pembelajaran ditetapkan, selanjutnya guru
menetapkan sejumlah metode yang relevan untuk memenuhi
strategi pembelajaran. Perbedaan antara strategi dan metode
dapat dilihat dari pendapat Sanjaya (2008). Strategi merupakan
“a plan of operation achieving something” sedangkan metode
adalah “a way in achieving something”. Dengan demikian,
metode pembelajaran diartikan sebagai cara yang digunakan
untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun
dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan
pembelajaran.
Hubungan antara pendekatan, strategi, metode, dan teknik
Pendekatan Pembelajaran
Berpusat Pada Guru atau Berpusat pada
Siswa)

Strategi Pembelajaran
Exposition-Discovery Learning atau Group-
Individual Learning

Metode Pembelajaran
Ceramah, Diskusi, Demonstrasi, Simulasi,
dsb)

Teknik dan Taktik Pembelajaran


(Spesifik, Invidual, Unik)
Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik
 Pendekatan pembelajaran saintifik adalah pendekatan pembelajaran yang dirancang agar
siswa aktif mengkonstruksi konsep, prinsip atau teori melalui tahapan-tahapan
mengamati, menanya, menalar, mengumpulkan informasi/ mencoba, menganalisis data
dan menarik kesimpulan (mengasosiasi) dan mengomunikasikan konsep, prinsip atau
teori yang ditemukan.
 Persepsi guru bahwa “ belajar adalah proses aktif secara ilmiah yang dilakukan oleh
siswa”, sehingga guru berusaha untuk mengaktifkan siswa melalui pembelajaran dengan
pendekatan ilmiah.
 Guru harus memikirkan bagaimana caranya agar siswa aktif mencari tahu bukan diberi
tahu oleh guru atau disebut sebagai pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa
(student center).
 Idealnya pembelajaran merupakan kegiatan “meneliti” yang melibatkan dua pendekatan
tersebut (rasional dan empirik) yang pada implementasinya melibatkan keterampilan
proses ilmiah, prosedur ilmiah dan aktivitas berpikir ilmiah siswa.
Karakteristik Pembelajaran Saintifik
a. Berpusat pada siswa.
b. Melibatkan keterampilan proses sains dalam mengkonstruksi konsep, prinsip
atau teori (mengamati, menanya, menalar, mengumpulkan informasi/
mencoba, mengasosiasi dan mengomunikasikan)
c. Melibatkan proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang
perkembangan intelektual, khususnya keterampilan berpikir tingkat tinggi
siswa.
d. Dapat mengembangkan karakter siswa (teliti, rasa ingin tahu, kerja keras,
pantang menyerah, komunikatif, dll.)
Tujuan Pendekatan Saintifik
a. Untuk meningkatkan kemampuan intelektual siswa, khususnya kemampuan
berpikir tingkat tinggi.
b. Untuk membentuk kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah secara
sistematis.
c. Terciptanya kondisi pembelajaran yang mendorong minat dan keinginan siswa
bahwa belajar merupakan kebutuhan.
d. Untuk melatih keterampilan proses ilmiah siswa (mengamati, menanya, menalar,
mengumpulkan informasi/mencoba, mengasosiasi dan mengomunikasikan).
e. Diperolehnya hasil belajar siswa yang tinggi
f. Untuk melatih siswa dalam mengomunikasikan ide-idenya.
g. Untuk mengembangkan karakter/ sikap ilmiah siswa (teliti, rasa ingin tahu, kerja
keras, pantang menyerah, komunikatif, dll.)
Prinsip Pendekatan Saintifik
a. Pembelajaran berpusat pada aktivitas siswa dalam mengamati, menanya, menalar,
mengumpulkan informasi/ mencoba, mengasosiasi dan mengomunikasikan.
b. Pembelajaran mengarah kepada penemuan dan pengembangan pengetahuan oleh
siswa dan terhindar dari verbalisme (transfer pengetahuan).
c. Pembelajaran mendorong terjadinya peningkatan kemampuan berpikir siswa
d. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih kemampuan keterampilan
proses ilmiah (mengamati, menanya, menalar, mengumpulkan informasi/
mencoba, mengasosiasi dan mengomunikasikan).
e. Adanya proses validasi terhadap konsep, prinsip atau teori yang dikonstruksi siswa
baik melalui penguatan oleh guru maupun siswa.
Prosedur implementasi pendekatan saintifik
berdasarkan Permendikbud Nomor 22 tahun 2016
a. Kegiatan Mengamati
b. Kegiatan Menanya
c. Kegiatan Mengumpulkan Informasi/Mencoba
d. Kegiatan Menalar/Mengasosiasikan
e. Kegiatan Mengkomunikasikan

Kelima kegiatan pokok (5M) di atas adalah aktivitas minimal, guru


dapat mengembangkannya sesuai kebutuhan
Hubungan antara 5M dengan Sintaks pada Pembelajaran Diskoveri dan Inkuiri
Kegiatan Pokok 5M

Kegiatan Pokok 5M Sintaks pada Pembelajaran Diskoveri


dan Inkuiri

Mengamati Stimulation (memberikan rangsangan)

Menanya Problem Statement (menyatakan


masalah)

Mengumpulkan Informasi Data Collection (mengumpulkan data)

Mengasosiasi Data Processing, Verification and


Generalization (memproses,
memverifikasi dan menyimpulkan data)
Mengkomunikasikan Disemination (mengomunikasikan)
Hubungan antara 5M dengan Sintaks pada Pembelajaran Berbasis
Masalah

Kegiatan Pokok 5M Sintaks pada Pembelajaran Berbasis


Masalah

Mengamati Problem Situation, Clarification of Concept


and Terms (orientasi masalah)
Menanya Problem Definition and Analysis
(mendefinisikan masalah)
Mengumpulkan Informasi Building Explanation (membimbing
penyelidikan individu)
Mengasosiasi Synthesis Explanation (membangun
penjelasan)
Mengkomunikasikan Presentation and Evaluation (menyajikan
hasil karya dan mengevaluasi kegiatan)
Hubungan antara 5M dengan Sintaks pada
Pembelajaran Berbasis Proyek

Kegiatan Pokok 5M Sintaks pada Pembelajaran


Berbasis Proyek

Mengamati Orientasi masalah

Menanya Penentuan pertanyaan mendasar

Mengumpulkan Informasi Menyusun perencanaan dan jadwal,


melaksanakan dan memonitor
proyek
Mengasosiasi Menguji hasil

Mengkomunikasikan Mengevaluasi pengalaman


Pendekatan saintifik berbasis penelitian dapat diterapkan pada
semua jenjang pendidikan. Jika guru khususnya guru SD mengalami
kesulitan untuk menerapkan pendekatan saintifik berbasis penelitian maka
guru dapat memilih pendekatan saintifik lainnya.
Dalam pembelajaran pada tingkat sekolah dasar, yang terpenting
adalah :
 Bagaimana melatih dan membiasakan siswa agar memiliki keterampilan
proses ilmiah (mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/ mencoba,
mengasosiasi dan mengomunikasikan), dan
 sikap ilmiah (teliti, terbuka, jujur, komunikatif, pantang menyerah, kerja
keras dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi) sehingga pada masa
mendatang,
Siswa diharapkan memiliki keterampilan proses dan sikap ilmiah
yang diharapkan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.
Prosedur penerapan pendekatan saintifik
dalam pembelajaran
a. Kenalilah kemampuan guru sendiri, karakteristik siswa, kompetensi dasar, mata
pelajaran yang terkait dengan tema, materi ajar dan bentuk pertanyaan siswa!
b. Pilihlah pendekatan saintifik yang akan diterapkan dalam pembelajaran sesuai
dengan karakteristik di atas (pendekatan saintifik berbasis penelitian atau
pendekatan saintifik dengan kegiatan 5M yang tidak terurut)!
c. Jika tidak memungkinkan untuk melaksanakan pendekatan saintifik berbasis
penelitian, maka terapkanlah pendekatan saintifik dengan kegiatan 5M yang
tidak terurut!
d. Kembangkanlah kelima kegiatan pokok pada pendekatan saintifik sesuai
dengan karakteristik di atas!
e. Kelima kegiatan pokok pada pendekatan saintifik dilakukan oleh siswa, guru
bertugas sebagai fasilitator agar kegiatan 5M berjalan dengan baik.
Pembelajaran Berbasis Proyek
Proses pembelajaran seyogyanya dapat menumbuhkan kreativitas,
keterampilan/ sikap, dan kemampuan bernalar siswa. Hal ini sesuai dengan
pernyataan pada Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar proses
yang dinyatakan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan
seyogyanya diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,
menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan
ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan
bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis siswa.
Pembelajaran ini mendorong siswa untuk berkarya baik secara individu
maupun secara kelompok.
Dengan demikian, dalam pembelajaran berbasis proyek, siswa aktif
menghasilkan karya bermakna sebagai solusi masalah nyata di sekitar siswa
dalam kehidupan sehari-harinya.
Pembelajaran berbasis proyek diawali dengan
masalah nyata di sekitar siswa untuk dipecahkan
melalui karya kreatif dan bermakna
Karakteristik pembelajaran berbasis proyek:
a. Adanya kerangka kerja
b. Adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada siswa
c. Hasil belajar siswa berupa solusi atas permasalahan atau tantangan yang
diajukan
d. Adanya kolaborasi yang bertanggungjawab untuk mengakses dan
mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan
e. Proses evaluasi dijalankan secara kontinyu
f. Proses refleksi dilakukan secara berkelanjutan atas aktivitas yang sudah
dijalankan
g. Produk akhir aktivitas belajar dievaluasi secara kualitatif
h. Situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan
Pembelajaran berbasis proyek dilaksanakan dengan tujuan:
a. Mengembangkan kreativitas siswa
b. Mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa
c. Mengembangkan sikap kerjasama, tanggung jawab dan saling
menghargai antarsiswa
d. Meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah
e. Mengembangkan keterampilan proses (mengamati, menanya,
menalar, mencoba dan mengomunikasikan) dan sikap ilmiah
siswa (rasa ingin tahu, jujur, terbuka, disiplin)
Prinsip-prinsip pembelajaran berbasis proyek:
a. Pembelajaran berpusat pada siswa yang melibatkan tugas-tugas
pada kehidupan nyata sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan
siswa
b. Tugas/ proyek menekankan pada kegiatan penyelidikan
berdasarkan suatu tema atau topik yang telah ditentukan dalam
pembelajaran
c. Penyelidikan atau eksperimen dilakukan secara otentik dan
menghasilkan produk nyata.
d. Produk, laporan atau hasil karya tersebut dikomunikasikan untuk
mendapat tanggapan dan umpan balik untuk perbaikan proyek
berikutnya.
Langkah-langkah pembelajaran berbasis proyek
menurut Permendikbud tentang Kurikulum 2013
Sekolah Dasar:
Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)

a. Model Pembelajaran Berbasis Proyek Menurut Keser & Karagoca (2010)

Penyusuna
Perancang Penyelesai n laporan
Penyusunan an proyek dan
Penentuan an jadwal
Langkah- dengan presentasi
proyek pelaksanaan
langkah proyek fasilitasi hasil
penyelesai dan proyek
an proyek monitoring
guru

Evaluasi Proses
dan hasil proyek
Berdasarkan bagan di atas, kegiatan yang harus dilakukan pada setiap langkah
pembelajaran berbasis proyek adalah sebagai berikut:

Penyelesaian proyek dengan


Penentuan proyek fasilitasi dan monitoring guru
Siswa menentukan tema atau topik Aktivitas yang dapat dilakukan dalam
01 proyek secara individu ataupun 04 kegiatan proyek di antaranya adalah
dengan (1) membaca; (2) meneliti; (3)
kelompok
observasi; (4) interviu; (5) merekam; (6)
Perancangan langkah- berkarya seni; (7) mengunjungi objek
proyek; atau (8) akses internet.
langkah penyelesaian proyek
Penyusunan laporan dan
02 Siswa merancang langkah-langkah 05 presentasi/ publikasi hasil proyek
kegiatan penyelesaian proyek dari
Hasil proyek berupa produk karya tulis,
awal sampai akhir beserta
karya seni, atau karya teknologi. Presentasi
pengelolaannya. dalam bentuk pameran produk
pembelajaran
Penyusunan jadwal
03 pelaksanaan proyek 06 Evaluasi proses dan hasil
proyek
Siswa menjadwalkan kegiatan Siswa diberikan kesempatan
proyek (berapa lamaP) mengemukakan pengalamannya dan
dilakukan umpan balik
b Model Pembelajaran Berbasis Proyek Menurut Sungkono (2012)

Menetapkan tema proyek


(sesuai dengan materi atau
tema yang sudah dipelajari)

Merencanakan aktivitas
(project planning)

Memproses aktivitas
(project pre-actuating)
Penerapan aktivitas untuk
menyelesaikan proyek
(project actuating)
Mendemonstrasikan proyek
(project demonstration &
disemination)

Menyempurnakan produk
(reflection and evaluation)

Menyusun laporan
(project report)
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menerapkan pembelajaran berbasis proyek
adalah sebagai berikut:
a. Pembelajaran berbasis proyek dilaksanakan setiap berakhir satu tema pembelajaran
dengan rentang waktu paling lama satu minggu tentang tema yang telah dipelajari
sebelum masuk ke tema berikutnya.
b. Pembelajaran berbasis proyek yang dilaksanakan tanpa mengganggu kegiatan
pembelajaran pada tema berikutnya.
c. Dalam menerapkan model pembelajaran berbasis proyek hendaknya sesuai dengan tema
dan diawali dengan pengajuan masalah dari siswa atau guru untuk dipecahkan oleh siswa
melalui pembelajaran berbasis proyek.
d. Topik proyek yang akan dipilih siswa dalam pembelajaran berbasis proyek hendaknya
beragam (variatif) sehingga karya siswa yang dihasikan juga beragam (variatif)
e. Karya yang dihasilkan oleh siswa melalui pembelajaran berbasis proyek adalah karya
berbasis masalah yang bermakna sebagai pemecahan masalah yang muncul sesuai topik
yang dipilih siswa.
f. Pembelajaran berbasis proyek memerlukan banyak waktu dan peralatan yang harus
disediakan untuk menyelesaikan permasalahan yang kompleks. Untuk itu
direkomendasikan menggunakan team teaching dalam proses pembelajaran.
g. Dalam pembelajaran berbasis proyek, kondisikan suasana belajar supaya menyenangkan
dan tidak monoton.
c. Model Pembelajaran Berbasis Proyek Menurut
Iriawan (2014)

1. PENENTUAN PERTANYAAN/ 5. PELAKSANAAN DAN


MASALAH MENDASAR PELAPORAN PROGRES PROYEK

2. PENENTUAN TOPIK-TOPIK PROYEK 6. PENYUSUNAN LAPORAN


PROYEK

3. PEMILIHAN TOPIK PROYEK 7. PENILAIAN PROYEK DAN


PRODUK SISWA

4. PERENCANAAN DAN PENYUSUNAN JADWAL 8. PAMERAN PROYEK DAN PRODUK


PROYEK SISWA

9. REFLEKSI KEGIATAN PROYEK


3. Pembelajaran dengan
Pendekatan
Konstruktivisme
Definisi
Pendekatan pembelajaran konstruktivisme adalah salah satu pendekatan
yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach)


karena menekankan pada kegiatan siswa. Pendekatan konstruktivisme
adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan pada
pengetahun awal siswa sebagai tolak ukur dalam belajar. Pendekatan
konstruktivisme menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan

belajar adalah aktivitas siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya
sendiri. Segala sesuatu seperti bahan, media, peralatan, lingkungan dan
fasilitas lainnya disediakan untuk membantu pembentukan tersebut.
Prinsip tentang belajar dan mengajar yang merupakan dasar bagi pendekatan-
pendekatan berbasis konstruktivisme (Widodo : 2010

01 pembelajar telah memiliki pengetahuan


awal.

belajar merupakan proses pengkonstruksian


02 suatu pengatahuan berdasarkan pengatahuan
yang telah dimiliki.

03 belajar adalah perubahan konsepsi


pembelajar

04 proses pengkonstruksian pengetahuan


berlangsung dalam suatu konteks sosial tertentu.

05 pembelajar bertanggung jawab terhadap proses


belajarnya
Menurut Driver & Leaach, ciri-ciri pembelajaran dengan pendekatan
konstruktivisme adalah sebagai berikut:

01 Beranjak dari pengetahuan

02 siswa (prior knowledge)

03 Memberikan pengalaman langsung (experimence)


melalui aktivitas hands-on dan mind-on

04 Mengaktifkan interaksi sosial (social interaktions)


dan konteks natural &cultural yang cocok dengan
kehidupan siswa

05 Pencapaian kepahaman (sense making); dengan


terjadinya perubahan konseptual pada diri siswa.
Implikasi dari pendekatan belajar konstruktivisme dalam
pembelajaran meliputi empat tahapan yaitu,

Pemberian Pencapaian
pengalaman langsung kepahaman siswa

1 2 3 4
Eksplorasi Mengaktifkan interaksi
pengetahuan awal sosial
siswa
Kelebihan dan Kelemahan
Pembelajaran diperoleh Memerlukan waktu yang
siswa melalui cukup bagi setiap siswa
pengalaman langsung untuk membangun
pengetahuannya sendiri.
Pendekatan
konstruktivisme dapat Memerlukan latihan agar
diterapkan untuk siswa terbiasa belajar
berbagai macam materi dengan pendekatan
ajar, tersebut.

Dapat diterapkan untuk Pendekatan konstruktivisme


semua jenjang yang diterapkan harus sesuai
pendidikan atau dalam dengan pembahasan materi
pelatihan diorganisasi. ajar yang harus dipilih
dengan sebaik-baiknya
Pendekatan
konstruktivisme membuat Memerlukan format
pembelajaran lebih penilaian yang berbeda.
bermakna,
4. Pembelajaran
dengan Pendekatan
Berbasis Masalah
Definisi
Problem solving menuntut mahasiswa secara individual mencari jawaban
dari serangkaian pertanyaan berdasarkan informais yang diberikan dosen.


Dipihak lain PBL mengarahkan mahasiswa dalam kelompok-kelompok kecil

untuk mencari situasi masalah dan melalui pencarian ini diharapkan dapat
menguji kesenjangan dalam pengetahuan dan keterampilan mereka untuk
menentukan informasi mana yang perlu mereka peroleh untuk
menyelesaikan masalah dan mengolah situasi yang ada.
Hal tersebut sesuai dengan karakteristik PBL (Barrows dan Tamblyn, 1980) di
antaranya yaitu:

01 kompleks, dalam mengorganisasikan fokus


pembelajaran tidak ada satu jawaban yang “benar”
seperti keadaan nyata dalam kehidupan.

mahasiswa bekerja dalam kelompok-kelompok dalam


02 memecahkan masalah, mengidentifikasi kesenjangan
dalam pembelajaran, dan mengembangkan pemecahan
yang mungkin.

03 mahasiswa mengumpulkan informasi baru melalui


pembelajaran yang diarahkannya sendiri (self-directed
learning).

04 dosen hanya berperan sebagai fasilitator

05 permasalahan diarahkan untuk mengembangkan


kemampuan pemecahan masalah dalam
profesinya.
Kelebihan
mengakui pengalaman lebih berfokus pada
dasar siswa perolehan proses
daripada hasil

menekankan pada
pertanggungjawaban perubahan peran guru
siswa sendiri terhadap dari instruktur menjadi
pembelajaran mereka fasilitator

bersifat lintas disiplin perubahan pola asesmen


sendiri (self-assessment) dan
asesmen rekan sebaya (peer
assessment)

memadukan teori dan berfokus pada keterampilan


praktik berkomunikasi interpersonal yang
meyakinkan siswa saling
menghubungkan pengetahuan yang
mereka miliki
Untuk mencapai pembelajaran efektif tersebut maka beberapa saran berikut
nampaknya penting untuk diperhatikan:
(1) Tingkatkan sensitivitas bahwa siswa terlibat secara aktif dalam setting belajar yang
dikembangkan
(2) Ciptakan problem solving interaktif yang mengarah pada proses belajar
(3) Sajikan soal-soal yang bersifat menantang
(4) Gunakan ongoing assessment untuk memonitor pembelajaran
(5) Ciptakan kesempatan bagi siswa untuk menampilkan kemampuan berfikir tingkat
ttingginya
(6) Beri dorongan serta kesempatan bagi siswa untuk menampilkan kemampuan
berbagai solusi serta strategi berbeda pada penyelesaian suatu masalah
(7) Tingkatkan komunikasi, yakni dengan mendorong siswa untuk memberikan
penjelasan serta jastifikasi pemikiran mereka
(8) Gunakan berbagai variasi strategi mengajar dan belajar
(9) Upayakan untuk menelusuri hal-hal yang belum diketahui siswa sehingga guru
mampu membantu proses peningkatan potensial mereka.
Menurut Bae (2009) terdapat tujuh sintak dalam melakukan pembelajaran
berbasis masalah ini yaitu dengan memulainya secara bertahap

1. munculnya situasi masalah


5. membangun penjelasan

2. mengklarifikasi konsep dan informasi 6. kemandirian belajar yang dilakukan


yang terlibat dengan masalah oleh siswa menggunakan sumber belajar
internet
7. membuat penjelasan terhadap
3. PEMILIHAN TOPIK PROYEK
masalah dan alternatif solusinya.

4. mendefinisikan masalah
Pembelajaran Berbasis Penemuan (Discovery)

Pembelajaran discovery adalah proses


pembelajaran yang terjadi bila siswa
tidak disajikan materi ajar dalam bentuk
finalnya, tetapi diharapkan
mengorganisasi sendiri.
Berawal dari konsep Bruner tentang Discovery
Learning
Discovery Learning adalah memahami konsep, arti, dan
hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai
kepada suatu kesimpulan (Budiningsih, 2005: 43).

Discovery
dilakukan melalui :
1. Observasi Keseluruhan
2. Klasifikasi proses ini
3. Pengukuran juga disebut
4. Prediksi Cognitive
Process
5. Penentuan
6. inferi
Tahap perkembangan kognitif menurut Bruner:
• Tahap enaktive
seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upaya untuk
memahami lingkungan sekitarnya
• Tahap iconic
seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui
gambar-gambar dan visualisasi verbal.
• Tahap symbolic
seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan-
gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh
kemampuannya dalam berbahasa dan logika.
Manfaat dari penerapan Discovery Leraning dalam
pembelajaran :

• Dapat meningkatkan kemampuan penemuan diri individu yang


bersangkutan
• Mengubah kondisi belajar yang pasif menjadi aktif dan kreatif.
• Mengubah pembelajaran yang teacher oriented ke student
oriented.
• Mengubah modus Ekspositori siswa hanya menerima informasi
secara keseluruhan dari guru ke modus Discovery siswa
menemukan informasi sendiri.
Kelebihan penerapan Discovery Learning untuk dilaksanakan
di kelas adalah:

• Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan


keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif.
• Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik.
• Mendorong siswa berpikir dan bekerja mandiri
• Menimbulkan rasa senang pada siswa, karena tumbuhnya rasa
menyelidiki dan mencapai keberhasilan.
• Metode ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat
dan sesuai dengan kecepatannya sendiri.
• Menyebabkan siswa mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri
dengan melibatkan imajinasi dan motivasi sendiri.
Kelemahan penerapan Discovery Learning dalam pembelajaran di
kelas adalah:

• Metode ini menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan siswa untuk


belajar. Bagi siswa yang kurang pandai, akan sulit menghubungkan
konsep
• Metode ini tidak efisien untuk mengajar jumlah siswa yang banyak
• Tujuan sulit tercapai bila berhadapan dengan siswa yang sudah biasa
mendapat cara mengajar lama
• Pengajaran discovery lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman,
sedangkan pengembangan aspek konsep, keterampilan dan emosi
secara keseluruhan kurang mendapat perhatian.
• Pada beberapa muatan pelajaran misalnya IPA kurang fasilitas untuk
mengukur gagasan yang dikemukakan oleh para siswa.
Langkah-Langkah Mengaplikasikan
Model Discovery Leraning :
LANGKAH PERSIAPAN LANGKAH PELAKSANAAN :
1. Menentukan tujuan 1. Stimulation ( Pemberian
pembelajaran. Stimulus)
2. Melakukan identifikasi 2. Problem Statement (
karakteristik siswa Identifikasi Masalah)
3. Memilih materi pelajaran.
3. Data Collection
4. Menentukan topik-topik yang (Pengumpulan Data)
harus dipelajari siswa secara
induktif 4. Data Processing
(Pengelolaan Data)
5. Mengembangkan bahan-bahan
belajar yang berupa contoh/ilustrasi 5. Vertification (Pembuktian)
6. Mengatur topik pembelajaran dari 6. Generalization (Menarik
sederhana ke komplek Kesimpulan)
7. Melakukan evaluasi belajar siswa
Pembelajaran Dengan Pendekatan
Kontekstual
Pembelajaran Kontekstual adalah suatu
pembelajaran yang membangun hubungan
antara pengetahuan yang dimiliki siswa
dengan penerapannya dalam kehidupan
keseharian mereka.
Menurut Muslich (2007: 42), karakteristik pendekatan
kontekstual sebagai berikut:

• Pembelajaran autentik (learning in real life setting).


• Pembelajaran bermakna (meaningfull learning).
• Pembelajaran memberikan pengalaman (learning by doing).
• Pembelajaran dengan kerjasama (learning in a group).
• Pembelajaran memahami antara satu dengan yang lain secara
mendalam (learning to know each other deeply).
• Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, produktif, dan
mementingkan kerja sama (learning to ask, to inquiry, to work
together).
7 Kompenen utama pendekatan kontekstual menurut
Muslich (2009: 43)
1. constructivism (konstruktivisme, membangun,
membentuk)
2. questioning (bertanya)
3. inquiry (menyelidiki, menemukan)
4. learning community (masyarakat belajar)
5. modelling (pemodelan)
6. reflection (refleksi atau umpan balik)
7. authentic assessment (Penilaian Sebenarnya)
Kelebihan dan Kekurangan pendekatan kontekstual menurut Sutardi &
Sudirjo (2007: 96) yaitu:
Kelebihan :
a. Real world learning (belajar dunia nyata)
b. Mengutamakan pengalaman nyata yang erat dengan pengalaman sesungguhnya atau
realita.
c. Berpikir tingkat tinggi, sebagai proses dari diskoveri, pemecahan masalah, dan inkuiri.
d. Berpusat pada siswa, merupakan hakikat kontekstual yang menekankan kepada proses
keterlibatan siswa.
Sedangkan Kelemahannya adalah :
a. Bagi guru kelas, guru harus memiliki kemampuan mendalam tentang: konsep, prinsip-
prinsip, potensi perbedaan individual siswa di kelas, sarana belajar.
b. Bagi siswa, diperlukan inisiatif, kreativitas dalam belajar, memiliki tanggung jawab
menyelesaikan tugas.
a. Siswa dikelompokkan kedalam beberapa kelompok yang disebut
kelompok asal
Langkah-
b. Setiap orang dalam kelompok diberi bagian materi yang berbeda
langkah model
c. Setiap orang dalam kelompok diberi bagian materi yang berbeda
jigsaw yang telah
d. Setiap orang dalam kelompok diberi bagian materi yang ditugaskan
dikaji secara
e. Anggota dari kelompok yang berbeda yang telah mempelajari bagian
ilmiah oleh materi /sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru yang disebut
Aronson, Blaney, kelompok ahli untuk mendiskusikan bagian materi mereka

Stephen, Sikes f. Setelah selesai diskusi sebagai kelompok ahli, setiap anggota kembali
ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu kelompok
dan Snapp mereka tentang bagian materi yang mereka kuasai dan anggota lainnya
mendengarkan dengan sungguh-sungguh
(1978) dan
g. Setiap kelompok ahli mempresentasikan hasil diskusi tentang bagian
dikenal materi yang mereka kuasai
dengan model h. Guru bersama siswa menyimpulkan materi secara umum
tim ahli i. Guru menutup pembelajaran
a. Model Pembelajaran Kooperatif tipe Make a Match

Berikut b. Model Pembelajaran Kooperatif tipe Snowball Throwing

merupakan c. Model Pembelajaran Kooperatif tipe Snowballing

beberapa tipe d. Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT)

dari model e. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share

f. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation


pembelajara
g. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Creative Problem Solving
n kooperatif h. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Talk Write
yang telah dikaji
i. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay-Two Stray
secara ilmiah
j. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Game Tornament (TGT)
oleh
k. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualy
penemunya.
l. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Role Playing

m.Model Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC


Langkah- 1) Guru menyiapkan beberapa kartu yang
berisi beberapa konsep atau topik yang
Langkah cocok untuk sesi review, satu bagian kartu
soal dan bagian lainnya kartu jawaban.

Model 2) Setiap siswa mendapat satu kartu.


3) Setiap siswa memikirkan jawaban/ soal dari
kartu yang dipegang.
Pembelaja 4) Setiap siswa mencari pasangan yang
mempunyai kartu yang cocok dengan

ran kartunya (soal jawaban).


5) Setiap siswa yang dapat mencocokkan
kartunya sebelum batas waktu diberi poin.
Kooperatif 6) Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar
setiap siswa mendapat kartu yang berbeda

tipe Make dari sebelumnya.


7) Kesimpulan/ penutup.

a Match
Menurut Suprijono (2009:128) dan Saminanto (2010:37),
langkah–langkah pembelajaran Snowball Throwing adalah
sebagai berikut:

1) Guru menyampaikan materi yang akan disajikan, dan


Model Kompetensi dasar yang ingin dicapai.
2) Guru membentuk siswa berkelompok, lalu memanggil masing-
masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang
materi.

Pembelajaran 3) Masing–masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya,


kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru
kepada teman- temannya.
4) Kemudian masing–masing siswa diberikan satu lembar kertas

Kooperatif kerja, untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang


menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua
kelompok.
5) Kemudian kertas yang berisi pertanyaan tersebut dibuat

tipe Snowball seperti bola dan dilemparkan dari siswa ke siswa yang lainnya
selama kurang lebih 5 menit.
6) Setelah siswa dapat satu bola berate mendapat satu
pertanyaan maka siswa tersebut harus menjawab pertanyaan

Throwing yang tertulis dalam kertas yang berbentuk bola tersebut secara
bergantian.
7) Evaluasi
8) Penutup
atau langkah-langkah pembelajaran
dengan menerapkan model
Model pembelajaran kooperatif tipe
snowballing ini sebagai berikut:
Pembelajar 1) Kemukakan sebuah masalah
2) Mintalah setiap siswa untuk berpendapat
an 3) Setelah semua menjawab, minta kembali
kepada siswa untuk berpasangan (setiap

Kooperatif pasangan terdiri atas dua orang). Satu sama


lain saling
membahasnya.
bertukar jawaban dan

tipe 4) Apabila setiap pasangan selesai membahas,


mintalah tiap-tiap pasangan itu untuk
mendiskusikannya dengan pasangan yang
Snowballin lain. Demikian seterusnya sampai terbentuk
dua kelompok besar dalam satu kelas.

g 5) Setelah terbentuk dua kelompok besar,


mintalah kepada kedua kelompok itu untuk
mempresentasikan hasil diskusi mereka.
NHT adalah salah satu tipe dari
pembelajaran koperatif dengan
Pembelajaran langkahlangkah sebagai berikut:
Kooperatif 1) Pengarahan
2) Pembentukan kelompok heterogen
Tipe 3) Pemberian nomor untuk setiap siswa
4) Pemberian persoalan materi bahan ajar (untuk
Numbered tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa tidak
sama sesuai dengan nomor siswa, tiap siswa
Head dengan nomor sama mendapat tugas yang
sama)

Together 5)
6)
Pelaksanaan kerja kelompok
Presentasi kelompok dengan nomor siswa yang
sama sesuai tugas masingmasing sehingga
(NHT) terjadi diskusi kelas
7) Pelaksanaan kuis individual dan buat skor
perkembangan tiap siswa
8) Pengumuman hasil kuis
9) Pemberian reward
tergolong tipe koperatif
Model dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
Pembelajaran
1) Guru menyajikan materi klasikal
Kooperatif 2) Guru memberikan persoalan kepada
siswa dan siswa bekerja kelompok
Tipe dengan cara berpasangan sebangku-
sebangku (think-pairs)
Think Pair 3) Presentasi kelompok (share)
4) Pelaksanaan kuis individual dan
Share membuat skor perkembangan tiap
siswa
5) Pengumuman hasil kuis dan
pemberian reward.
Model koperatif tipe GI terdiri dari
langkah-langkah pembelajaran
Model sebagai berikut:
Pembelajaran 1) Pengarahan

Kooperatif 2) Pembentukan kelompok heterogen dengan


orientasi tugas

Tipe 3) Perencanaan pelaksanaan investigasi


4) Pelaksanaan investigasi proyek tertentu (bisa
di luar kelas, misal mengukur tinggi pohon,
Group mendata banyak dan jenis kendaraan di
dalam sekolah, jenis dagangan dan
Investigation keuntungan di kantin sekolah, banyak guru
dan staf sekolah)
5) Pengolahan data dan penyajian data hasil
investigasi
6) Pelaksanaan presentasi
7) Pelaksanaan kuis individual dan pembuatan
skor perkembangan siswa
8) Pengumuman hasil kuis dan pemberian
reward.
Model Model pembelajaran ini adalah
variasi dari pembelajaran dengan
Pembelajaran pemecahan masalah dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
Kooperatif
Tipe 1) Pembentukan kelompok heterogen
2) Memunculkan fakta aktual sesuai
Creative dengan materi bahan ajar melalui tanya
jawab lisan
Problem 3) Identifikasi permasalahan dan memilih
fokus secara kelompok.
Solving 4) Mengolah pikiran sehingga muncul
gagasan orisinil untuk menentukan
solusi
5) Presentasi dan diskusi kelompok
6) Pemberian reward
Model pembelajaran ini terdiri
Model dari langkah-langkah
pembelajaran sebagai berikut:
Pembelajara
1) Pengelompokan secara heterogen
n Kooperatif 2) Pembelajaran ini dimulai dengan
berpikir melalui bahan bacaan
Tipe (menyimak, mengkritisi, dan
memikirkan alternatif solusi) secara
Think Talk berkelompok
3) Hasil bacaannya dikomunikasikan
Write dengan
kelompok
presentasi dan diskusi

4) Kemudian membuat laporan hasil


diskusi
5) Pemberian reward.
Pembelajaran model ini terdiri
dari langkah-langkah
Model pembelajaran sebagai berikut:
Pembelajara 1) Pengarahan
2) Pembentukan kelompok heterogen
n Kooperatif 3)
4)
Pelaksanaan kerja kelompok
Dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua
Tipe siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk
menerima dua orang dari kelompok lain
kemudian dua siswa yang bertamu kembali
Two Stay- ke kelompok asal.
5) Pelaksanaan kerja kelompok untuk
Two Stray menyempurnakan hasil kerja
6) Presentasi kelompok
7) Pemberian reward.
Model pembelajaran ini terdiri
dari langkah-langkah
Model pembelajaran sebagai berikut:
1) Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi

Pembelajara 2)
pokok materi dan mekanisme kegiatan.

Siapkan meja turnamen secukupnya, misalnya 10 meja dan untuk tiap

n Kooperatif meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara, meja ke-1 diisi
oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya
sampai meja ke-10 ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah.

Tipe 3) Selanjutnya adalah pelaksanaan turnamen, setiap siswa mengambil


kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya

Team Game untuk jangka waktu tertentu (misal 3 menit). Siswa pada tiap meja
turnamen sesuai dengan skor yang diperolehnya diberikan sebutan
(gelar) superior, very good, good, medium.

Tornament 4) Bumping, pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketiga-
keempat dst.), dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja
turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi, siswa superior dalam

(TGT) kelompok meja turnamen yang sama, begitu pula untuk meja
turnamen yang lainnya diisi oleh siswa dengan gelar yang sama

5) Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor
individual, berikan penghargaan kelompok dan individual.
dalam Kelompok (Bidak) dengan
karateristik bahwa tanggung jawab
Model belajar adalah pada siswa. Model
pembelajaran ini terdiri dari langkah-
Pembelajara langkah pembelajaran sebagai
berikut (Slavin, 1985):
n Kooperatif
Tipe 1) Buat kelompok heterogen dan berikan
bahan ajar berupak modul

Team 2) Siswa belajar kelompok dengan


dibantu oleh siswa pandai anggota
kelompok secara individual
Assisted 3) Saling tukar jawaban, saling berbagi
sehingga terjadi diskusi
Individualy 4) Penghargaan kelompok dan refleksi
serta tes formatif.
Model pembelajaran ini terdiri
dari langkah-langkah
Model pembelajaran sebagai berikut:
Pembelajara 1) Guru menyiapkan skenario pembelajaran
2) Guru menunjuk beberapa siswa untuk

n Kooperatif mempelajari skenario tersebut


3) Pembentukan kelompok siswa

Tipe 4) Penyampaian kompetensi


5) Guru menunjuk siswa untuk melakonkan
skenario yang telah dipelajarinya
Role Playing 6) Kelompok siswa membahas peran yang
dilakukan oleh pelakon
7) Presentasi hasil kerja kelompok
8) Kesimpulan dan refleksi
dari empat kata yaitu Cooperative
Integrated Reading Composition dengan
langkah-langkah pembelajaran sebagai
berikut:
1) Membentuk kelompok yang anggotanya 4
orang yang secara heterogen
2) Guru memberikan wacana/kliping sesuai
Model dengan topik pembelajaran
3) Siswa bekerja sama saling membacakan dan
Pembelajara menemukan ide pokok dan memberi
tanggapan terhadap wacana/kliping dan

n Kooperatif ditulis pada lembar kertas


4) Mempresentasikan/membacakan hasil
kelompok
Tipe 5) Guru membuat kesimpulan bersama
6) Penutup
CIRC
Pendekatan kuantum atau disebut juga dengan
Quantum Teaching and Learning merupakan
cara pandang masyarakat belajar bahwa belajar
itu harus berenergi dan membangkitkan
motovasi atau energi positif siswa untuk
berinteraksi dengan guru,
modelsiswa laintermasuk
dan
Pembelajaran Segala metode,
sumber
strategi, dan juga
segala hal yang dilakukan yang meliputi belajar. interaksi
dengan antara guru dan siswa, kurikulum, dan lain
sebagainya yang ada dalam pembelajaran dibangun
Pendekatan atas dasar prinsip “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia
Pendekatan pembelajaran kuantum memiliki prinsip-prinsip dasar
Kuantum Kitaberikut:
sebagai dan Antarkan Dunia Mereka ke Dunia Kita”.
a. Segalanya berbicara
b. Segalanya bertujuan
c. Pengalaman sebelum pemberian nama
d. Akui setiap usaha
e. Jika layak dipelajarai maka layak pula dirayakan
proses belajar yang melibatkan proses fisik dan
mental siswa melalui kegiatan mengamati,
menanya, menduga, mencoba, mengeksplorasi,
mengukur, menyimpulkan, mengomunikasikan,
dll. dengan tujuan:
a. Meningkatkan partisipasi aktif siswa dalam
pembelajaran
b. Meningkatkan interaksi sosial antara siswa
Pembelajaran dengan lingkungan sekitarnya
Berbasis c. Mendorong siswa untuk dapat menemukan
dan menyelidiki sendiri konsep yang dipejari
Aktivitas agar mudah diingat
d. Membantu siswa membentuk cara kerja
bersama yang efektif, saling berbagi
informasi, serta mendengar dan
menggunakan ide-ide siswa lain
e. Melatih siswa belajar berpikir analitis dan
Manfaat pembelajaran berbasis aktivitas bagi siswa adalah sebagai berikut:

a. Siswa aktif dalam kegiatan belajar, sebab ia berpikir dan menggunakan


kemampuan untuk menemukan hasil akhir. Prinsip-prinsip pembelajaran berbasis aktivitas terdiri dari:
a. Somatis yaitu siswa mengalami aktivitas fisik yang
b. Siswa memahami benar bahan pelajaran, sebab mengalami sendiri proses memungkinkan siswa berinteraksi dengan siswa lain
menemukannya. Sesuatu yang diperoleh dengan cara ini lebih lama diingat. secara berpasangan atau kelompok.
b. Auditori yaitu siswa dimungkinkan untuk mendengar
c. Siswa menemukan sendiri konsep, prinsip atau teori yang dapat menimbulkan rasa
secara aktif dari berbagai sumber informasi.
puas. Kepuasan batin ini mendorong ingin melakukan penemuan lagi sehingga
minat belajarnya meningkat. c. Visual yaitu siswa dimungkinkan untuk melakukan
pengamatan gambar atau lingkungan sekitar.
d. Siswa yang memperoleh pengetahuan dengan metode penemuan akan lebih
d. Intelektual yaitu siswa dimungkinkan untuk melakukan
mampu mentransfer pengetahuannya kepada berbagai konteks. proses berpikir.

e. Kegiatan ini melatih siswa untuk lebih banyak belajar mandiri dan bertanggung
jawab.
Karakteris
tik
a. Interaktif dan inspiratif

pembelaja b. Menyenangkan, menantang, dan memotivasi


siswa untuk berpartisipasi aktif

ran c. Kontekstual dan kolaboratif


d. Memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas, dan kemandirian siswa
berbasis e. Sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan
perkembangan fisik serta psikologis siswa

aktivitas
terdiri
dari: