Anda di halaman 1dari 32

PATOFISIOLOGI DAN ASUHAN

KEPERAWATAN
PADA ANAK RETARDASI MENTAL

Kelompok 17
1. Lely Pangastuti
2. Seli Susilawati

Program studi : S1 Keperawatan Tk. 2


Definisi Retardasi Mental
Menurut WHO (dikutip dari
menkes 1990), reterdasi mental
adalah kemampuan mental yang
tidak mencukupi. Carter CH
(dikutip dari toback C.)
mengatakan reterdasi mental
adalah suatu kondisi yang ditandai
oleh intelegensi yang rendah yang
menyebabkan ketidakmampuan
yang dianggap normal.
Etiologi

Penyebab retardasi mental dikelompokkan


menjadi retardasi mental primer dan retatdasi
mental sekunder.
• Retardasi mental primer mungkin disebabkan
faktor keturunan (retardasi mental genetik) dan
faktor yang tidak diketahui.
• Retardasi mental sekunder disebabkan faktor-
faktor dari luar yang diketahui dan faktor-faktor
ini memengaruhi otak mungkin pada waktu
prenatal, perinatal atau postnatal.
Klasifikasi
• Mental menurut Willy & Albert,(2009) adalah
sebagai berikut :
1. Retardasi Mental Ringan(IQ nya antara 50-55)
2. Retardasi Mental Sedang (IQnya biasanya
dalam rentang 35-40)
3. Retardasi Mental Berat (IQnya 20-25)
4. Retardasi Mental Sangat Berat (IQnya yaitu
dibawah 20-25)
TANDA DAN GEJALA
Beberapa tanda yang paling sering adalah:
• Keterlambatan dalam berguling, duduk, merangkak atau
berjalan.
• Lambat atau mengalami masalah dengan berbicara atau
berbahasa.
• Keterlambatan dalam menguasai hal – hal seperti toilet
training, berpakaian dan makan sendiri.
• Kesulitan untuk mengingat sesuatu
• Ketidakmampuan untuk menghubungkan antara
tindakan dan konsekuensinya.
• Adanya masalah perilaku seperti mengamuk yang
meledak – ledak
• Kesulitan dengan pemecahan masalah atau berpikir logis.
PATOFISIOLOGI
Faktor Faktor Faktor Perinatal Faktor
Genetik Prenatal Pascanatal
•Gizi •Infeksi
•Mekanis •Proses kelahiran •Trauma
•Toksin lama. kapitalis, tumor
Kelainan •Endokrin •Posisi janin otak.
jumlah dan •Radiasi abnormal •Kelainan tulang
bentuk •Infeksi •Kecelakaan pada tengkorak
kromosom •Stress waktu lahir dan •Kelainan
•Imunitas kegawatan fatal endokrin &
•Anoreksia metabolic,
embrio keracunan otak

Kerusakan pada fungsi otak :


Hemisfer Kanan : Keterlambatan perkembangan motorik kasar dan halus.
Hemisfer Kiri : Keterlambatan perkembangan bahasa, sosial, dan kognitif.
Penurunan fungsi intelektual secara umum
Gngguan perilaku adaptif sosial

Keluarga Hubungan Sosial Perkembangan

Fungsi intelektual
1. Kecemasan 1. Gangguan menurun
Keluarga Komunikasi verbal
2. Kurang 2. Gangguan bermain
pengetahuan 3. Isolasi sosial
1. Resiko
3. Koping keluarga 4. Keusakan interaksi
ketergantungan
tidak efektif sosial
2. Resiko cedera
Pemeriksaan fisik fokusnya
• Kepala : Mikro/makrosepali, plagiosepali (bentuk
kepala tidak simetris)
• Rambut : Pusarganda, rambut jarang/tidak ada, halus,
mudah putus dan cepat berubah
• Mata : mikroftalmia, juling, nistagmus, dll
• Hidung : jembatan/punggung hidung mendatar,
ukuran kecil, cuping melengkung keatas, dll
• Mulut : bentuk “V” yang terbalik dari bibir atas, langit-
langit lebar/melengkung tinggi
• Geligi : odontogenesis yang tidak normal
• Telinga : keduanya letak rendah; dll
Lanjutan..

• Muka : panjang filtrum yang bertambah, hipoplasia


• Leher : pendek; tidak mempunyai kemampuan
gerak sempurna
• Tangan : jari pendek dan tegap atau panjang kecil
meruncing, ibu jari gemuk dan lebar, klinodaktil, dll
• Dada & Abdomen : terdapat beberapa puting,
buncit, dll
• Genitalia : mikropenis, testis tidak turun, dll
• Kaki : jari kaki saling tumpang tindih, panjang &
tegap / panjang kecil meruncing diujungnya, lebar,
besar, gemuk.
Pemeriksaan penunjang / Laboraorium
a. Pemeriksaan Diagnostik
-EEG (Elektro Ensefalogram)
a. Gejala kejang yang dicurigai
b. Kesulitan mengerti bahasa yang berat
- MRI (Magnetic Resonance Imaging)
- CT Scan untuk identifikasi abnormalitas perkembangan
jaringan otak, injury jaringan otak atau trauma yang
mengakibatkan perubahan
b. Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan kromosom
- Pemeriksaan urin, serum atau virus
Pengobatan
Obat-obat yang sering digunakan dalam bidang retardasi mental
adalah terutama untuk menekan gejala-gejala hyperkinetik,
misalnya :
- Amphetamin dosis 0,2 - 0,4 mg/kg/hari
- Imipramin dosis ± 1,5 mg/kg/hariEfek sampingan kedua obat
diatas dapat menimbulkan convulsi
- Valium, Nobrium, Haloperidol dsb. dapat juga menekan gejala
hyperkinetik

Obat-obatan untuk konvulsi :


- Dilantin dosis 5 - 7 mg/kg/hari (Dilantin dapat juga menurunkan
gejala hyperkinetik, gejalagangguan emosi dan menaikkan fungsi
berfikir).
- Phenobarbital dosis 5 mg/kg/hari (Phenobarbital dapat
menaikkan gejala hyperkinetik).
- Cofein : baik untuk convulsi dan menurunkan gejala hyperkinetik
Lanjutan..

Obat-obatan untuk menaikkan kemampuan


belajar :
- Pyrithioxine (Encephabol, Cerebron).
- Glutamic acid.
- Gamma amino butyric acid (Gammalon).
- Pabenol.
- Nootropil.
- Amphetamin dsb.
Perawatan / terapi
a. Pentingnya Pendidikan dan Latihan untuk
Penderita Retardasi Mental
▫ Latihan untuk mempergunakan dan
mengembangkan kapasitas yang dimiliki dengan
sebaik-baiknya.
▫ Pendidikan dan latihan diperlukan untuk
memperbaiki sifat-sifat yang salah.
▫ Dengan latihan maka diharapkan dapat membuat
keterampilan berkembang, sehingga
ketergantungan pada pihak lain menjadi
berkurang atau bahkan hilang.
Lanjutan
b. Jenis-jenis Latihan untuk Penderita Retardasi
Mental
Ada beberapa jenis latihan yang dapat diberikan
kepada penderita retardasi mental, yaitu:
1. Latihan di rumah: belajar makan sendiri,
membersihkan badan dan berpakaian sendiri, dst.,
2. latihan di sekolah: belajar keterampilan untuk
sikap social,
3. Latihan teknis: latihan diberikan sesuai dengan
minat dan jenis kelamin penderita, dan
3. latihan moral: latihan berupa pengenalan dan
tindakan mengenai hal-hal yang baik dan buruk
secara moral.
Teori Asuhan Keperawatan dengan
anak retardasi mental
A. PENGKAJIAN
• Anamnesis
• Riwayat Penyakit Saat ini
• Riwayat Penyakit Dahulu
• Riwayat atenatal , Intranatal, Dan Pascanatal
• Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan
• Riwayat Kesehatan Keluarga
• Pola Fungsi Kesehatan
• Pola Eliminasi
• Pola Aktivitas
• Pola Istirahat
• Pola Kebersihan Diri
Lanjutan..

• Pemeriksaan Fisik
- Keadaan Umum : Kondisi pasien saat dikaji,
kesan kesadaran, TTV.
• Ubun-ubun normal : besar rata atau sedikit
cekung sampai anak usia 18 bulan.
• Mata, reflek mata baik, sklera tidak ikterus,
konjungtiva adakah anemis, penurunan penglihatan
(visus)
• Telinga, simetris, fungsi pendengaran baik
• Mulut / leher,keadaan faring,tonsil ( adakah
pembesaran , hyperemia ), adakah pembesaran
kelenjar limfe, lidah dan gigi ( kotor atau tidak).
Lanjutan,,

• Kulit, keadaan warna, turgor, edema, keringat dan


infeksi
• Thoraks, bentuk simetris, gerakan
• Paru, normal vesikular, adakah kelainan pernafasan
( ronkhi, wheezing )
• Jantung , pembesaran, irama,suara jantung dan bising
• Genitalia, testis, jenis kelamin, apakah labia mayor
menutupi labia minor pada perempuan.
• Ekstremitas, reflek fisiologis, reflek patologis, reflek
memegang, sensibilitas, tonus, dan motorik.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan komunikasi verbal b.d. keterlambatan
perkembangan bahasa, sosial dan kognitif
2. Gangguan interaksi sosial b.d. kesulitan
adaptasi sosial.
3. Defisit perawatan diri b.d. perubahan mobilitas
fisik/kurangnya kematangan perkembangan.
C. Intervensi
1. Dx 1 : Gangguan komunikasi verbal b.d.
keterlambatan perkembangan bahasa, sosial dan
kognitif.
Tujuan : pasien dapat berkomunikasi dengan baik.
Kriteria Hasil : Setelah dilakukan perawatan di rumah sakit
pasien dapat berkomunikasi secara baik dengan orang
lain.
Intervensi:
1. Kaji tingkat penerimaan pesan pasien
2. Tingkatkan komunikasi verbal dan stimulasi taktil
3. Berikan instruksi berulang dan sederhana
4. Ajarkan teknik-teknik kepada orang terdekat dan
pendekatan berulang untuk meningkatkan komunikasi.
2. Dx 2 : Gangguan interaksi sosial b.d. kesulitan
adaptasi sosial
Tujuan : paien dapat merasakan kewajaran saat berinteraksi
seperti orang lain
Kriteria Hasil : Setelah dirawat dirumah sakit paien dapat
berinteraksi secara normal dengan orang lain setelah dirawat
dirumah sakit pasien dapat bersosialisasi dengan masyarakat.
Intervensi:
1. Diskusikan tentang manfaat berhubungan dengan orang lain
2. Ciptakan lingkungan yang aman saat berinteraksi dengan
siapapun
3. Bina hubungan saling percaya : sikap terbuka dan empati.
4. Dorong anak melakukan sosialisasi dengan orang lain
5. Dorong pasien untuk mengemukakan perasaan tentang
keluarga
3. Dx 3 : Defisit perawatan diri b.d. perubahan
mobilitas fisik /kurangnya kematangan
perkembangan.
Tujuan : pasien dapat melakukan perawatan diri walau
hanya sebagian.
Kriteria Hasil : Setelah dirawat di rumah sakit pasien dapat
melakukan perawatan diri
Intervensi:
1. Diskusikan tentang keuntungan melakukan perawatan
diri
2. Diskusikan tentang kerugian tidak melakuakn perawatan
diri
3. Dorong dan bantu anak melakukan perawatan sendiri
4. Beri pujian atas keberhasilan klien melakukan perawatan
diri
KASUS
An. A umur 6 tahun dibawa ibunya ke rumah sakit karena terdapat
banyak luka sayatan di tangannya. Ibu B mengatakan anaknya sering
bersikap aneh misalnya sering melukai diri sendiri dan sering
mengancam jiwa orang lain. Ibu B mengatakan anaknya sering menolak
ketika diajak bermain oleh teman – temannya. Ibu B mengatakan An. A
belum bisa menulis, membaca dan melakukan aktivitasnya sendiri.
Saat dilakukan pengkajian terdapat banyak luka sayatan di tangan
An. A. saat diajak berinteraksi, respon An. A sangat lambat dan jawaban
An. A juga menyimpang dari pertanyaan yang diberikan oleh perawat.
Ketika diamati tubuh An. A terlihat kurus, kecil, tidak seperti anak umur
6 tahun pada umumnya. Saat diberikan mainan oleh perawat An. A
terlihat kurang berminat.
Saat dilakukan pemeriksaan TTV didapatkan hasil :
TD : 110/80 mmHg
RR : 32 x / menit
S : 36,5 o C
N : 110x/menit
A. PENGKAJIAN

1. Biodata Pasien
Nama klien : An.A
Umur : 6 Tahun
Jenis kelamin : laki-laki
Agama : islam
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Pelajar
Status pernikahan : Belum menikah
Alamat : Jl. Raya Tejem 60
Diagnosa Medis : Retardasi Mental
Tanggal masuk RS : 20 November 2012
2. Keluhan Utama:
An.A Mengalami banyak perdarahan di
tangannya.
• Riwayat Kesehatan:
a. Riwayat penyakit sekarang :
klien mengatakan anaknya mengalami
perdarahan karna sayatan di tangannnya
b. Riwayat penyakit dahulu :
Penyakit yang Pernah dialami : klien pernah
mengalami diare sebelumnya, pemakian
antibiotik
3. PENGKAJIAN KEBUTUHAN DASAR MANUSIA
a. Aktivitas Latihan
An. A sebelum di bawa ke RS sering menolak saat di ajak bemain oleh
teman - temanya.
b. Tidur dan istirahat
klien mengatakan tidak ada masalah saat istirahat selama 6 jam untuk tidur
malam dan 2 jam untuk tidur siang
c. Nutrisi
Selama sakit klien tidak mau makan karena sering rewel menahan sakit.
d. Cairan dan elektrolit dan asam basa
saat perdarahan klien hanya minum 3 gelas standar 250 cc dan dibantu
dengan Suport IV Line cairan RL 20tts/mnt
e. Oksigenasi
Pasien tidak mengalami gangguan pada pernafasan
f. Eliminasi bowel
BAB klien Normal.
g. Eliminasi urin
BAK 3x sehari dengan konsistensi warna urin kuning pekat.klien juga tidak
terpasang kateter.
4. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan umum
Keadaan pasien saat ini adalah lemas,gelisah dan rewel dengan
tanda-tanda vital :
S :36,5 C N :110/80 mmHg RR :32x/menit
1) Kepala : Kulit kepala klien normal,bersih, tidak ada lesi dan
benjolan.
2) Leher : Leher An.A tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid, tidak
ada pembesaran tonsil dan tidak ada masalah pada tenggorokan.
3) Dada : tidak terkaji
4) Abdomen :Peristaltik usus normal 5-35x/menit
5) Genetalia : Genetalia klien normal tidak ada lesi tidak ada cairan
yang keluar dari vagina
6) Rectum :Rektum klien normal,tidak ada luka
7) Ekstermitas : Kekuatan tangan klien lemah dan sangat sakit ketika di
gerakkan
B. PERIORITAS DIAGNOSA

1. Gangguan penyesuaian individu b.d


Intelegensi yang rendah.
2.Hambatan interaksi social b.d Gangguan
proses pikir.
3. Isolasi social b.d Keterlambatan dalam
menyelesaikan tugas perkembangan.
C. INTERVENSI
1. Gangguan penyesuaian individu b.d Intelegensi yang
rendah.
criteria hasil :
- Bisa menggunakan strategi koping yang baik.
- Bisa mempertahankan produktivitas.
Intervensi:
• Bantu pasien untuk mengidentifikasi berbagai peran dalam
kehidupan.
• Bantu pasien untuk mengidentifikasi peran yang biasa dalam
keluarga.
• Bantu pasien untuk mengidentifikasi strategi positif untuk
perubahan peran.
2. Hambatan interaksi social b.d Gangguan proses pikir.
kriteria hasil :
- Bisa mempertahankan fungsi kognitif.
- Bisa mempertahankan keterampilan bahasanya.
Lanjutan
Intervensi:
• Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan yang
berhubungan dengan masalah pribadinya.
• Identifity suatu keterampilan sosial tertentu
• Berikan penkes kepada keluarga untuk melatih klien
3. Isolasi social b.d Keterlambatan dalam
menyelesaikan tugas perkembangan.
kriteria hasil:
-Bisa berkomunikasi dengan orang lain.
-Bisa beradaptasi dengan lingkungan.
Intervensi :
• Identifikasi kebutuhan keamanan pasien, berdasarkan
tingkat fungsi fisik,kognitif dan perilaku.
• Ciptakan lingkungan yang aman bagi pasien.
• Batasi pengunjung yang ingin bertemu dengan pasien.
Pembahasan Kasus

A. Pengkajian
Pelaksanaan pengkajian mengacu pada teori, akan tetapi
disesuaikan dengan kondisi klien saat di kaji. Pada saat
dilakukan pengkajian klien dan keluarga cukup terbuka dan
sudah terjalin hubungan saling percaya antara klien, keluarga
dan perawat sehingga mempermudah perawat dalam
mengkaji pasien dan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan.
B. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan tinjauan teoritis, pada klien dengan retardasi
mental di dapatkan 3 diagnosa yang diangkat, meliputi :
1. Gangguan penyesuaian individu b.d Intelegensi yang rendah.
2. Hambatan interaksi social b.d Gangguan proses pikir.
3. Isolasi social b.d Keterlambatan dalam menyelesaikan tugas
perkembangan.
Lanjutan,..

C. Perencanaan
Perencanaan disusun berdasarkan prioritas masalah
yang disesuaikan dengan kondisi klien. Setelah
masalah ditentukan berdasarkan prioritas, tujuan
pelayanan keperawatan ditetapkan.
3. Home care pada anak dengan retardasi
mental
Perilaku dari penderita retardasi mental mengalami
gangguan dalam berperilaku dan cenderung
emosional, dengan dilakukannya perawatan di rumah
akan efektif dalam terapi perilaku pasien tersebut
dengan melibatkan keluarga untuk mengajarkan
anaknya dalam berperilaku yang sesuai.