Anda di halaman 1dari 21

PENDAHULUAN

• Hipertensi penyebab kematian PTM terbanyak : 17,3 juta


kematian (2008).
• Prevalensi hipertensi usia > 18 tahun berdasar diagnosis tenaga
kesehatan sebesar 9,4% dan dari pengukuran tekanan darah
25,8% (2013) (Roesma, 2009 ; Kemenkes RI, 2014).
• Diperkirakan 1-8% pasien hipertensi usia 30-70 tahun berlanjut
menjadi krisis hipertensi.
• Sebanyak 20% pasien hipertensi yang datang ke UGD merupakan
pasien krisis hipertensi dan 88,53% merupakan pasien dengan
hipertensi urgensi (Devicaesaria, 2014; Salkic, 2014).
IDENTITAS PASIEN
• Nama : nY. NS
• Usia : 57 Tahun
• Status : Menikah
• Agama : Islam
• Alamat : Arjawinangun
• Pekerjaan : IRT
ANAMNESIS
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

• Pasien datang ke IGD RSMS dengan keluhan Keluar


darah dari hidung sejak 1 jam SMRS

• keluhan dirasakan tiba-tiba saat pasien sedang duduk


nonton TV. Darah yang keluar berwarna merah segar.
Darah keluar dari kedua hidung dan saat pasien
meludah kadang-kadang juga terdapat darah. Pasien
merasa pusing. Pasien tidak merasakan pusing
berputar. Keluhan nyeri kepala, mual, muntah
disangkal. Keluhan hidung berdarah tanpa penurunan
kesadaran.
CONT’D

Buang air kecil (BAK) warna kuning tua 4x/hari volume setiap buang air kecil
lebih dari segelas air mineral (>240 cc). Keluhan demam, nyeri pinggang,
BAK sering, tidak dapat menahan BAK, dan nyeri ketika BAK disangkal.

Pasien mengetahui memiliki tekanan darah tinggi sejak 5 tahun yang lalu
dengan rerata tekanan darah 160/90 mmHg namun jarang kontrol ke
puskesmas atau praktik dokter swasta. Sehari-hari pasien sering mengeluh
nyeri kepala dan biasa minum paramex untuk meredakan keluhan. Riwayat
trauma kepala disangkal.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

Riw. Jantung, DM, Ginjal, Asma, Alergi makanan atau obat disangkal
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA

Riw HT diakui pada Ibu paisen


Riw. Ht, Jantung, Ginjal, Asma, Alergi Makanan atau Obat disangkal

RIWAYAT SOSIAL EKONOMI

Pasien merupakan ibu rumah tangga. Pola makan pasien tidak teratur dan
senang makan-makanan asin dan bersantan
Keadaan umum : tampak sakit ringan
Kesadaran : compos mentis
PEMERIKSAAN FISIK
Tanda Vital
Tekanan Darah : 220/130 mmHg
Nadi : 100 x/menit, reguler
Laju Pernapasan : 22x/menit, spontan
Suhu : 36,5 0C
SpO2 : 99%
Status Generalis
Pemeriksaan Kepala
Kepala : mesosefal, venektasi temporal (-), jejas (-)
Mata : CA (-/-), PBI 3mm/3mm, RCD (+/+) Normal
Telinga : discharge (-)
Hidung : napas cuping hidung (-), epistaksis (-)
Mulut : bibir sianosis (-), lidah mencong (-)
Pemeriksaan Leher
Distensi vena leher (-), JVP tidak meningkat, pembesaran tiroid (-)
Pemeriksaan Thoraks Pemeriksaan Abdomen
Paru Inspeksi : cembung, venektasi (-)
Inspeksi : simetris, hemithorax dex = sin Auskultasi : bising usus (+) normal
Palpasi : Vokal fremitus apex dextra = sinistra Palpasi : supel, nyeri tekan (-), hepar lien
Vokal fremitus basal dextra = sinistra tidak teraba
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru Perkusi : timpani, pekak sisi (+) normal,
Batas paru-hepar SIC V LMCD pekak alih (-)
Auskultasi: SD Ves (+/+), RBH(-/-), RBK (-/-),Wh
(-/-)

Jantung Ekstremitas
Inspeksi : IC tampak di SIC V 1 jari lateral LMCS
Palpasi : IC teraba di SIC V 1 jari lateral LMCS
Perkusi : Batas kanan atas SIC II LPSD
Batas kiri atas SIC II LPSS
Batas kanan bawah SIC IV LPSD
Batas kiri bawah SIC V 1 jari lateral
LMCS
Auskultasi : S1>S2, regular, Gallop (-),Murmur (-)
PEMERIKSAAN PENUNJANG
LAB RESULT NORMAL
Hb 15,5 13-16 gr%
Leukosit 11.700 4.000-10.000
Eritrosit 4,7 4-6 juta/mm3
Trombosit 265.000 150.000-450.000
Hematokrit 44 37-43%
GDS 126 80-120 mg/dl
DIAGNOSIS
EPISTAKSIS E.C HIPERTENSI
URGENSI
TATALAKSANA
Non Farmakologis Farmakologis
a. Diet rendah garam Infus RL 20 tetes permenit
b. Edukasi pola hidup sehat Inj. Ketorolak 2x30 mg
Inj. Ranitidin 2x50 mg
seperti penurunan berat badan,
PO Amlodipin 1x10 mg
olah raga 30-60 menit per hari
PO Candesartan 1x16 mg
minimal 3 kali dalam seminggu. Tampon dengan kassa dan lidocain spray
PROGNOSIS
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam
DEFINISI
• Hipertensi urgensi adalah tekanan darah sistolik >180 mmHg atau diastolik
> 120 mmHg tanpa disertai kerusakan pada organ target seperti
ensefalopati hipertensi, stroke iskemik atau hemoragik, papil edema,
perdarahan intrakranial, sindrom koroner akut, edem paru, diseksi aorta,
gagal jantung akut, proteinuria, hematuria, gangguan ginjal akut,
preeklamsia, eklamsia, dan anemia hemolitik (Tanto, 2014).

ETIOLOGI
Hipertensi urgensi dapat disebabkan oleh hipertensi primer (esensial) atau
hipertensi sekunder yang disebabkan oleh penyakit lain seperti stenosis arteri
renalis, penyakit parenkim ginjal, feokromositoma, hiperaldosteronisme, dan
penyebab lain (Fauci et all., 2009).
FAKTOR RISIKO
• Jenis kelamin Beberapa faktor risiko yang dapat
dimodifikasi, yakni (IDI, 2014) :
wanita, obesitas, a. Pola makan ( konsumsi garam
berlebih )
riwayat hipertensi b. Minum-minuman beralkohol
sebelumnya, c. Aktivitas fisik kurang
d. Kebiasaan merokok
penyakit jantung e. Obesitas
f. Dislipidemia
koroner, gangguan g. Diabetes Melitus
somatoform, h. Psikososial dan stres

penggunaan obat
antihipertensi
dalam jumlah yang
PATOGENESIS
Patofisiologi krisis hipertensi
hingga saat ini masih belum
diketahui dengan jelas (Tanto,
2014)
PENEGAKKAN DIAGNOSIS
TATALAKSANA
NON FARMAKOLOGI
TATALAKSANAFARMAKOLOGIS
1.Beberapa pasien mungkin sesuai
dengan terapi oral, agen kerja cepat
seperti kaptopril, labetolol, atau
klonidin disertai dengan observasi
dalam beberapa jam.
2.Penurunan MAP < 25% dalam 24 jam
pertama.
3. Bila kondisi stabil, TD ↓ sampai
160/100-110 mmHg dalam 24-48 jam.
Kemudian TD ↓ sampai mendekati
normal.
4. Pemberian loading dose obat anti
hipertensi  hipotensi sehingga
monitoring TD direkomendasikan 15-30
menit sekali.
5. Penurunan TD terlalu cepat dalam
range yang besar  iskemik organ
Beberapa Rekomendasi
Penatalaksanaan Hipertensi
Urgensi

Pada JNC 8 pilihan obat anti


hipertensi secara umum yakni
ACEI, ARB, Thiazid Diuretic, CCB
serta terdapat tiga strategi yang
dapat dilakukan dalam
pemberian obat anti hipertensi
(Ortiz, 2014).
PROGNOSIS
• Penyebab kematian tersering pada krisis
hipertensi adalah stroke (25%), gagal
ginjal (19%), dan gagal jantung (13%).
Prognosis menjadi lebih baik apabila
penanganannya tepat dan segera
(Devicaesaria, 2014).

DAFTAR PUSTAKA
• Ortiz, J.A. 2014. Evidence-Based Guideline for the Management of High Blood Pressure in Adults (JNC8).
JAMA. 2014 Feb 5;311(5)-507-20.
• Pak, K.J. et all. 2014. Acute Hypertension : A Systemic Review and Appraisal of Guidelines. The Ochsner
Journal 14:655-663, 2014.
• Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia. 2015. Pedoman Tatalaksana Hipertensi Pada
Penyakit Kardiovaskular. Jakarta, 16 hal.
• Roesma J. 2009. Krisis Hipertensi dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi V. Jakarta : Interna
Publishing.
• Rosei, E.A. 2006. Treatment of Hypertensive Emergencies and Urgencies. European Society of Hypertension
Scientific Newsletter. 2006 ; 7:28.
• Salkic, S., Olivera B.M., Farid L., and Selmira B. 2014. Clinical Presentation of Hypertensive Crises in
Emergency Medical Services. Faculty of Medicine, Universuty of Tuzla. Mater Sociomed, 26(1) : 12-16.
• Tanto, C. Dan Ni Made H. 2014. Krisis Hipertensi dalam Kapita Selekta Kedokteran Edisi IV Jilid II. Jakarta :
Media Aesculapius.
• Vaidya, C.K. and Jason R.O. 2007. Hypertensive Urgency and Emergency. Hospital Physician, March 2007
pp. 43-50.
TERIMA KASIH 