Anda di halaman 1dari 16

Epidemiologi Penyakit

Menular Pertusis
EMA FEBIANTI 102012411
D1
Skenario 2

 Dokter Mega bekerja di sebuah puskesmas


kecamatan berpenduduk 25.000 jiwa. Minggu
ini dia dikejutkan dengan meningkatnya kasus
yang mirip dengan pertusis pada anak – anak
balita. Laporan hasil imunisasi dasar DPT
ternyata telah mencapai 80 %. Ia bermaksud
untuk mengadakan penyelidikan epidemiologi
atas peristiwa tersebut. Apakah benar
kejadian tersebut adalah KLB pertusis.
Rumusan masalah :
Dokter mega mengadakan penyelidikan
epidemiologis akan KLB pertusis
Mind Map

Tujuan dan
Surveilens
manfaat

RM analisis

Promotif,
solusi preventif,
kuratif
Pengertian pertusis
 Pertusis  infeksi saluran pernafasan akut yang
disebabkan oleh Bordetella Pertussis.
 Istilah pertusis (batuk kuat) pertama kali diperkenalkan
oleh Sydenham pada tahun 1670, dimana istilah “batuk
rejan (whooping cough)”
 manifestasi klinis utama  batuk yang bersifat spasmodik
dan paroksismal disertai nada yang meninggi..
Patofisiologi
 Perlengketan Bordetella Pertussis pada silia  multifikasi dan
menyebar ke permukaan sel epitel saluran pernafasan
 Pembentukan toksin pertusis  berikatan dengan reseptor dan
menghabat migrasi limfosit dan makrofag ke daerah infeksi
 Toksin  peradanga dan gangguan fungsi silia  infeksi sekunder
 Mukus plug  obstruksi dan kolaps paru  hipoksemia & anoksia
 gejala sistemik.
Pertusis
 Masa tunas 7-14 hari. Penyakit ini dapat berlangsung selama 6
minggu atau lebih dan terbagi dalam 3 stadium:

Stadium kataralis (1-2 minggu) Rinore, injeksi konjungtiva,


lakrimasi, batuk ringan iritatif
kering dan intermiten, demam
dan batuk
Stadium paroksismal atau Muka merah, sianosis, mata
spasmodic (2-4 minggu) menonjol, lidah menjulur,
lakrimasi, salivasi, muntah
Stadium konvalesensi (1-2 Batuk menurun dan hilang 2-3
minggu ) minggu tetapi pada beberapa
pasien akan timbul batuk
paroksimal kembali.3,4
Etiologi
 Bordetella pertusis yaitu bakteri gram negatif, tidak bergerak,dan ditemukan
dengan melakukan swab pada daerah nasofaring dan ditanamkan pada
media agar Bordet-Gengou.
 Ciri-ciri organisme antara lain:
 Berbentuk batang (coccobacilus).
 Tidak dapat bergerak.
 Bersifat gram negatif.
 Tidak berspora, mempunyai kapsul.
 Mati pada suhu 55ºC selama ½ jam dan tahan pada suhu rendah (0º-
10ºC).
 Dengan pewarnaan Toluidin blue, dapat terlihat granula bipolar
metakromatik.
 Tidak sensitif terhadap tetrasiklin, ampicillin, eritomisisn tetapi resisten
terhadap penicillin.
Epidemiologi
 Di Amerika Serikat antara tahun 1932 sampai tahun 1989 telah
terjadi 1.188 kali puncak epidemi pertusis. Penyebaran penyakit ini
terdapat di seluruh udara, dapat menyerang semua golongan umur,
yang terbanyak adalah anak umur di bawah 1 tahun.
 Makin muda usianya makin berbahaya penyakitnya.
 Di Amerika Serikat + 35% penyakit terjadi pada usia kurang dari 6
bulan, termasuk bayi yang berumur 3 bulan.
 Sekitar 45% penyakit terjadi pada usia kurang dari 1 tahun dan 66%
pada usia kurang dari 5 tahun.
 Kematian dan jumlah kasus yang dirawat tertinggi terjadi pada usia
6 bulan pertama kehidupan.
Surveilens
 Kegiatan pengamatan secara  Tahap kegiatan surveilens
sistematis dan terus menerus - Menetapkan tujuan surveilens
 Tujuan surveilens - Tetapkan definisi kasus
- Mengetahui epidemiologi - Tentukan sumber data
kasus
- Distribusi kasus berdasarkan
- Mengidentifikasi populasi kab/kota
risiko tinggi
- Memprediksi dan mencegah
KLB
Penanggulangan KLB pertusis
 Pengobatan: kasus klinis / konfirmasi lab
diberikan antibiotik erytromisin selama 7-14
hari ( maksimal 3 minggu ) dengan dosis
anak-anak 40-50 mg/kgBB
 Lakukan pemisahan terhadap kontak yang
tidak pernah di imunisasi atau yang tidak di
imunisasi lengkap.
 Pemberian erytromisin selama 14 hari bagi
anggota keluarga yang kontak dengan
penderita tanpa memandang status imunisasi
dan umur.
 Pencegahan yang dilakukan secara aktif dan pasif:
Secara aktif Kontra indikasi

Dengan pemberian imunisasi DPT 1. Panas yang lebih dari 38 derajat


celcius.
2. Riwayat kejang
3. Demam dengan kejang, penurunan
kesadaran, syok atau reaksi anafilaktik

Tenaga kesehatan sebagai edukator Melakukan penyuluhan kepada masyarakat


khususnya kepada orang tua yang
mempunyai bayi tentang bahaya pertusis
dan manfaat imunisasi bagi bayi.
 Pencegahan penyebarluasan penyakit, dilakukan dengan
cara :
Isolasi mencegah kontak dengan individu
yang terinfeksi, mendapatkan
antibiotik sekurang-kurangnya 5
hari dari 14 hari pemberian
secara lengkap.
Karantina berusia <7 tahun imunisasi tidak
lengkap, tidak boleh berada di tempat
publik selama 14 hari atau setidaknya
mendapat antibiotik selama 5 hari dari
14 hari pemberian secara lengkap.

Disinfeksi direkomendasikan untuk melakukan


pada alat atau ruangan yang
terkontaminasi sekret pernapasan dari
pasien pertusis.
PROGNOSIS
Baik.

Komplikasi :
 alat pernafasan : oti
Kesimpulan

 Pertusis adalah penyakit infeksi akut pada


saluran pernafasan yang sangat menular dengan
ditandai oleh suatu sindrom yang terdiri dari
batuk yang bersifat spasmodic dan paroksimal
disertai nada yang meninggi.
 Penyakitpertusis disebabkan oleh bakteri
Bordetella pertusis.
 Penyakit pertusis dapat dicegah dengan cara
pemberian imunisasi DPT.
THANKYOU