Anda di halaman 1dari 26

REFERAT

BPH & KANKER PROSTAT


Oleh:
Deby Tri Widia Lestari
I1102013073

Pembimbing:
dr. Indra Kelana, Sp.Rad

Kepaniteraan Klinik Radiologi


RSUD Dr Dradjat Prawiranegara-Universitas Yarsi
Periode 13 Agustus – 1 September 2018
Pendahuluan

 Prostat merupakan organ genitalia pria yang terletak di sebelah inferior buli-buli, di depan
rektum dan membungkus uretra posterior. Prostat seringkali membesar secara bertahap
setelah usia 50 tahun.

 Pembesaran prostat tersebut biasanya diikuti dengan masalah buang air kecil yang
merupakan tanda terjadinya Benign Prostatic Hyperplasia (BPH). BPH merupakan suatu
pembesaran prostat jinak yang secara histologis disebabkan oleh hiperplasia stroma dan
kelenjar sel prostat yang progresif. Pada beberapa pria lainnya, pembesaran prostat juga
diikuti dengan tumbuhnya sel kanker/keganasan.
Anatomi Prostat
Anatomi Prostat
Anatomi Prostat
Anatomi Prostat

 Prostat diperdarahi oleh arteri pudenda interna, arteri vesicalis inferior dan arteri
hemorhoidalis medialis. Darah vena prostat dialirkan ke dalam plexus vena periprostatika
yang berhubungan dengan vena dorsalis penis, kemudian dialirkan kembali melalui plexus
venosus prostaticus yang kemudian diteruskan ke vena iliaca interna yang juga
berhubungan dengan pleksus vena presakral.

 Aliran limfe dari prostat dialirkan ke pembuluh limfe iliaca interna, iliaca externa. Dan
sakralis. Persarafan kelenjar prostat sama dengan persarafan kandung kemih bagian
inferior yaitu plexus saraf simpatis dan parasimpatis.
Definisi

 Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) merupakan suatu pembesaran prostat jinak yang
secara histologis disebabkan oleh hiperplasia stroma dan kelenjar sel prostat yang
progresif. Jaringan yang mengalami hiperplasia tersebut akan mendesak jaringan prostat
yang asli ke perifer dan menjadi simpai bedah. Sedangkan, kanker prostat merupakan
suatu tumor ganas yang tumbuh di dalam kelenjar prostat dan merupakan keganasan
saluran kemih kedua yang paling sering dijumpai sesudah keganasan kandung kemih
Epidemiologi

 Kelainan pada prostat umumnya terjadi pada usia >50 tahun yang secara signifikan
meningkat dengan peningkatan usia. Di Indonesia, BPH merupakan urutan kedua
penyakit saluran kemih dan reproduksi yang ditemukan pada 50% pria berusia di atas 50
tahun dengan angka harapan hidup rata-rata mencapai 65 tahun.

 Kanker prostat merupakan keganasan saluran kemih kedua paling sering dijumpai sesudah
keganasan kandung kemih pada pria di Amerika. Prevalensi kanker prostat di Indonesia
pada tahun 2013 diperkirakan sebanyak 25.012 penderita. Provinsi yang memiliki
prevalensi kanker prostat tertinggi adalah D.I. Yogyakarta, Bali, Sulawesi Utara, dan
Sulawesi Selatan.
Etiologi

 Etiologi BPH belum diketahui secara pasti namun faktor risiko umur dan hormon
androgen diduga berperan penting. Ada beberapa teori yang menjelaskan penyebab
terjadinya BPH, yaitu:
 Teori dehidrotestosteron (DHT)

 Teori Hormon Estrogen

 Faktor interaksi stroma dan epitel

 Teori Stem cell

 Etiologi kanker prostat juga belum diketahui secara pasti. Beberapa faktor risiko yang
mempengaruhi antara lain faktor genetik, hormonal, diet, lingkungan dan faktor infeksi.
Patofisiologi

BPH: Kanker prostat:


 Patofisiologi terjadinya kanker prostat ini
belum diketahui secara pasti.
 Kemungkinan tahapan patogenesis kanker
prostat berdasarkan patologinya yaitu kelenjar
prostat normal PIN (prostate intraepithelial
neoplasia) karsinoma prostat karsinoma
prostat stadium lanjut karsinoma prostat
metastasis HRPC (hormone refractory
prostate cancer).
Manifestasi Klinis

BPH:
 Gejala dan tanda obstruksi:  Gejala dan tanda iritasi:
 Perubahan ukuran dan pancaran air kemih  Nokturia
 Interupsi pancaran/miksi terputus  Frekuensi miksi bertambah
(intermitency) (frequency)
 Menetes pada akhir miksi (terminal dribling)  Miksi sulit ditahan (urgency)
 Harus menunggu pada permulaan miksi  Nyeri saat miksi (disuria)
(hesistency)
 Rasa belum puas sehabis miksi
Manifestasi Klinis

 Kanker prostat:
 Biasanya tidak menimbulkan gejala sampai kanker telah mencapai stadium lanjut.
 Kadang gejalanya menyerupai BPH
 Gejala lainnya adalah:
 Nyeri ketika ejakulasi  Nyeri tulang / tulang nyeri jika ditekan
 Nyeri punggung bagian bawah  Nyeri perut
 Nyeri ketika buang air besar  Penurunan berat badan
 Inkontinensia urine  Kejang serta gejala neurologis lainnya
 Hematuria
Diagnosis

Anamnesis
 Keluhan yang dirasakan dan seberapa lama keluhan itu telah mengganggu
 Riwayat penyakit lain dan penyakit pada saluran urogenitalia (pernah mengalami cedera,
infeksi, atau pembedahan)
 Riwayat kesehatan secara umum dan keadaan fungsi seksual
 Obat-obatan yang saat ini dikonsumsi yang dapat menimbulkan keluhan miksi
 Tingkat kebugaran pasien yang mungkin diperlukan untuk tindakan pembedahan.
 Salah satu pemandu yang tepat untuk mengarahkan dan menentukan adanya gejala
obstruksi akibat pembesaran prostat adalah International Prostate Symptom Score (IPSS).
Diagnosis

Pemeriksaan Fisik
 Colok dubur
Diagnosis

Pemeriksaan Fisik
 Apabila sudah terjadi pnielonefritis, ginjal dapat teraba dan akan disertai sakit pinggang
dan nyeri ketok pada pinggang.
 Vesica urinaria dapat teraba apabila sudah terjadi retensi total, daerah inguinal harus
mulai diperhatikan untuk mengetahui adanya hernia.
 Genitalia eksterna harus pula diperiksa untuk melihat adanya kemungkinan sebab yang
lain yang dapat menyebabkan gangguan miksi seperti batu di fossa navikularis atau uretra
anterior, fibrosis daerah uretra, fimosis, condiloma di daerah meatus.
Diagnosis

Pemeriksaan Penunjang
 Pemeriksaan laboratorium (sedimen urin, kultur urin, faal ginjal, gula darah, PSA)
 Uroflowmetri
 Pemeriksaan residual urine
 Ureterosistoskop
 Pemeriksaan urodinamika
 Pemeriksaan patologi anatomi
 Pemeriksaan radiologi
Diagnosis

Gambar 8. Foto polos pelvis: lesi


Gambar 7. IVP pada BPH: (A) osteoblastik pada tulang sebagai
Gambar 6. IVP normal hidronefrosis dan hidroureter. (B) Fish metastase dari kanker prostat
Hook appearance (anak panah) dan
indentasi prostat
Diagnosis

Gambar 10. Defek dengan Gambar 11. Cystography: smooth


Gambar 9. Cystography normal permukaan ireguler di bagian filling defect pada bagian inferior
inferior buli-buli pada kanker vesica urinaria pada BPH
prostat
Diagnosis

Gambar 13. USG transabdominal: Gambar 14. TRUS: tampak lesi


Gambar 12. TRUS: prostat normal
prostat normal hipoechoic di zona transisional
pada pasien BPH
Diagnosis

Gambar 15. USG Gambar 16 dan 17. USG Doppler pada pasien BPH
transabdominal: Tampak ukuran
prostat membesar, tampak
indentasi caudal ke buli-buli
Diagnosis

Gambar 18. TRUS: tampak lesi Gambar 19. USG Doppler pada Gambar 20. CT-Scan axial setinggi
hipoechoic di zona perifer kanan pasien kanker prostat ginjal menunjukkan para-
pada pasien kanker prostat limfadenopati luas (panah) yang
merupakan stadium lanjut kanker
prostat
Diagnosis

Gambar 25. Potongan axial T2


Gambar 21.Metastatik Gambar 22. Menunjukkan contrast enhancement di zona perifer pada endorectal MRI pasien kanker
kanker prostat yang pasien kanker prostat prostat menunjukkan
melibatkan jaringan lunak di hipointensitas di periferal zone
sebelah kanan (panah). (panah)
Diagnosis

Gambar 27 dan 28. (a) Potongan axial T2 endorectal MRI pasien kanker
Gambar 26. Potongan axial T1 prostat menunjukkan hipointensitas di periferal zone (panah) (b) Potongan
setinggi pelvis menunjukkan axial T1 menunjukkan hiperintens (daerah B)
pembesaran kelenjar limfe
disebelah kiri (panah)
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Nilai indeks gejala BPH Efek samping

BPH Watchfull waiting Gejala hilang/timbul Risiko kecil , dapat terjadi retensi
urinaria Kanker prostat:
Penatalaksanaan medis
Alpha-blockers Sedang 6-8 Gaster/usus halus-11%  Prostatektomi Radikal
Hidung berair-11%
Sakit kepala-12%  Radioterapi
Menggigil-15%
5 alpha-reductase inhibitors Ringan 3-4 Masalah ereksi-8%  Watchfull waiting
Kehilangan hasrat sex-5%
Berkurangnya semen-4%
Terapi kombinasi Sedang 6-7 kombinasi
Terapi invasi minimal
Transuretral microwave heat Sedang-berat 9-11 Urgensi/frekuensi-28-74%
Infeksi-9%
Prosedur kedua dibutuhkan-10-16%

TUNA Sedang 9 Urgensi/frekuensi-31%


Infeksi-17%
Prosedur kedua dibutuhkan-23%
Operasi
TURP, laser & operasi sejenis Berat 14-20 Retensi urinaria-1-21%
Urgensi&frekuensi-6-99%
Gangguan ereksi-3-13%
Operasi terbuka Berat >20 Inkontinensia 6%
Kesimpulan

BPH Kanker Prostat

Cystography Smooth filling defect Irregular filling defect

USG non dopler Hipoechoic di zona transisional Hipoechoic/isoechoic/hiperechoic di


zona perifer

USG Doppler Tidak hipervaskularisasi Hipervaskularisasi

CT scan kontras Tidak enhancement Enhancement

MRI T2 : hipointens di central gland T2 : hipointens di zona perifer