Anda di halaman 1dari 46

dr.

Humaira Rahma, SpOG

ENDOKRINOLOGI
REPRODUKSI
Hormon
 Hormon adalah suatu transmiter kimiawi yang
dihasilkan oleh suatu sel yang masuk peredaran
pembuluh darah menuju set target (responsive
target)
 Pusat pengatur hormon reproduksi adalah
Hipothalamus yang selanjutnya mempengaruhi
Hipofise (pituitary) anterior et posterior
 Hormon memiliki sifat autokrin,parakrin dan
endokrin
Hormon Hipothalamus
 GnRH (Gonadotropin Releasing Hormon)
melepaskan FSH dan LH
 TRH (Tirotropin Releasing Hormon)
melepaskan TSH
 CRH (Corticotropin Relasing Hormon)
melepaskan ACTH dan Endorphin
 GHRH dan GHIH (Growth Hormon Releasing
Hormon dan Inhibit Hormon )
Hormon Hipofise (Pituitary)
 Hipofise Anterior (Adenohipofise)
 FSH (Follicel Stimulating Hormon)
 LH (Luteinizing Hormon)

 TSH (Tiroid Stimulating Hormon)

 ACTH (Adrenocorticotropin Hormon)

 Prolaktin

 Hipofise Posterior (Neurohipofise)


 Vasopressin

 Oksitosin
Poros Hormon Hipothalamus-Hipofise-
Ovarium
 GnRH/FSHRH/LHRH dari hipothalamus merangsang
hipofise mengeluarkan FSH dan LH melalui sel
Gonadotrope
 Sekresi GnRH meningkat oleh pengaruh
noradrenaline
 Sekresi GnRH dihambat oleh transmiter
dopamine,serotonin dan endorphine
 GnRH disekresikan secara pulsatil setiap 90 menit
Poros H-P-O
 FSH dan LH berperan dalam mengatur siklus menstruasi
wanita
 FSH berperan dalam mematangkan folikel ( Folikel de
Graaf), folikel ini akan merangsang sel theca interna
menghasilkan Estrogen.
 Peningkatan kadar FSH dan Estrogen memicu keluarnya
LH yang berperan dalam proses ovulasi folikel dan
pembentukan Korpus luteum
 Estrogen dan Progesteron mempunyai efek kuat dalam
menghambat sekresi FSH dan LH serta GnRH melalui
mekanisme umpan balik negative
Fase Menstruasi
1. Fase Proliferasi
 Permukaan endometrium mengalami epitelisasi

sejak awal menstruasi sampai hari ke 4-7


 Dibawah pengaruh estrogen sel struma bertambah

banyak dan pertumbuhan pembuluh darah dalam


endometrium
 Endometrium akan menebal 3-4 mm
Fase Menstruasi
2. Fase Sekresi
 Terjadi setelah ovulasi sekitar hari ke 14 setelah

menstruasi terjadi sampai 1 minggu


 Dibawah pengaruh progesteron dinding

endometrium dimatangkan, pembuluh darah


semakin berkelok-kelok dan meningkatnya jumlah
sel sekretorik
 Dinding endometrium menebal 5-6 mm
Fase Menstruasi
3. Fase Menstruasi
 Penurunan estrogen dan progesteron yang nyata
menyebabkan menstruasi
 Terjadi infiltrasi sel PMN,terjadi pelepasan mediator
vasokontriksi dan vasospasme yang menyebabkan ischemic
necrotic endometrium fungsionalis dan menyisakan jaringan
basalis untuk proses regenerasi endometrium
 Lapisan necrotic perlahan mengalami desquamasi disertai
pelepasan prostaglandin,prostaglandin merangsang
kontraksi uterus sehingga diduga sebagai untuk membatasi
perdarahan selama haid
 Jumlah darah yang dikeluarkan selama haid sekitar 40-50
cc
Hormon Steroid Ovarium
 Estrogen
 Progesteron
 Androgen
Estrogen

 Hormon steroid dengan 10 atom C


 Dibentuk dari 17-ketosteroid androstendion
 Estrogen alamiah yang tepenting adalah
 E1 Estron
 E2 Estradiol : Paling aktif
 E3 Estriol

 Estrogen selain ovarium dihasilkan oleh


plasenta,adrenal,testis dan jaringan lemak
 Di produksi juga di granulosa sel
Fungsi Estrogen
 Memicu proliferasi endometrium dan memperkuat
kontraksi uterus
 Meningkatkan sekresi cairan servik menjadi lebih
encer dan bening jika mengering memberikan
gambaran daun pakis  memperlancar perjalanan
spermatozoa
 Meningkatkan produksi sekret mukosa vagina
 Meningkatkan kadar glikogen,sehingga
meningkatkan produksi asam laktat oleh bakteri
Doderlein,pH menurun dan meningkatkan proteksi
mukosa vagina
Gambaran Pengaruh Estrogen

Penilaian Terhadap Hasil


Getah serviks Uji pakis positif
Endometrium Biopsi : ada
gambaran fase
proliferasi
Bila ada amenorhea Uji P test positif (ada
perdarahan)
Progesteron
 Hormon steroid dengan 21 atom C
 Dibentuk di korpus luteum,plasenta dan adrenal
 Metabolit progesteron berupa pregnandiol
 Di produksi melalu theca lutein sel
Fungsi Progesteron
 Mempersiapkan uterus menerima konsepsi dan
implantasi/nidasi
 Menyebabkan proses sekretorik pada fase
menstruasi
 Menurunkan sekret servik menjadi lebih kental
sehingga menjadi barier menghalangi masuknya
spermatozoa
 Menurunkan tonus miometrium
 Bersifat themoregulator terutama setelah ovulasi
Gambaran Pengaruh progesteron

Penilaian Terhadap Hasil


SBB Meningkat 0,4-0,6 C
selama 12-14 hari
Negatif
Uji membenang Fase sekresi
Biopsi endometrium
Androgen
 Hormon steroid dengan 19 atom C
 Fungsi androgen mengacu pertumbuhan dan
pembentukan sifat kelamin pria
 Dihasilkan oleh ovarium dalam sel stroma
 Androgen yang terbentuk pada wanita merupakan
bakal pembentuk estrogen
 Hirsutisme ringan pada wanita akibat perbedaan
keseimbangan sekresi androgen dan estrogen
Poros Hipothalamus-Pituitary-Tiroid
 Oleh pengaruh TRH dari hipothalamus,pituitary
mensekresikan TSH yang akan merangsang kelenjar
Tiroid
 Kelenjar Tiroid akan mengeluarkan T4(Tiroksin) ,T3
(Triiodotironin) dan Calcitonin
 T3 dan T4 berperan dalam mengatur metabolisme
tubuh
 Calcitonin berperan dalam mengatur metabolisme
kalsium
H-P-T
 TRH selain merangsang kelenjar Tiroid juga
merangsang sel laktotrof mensintesis Prolaktin (PRL)
 TRH sering dipakai untuk menyelidiki fungsi hipofise
dan fungsi tiroid
 TRH oral juga dapat digunakan untuk meningkatkan
produksi ASI pada pasien dengan insufisiensi laktasi
 Kadar prolaktin meningkat pada penderita
hipotiroid karena peningkatan TRH.
Pengaruh Tiroid Terhadap Menstruasi

 Pada kasus hipotiroid dimana rendahnya kadar T4 dan


T3 memicu pelepasan hormon TRH dan TSH dimana ikut
meningkatkan sekresi Prolaktin
 Prolaktin yang tinggi akan menekan sekresi FSH dan LH
sehingga terjadi gangguan pematangan folikel
 Pada keadaan hipotiroid, ovarium lebih peka terhadap
hcg sehingga estrogen akan menurun dan
perkembangan uterus menjadi terganggu (hipoplasia)
 Pada Hipertiroid akan menyebabkan oligomenorea
ataupun amenorea
Mekanisme Umpan Balik Hormon Tiroid

 Meningkatnya T3 dan T4 di tubuh akan menurunkan


sekresi TSH
 Meningkatnya kecepatan sekresi hormon tiroid
sekitan 1.75x akan menurunkan kecepatan sekresi
TSH sampai nol
Poros Hipothalamus-Pituitary-Adrenal

 CRH dari hipothalamus merangsang pituitary


melepaskan ACTH
 Kelenjar adrenal terdiri dari 2 bagian utama
Medula adrenal dan Kortek adrenal
 Kelenjar adrenal juga berkaitan secara fungsinalis
dengan sistem saraf simpatis yakni dengan
mensekresi epineprin dan norepineprin
Hormon Adrenal
 Mineralokortikoid
Aldosteron
 Glukokortikoid
Kortisol
 Androgen
Sintesis Steroid Adrenal
Mineralokortikoid (Aldosteron)
 Meresorbsi natrium sekresi kalium dalam tubulus
ginjal
 Mengatur volume cairan ekstraseluler dan tekanan
arteri
Glukokortikoid (Cortisol)
 Melalui pengaruh ACTH dari hipofise meningkatkan
sekresi dari Cortisol
 Beberapa faktor stimulasi pelepasan cortisol
adalah stress :
 Trauma

 Infeksi

 Kedinginan
atau kepanasan
CRH menghambat GnRH  gangguan pembentukan
folikel
Fungsi Glukokortikoid
 Merangsang glukoneogenesis
 Menurunkan pemakain glukosa oleh sel
 Meningkatkan konsentrasi glukosa darah
 Anti inflamasi
Efek Glukokortikoid
 Glukokortikoid juga mempengaruhi fungsi gonad
dan fungsi gonadotropin. Pada pria, glukokortikoid
menghambat sekresi gonadotropin terbukti dengan
menurunnya respons terhadap pemberian
gonadotropin releasing hormone (GnRH) dan
testosteron . Pada wanita, glukokortikoid juga akan
menekan respons LH terhadap GnRH, yang
menyebabkan terjadinya supresi estrogen dan
progestin berakibat inhibisi ovulasi dan terjadinya
amenorea.
Kelainan Sekresi Adrenokortikal
 Sindroma Cushing
 Terjadi peningkatan Cortisol akibat adenoma pada
kelenjar adrenal
 Peningkatan Cortisol menekan sekresi GnRH sehingga
terjadi penurunan sekresi FSH dan LH dan menganggu
siklus menstruasi (amnenore)
 Gejala klinis : moon face,hipertensi,amenore,buffalo
hump
Sindroma Androgenital
(Pseudohermaphrodit Feminin)
 Kerusakan sistem enzym adrenal yang menyebabkan
penuruan Cortisol dan ACTH meningkat
 Bentuk tersering cacat enzim 21-hidroksilase

 Gambaran klinis khas : rendahnya produksi gluko-


mineralokottikoid dan tingginya produksi androgen
 Gejala : Genotipe wanita XX namun fenotipe seperti
pria (badan tinggi besar, tidak terjadi menarche,
payudara tidak terbentuk, rambut pubis ada sejak
lahir
 Terapi : kortisol seumur hidup
Sindroma Feminisasi Testis
(Pseudohermaphrodit maskulin)
 Disebabkan ketidakpekaan organ genital terhadap
androgen
 Diduga tidak mampu mengubah testosteron menjadi
dehidrotestosteron
 Gejala : fenotipe wanita, hairless women, genotipe
pria (XY) payudara tumbuh baik, vagina
menutup/pendek, sebagian wanita tidak ada
vagina mauoun uterus, testis di intraabdominal,
ingunal atau labia, testosteron tinggi dalam serum
 Terapi :
 Testis resiko jadi ganas 10%  angkat testis
 Substirusi hormon estrogen progesteron seumur
hidup
KONDISI KLINIS YANG
MEMPERNGARUHI
HORMON REPRODUKSI
HIPOTIROID
 Jika didapatkan hiperprolaktinoma harus dievaluasi
apakah karena tumor hipofise ataukah hipotiroid
yang menyebabkan peningkatan prolatin
 Jika hipotiroid (+)  hiperprolaktinoma tidak perlu
obat penurun prolaktin, cukup dengan terapi
hipotiroid.
HIPERTIROID
 Gangguan siklus haid (oligomenorhea dan
amnorhea)  mempengaruhi fertilitas
 Hipotiroid lebih berat
WANITA GEMUK
 Produksi androgen tidak Cuma ovarium tapi juga kelenjar
adrenal
 Kelenjar adrenal wanita gemuk memiliki aktivitas berlebihan
 sterid seks meningkat  androgen meningkat estrogen
meningkat  gangguan umpan balik FSH dan pematangan
folikel serta sekresi LH meningkat  sekresi androgen di
ovarium meningkat  atresia folikel.
 Peningkatan androgen plasma  menempati reseptor
estradiol, FSH dan LH di folikel ovarium  folikel atrofi
 Peningkatan estradiol namun SHBG rendah
DIABETES MELLITUS
 Diabetes mellitus yang tidak terkendali 
gangguan siklus haid
 Insulin memicu sintesa gonadotropin dan steroid seks
ovarium  gangguan fungsi ovarium
 Hiperinsulinemia  berhub dengan LH dan
androgen tinggi  estrogen meningkat 
gangguan umpan balik FSH  gangguan
pematangan folikel  anovulasi
 Hiperandrogen juga menebalkan tunika albuginea
ovarium  mengganggu pecahnya bintik ovulasi