Anda di halaman 1dari 26

SALPINGITIS

DR. H. FAUZI MARIDIN . SPOG


DEFINISI

 Salpingitis adalah infeksi atau peradangan


pada saluran tuba.
 Apabila tidak ditangani maka infeksi ini akan
menyebabkan kerusakan pada tuba fallopi
secara permanen yang menyebabkan sel
telur yang dikeluarkan dari ovarium tidak
dapat bertemu dengan sperma sehingga
dapat menyebabkan infertilitas.
EPIDEMIOLOGI

 Lebih dari 1 juta kasus salpingitis aku dilaporkan


setiap tahun di AS, namun jumlah insiden ini
mungkin lebih besar.
 Bagi wanita berusia 16-25 tahun, salpingitis adalah
infeksi serius yang paling umum. Ini
mempengaruhi sekitar 11% dari wanita usia
reproduktif. Salpingitis memiliki insiden yang
lebih tinggi di antara anggota kelas-kelas sosial
ekonomi rendah.
KLASIFIKASI
Ada 2 jenis salpingitis:
1. Salpingitis akut
Pada salpingitis akut, tuba fallopi menjadi merah
dang bengkak, dan mengeluarkan cairan berlebih
sehingga dalam dinding tuba sering terjadinya
perlengketan.
2. Salpingitis kronis
Salpingitis kronis biasanya berasal dari
salpingitis akut. Salpingitis kronis apabila infeksi
sudah berat atau meluas, bertahan lama dan
mungkin saja gejala sudah terasa tidak
mengganggu.
ETIOLOGI

 Disebabkan oleh bakteri penginfeksi seperti


Mycoplasma, Staphylococcus, dan Streptococcus.
 Salpingiitis bisa juga disebabkan penyakit menular
seksual seperti Gonorrhea, Chlamydia, infeksi
puerperal dan post abortus
 Bisa timbul radang adneksa seperti akibat
tindakan (curetase, laparotomi, pemasangan IUD,
dsb) dan perluasan radang dari alat yang letaknya
tidak jauh seperti appendiks.
GEJALA
 Nyeri abdomen di kedua sisi
 Perdarahan pervaginam
 Menggigil dan demam
 Anoreksia, nause dan vomitus berkaitan dengan
iritasi peritoneum
 Disuria dan sering kencing menunjukkan adanya
berkaitan dengan uretritis dan sistitis
 Dismenorea
 Nyeri saat ovulasi
 Pada periksa dalam nyeri kalau portio digoyangkan,
nyeri kiri dan kanan uterus, kadang-kadang ada
penebalan dari tuba
DIAGNOSIS
PEMERIKSAAN FISIK

 Pemeriksaan umum:
suhu biasanya meningkat, tekanan darah normal,
denyut nadi cepat
 Pemeruksaan abdomen:
nyeri maksimum pada kedua kuadran bawah .
Nyeri lepas, ragiditas otot, defance muscular,
bising usus menurun dan distensi merupakan
tanda peradangan peritoneum
 Pada pemeriksaan dengan spekulum , sekret
purulan akan terlihat keluar dari ostium uteri.
Serviks sangat nyeri bila digerakkan.
PEMERIKSAAN PENUNJANG

 Hitung darah lengkap dan apusan darah: biasanya


leukosit cenderung meningkat sampai 20.000.
 Laparoskopi untuk melihat langsung gambaran
tuba fallopi
PENATALAKSANAAN

1. Pemberian antibiotik
2. Tindakan bedah
 Pembedahan pada penderita salpingitis dilakukan
jika pengobatan dengan antibiotik menyebabkan
terjadinya resistensi pada bakteri
 Histerektomi dan bilateral salpingooforektomi
mungkin diperlukan untuk infeksi berat
KOMPLIKASI

 Ooferitis
 Peritonitis
 Infertilitas diamasa depan
 Keghamilan ektopik akibat kerusakan tuba
PARAMETRITIS
DEFINISI

Parametritis adalah radang dari jaringan


longgar di dalam lig.latum. Radang ini
biasanya unilatelar
ETIOLOGI

Parametritis dapat terjadi:


1. Dari endometritis dengan 3 cara :
- Per continuitatum : endometritis → metritis →
parametitis.
- Lymphogen.
- Haematogen : phlebitis → periphlebitis →
parametritis
2. Dari robekan serviks
3. Perforasi uterus oleh alat-alat ( sonde, kuret, IUD)
PATOFISIOLOGI

Endometritis → Infeksi meluas → Lewat


jalan limfe atau tromboflebitis → Infeksi
menyebar ke miometrium → Miometritis →
Infeksi meluas lewat jalan
limfe/tromboflebitis → Parametritis
TANDA DAN GEJALA

 Suhu tinggi dengan demam tinggi


 Penderita tampak sakit, nadi cepat, dan
perut nyeri.
 Nyeri unilateral tanpa gejala rangsangan
peritoneum, seperti muntah
DIAGNOSIS

Dalam minggu pertama biasanya gejala-


gejala setempat belum menunjukkan dengan
nyata adanya perluasan infeksi ; yang lebih
penting ialah gejala umum. Seorang
penderita dengan infeksi yang meluas diluar
porte d’entrée tampaknya sakit, suhu
meningkat dengan kadang-kadang disertai
menggigil, nadi cepat, keluhannya juga lebih
banyak.
KOMPLIKASI

 Parametritis akut dapat menajdi kronis


dengan eksaserbasi yang akut, terjadi
peritenitis ke rectum
 Dapat terjadi tromboflebitis
 Dapat timbul abses dalam parametrium
PENATALAKSANAAN

 Pemberian antibiotik
 Pemeriksaan dalam untuk mengetahui
adanya benjolan atau tumor di sebelah
uterus
 Perhatikan diet
PELVIOPERITONITIS
DEFINISI

Pelveoperitonitis adalah peradangan pada


peritonium yang merupakan pembungkus
visera hanya dlaam rongga perut
ETIOLOGI

 Penyakit infeksi dari organ perut yang terinfeksi


 Penyakit radang panggul pada wanita yang masih
aktif melakukan kegiatan seksual
 Infeksi dari rahim dan telur
 Kelainan hati atau gagal jantung, dimana cairan
bisa berkumpul di perut (asites) dan mengalami
infeksi
 Dialisa peritoneal (pengobatan gagal ginjal) infeksi
pada pipa saluran yang ditempatkan didalam perut
PATOFISIOLOGI

Reaksi awal peritoneum terhadap invasi


bakteri adalah keluarnya abses nanah
diantara perlekatan fibrinosa, yang
menempel menjadi satu dengan permukaan
sekitarnya sehingga membatasi infeksi
GEJALA

 Demam
 Nyeri perut bagian bawah tetapi keadaan
umum tetap baik
 Kavum douglasi menonjol karena adanya
abses
DIAGNOSIS
 Diagnosis dari peritonitis dapat ditegakkan dengan
adanya:
1. Pemeriksaan laboratorium
Ditemukan adanya lekositosis, hematokrit yang
meningkat dan asidosis metabolik
2. Pemeriksaan X-Ray
ileus merupakan penemuan yang tidak khas pada
peritonitis, usus halus dan usu besar berdilatasi.
Udara bebas dapat terlihat pada kasus perforasi
3. Radiologi
pemeriksaan radiologi merupakan pemeriksaan
penunjang untuk pertimbangan dalam
memperkirakan pasien dengan abdomen akut
PENATALAKSANAAN

 Penggantian cairan dan elektrolit yang


hilang
 Terapi antibiotika
 Terapi analgesik untuk mengatasi nyeri
 Tindakan bedah mencakup mengangkat
materi terinfeksi dan memperbaiki
penyebab
TERIMAKASIH