Anda di halaman 1dari 52

PENGADAAN OBAT PUBLIK DAN

PERBEKALAN KESEHATAN UNTUK


PELAYANAN KESEHATAN DASAR

OLEH
DRA.WIDJAJANINGSIH,APT
DASAR
 Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor : 1121/ MENKES/ SK/ XII/ 2008
Tentang Pedoman Teknis Pengadaan Obat Publik
dan Perbekalan Kesehatan Untuk Pelayanan
Kesehatan Dasar
 Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Tentang Perubahan Kedua Atas Keputusan Menteri
Kesehatan Nomor 328/MENKES/SK/IX/2013
Tentang Formularium Nasional
 Pengadaan obat berdasarkan Katalog elektronik (
E-Catalogue) sesuai dengan Peraturan Menteri
Kesehatan RI no.63 tahun 2014
 Daftar Pengadaan Obat diluar E- Catalogue
diadakan sesuai dengan Peraturan Pemerintah
No.54 Th 2010 yang telah dirubah dengan
Peraturan Pemerintah No 70 th 2012 tentang
Pengadaan Barang/Jasa
KEBIJAKAN

Kebijakan satu pintu (one gate policy) merupakan


sistem yang dapat meningkatkan efisiensi dan
efektifitas dalam perencanaan, pengadaan,
penyimpanan, pendistribusian, pencatatan
pelaporan, dan evaluasi yang terintegrasi dengan
unit terkait.
I. PERENCANAAN OBAT DAN
PERBEKALAN KESEHATAN

1. Perencanaan obat dan perbekalan kesehatan


merupakan salah satu fungsi yang menentukan
dalam proses pengadaan obat dan perbekalan
kesehatan.
2. Tujuan perencanaan adalah untuk menetapkan
jenis dan jumlah obat dan perbekalan kesehatan
yang tempat sesuai dengan kebutuhan pelayanan
kesehatan dasar.
3. Pengadaan obat dan perbekalan kesehatan untuk
pelayanan kesehatan dasar (PKD) dibiayai melalui
berbagai sumber anggaran. Berbagai sumber
anggaran yang membiayai pengadaan obat dan
perbekalan kesehatan tersebut antara lain :
a. APBN : DAK
b. APBD I
c. Dana Alokasi Umum (DAU)
d. Sumber-sumber lain.
A. Manfaat Perencanaan Obat Terpadu
1. Menghindari tumpang tindih penggunaan anggaran.
2. Keterpaduan dalam evaluasi, penggunaan dan
perencanaan.
3. Kesamaan persepsi antara pemakai obat dan penyedia
anggaran.
4. Estimasi kebutuhan obat lebih tepat.
5. Koordinasi antara penyedia anggaran dan pemakai obat.
6. Pemanfaatan dana pengadaan obat dapat lebih optimal.
B. Tim Perencanaan Obat dan Perbekalan
Kesehatan Terpadu
Tim Perencanaan Obat dan Perbekalan
Kesehatan Terpadu di Kabupaten/ Kota dibentuk
melalui Surat Keputusan Bupati/ Walikota.
1. Kriteria pemilihan obat :
Sebelum melakukan perencanaan obat perlu
diperhatikan kriteria yang dipergunakan sebagai
acuan dalam pemilihan obat, yaitu :
a. Obat merupakan kebutuhan untuk sebagian besar
populasi penyakit.
b. Obat memiliki keamanan dan khasiat yang didukung
dengan bukti ilmiah.
c. Obat memiliki manfaat yang maksimal dengan
resiko yang minimal.
d. Obat mempunyai mutu yang terjamin baik ditinjau dari
segi stabilitas maupun bioavailabilitasnya.
e. Biaya pengobatan mempunyai rasio antara manfaat dan
biaya yang baik.
f. Bila terdapat lebih dari satu pilihan yang memiliki efek
terapi yang serupa maka pilihan diberikan kepada obat
yang :
• Sifatnya paling banyak diketahui berdasarkan data ilmiah.
• Sifat farmakokinetiknya diketahui paling banyak
menguntungkan.
• Stabilitasnya yang paling baik.
• Paling mudah diperoleh.
g. Harga terjangkau.
h. Obat sedapat mungkin sediaan tunggal
Untuk menghindari resiko yang mungkin
terjadi harus mempertimbangkan :
a. Kontra Indikasi.
b. Peringatan dan Perhatian.
c. Efek Samping.
d. Stabilitas.
2. Tahap Kompilasi Pemakaian Obat.
Kompilasi pemakaian obat adalah rekapitulasi
data pemakaian obat di unit pelayanan
kesehatan, yang bersumber dari Laporan
Pemakaian dan Lembar Pemintaan Obat
(LPLPO). Kompilasi pemakaian obat dapat
digunakan sebagai dasar untuk menghitung stok
optimum.
Informasi yang diperoleh adalah :
a. Pemakaian tiap jenis obat pada masing-masing unit
pelayanan kesehatan/ puskesmas pertahun.
b. Persentase pemakaian tiap jenis obat terhadap total
pemakaian setahun seluruh unit pelayanan
kesehatan/ puskesmas.
c. Pemakaian rata-rata untuk setiap jenis obat untuk
tingkat Kabupaten/Kota secara periodik.
3. Tahap Perhitungan Kebutuhan Obat.
Dalam merencanakan kebutuhan obat perlu
dilakukan perhitungan secara tepat. Perhitungan
kebutuhan obat dapat dilakukan dengan
menggunakan metode konsumsi dan atau
metode morbiditas.
A. Metode konsumsi adalah metode yang
didasarkan atas analisa data konsumsi obat
tahun sebelumnya. Untuk menghitung jumlah
obat yang dibutuhkan berdasarkan metode
konsumsi perlu diperhatikan hal-hal sebagai
berikut :
1) Pengumpulan dan pengelolahan data.
2) Analisa data untuk informasi dan evaluasi.
3) Perhitungan perkiraan kebutuhan obat.
4) Penyesuaian jumlah kebutuhan obat dengan alokasi dana.
Untuk memperoleh data kebutuhan obat yang
mendekati ketepatan, perlu dilakukan analisa trend
pemakaian obat 3 (tiga) tahun sebelumnya atau
lebih.
Data yang perlu dipersiapkan untuk perhitungan
dengan metode konsumsi :
1) Daftar obat.
2) Stok awal.
3) Penerimaan.
4) Pengeluaran.
5) Sisa stok.
6) Obat hilang/ rusak, kadaluarsa.
7) Kekosongan obat.
8) Pemakaian rata-rata/ pergerakan obat pertahun.
9) Waktu tunggu.
10) Stok pengaman.
11) Perkembangan pola kunjungan.
Contoh perhitungan dengan Metode Konsumsi:
Selama tahun 2007 (Januari-Desember) pemakaian
parasetamol tablet sebanyak 2.500.000 tablet untuk
pemakaian selama 10 (sepuluh) bulan. Pernah terjadi
kekosongan selama 2 (dua) bulan. Sisa stok per 31
Desember 2007 adalah 100.000 tablet.
a. Pemakaian rata-rata Parasetamol tablet perbulan tahun
2007 adalah 2.500.000 tablet/ 10 = 250.000 tablet.
b. Pemakaian Parasetamol tahun 2007 (12 bulan) = 250.000
tablet x 12 = 3.000.000 tablet.
c. Pada umumnya stok pengaman berkisar antara 10% -
20% (termasuk untuk mengantisipasi kemungkinan
kenaikan kunjungan). Misalkan berdasarkan evaluasi
data diperkirakan 20% = 20% x 3.000.000 tablet =
600.000 tablet.
d. Pada umumnya waktu tunggu berkisar antara 3 s/d 6
bulan. Misalkan leadtime diperkirakan 3 bulan = 3 x
250.000 tablet = 750.000 tablet.
e. Kebutuhan Parasetamol tahun 2007 adalah = b + c + d,
yaitu : 3.000.000 tablet + 600.000 tablet + 750.000
tablet = 4.350.000 tablet.
f. Rencana pengadaan Paracetamol untuk tahun 2008 adalah :
hasil perhitungan kebutuhan (e) – sisa stok = 4.350.000
tablet – 100.000 tablet = 4.250.000 tablet = 4250 kaleng/
botol @ 1000 tablet.
Rumus : Metode Konsumsi
A = (B+C+D) - E

A = Rencana Pengadaan
B = Pemakaian rata –rata x 12 bulan
C = Stok pengaman 10% - 20%
D = Waktu tunggu 3 – 6 bulan
E = Sisa stok
B. Metode Morbiditas
Metode morbiditas adalah perhitungan kebutuhan obat
berdasarkan pola penyakit. Faktor-faktor yang perlu
diperhatikan adalah perkembangan pola penyakit, waktu
tunggu, dan stok pengaman.
Langkah – langkah perhitungan metode morbiditas adalah
:
1) Menetapkan pola morbiditas penyakit berdasarkan kelompok
umur – penyakit.
2) Menyiapkan data populasi penduduk.
Komposisi demografi dari populasi yang akan diklasifikasikan
berdasarkan jenis kelamin untuk umur antara :
• 0 s/d 4 tahun
• 5 s/d 14 tahun.
• 15 s/d 44 tahun.
• ≥ 45 tahun.
3) Menyediakan data masing – masing penyakit pertahun untuk
seluruh populasi pada kelompok umur yang ada.
4) Menghitung frekuensi kejadian masing – masing penyakit
pertahun untuk seluruh populasi pada kelompok umur yang ada.
4) Menghitung jenis, jumlah, dosis, frekuensi dan lama pemberian
obat menggunakan pedoman pengobatan yang ada.
5) Menghitung jumlah yang harus diadakan untuk tahun anggaran
yang akan datang.
Contoh perhitungan Metode Morbiditas :
1) Menghitung masing – masing obat yang diperlukan per
penyakit. Sebagai contoh pada pedoman pengobatan untuk
penyakit diare akut pada orang dewasa dan anak – anak
digunakan obat oralit dengan perhitungan sebagai berikut :
 Anak-anak :
Satu episode diperlukan 15 (lima belas) bungkus oralit @
200 ml. Jumpah episode 18.000 kasus. Maka jumlah oralit
yang diperlukan = 18.000 x 15 bungkus = 270.000 bungkus
@ 200 ml.
 Dewasa :

Satu episode diperlukan 6 (enam) bungkus oralit @ 1 liter.


Jumlah episode 10,800 kasus. Maka jumlah oralit yang
diperlukan = 10.800 x 6 bungkus = 64.800 bungkus @ 1000
ml / 1 liter.
2) Pengelompokan dan penjumlahan masing – masing obat
(hasil langkah a). Sebagai contoh :
Tetrasiklin kapsul 250 mg digunakan pada berbagai kasis
penyakit. Berdasarkan langkah pada butir a, diperoleh obat
untuk :
 Kolera diperlukan = 3.000 kapsul
 Disentri diperlukan = 5.000 kapsul
 Amubiasis diperlukan = 1.000 kapsul
 Infeksi saluran kemih = 2.000 kapsul
 Penyakit kulit diperlukan = 500 kapsul
 Jumlah Tetrasiklin diperlukan = 11.500 kapsul
4. Tahap Proyeksi Kebutuhan Obat
Proyeksi Kebutuhan Obat adalah perhitungan
kebutuhan obat secara komprehensif dengan
mempertimbangkan data pemakaian obat dan
jumlah sisa stok pada periode yang masih berjalan
dari berbagai sumber anggaran.
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah :
a. Menetapkan perkiraan stok akhir periode yang akan datang.
Stok akhir diperkirakan sama dengan hasil perkalian antara
waktu tunggu dengan estimasi pemakaian rata-rata/ bulan
ditambah stok pengaman.
b. Menghitung perkiraan kebutuhan pengadaan obat periode
tahun yang akan datang. Perkiraan kebutuhan pengadaan
obat tahun yang akan datang dapat dirumuskan sebagai
berikut :
a=b+c+d–e-f

a = Perkiraan kebutuhan pengadaan obat tahun yang akan


datang
b = Kebutuhan obat dan pembekalan kesehatan untuk sisa
periode berjalan (sesuai tahun anggaran yang
bersangkutan)
c = Kebutuhan obat untuk tahun yang
akan datang.
d = Perkiraan stok akhir tahun (waktu tunggu
dan stok pengaman).
e = Stok awal periode berjalan atau sisa stok
per 31 Desember tahun sebelumnya di unit
pengelola obat.
f = Rencana penerimaan obat pada periode
berjalan (Januari s/d Desember).
c. Menghitung perkiraan anggaran untuk total kebutuhan
obat dengan cara :
1) Melakukan analisis ABC – VEN.
2) Menyusun prioritas kebutuhan dan penyesuaian kebutuhan
dengan anggaran yang tersedia.
d. Pengalokasian kebutuhan anggaran dengan melakukan
kegiatan :
1) Menetapkan kebutuhan anggaran untuk masing – masing obat
berdasarkan sumber anggaran.
2) Menghitun persentase belanja untuk masing – masing obat
terhadap masing – masing sumber anggaran.
3) Menghitung persentase anggaran masing – masing obat terhadap
total anggaran dari semua sumber.
e. Mengisi lembar kerja perencanaan pengadaan obat,
dengan menggunakan formulir lembar kerja
perencanaan pengadaan obat.

5. Tahap Penyesuaian Rencana Pengadaan


Obat.
Beberapa teknik manajemen untuk
meningkatkan efektifitas dan efisiensi
penggunaan dana dalam perencanaan kebutuhan
obat adalah dengan cara :
a. Analisa ABC.
Berdasarkan berbagai pengamatan dalam pengelolaan
obat, yang paling banyak ditemukan adalah tingkat
konsumsi pertahun hanya diwakili oleh relatif sejumlah
kecil item.
Sebagai contoh, dari pengamatan terhadap pengadaan
obat dijumpai bahwa sebagian besar dana obat (70%)
digunakan untuk pengadaan, 10% dari jenis/item obat
yang paling banyak digunakan sedangkan sisanya sekitar
90% jenis/item obat menggunakan dana sebesar 30%.
Oleh karena itu analisa ABC mengelompokan item obat
berdasarkan kebutuhan dananya yaitu :
Kelompok A :
Adalah kelompok jenis obat yang jumlah nilai rencana
pengadaannya menunjukan penyerapan dana sekitar 70 %
dari jumlah dana obat keseluruhan.
Kelompok B :
Adalah kelompok jenis obat yang jumlah nilai rencana
pengadaannya menunjukkan penyerapan dana sekitar
20%.
Kelompok C :
Adalah kelompok jenis obat yang jumlah nilai rencana
pengadaannya menunjukkan penyerapan dana sekitar 10%
dari jumlah dana obat keseluruhan.
Langkah – langkah menentukan kelompok A, B dan C.
1) Hitung jumlah dana yang dibutuhkan untuk masing –
masing obat dengan cara mengalikan kuantum obat
dengan harga obat.
2) Tentukan rangkingnya mulai dari yang terbesar dananya
sampai yang terkecil.
3) Hitung persentasenya terhadap total dana yang
dibutuhkan.
4) Hitung kumulasi persennya.
5) Obat kelompok A termasuk dalam kumulasi 70%.
6) Obat kelompok B termasuk dalam kumulasi > 70% s/d
90%.
7) Obat kelompok C termasuk dalam kumulasi > 90% s/d
100%
b. Analisa VEN.
Salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi
penggunaan dana obat yang terbatas adalah dengan
mengelompokan obat yang didasarkan kepada dampak
tiap jenis obat pada kesehatan. Semua jenis obat yang
tercantum dalam daftar obat dikelompokkan kedalam
tiga kelompok berikut :
Kelompok V :
Adalah kelompok obat yang vital, yang termasuk dalam
kelompok ini antara lain :
 Obat penyelamat (live saving drugs).
 Obat untuk pelayanan kesehatan pokok (vaksin, dll).
 Obat untuk mengatasi penyakit – penyakit penyebab kematian
terbesar
Kelompok E :
Adalah kelompok obat yang bekerja kausal, yaitu obat
yang bekerja pada sumber penyebab penyakit.
Kelompok N :
Merupakan obat penunjang yaitu obat yang kerjanya
ringan dan biasanya dipergunakan untuk menimbulkan
kenyamanan atau untuk mengatasi keluhan ringan.
Penggolongan obat sistem VEN dapat digunakan untuk :
a. Penyesuaian rencana kebutuhan obat dengan alokasi dana yang
tersedia. Obat – obatan yang perlu ditambah atau dikurangi
dapat didasarkan atas pengelompokan obat menurut VEN.
b. Dalam penyusunan rencana kebutuhan obat yang termasuk
kelompok V agar diusahakan tidak terjadi kekosongan obat.
Untuk menyusun daftar VEN perlu ditentukan lebih dahulu
kriteria penentuan VEN. Kriteria sebaiknya disusun oleh suatu
tim. Dalam menentukan kriteria perlu dipertimbangkan kondisi
dan kebutuhan masing – masing wilayah.
Kriteria yang disusun dapat mencakup berbagai aspek diantara
lain :
• Klinis
• Konsumsi
• Target kondisi
• Biaya
Langkah langkah menentukan VEN :
• Menyusun kriteria menentukan VEN
• Menyediakan data pola penyakit
• Merujuk pada pedoman pengobatan
II. PENGADAAN OBAT DAN
PEMBEKALAN KESEHATAN

Pengadaan barang / jasa pemerintah yang dibiayai


dengan APBN/APBD dapat dilaksanakan dengan
efisien, efektif, terbuka dan bersaing, transparan,
adil/tidak diskriminatif dan akuntabel.
Tujuan pengadaan obat dan perbekalan kesehatan
adalah :
1. Tersedianya obat dan perbekalan kesehatan dengan jenis
dan jumlah yang cukup sesuai kebutuhan pelayanan
kesehatan.
2. Mutu obat dan perbekalan kesehatan terjamin.
3. Obat dan perbekalan kesehatan dapat diperoleh pada
saat diperlukan.
Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam
pengadaan obat perbekalan kesehatan adalah :
1. Kriteria obat dan perbekalan kesehatan
2. Persyaratan pemasok
3. Penentuan waktu pengadaan dan kedatangan obat
4. Penerimaan dan pemeriksaan obat dan perbekalan
kesehatan
5. Pemantauan status pesanan
A. Kritria Obat dan Perbekalan Kesehatan.
1. Kriteria Umum.
a. Obat termasuk dalam daftar obat Pelayanan Kesehatan Dasar
(PKD), obat program kesehatan, obat generik yang tercantum
dalam Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yang masih
berlaku.
b. Obat dan perbekalan kesehatan telah memiliki izin edar atau
Nomor Registrasi dari Departemen Kesehatan RI/ Badan
POM.
c. Batas kadaluwarsa obat dan perbekalan kesehatan pada
saat diterima oleh panitia penerimaan minimal 24 (dua puluh
empat) bulan.
d. Khusus untuk vaksin dan preparat biologis ketentuan
kadaluwarsa diatur tersendiri.
e. Obat dan perbekalan kesehatan memiliki Sertifikat Analisa dan
uji mutu yang sesuai dengan Nomor Batch masing – masing
produk.
f. Obat diproduksi oleh Industri Farmasi yang memiliki Sertifikat
CPOB untuk masing – masing jenis sediaan yang dibutuhkan.
2. Kriteria mutu obat dan perbekalan kesehatan.
Mutu dari obat dan perbekalan kesehatan harus dapat
dipertanggung jawabkan. Kriteria mutu obat dan
perbekalan kesehatan adalah sebagai berikut :
a. Persyaratan mutu obat dan perbekalan kesehatan harus sesuai
dengan persyaratan mutu yang tercantum dalam Farmakope
Indonesia edisi terakhir dan persyaratan lain sesuai peraturan
yang berlaku.
b. Industri Farmasi bertanggung jawab terhadap mutu obat hasil
produksinya. Melalui pemeriksaan mutu (Quality Control) yang
dilakukan oleh Industri Farmasi.
B. Persyaratan Pemasok.
Pemilihan pemasok adalah penting karena dapat
mempengaruhi kualitas dan kuantitas obat dan
perbekalan kesehatan. Persyaratan pemasok antara
lain :
1. Memiliki izin Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang masih
berlaku.
Pedagang Besar Farmasi terdiri pusat maupun cabang.
Izin Pedagan Besar Farmasi pusat dikeluarkan oleh
Departemen Kesehatan sedangkan izin untung Pedagang
Besar Farmasi Cabang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan
Provinsi.
2. Pedagang Besar Farmasi (PBF) harus memiliki dukungan
dari Industri Farmasi yang memiliki sertifikat CPOB
(Cara Pembuatan Obat yang Baik) bagi masing – masing
jenis sediaan obat yang dibutuhkan.
3. Pedagang Besar Farmasi harus memiliki reputasi yang
baik dalam bidang pengadaan obat, misalnya dalam
pelaksanaan kerjanya tepat waktu.
4. Pemilik dan atau Apoteker/Asisten Apoteker penanggung
jawab Pedagang Besar Farmasi tidak sedang dalam proses
pengadilan atau tindakan yang berkaitan dengan profesi
kefarmasian.
5. Mampu menjamin kesinambungan ketersediaan obat
sesuai dengan masa kontrak.
C. Penilaian Dokumen Data Teknis.
Penilaian dokumen data teknis antara lain :
1. Surat Ijin Edar (Nomor Registrasi) tiap produk yang
ditawarkan.
Penilaian didasarkan atas kebenaran dan keabsahannya Surat
Ijin Edar (Nomor Registrasi).
2. Sertifikat CPOB untuk tiap bentuk masing – masing jenis
sediaan yang ditawarkan. (Fotokopi yang dilegalisir oleh
pejabat yang berwenang dari Industri Farmasi).
3. Surat Dukungan dari Industri Farmasi untuk obat yang
diproduksi dalam negeri yang ditandatangani oleh pejabat yang
berwenang dari Industri Farmasi (asli).
4. Surat Dukungan dari sole agent untuk obat yang tidak
diproduksi di dalam negeri yang ditandatangani oleh
pejabat yang berwenang dari sole agent tersebut (asli).
5. Surat pernyataan bersedia menyediakan obat dengan masa
kadaluarsa minimal 24 (dua puluh empat) bulan sejak
diterima oleh panitia penerimaan.
6. Surat Keterangan (referensi) pekerjaan dari Instansi
Pemerintah/ swasta untuk pengadaan obat.
D. Penentuan waktu pengadaan dan kedatangan obat
dan perbekalan kesehatan.
Waktu pengadaan dan kedatangan obat dari berbagai
sumber anggaran perlu ditetapkan berdasarkan hasil
analisa dari data :
1. Sisa stok dengan memperhatikan waktu (tingkat
kecukupan obat dan perbekalan kesehatan).
2. Jumlah obat yang akan diterima sampai dengan akhir
tahun anggaran.
3. Kapasitas sarana penyimpanan.
4. Waktu tunggu.
E. Pemantauan status pesanan.
Pemantauan status pesanan bertujuan untuk :
1. Mempercepat pengiriman sehingga efisiensi dapat
ditingkatkan.
2. Pemantauan dapat dilakukan berdasarkan kepada sistem VEN.
3. Petugas Instalasi Farmasi memantau status pesanan secara
berkala.
4. Pemantauan dan evaluasi pesanan harus dilakukan dengan
memperhatikan :
• Nama Obat
• Satuan kemasan
• Jumlah obat diadakan
• Obat yang sudah diterima
• Obat yang belum diterima
F. Penerimaan dan pemeriksaan obat dan perbekalan
kesehatan.
Penerimaan dan pemeriksaan merupakan salah satu
kegiatan pengadaan agar obat yang diterima sesuai
dengan jenis, jumlah dan mutunya berdasarkan dokumen
yang menyertainya dilakukan oleh panitia penerima
yang salah satu anggotanya adalah tenaga farmasi.
Pemeriksaan mutu obat dilakukan secara organoleptik,
khusus pemeriksaan label dan kemasan perlu dilakukan
pencatatan terhadap tanggal kadaluarsa, nomor registrasi
dan nomor batch terhadap obat yang diterima.
Pemeriksaan mutu obat secara organoleptik dilakukan
meliputi :
Tablet : - Kemasan dan label
- Bentuk fisik (keutuhan, basah,
lengket)
- Warna, bau, rasa
Tablet salut : - Warna, bau, rasa
- Bentuk fisik (keutuhan, basah,
lengket)
Cairan : - Warna, bau
- Kejernihan, homogenitas
- Kemasan dan label
Selep : - Warna, konsistensi
- Homogenitas
- Kemasan dan label
Injeksi : - Warna
- Kejernihan untuk larutan
injeksi
- Homogenitas untuk serbuk
injeksi
- Kemasan dan label
Sirup kering : - Warna, bau, penggumpalan
- Kemasan dan label
Suppositoria : - Warna
- Konsistensi
- Kemasan dan label
Bila terjadi keraguan terhadap mutu obat dapat
dilakukan pemeriksaan mutu di Laboratorium yang
ditunjuk pada saat pengadaan dan merupakan
tanggung jawab pemasok yang menyediakan.
Berakit – rakit dahulu bersenang – senang
kemudian

SEKIAN