Anda di halaman 1dari 34

PANCASILA SEBAGAI SISTEM

FILSAFAT
1. PENGERTIAN
Filsafat berasal dari bahasa Yunani 
philosophia.
Terdiri dari 2 kata :
- Philos : cinta atau philia = persahabatan
- Sophos = sophia : kebijakan,
pengetahuan, ketrampilan, pengalaman
praktis, intelegensi.
Secara harfiah philosophia berarti mencintai
kebijaksanaan (wisdom).
Memperlajari filsafat berarti merupakan upaya
manusia untuk mencapai kebijaksanaan hidup
yang nantinya bisa menjadi konsep yang
bermanfaat bagi peradaban manusia.

Pengertian bijaksana  mengantarkan


seseorang mencapai kebenaran.
Dengan demikian orang yg mencintai penget.
bijaksana  orang yang mencintai
kebenaran.
Istilah philosophos :

a. Pertama kali digunakan oleh Pythagoras (572 – 497


SM)  menunjukkan dirinya pecinta kebijaksanaan
(lover of wisdom).

b. Filsuf lain :
1) Plato (427 – 347 SM), filsf  pengetahuan ttg
segala yg ada atau ilmu pengetahuan yg berminat
mencapai kebenaran yg asli.

2) Aristoteles (384 – 322 SM), filsf  ilmu


pengetahuan yg meliputi kebenaran. Didalamnya
terkandung ilmu : metafisika, logika, retorika, etika,
ekonomi, politik, estetika.
Disebut pula filsf yg menyelidiki sebab dan asas
segala benda.
3) Marcus Tullius Cicere (106 – 43 SM), Filsf 
pengetahuan ttg sesuatu yg maha agung dan
usaha-usaha utk menapainya.

4) Immanuel Kant (1724 – 1804)


Filsf  ilmu polol dan pangkal segala pengetahuan
yg mencakup didalamnya 3 persoalan, yaitu :
- Apakah yg dpt kita ketahui ? (dijawab oleh
metafisika).
- Apakah yg dapat kita kerjakan ? (dijawab oleh etika).
- Dimanakah pengharapan kita ? (dijawab oleh
antropologi).
 Secara umum :
Filsf  ilmu yg menyelidiki hakekat segala sesuatu utk
mendapatkan kebenaran.
Ciri-ciri filsf sebagai usaha berfikir :
- Radikal
- Menyeluruh
- Integral
atau berpikir yg mengupas sesuatu sedalam-dalamnya.

 Kedudukan filsf dikenal sebagai The Mother of Science (ibu /


induk ilmu pengetahuan).
Sebagai ibu / induk ilmu pengetahuan, filf merupakan muara
bagi iptek.

 Bagus (1966 : 242) memberi arti filsf  sebagai sebuah


pencarian. Manusia tidak pernah secara sempurna memiliki
pengertian menyeluruh ttg segala sesuatu (kebijaksanaan),
shg harus terus menerus mencarinya,
2. CABANG FILSAFAT
a. Metafisika  mempelajari asal mula segala
sesuatu yang ada dan mungkin ada.

Metafisika umum (ontologi)  ilmu yg


membahas segala sesuatu yg ada

Metafisika Teodesi : membahas adanya Tuhan

Kosmologi : membahas adanya


Metafisika
alam semesta
khusus
Antropologi metafisik : membahas
adanya manusia
b. Epistomologi  mempelajari seluk beluk
pengetahuan. Terkandung pertanyaan-
2 mendasar ttg pengetahuan (kriteria
apa yg dapat memyaskan guna
mengungkapkan kebenaran, apakah
sesuatu yang kita percaya dapat
diketahui dan lain-2).

c. Aksiologi  menelusuri hakikat nilai.

Ada etika
Aksiologi
Ada estetika
d. Logika menurut aturan-2 berpikir rasional

Logika mengajarkan manusia utk


menelusuri struktur argumen yang
mengandung kebenaran atau menggali
pengetahuan manusia berdasarkan bukti-
bukti.

Bagi filsuf  logika merupakan alat utama


yang digunakan dalam meluruskan
pertimbangan-2 rasional guna menemukan
kebenaran dari masalah kefilsafatan.
3. FILSAFAT PANCASILA
 Filsf PS  refleksi kritis & rasional ttg PS sbg dasar
negara dan budaya bangsa. Tujuannya  mendapatkan
pokok-2 pengertian yang mendasar dan menyeluruh.

 PS dikatan sbg filsafat  PS hasil perenungan jiwa


yang mendalam. Oleh The Founding Fathers Indonesia
yang dituangkan dalam suatu sistem.

 Filsft PS  hasil berpikir / pemikiran sedalam-dalamnya


B.Ind dianggap, diyakini sebagai kenyataan, norma-2
dan nilai-2 yang benar, adil, bijaksana sesuai kehidupan
dan kepribadian bangsa Indonesia.
 Bung Karno, 1955 – 1965 mengembangkan filsf PS. PS 
filsf asli Ind yang diambil dr budaya dan tradisi Ind,
merupakan akulturasi budaya India (Hindu-Budha), Barat
(Kristen), Arab (Islam).

 Filsf PS  fils praktis, karena tidak hanya mengandung


pemikiran yang mendalam atau tak hanya bertujuan
mencari, ttp hasil pemikiran (filsf PS) digunakan sbg
pedoman hidup sehari-hari (way of life) agar bgs Ind dapat
hidup bahagia lahir dan batin.

 Fils PS memiliki :
a. Dasar Ontologis
b. Dasar Epistemologis
c. Dasar Aksiologis
a. Dasar Ontologis Pancasila
 Dasar ontologis PS  menunjukkan PS benar-2 ada
dalam realitas dg identitas dan entitas yg jelas.
 Melalui tinjauan fils, dasar ontologis PS mengungkat
status istilah yg digunakan, isis dan susunan sila-2,
tata hubungan serta kedudukannya.
 Menurut Kaelan (2002) ontologis PS  hakekatnya
manusia memiliki hakekat mutlak monopluralis.
 Manusia Ind :
 Menjadi dasar adanya PS
 Menjadi pendukung kokoh sila-sila PS
 Scr ontologis  memiliki hal-2 mutlak, yaitu :
 Susunan kodrat raga dan jiwa, jasmani dan rohani.
 Sifat kodrat manusia sebagai makhluk individu &
sosial.
 Sebagai makhluk pribadi dan makhluk Tuhan YME.

 Ciri dasar setiap sila Pancasila, mencerminkan :


 Sifat-2 dasar manusia yg bersifat dwi tunggal
 Ada hub yg bersifat dependen antara PS dengan
manusia Indonesia, dimana eksistensi, sifat dan
kualitas PS tergantung manusia Indonesia.
 Manusia Indonesia sebagai pendukung PS.
 Soepomo & Muh. Yamin  menyampaikan
konsep dasar negara sebelum merdeka ttp tak
memberi nama.
 Soekarno  konsep dasar negara diberi nama
Pancasila.
 PPKI atau Komite Nasional Indonesia Pusat
(KNIP), dimana Soekarno duduk sebagai
anggota digunakan kata PS sebagai Dasar
Negara Indonesia merdeka.
 Rumusan 5 sila PS dopakai dasar negara seperti
rumusan PPKI yang ada dalam pembukaan UUS
1945.
 PS memenuhi syarat sbg dasar fils negara.
Menurut Notonegoro, ada 4 sebab (causa) :

1) Causa bahan / materi (causa material)  terdapat dlm


adat kebiasaan, kebudayaan dan agama.
2) Causa formalis (bentuk)  Bung Karno kemudian
bersama Bung Hatta sbg pembentuk negara.
3) Causa finalis (tujuan)  PS sebagai calon dasar filsf
negara.
4) Causa efficient (asal mula)  PPKI sebagai asal mula
karta (causa efficient) yang menjadikan PS sebagai
dasar filsf negara yang sebelumnya ditetapkan sebagai
calon dasar fils negara.
b. Dasar Epistemologis Pancasila

• Epistemologis PS berkaitan dg sumber dasar


pengetahuan PS.
• Eksistensi PS dibangun sbg abstraksi dan
penyederhanaan thd realitas yang ada dlm
masyarakat, dg lingkungan yg heterogen
multikultur dan multietnik (Salam, 1998).
• PS lahir  sbg respon / jawaban keadaan yg
terjadi dan dialami masy Ind serta menjadi
harapan. PS diharapkan dpt memecahkan
kesulitan hidup B. Ind.
• Ditinjau dr aspek epistomologi  PS memiliki
kebenaran korespondensi, dg catatan bila sila-2
PS scr praktis didukung realita yg dialami dan
dipraktekkan oleh manusia Indonesia.
• Penget PS  bersumber dari manusia Ind dan
lingkungannya.
• PS dibangun dan berakar pada manusia Ind
beserta seluruh suasana kebatinan yg dimiliki.
• Menurut Kaelan (2002 : 96), PS  pedoman atau
dasar B. Ind dlm memandang realitas alam
semesta, mns, masy, bgs dan negara dlm
menyelesaikan masalah hidup dan kehidupan.
• Dasar epistomologi PS juga berkaitan dengan
dasar ontologis PS, krn penget PS berpijak pd
hakekat manusia yg menjadi pendukung pokok
PS.
• Epistomologi sosial PS  dicirikan adanya masy
Ind ingin merdeka, bersatu, berdaulat dengan 5
sila PS.
• Sumber pengetahuan PS  dapat ditelusuri
melalui sejarah terbentuknya PS mengenai
kebudayaan.
• Awal sejarah, abad IV Masehi  nilai-2 agama
Hindu, Budha, Islam serta nilai-2 demokrasi
Barat.
• Berdasarkan realita, scr epistomologis pengetahuan
PS bersumber dari nilai dan budaya :
* tradisional dan modern
* budaya asli dan campuran

• Disamping itu, sumber historis menurut


epistomologis, PS mengakui kebenaran penget yg
bersumber dari :
* wahyu
* agama
* akal pikiran manusia
* bersifat empiris berdasarkan pd pengalaman
Jadi, penget PS mencerminkan pemikiran masy
tradisional dan modern.
c. Dasar Aksiologis Pancasila

• Aksiologi  berkaitan nilai.


• PS tak lepas  manusia Indonesia.
• PS bukan nilai yg ada dg sendirinya (given value)
melainkan nilai yang diciptakan (created value) manusia
Indonesia.

Intrinsik :
Nilai bernilai dalam diri sendiri
berhubungan Ekstrinsik (instrumental) :
bernilai sejarah dikaitkan dengan
cara mencapai tujuan
• Aliran hedonisme  yg menjadi nilai intrinsik
adalah kesenangan.
• Aliran utilitarianisme  yg menjadi nilai intrinsik
adalah manfaat bagi kebanyakan orang.

Nilai intrinsik
(perpaduan nilai asli dan nilai budaya luar Indonesia)

PS Nilai ekstrinsik (instrumental)

• Kekhasan nilai yg melekat pada PS sebagai  nilai


instrinsik terlebih pd nilai Ketuhanan, Kemanusiaan,
Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan Sosial sebagai
satu kesatuan.
• Inilah yang membedakan Ind dg negara lainnya. Nilai
Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dan
Keadilan bersifat universal / umum, shg nilai-2 ini
juga dimiliki oleh manusia di negara-2 lain
(Malaysia, AS, Rusia, Jerman, Thailand, dsb).
• PS sbg nilai instrumental  mengandung imperatif
dan menjadi arah bahwa dalam proses mewujudkan
cita-2 negara, bangsa harus menyesuaikan dengan
sifat-2 yang ada dalam nilai 5 sila PS.
• PS sbg nilai instrumental, PS tak hanya
mencerminkan identitas mns Ind, ttp juga berfungsi
sbg cara dalam mencapai tujuan.
• PS juga mencerminkan nilai realitas dan identitas.
Nilai realitas, krn dl, sila-2 PS berisi nilai
yg sudah dipraktekkan dlm kehidupan
PS juga sehari-2
mencerminkan
Nilai idealitas, nilai yg ingin dicapai

Menurut Kaelan (2002 : 28).


• Nilai-2 dlm sila I s/d V  merupakan cita-2, harapan,
dambaan B. Ind yg perlu diwujudkan.
• Driyarkara, menyatakan PS merupakan Seim in Sollen
• PS  harapan, cita-2 tetapi sekaligus adalah
kenyataan bagi B. Ind.
 Nilai-2 dlm PS mempunyai tingkatan dan bobot yang
berbeda, dimana nilai-2 tak saling bertentangan, bahkan
saling melengkapi.
 PS merupakan kesatuan yg bulat dan utuh atau kesatuan
organik (organic whole).
 Jadi nilai-2 yg ada dlm PS  satu kesatuan yg bulat dan utuh
pula.
Satu kesatuan yg bulat & utuh
Nilai-nilai Tak dapat dipisah-2kan / berhubungan erat
PS
Memberikan pola (patroon) bagi
sikap, tingkah laku & perbuatan
 Notonegoro (1983 : 39)  isi arti PS yang abstrak (hanya
terdapat dlm pikiran/angan-2). PS merupakan cita-2 B. Ind
menjadi dasar falsafah atau dasar kerohanian negara. Tak
berarti hanya tinggal dalam pikiran atau angan-2 saja. Ttp
harus sungguh-2 ada sesuai 5 sila PS.
4. HAKEKAT SILA-SILA PANCASILA
 Hakikat : sbg suatu inti yg terdalam dr segala sesuatu
yg terdiri dari sejumlah unsur ttt dan yg mewujudkan
sesuatu itu shg terpisah dg sesuatu lain dan bersifat
mutlak.
 Contoh : hakikat air terdiri 2 unsur mutlak, yaitu
hidrogen dan oksigen. Kesatuan 2 unsur tsb bersifat
mutlak guna mewujudkan air.
 Jadi ke-2 unsur tsb secara bersama-sama menyusun
air shg terpisah dari benda lainnya, misalnya batu,
kayu, air raksa dan sebagainya.
Kata hakikat dapat dipahami dalam 3 kategori, terkait dg
hakikat sila-sila PS.
a. Hakikat asbtrak = hakikat jenis = hakikat umum.
 Mengandung unsur-2 yang sama, tetap dan tidak
berubah.
 Hakikat abstrak sila-2 PS  menunjuk kata
Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dan
Keadilan.
 Menurut bentuknya PS terdiri kata dasar Tuhan,
Manusia, Satu, Rakyat dan Adil. Ditambah awalan dan
akhiran ke- dan –an (sila I, II, III, IV, V)
 Sila III ditambah per- dan –an. Kedua macam awalan
dan akhiran mempunyai kesamaan dalam maksud yg
pokok  membuat abstrak atau mujarad, tidak maujud
atau lebih tak maujud arti daripada kata dasarnya.
b. Hakikat pribadi

 Hakikat yg memiliki sifat khusus, yaitu terikat


kepada barang sesuatu.
Nilai adat istiadat
Hakikat pribadi PS,
menunjukkan Nilai agama
ciri-ciri khusus Nilai kebudayaan
Sifat dan karakter

 Shg membedakan B. Ind dengan bangsa lain


didunia.
 Hakikat pribadi PS  realisasinya disebut sebagai
kepribadian PS.
c. Hakikat kongkrit

 Bersifat nyata, terletak pada fungsi PS sebagai


dasar fils negara. Dalam realisasinya, PS
merupakan pedoman praktis, yaitu wujud
pelaksanaan praktis dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara.
 Realisasi hakikat kongkrit, pelaksanaan PS dalam
kehidupan negara setiap hari bersifat dinamis,
antisipatif dan sesuai perkembangan waktu,
keadan, serta perubahan jaman (Notonegoro, 1975
: 58 – 61).
Lima sila PS merupakan satu kesatuan utuh.

a. Kesatuan sila-2 PS dalam struktur yg bersifat


hirarkis dan berbentuk piramidal.
Susunan hirarkis  sila-2 yg memiliki tingkatan
jenjang yaitu sila yang ada diatasnya menjadi
landasan sila yang ada dibawahnya.
Sila I, melandasi Sila II
Sila II, melandasi Sila III
Sila III, melandasi Sila IV
Sila IV, melandasi Sila V
Hirarkis dan piramidal :
 Sila I menjadi basis kemanusiaan, persatuan,
kerakyatan dan keadilan sosial.
 Sebaliknya, sila I adalah Ketuhanan yg
berkemanusiaan yangmembangun, memelihara
dan mengembangkan persatuan Indonesia yang
berkerakyatan dan berkeadilan sosial. Demikian
statusnya, tiap-2 sila didalamnya mengandung sila-
2 lainnya.
 Menurut Notonegoro (1984 : 61 dan 1975 : 52, 57)
secara ontologis, kesatuan sila-sila PS sbg suatu
sistem yg bersifat hirarkis dan berbentuk piramidal
adalah : “Bahwa hakikat adanya Tuhan adalah ada
karena dirinya sendiri.”
Tuhan sebagai causa prima
 Oleh karena itu segala sesuatu yang ada,
termasuk manusia da karena diciptakan Tuhan
atau
 Manusia ada sebagai akibat adanya Tuhan (sila I).
 Sedangkan manusia  sebagai subyek
pendukung pokok negara.
 Negara adalah lembaga kemanusiaan, negara
adalah sebagai persekutuan hidup bersama yang
anggotanya adalah manusia (sila II).
 Negara sebagai akibat adanya manusia yang
bersatu (sila III). Kemudian terbentuk persekutuan
hidup bersama yang disebut rakyat.
 Rakyat  hakikatnya merupakan unsur negara
disamping wilayah dan pemerintah.
 Rakyat  totalitas individu-2 dalam negara yg
bersatu (sila IV).
 Keadilan  hakikatnya merupakan tujuan bersama
atau keadilan sosial (sila V) yang pada hakikatnya
sebagai tujuan dan lembaga hidup bersama yg
disebut negara.
b. Hubungan kesatuan sila-2 PS yg saling mengisi dan
saling mengkualifikasi.
Sila-2 PS  sbg kesatuan dapat dirumuskan pula
dalam hubungan saling mengisi dan mengkualifikasi
dalam kerangka hubungan hirarkis piramidal.
Dalam rumusan ini, tiap-2 sila mengandung 4 sila lainnya
atau dikualifikasi oleh 4 sila lainnya.
Sila-2 PS yg saling mengisi dan saling mengkualifikasi.
1) Sila I, Ketuhanan YME  Ketuhanan yg berkemanusiaan
dan yang adil dan beradab, yang berpersatuan Indonesia,
yg berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan /perwakilan yang
berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

2) Sila II, Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah


kemanusiaan yang ber Ketuhanan YME, yang
berpersatuan Ind, yg berkerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan /
perwakilan yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.
3) Sila III, Persatuan yang bersila I, bersila IV dan bersila V.

4) Sila IV, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat


kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan, yg
bersila I, bersila II, bersila III dan bersila V.

5) Sila V, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,


bersila I, bersila II, bersila III dan bersila IV.