Anda di halaman 1dari 42

ETIKA ADMINISTRASI PUBLIK

 ETIKA
 ETIKA ADM PUBLIK
 META ETIKA
 ETIKA NORMATIF
 ETIKA PRAKTIS
 PSIKOLOGI MORAL
 ETIKA DESKRIPTIF
PENGERTIAN ETIKA

Yunani : ethikos, ethos (adat, kebiasaan, praktek)

Aristoteles: istilah tsb mencakup ide karakter dan disposisi

Kata moral/moralis diperkenalkan ke dalam kosa kata filsafat


oleh Cicero

Baginya kata ini ekuivalen dgn kata ethikos yang diangkat


oleh Aristoteles

Kedua istilah tsb menyiratkan hubungan dgn kegiatan


praktis
PERILAKU ETIS MENYANGKUT PERBUATAN DALAM
KERANGKA BAIK DAN BENAR
Analisis etis cenderung berpusat pada istilah-istilah berikut:

 Etika Normatif : memberikan petunjuk/penuntun dalam


pengambilan keputusan menyangkut baik dan buruk,
benar dan salah.

 Metaetika: Menganalisis logika perbuatan dlm kaitannya


dengan baik dan buruk, benar dan salah.

 Aksiologis : Pencapaian bonum

 Deontologis : Menekankan kewajiban/formalistis


(menekankan prinsip), artinya kebenaran dianggap sbg
kunci perilaku etis
BEBERAPA TOKOH PENTING DALAM TEORI ETIKA
 Demokritos: Menganggap kesenangan sebagai patokan
penilaian. Penilaian terhdp kesenangan dan rasa sakit
merpkan cara penentuan baik dan buruk

 Sokrates: beranggapan bahwa menderita selalu lebih baik


daripada berbuat jahat, tergantung prinsip bathin manusia.

 Plato: Memandang yang baik sebagai keharusan yang harus


direlisir dalam kehidupan manusia

 Aristoteles: tujuan kehidupan ialah kebahagiaan

 Agustinus: Meletakkan prinsip kebahagiaan dlm konteks


universal, dgn mengambil bagian pd kesempurnaan Allah
 Wiliam Ockham: Mendasarkan semua etika pd kehendak
Allah. Perintah atau larangan ilahilah yg menentukan
kebenaran atau kesalahan suatu tindakan

 David Hume: dipengeruhi oleh teori moral sense dari


Hutcheson. Dia menggabungkan unsur simpati dlm manusia
dgn ide-ide hedonisme, dan utilitas (kegunaan)

 Bentham: Pendiri Utilitarianisme. Baginya, tujuan yang


harus dicapai adalah kebaikan terbesar untuk jumlah
terbesar. Hedonisme merpk cara utk memahami yg baik. Kita
diajaknya utk memperhitungkan keseimbangan kesenangan
dan penderitaan dalam penyelesaian maslah-masalah etis

 G.E. Moore: Memandang yg baik sebagai suatu sifat yang


sederhana, yg tdk dat didefinisikan dgn istilah-istilah yg bkn
etis. Pandangan ini disebut intuisionisme etis
ETIKA ADMINISTRASI BERHUBUNGAN DENGAN KONSTITUSI
NEGARA DAN NILAI-NILAI TERTINGGI YANG MENJADI
TUJUAN NEGARA
 Dasar Etika: Konstitusi
 Etika: dunianya filsafat, nilai dan moral
 Etika administrasi: dunia keputusan dan tindakan
 Etika bersifat abstrak dan berkenaan dengan persoalan baik dan
buruk, benar dan salah. Sedangkan administrasi adalah konkrit
dan harus mewujudkan apa yang diinginkan (get the job done).
 Oki, berbicara ttg etika adm, adalah:
 bagaaimana mengaaitkan keduanya,
 bagaimana nilai-nilai gagasan-gagasan adm seperti efisiensi,
efektivitas, produktivitas, kinerja dsbnya yang berkaitan dengan
konsep adm publik, dpt menjelaskan etika dalam prakteknya
 dan bagaimana gagasan dasar etika mewujudkan yang baik dan
menghindarkan yang buruk, dapat menjelaskan hakikat
administrasi.
Konklusi:
Etika adm negara yg berhubungan dgn konstitusi negara:
Terdpt dalam alineah keempat pembukaan UUD Negara RI
Tahun 1945

NILAI-NILAI TERTINGGI YANG MENJADI TUJUAN NEGARA


Summum Bonum
Eudaimonia
Ontologi Pancasila
Epistemologi Pancasila
Aksiologi Pancasila
APA ITU PUBLIC INTEREST DAN APA MAKNA
OPERASIONALNYA
Public Interest
Interest: (1) perhatian, minat (perhatian terhadap masa
depan/menaruh atau mencurahkan perhatian terhadap); (2)
kepentingan.
Jadi, public interest: kepentingan publik (masyarakat)
Makna Operasinalnya
Kemakmuran bersama
Rakyat menjadi pusat pelayanan dari pemerintah
Pelayanan aparatur pemerintah terhadap kepentingan
masyarakat, mengandung beberapa aspek:
 pelayanan sebagai fungsi utama
 obyek yang dilayani adlah masyarakat
 bentuk pelayanan berupa barang dan jasa
KEDAULATAN DAN MAKNA RAKYAT YANG BERDAULAT
DALAM KONTEKS ADMINISTRASI PUBLIK
Kedaulatan dalam konteks Administrasi Publik
Kekuasaan/pemerintahan tertinggi terletak pada negara
Di mana disiplin ilmu pengetahuan yang dipelajari adalah
ilmu administrasi publik
Obyek materialnya : negara
Obyek formalnya :
 Pelayanan publik
 Organisasi publik
 Manajemen publik
 Kebijakan publik
Makna rakyat yang berdaulat dalam konteks administrasi
publik
Kekuasaan tertinggi terletak pada rakyat

Atau rakyat memiliki kekuasaan tertinggi

BAB I UUD Negara RI Tahun 1945 ttg bentuk dan


kedaulatan, ditegaskan pada pasal 1 ayat 1,2,3:

1) Negara Indonesia adalah negara kesataun yang berbentuk


republik
2) Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan
menurut UUD
3) Negara Indonesia adalah negara hukum
ETIKA
 ETIKA ATAU MORAL PHILOSOPHY, YAITU
CABANG DARI FILSAFAT YANG
MEMPERTANYAKAN TENTANG MORAL :
 GOOD & EVIL
 RIGHT & WRONG
 VIRTUE & VICE
 JUSTICE & CRIME
TERMINOLOGI ETIKA MENURUT PARA AHLI

 Frans Magnis Suseno


Sudarsono
B.N. Marbun
The Liang Gie
Alex Gunur
O.P. Simorangkir
I.R. Poedjayatna
A.S. Hernby
A.R. Tahir
D.C. Mulder
PRINSIP-PRINSIP ETIKA

 Beauty

 Equality

Goodness

 Justice

 Liberty

Truth
METAETIKA

Meta

Etika

Metaetika
ETIKA ADMINISTRASI
ETIKA ADMINISTRASI 1
 ETIKA – SALAH DAN BENAR
 ADMINISTRATION IS A WORLD OF DECISIONS
AND ACTION
 ETHIC WILL SEARCH FOR RIGHT AND WRONG
WHILE ADMINISTRATION MUST GET THE JOB
DONE
ETIKA ADMINISTRASI 2
 HOW CAN ETHIC INFORM ADMINISTRATION ?
 HOW CAN ADMINISTRATION INFORM ETHIC?
 HOW CAN THE IDEA OF ADMINISTRATION—
ORDER, EFFICIENCY, ECONOMY,
PRODUCTIVITY—HELP DEFINE ETHICS, AND
HOW CAN THE IDEA OF ETHICTS—RIGHT &
WRONG—HELP DEFINE PUBLIC
ADMINISTRATION?
METAETIKA
 Meta : Yunani (sesudah, di atas, melampaui)
 META ETIKA MERUPAKAN LAPANGAN STUDI
UNTUK MENCARI PEMAHAMAN HAKIKI DARI
ETIKA DALAM ADMINISTRASI PUBLIK (ALIRAN
POSITIVIST, RATIONAL DAN EMPIRICAL
 POSITIVISTIC = NATURAL PHENOMENA
(Fenomena Alamiah)
 RATIONAL = USED TO DESCRIBE THE VIEW OF
REALITY
 EMPIRICAL – SENSE OF EXPERIENCE
PERAN ETIKA DALAM
ADMINISTRASI
 Masalah etika ini terutama lebih ditampilkan oleh
kenyataan bahwa meskipun kekuasaan ada di tangan
mereka yang memegang kekuasaan politik (political
masters), ternyata administrasi juga memiliki
kewenangan yang secara umum disebut discretionary
power (kekuasaan utk menentukan/memilih, terserah
kpd kebijaksanaan). Persoalannya sekarang adalah
apa jaminan dan bagaimana menjamin bahwa
kewenangan itu digunakan secara “benar” dan tidak
secara “salah” atau secara baik dan tidak secara
buruk.
PERINTIS STUDI EAP 1
 Appleby (1952), termasuk orang yang paling
berpengaruh dalam studi mengenai masalah ini.
 Ia mencoba mengaitkan nilai-nilai demokrasi
dengan birokrasi dan melihat besarnya
kemungkinan untuk memadukannya secara serasi.
PERINTIS STUDI EAP 2
 Golembiewski (1962, 1965) yang juga merujuk
pada pandangan Appleby, selanjutnya mengatakan
bahwa selama ini organisasi selalu dilihat sebagai
masalah teknis dan bukan masalah moral,
sehingga timbul berbagai persoalan dalam
bekerjanya birokrasi pemerintah.
PERINTIS STUDI EAP 3
 Hummel (1977, 1982, 1987) mengeritik birokrasi
rasional ala Weber antara lain menyatakan bahwa
birokrasi, yang disebut sebagai bentuk organisasi yang
ideal, telah merusak dirinya dan masyarakatnya
dengan ketiadaan norma-norma, nilai-nilai, dan etika
yang berpusat pada manusia
PENDEKATAN EAP 1
 Pertama pendekatan teleologi.
Pendekatan teleologi terhadap etika administrasi
berpangkal tolak bahwa apa yang baik dan buruk
atau apa yang seharusnya dilakukan oleh
administrasi, acuan utamanya adalah nilai
kemanfaatan yang akan diperoleh atau dihasilkan,
yakni baik atau buruk dilihat dari konsekuensi
keputusan atau tindakan yang diambil.
PENDEKATAN EAP
 Ada dua yang utama TELEOLOGI Pertama, adalah
apa yang disebut ethical egoism, yang berupaya
mengembangkan kebaikan bagi diri- nya. Yang amat
dikenal di sini adalah Niccolo Macheavelli, seorang
birokrat Itali (Florensia) pada abad ke -15, yang
menganjurkan bahwa kekuasaan dan survival pribadi
adalah tujuan yang benar untuk seorang
administrator pemerintah.
 Yang kedua, adalah utilitarianism, yang pangkal tolaknya
adalah prinsip kefaedahan (utility/utilitas/prinsip), yaitu
mengupayakan yang terbaik untuk sebanyak-banyaknya
orang (yang mengutamakan prinsip kesenangan).
Prinsip ini sudah berakar sejak lama, terutama
pada pandangan-pandangan abad ke-19, yang dikenal
dengan nama radikalisme filosofis yang menekankan pada
tuntutan pembaruan sambil mendukung posisi hedonisme
psikologis dan menafsirkan kebaikan terbesar sebagai
jumlah kesenangan terbesar atau jumlah kesakitan terkecil
(oleh Jeremy Bentham). Selanjunya muridnya Bentham
Jhon Stuart Mill menegaskan bahwa kriteria utilitarian
ialah jumlah terbesar kesenangan yang lebih tinggi bagi
jumlah terbesar.
 antara lain dari Jeremy Bentham dan muridnya John
Stuart Mill.
PENDEKATAN EAP 2
 Fox (1994), antara lain mengetengahkan tiga
pandangan yang menggambarkan pendekatan
deontologi dalam etika administrasi ini.

 Pertama, pandangan mengenai keadilan sosial,


yang muncul bersama berkembangnya “Administrasi
Negara Baru” (antara lain Frederickson dan Hart,
1985).
 Menurut pandangan ini administrasi negara
haruslah secara proaktif mendorong terciptanya
pemerataan atau keadilan sosial (social equity) .
 Kedua, apa yang disebut regime values atau
regime norms. Pandangan ini terutama bersumber
dari Rohr (1989), yang berpendapat bahwa etika
administrasi negara harus mengacu kepada nilai-
nilai yang melandasi keberadaan negara yang
bersangkutan.
 Ketiga, tatanan moral universal atau universal moral
order (antara lain Denhardt, 1988, 1991). Pandangan
ini berpendapat bahwa ada nilai-nilai moral yang
bersifat universal yang harus menjadi pegangan bagi
administrator publik. Masalahnya di sini ada lah
nilai-nilai moral itu sendiri banyak yang
dipertanyakan karena beragamnya sumbernya dan
juga kebudayaan serta peradaban, seperti telah
diuraikan di atas.
PENDEKATAN EAP 3
 Belakangan ini banyak kepustakaan etika
administrasi yang membahas dan mengkaji etika
kebajikan (ethics of virtue). Etika ini berbicara
mengenai karakter yang dikehendaki dari seorang
administrator. Konsep ini merupakan koreksi
terhadap paradigma yang berlaku sebelumnya dalam
administrasi, yaitu etika sebagai aturan (ethics as
rules), yang dicerminkan dalam struktur organisasi
dan fungsi-fungsi serta prosedur, termasuk di
dalamnya sistem insentif dan disinsentif dan sanksi-
sanksi berdasarkan aturan.
 Selanjutnya administrator yang bajik (virtuous
administrator) adalah yang berusaha, seperti
dikatakan oleh Hart (1995) agar kebajikan menjadi
sentral dalam karakternya sendiri, yang akan
membimbingnya dalam perilakunya dalam
organisasi. Tidak berhenti di situ saja; administrator
yang bajik berkewajiban moral untuk mengupayakan
agar kebajikan juga menjadi karakter mereka yang
bekerja di bawahnya.
PENDEKATAN EAP 4
 Dalam membahas etika dalam organisasi, sejumlah
pakar membedakan antara etika perorangan (personal
ethics) dan etika organisasi. Etika perorangan
menentukan baik atau buruk dalam perilaku
individual seseorang dalam hubungannya dengan
orang lain dalam organisasi. Etika organisasi
menetapkan parameter dan merinci kewajiban-
kewajiban (obligations) organisasi itu sendiri, serta
menggariskan konteks tempat keputusan-keputusan
etika perorangan itu dibentuk (Vasu, Stewart,
Garson, 1990).
PENDEKATAN EAP 5
 Pembahasan yang terakhir adalah mengenai etika
profesional. Nilai-nilai kebajikan yang dibicarakan
di atas adalah etika perorangan yang harus
dimiliki siapa saja, tidak terkecuali, bahkan dalam
pandangan ilmu administrasi, justru terutama
harus dimiliki oleh mereka yang menjadi pengabdi
masyarakat (public servants).
 Etika profesional berkaitan dengan pekerjaan
seseorang. Oleh karena itu, etika profesional berlaku
dalam suatu kerangka yang diterima oleh semua yang
secara hukum atau secara moral mengikat mereka
dalam kelompok profesi yang bersangkutan. Etika
profesional pada profesi tertentu dilembagakan
dalam apa yang umum disebut kode etik. Misalnya,
kode etik untuk dokter, hakim, pengacara,
wartawan, arsitek, pegawai negeri, periklanan dan
sebagainya. Kode etik itu ada yang diperkuat oleh
sistem hukum, atau mengikat secara sosial dan secara
kultural, sehingga mengikat secara moral.
Pengertian kompetensi etika
 Denhardt’s (2009) roundtable paper posits these
competencies: understand and apply approved
standards of social or professional behavior (e.g.,
laws, codes, ethical theories), develop qualities for
effective ethical action (e.g., discern issues, engage
in moral reasoning, demonstrate moral courage),
and lead in a manner that raises ethical awareness
(e.g., speaking, writing, role modeling).
 Bowman and colleagues (2009) suggest four
competencies— moral reasoning as a the foundation
of decisionmaking, recognition of ethical
conflicts, rejection of unethical behavior, and
application of ethical theory.

Dimensi Kompetensi etika
 Subject-matter knowledge:
the relevant substantive framework standards,
both de facto and de jure standards of ethical official
conduct and integrity standards, together with the
legal, institutional, political, and cultural justifications
for those standards; the crucial role of Leaders;
 Reasoning skills:
the diagnostic and analytic skills needed to
identify (‘construct’) an ethically problematic
situation in context, and the skills of
valuesclarification and values-based reasoning needed
to apply relevant standards appropriately, including the
justification of a decision that it is necessary or
desirable to ‘break the rules’ in the circumstances of a
particular case;
 Problem-solving skills:
the strategic skills needed to resolve an issue
where competing and conflicting demands of ethical
or moral principle, the law, the organization’s policy,
standards, and guidelines, ‘the public interest’, and the
particular citizens’ interests, (etc.) all have to be
considered in a ‘systems’ thinking’ approach;
 Advocacy skills:
the ability to advocate effectively a principled
view of an ethics matter, and of the proposed or
actual decision, for different audiences, which relies on
specific language and argumentation skills;
 Self-awareness skills: ‘
Doing Ethics’ is fundamentally a social activity,
involving the legitimate rights and interest of others,
(including the employing organization). Officials need
to develop skills in recognizing the various merits and
weaknesses of their own values-based positions (and
of the fact that principled positions may be taken by
others), and in building necessary consensus;
 · Attitude and Commitment:
the development of the attitudes or commitments
needed for ensuring reliable application of standards,
especially when unobserved: rational commitment to
appropriate norms and standards may be promoted
through the use of reflective learning.