Anda di halaman 1dari 21

Gel

Kelompok 1
Pengertian Gel
 Menurut Farmakope Indonesia edisi IV, gel
kadang-kadang disebut jeli, merupakan sistem
semipadat terdiri dari suspensi yang dibuat dari
partikel anorganik yang kecil atau molekul organik
yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan.
 Menurut Formularium Nasional, gel adalah
sediaan bermassa lembek, berupa suspensi yang
dibuat dari zarah kecil senyawa anorganik atau
makromolekul senyawa organik, masing-masing
terbungkus dan saling terserap oleh cairan.
Komponen Gel
1. Gelling Agents (Pustaka : Dysperse
System, vol. II, page 499-504) seperti:
Gum alam (natural gums), derivat
selulosa, polimer sintesis, polietilen, koloid
padat terdispersi, polivinil alkohol, clays.

2. Bahan tambahan
seperti pengawet, penambahan
bahan higroskopis, dan chelating agent.
1. Gelling agent
 Sejumlah polimer digunakan dalam pembentukan
struktur berbentuk jaringan yang merupakan bagian
penting dari sistem gel. Termasuk dalam kelompok ini
adalah gum alam, turunan selulosa, dan karbomer.
Kebanyakan dari sistem tersebut berfungsi dalam
media air, selain itu ada yang membentuk gel dalam
cairan nonpolar. Beberapa partikel padat koloidal
dapat berperilaku sebagai pembentuk gel karena
terjadinya flokulasi partikel. Konsentrasi yang tinggi
dari beberapa surfaktan nonionik dapat digunakan
untuk menghasilkan gel yang jernih di dalam sistem
yang mengandung sampai 15% minyak mineral.
a. Gum alam (natural gums)
Umumnya bersifat anionik (bermuatan negatif
dalam larutan atau dispersi dalam air), meskipun dalam
jumlah kecil ada yang bermuatan netral, seperti guar
gum. Karena komponen yang membangun struktur
kimianya, maka natural gum mudah terurai secara
mikrobiologi dan menunjang pertumbuhan mikroba.
Oleh karena itu, sistem cair yang mengandung gum
harus mengandung pengawet dengan konsentrasi yang
cukup. Pengawet yang bersifat kationik inkompatibel
dengan gum yang bersifat anionik sehingga
penggunaannya harus dihindari.
Lanjutan...
Beberapa contoh gum alam :
 Natrium alginat
Merupakan polisakarida, terdiri dari berbagai
proporsi asam D-mannuronik dan asam L-guluronik yang
didapatkan dari rumput laut coklat dalam bentuk garam
monovalen dan divalen. Natrium alginat 1,5-2% digunakan
sebagai lubrikan, dan 5-10% digunakan sebagai
pembawa.
 Garam kalsium
Dapat ditambahkan untuk meningkatkan viskositas
dan kebanyakan formulasi mengandung gliserol sebagai
pendispersi.
Tersedia dalam bebrapa grade sesuai dengan
viskositas yang terstandardisasi yang merupakan kelebihan
natrium alginat dibandingkan dengan tragakan.
Lanjutan...
 Karagenan
Hidrokoloid yang diekstrak dari beberapa alga
merah yang merupakan suatu campuran tidak tetap
dari natrium, kalium, amonium, kalsium, dan ester-ester
magnesium sulfat dari polimer galaktosa, dan 3,6-
anhidrogalaktosa.
Jenis kopolimer utama ialah kappa, iota, dan
lambda karagenan. Fraksi kappa dan iota membentuk
gel yang reversibel terhadap pengaruh panas.
Semua karagenan adalah anionik. Gel kappa
yang cenderung getas, merupakan gel yang terkuat
dengan keberadaan ion K. Gel iota bersifat elastis dan
tetap jernih dengan keberadaan ion K.
Lanjutan...
 Tragakan
Menurut NF, didefinisikan sebagai ekstrak
gum kering dari Astragalus gummifer Labillardie,
atau spesies Asia dari Astragalus.
Material kompleks yang sebagian besar
tersusun atas asam polisakarida yang terdiri dari
kalsium, magnesium, dan kalium. Sisanya adalah
polisakarida netral, tragakantin. Gum ini
mengembang di dalam air.
Digunakan sebanyak 2-3% sebagai lubrikan,
dan 5% sebagai pembawa.
Lanjutan...
 Pektin
Polisakarida yang diekstrak dari kulit sebelah
dalam buah citrus yang banyak digunakan dalam
makanan. Merupakan gelling agent untuk produk
yang bersifat asam dan digunakan bersama gliserol
sebagai pendispersi dan humektan.
Gel yang dihasilkan harus disimpan dalam
wadah yang tertutup rapat karena air dapat
menguap secara cepat sehingga meningkatkan
kemungkinan terjadinya proses sineresis.
b. Derivat selulosa
Selulosa murni tidak larut dalam air karena sifat
kristalinitas yang tinggi. Substitusi dengan gugus
hidroksi menurunkan kristalinitas dengan menurunkan
pengaturan rantai polimer dan ikatan hidrogen antar
rantai.
Derivat selulosa yang sering digunakan adalah
MC, HEMC, HPMC, EHEC, HEC, dan HPC.
Sifat fisik dari selulosa ditentukan oleh jenis dan
gugus substitusi. HPMC merupakan derivat selulosa
yang sering digunakan.
Polimer sintetis (Karbomer =
karbopol)
Sebagai pengental sediaan dan
produk kosmetik.
Karbomer merupakan gelling agent
yang kuat, membentuk gel pada
konsentrasi sekitar 0,5%. Dalam media air,
yang diperdagangkan dalam bentuk asam
bebasnya, pertama-tama dibersihkan dulu,
setelah udara yang terperangkap keluar
semua, gel akan terbentuk dengan cara
netralisasi dengan basa yang sesuai.
Polietilen (gelling oil)
Digunakan dalam gel hidrofobik likuid,
akan dihasilkan gel yang lembut, mudah
tersebar, dan membentuk lapisan/film yang
tahan air pada permukaan kulit. Untuk
membentuk gel, polimer harus didispersikan
dalam minyak pada suhu tinggi (di atas
800C) kemudian langsung didinginkan
dengan cepat untuk mengendapkan kristal
yang merupakan pembentukan matriks.
Koloid padat terdispersi
 Mikrokristalin selulosa dapat berfungsi sebagai
gellant dengan cara pembentukan jaringan
karena gaya tarik-menarik antar partikel
seperti ikatan hidrogen.
 Konsentrasi rendah dibutuhkan untuk cairan
nonpolar. Untuk cairan polar diperlukan
konsentrasi yang lebih besar untuk
membentuk gel, karena adanya kompetisi
dengan medium yang melemahkan interaksi
antar partikel tersebut.
Surfaktan
 Gel yang jernih dapat dihasilkan oleh
kombinasi antara minyak mineral, air, dan
konsentrasi yang tinggi (20-40%) dari
surfaktan anionik. Kombinasi tersebut
membentuk mikroemulsi. Karakteristik gel
yang terbentuk dapat bervariasi dengan
cara meng-adjust proporsi dan
konsentrasi dari komposisinya. Bentuk
komersial yang paling banyak untuk jenis
gel ini adalah produk pembersih rambut.
Polivinil Alkohol
Untuk membuat gel yang dapat mengering
secara cepat. Film yang terbentuk sangat
kuat dan plastis sehingga memberikan
kontak yang baik antara obat dan kulit.
Tersedia dalam beberapa grade yang
berbeda dalam viskositas dan angka
penyabunan.
Clays
 Digunakan sebanyak 7-20% sebagai basis.
Mempunyai pH 9 sehingga tidak cocok
digunakan pada kulit. Viskositas dapat
menurun dengan adanya basa. Magnesium
oksida sering ditambahkan untuk
meningkatkan viskositas. Bentonit harus
disterilkan terlebih dahulu untuk penggunaan
pada luka terbuka. Bentonit dapat
digunakan pada konsentrasi 5-20%.
Contohnya : Bentonit, veegum, laponite
2. Bahan
tambahan
=> Pengawet

Beberapa contoh pengawet yang biasa digunakan


dengan gelling agent :

 Tragakan : metil hidroksi benzoat 0,2 % w/v dgn propil


hidroksi benzoat 0,05 % w/v

 Na alginate : metil hidroksi benzoat 0,1- 0,2 % w/v, atau


klorokresol 0,1 % w/v atau asam benzoat 0,2 % w/v

 Pektin : asam benzoat 0,2 % w/v atau metil hidroksi


benzoat 0,12 % w/v atau klorokresol 0,1-0,2 % w/v
Lanjutan...
 Starch glyserin : metil hidroksi benzoat 0,1-
0,2 % w/v atau asam benzoat 0,2 % w/v
 MC : fenil merkuri nitrat 0,001 % w/v atau
benzalkonium klorida 0,02% w/v
 Na CMC : metil hidroksi benzoat 0,2 % w/v dgn
propil hidroksi benzoat 0,02 % w/v
 Polivinil alkohol : klorheksidin asetat 0,02 % w/v
Penambahan bahan
higroskopis
Bertujuan untuk mencegah
kehilangan air. Contohnya gliserol,
propilenglikol dan sorbitol dengan
konsentrasi 10-20 %
Chelating agent
Bertujuan untuk mencegah basis dan
zat yang sensitive terhadap logam berat.
Contohnya EDTA
Kegunaan Gel
1. Gel merupakan suatu sistem yang dapat diterima
untuk pemberian oral, dalam bentuk sediaan yang
tepat, atau sebagai kulit kapsul yang dibuat dari
gelatin dan untuk bentuk sediaan obat long–acting
yang diinjeksikan secara intramuskular.
2. Gelling agent biasa digunakan sebagai bahan
pengikat pada granulasi tablet, bahan pelindung
koloid pada suspensi, bahan pengental pada sediaan
cairan oral, dan basis suppositoria.
3. Untuk kosmetik, gel telah digunakan dalam berbagai
produk kosmetik, termasuk pada shampo, parfum,
pasta gigi, kulit dan sediaan perawatan rambut.
4. Gel dapat digunakan untuk obat yang diberikan
secara topikal (non streril) atau dimasukkan ke dalam
lubang tubuh atau mata (gel steril).