Anda di halaman 1dari 12

Penyalahgunaan NAPZA adalah penggunaan NAPZA yang

bersifat patologis, paling sedikit telah berlangsung satu bulan


lamanya sehingga menimbulkan gangguan dalam pekerjaan
dan fungsi sosial.

Menurut Pasal 1 UU RI No.35 Tahun 2009 Ketergantungan


adalah kondisi yang ditandai oleh dorongan untuk
menggunakan Narkotika secara terus-menerus dengan
takaran yang meningkat agar menghasilkan efek yang sama
dan apabila penggunaannya dikurangi dan/atau dihentikan
secara tiba-tiba, menimbulkan gejala fisik dan psikis yang
khas.
 Laporan United Nations Office Drugs and Crime pada tahun 2009
menyatakan 149 sampai 272 juta penduduk dunia usia 15-64
tahun yang menyalahgunakan obat setidaknya satu kali dalam 12
bulan terakhir.
 Dari semua jenis obat terlarang ganja merupakan zat yang paling
banyak digunakan di seluruh dunia yaitu 125 juta sampai dengan
203 juta penduduk dunia dengan prevalensi 2,8%-4,5% (UNODC,
2011).
 Survei BNN bekerjasama dengan UI memperkirakan prevalensi
penyalahgunaan NAPZA pada tahun 2009 adalah 1,99% . Pada
tahun 2010, prevalensi penyalahgunaan NAPZA meningkat
menjadi 2,21%.
 Jika tidak dilakukan upaya penanggulangan diproyeksikan
kenaikan penyalahgunaan NAPZA dengan prevalensi 2,8% pada
tahun 2015 (BNN, 2011).
 Survei Nasional BNN Tahun 2006 tentang Penyalahgunaan dan
Peredaran Gelap NAPZA pada Kelompok Pelajar dan Mahasiswa di
33 Propinsi di Indonesia diperoleh hasil bahwa dari 100 pelajar dan
mahasiswa rata-rata 8 orang pernah pakai dan 5 orang dalam
setahun terakhir pakai NAPZA. Total penyalahgunaan NAPZA
pada kelompok pelajar dan mahasiswa sebesar 1,1 juta jiwa
dengan angka prevalensi 5,6% (BNN, 2007).
 Meskipun seorang penyalahguna NAPZA telah mengikuti program
rehabilitasi, masih banyak dari mereka yang kembali
menggunakan NAPZA (kambuh).
 Hal ini disebabkan oleh ada situasi atau benda-benda tertentu
yang dapat merangsang mereka untuk kembali menggunakan
NAPZA. Ini suatu keadaan yang sangat merugikan pecandu,
keluarga, dan masyarakat secara umum. Di Amerika Serikat
(California), Koob, seorang ahli neurofarmakologi, mempunyai
estimasi bahwa 80% dari penyalahguna NAPZA akan kembali
menggunakan NAPZA (Hukom, 2008).
Tahapan Pemakaian NAPZA

1. Tahap pemakaian coba-coba (eksperimental)


2. Tahap pemakaian sosial
3. Tahap pemakaian situasional
4. Tahap habituasi (kebiasaan)
5. Tahap ketergantungan

 Pada ketergantungan, tubuh memerlukan sejumlah takaran zat


yang dipakai, agar ia dapat berfungsi normal. Selama pasokan
NAPZA cukup, ia tampak sehat, meskipun sebenarnya sakit.
Akan tetapi, jika pemakaiannya dikurangi atau dihentikan,
timbul gejala sakit. Hal ini disebut gejala putus zat (sakaw).
Gejalanya bergantung pada jenis zat yang digunakan.
Faktor Risiko Penyalahgunaan NAPZA

 Faktor Genetik
Didukung oleh hasil penelitian bahwa remaja dari orang tua
kandung alkoholik mempunyai risiko 3-4 kali sebagai peminum
alkohol dibandingkan remaja dari orang tua angkat alkoholik.
Penelitian lain membuktikan remaja kembar monozigot
mempunyai risiko alkoholik lebih besar dibandingkan remaja
kembar dizigot.

 Lingkungan Keluarga
Pola asuh dalam keluarga sangat besar pengaruhnya terhadap
penyalahgunaan NAPZA.
 Pergaulan (Teman Sebaya)
Di dalam mekanisme terjadinya penyalahgunaan NAPZA, teman
kelompok sebaya (peer group) mempunyai pengaruh yang dapat
mendorong atau mencetuskan penyalahgunaan NAPZA pada diri
seseorang.

 Karakteristik Individu
1. Umur
Berdasarkan penelitian, kebanyakan penyalahguna NAPZA adalah
mereka yang termasuk kelompok remaja
2. Pendidikan
Menurut Friedman (2005) belum ada hasil penelitian yang
menyatakan apakah pendidikan mempunyai risiko
penyalahgunaan NAPZA. Akan tetapi, pendidikan ada
kaitannya dengan cara berfikir, kepemimpinan, pola asuh,
komunikasi, serta pengambilan keputusan dalam keluarga.
Pencegahan Penyalahgunaan NAPZA

1. Pencegahan primer
Ditujukan kepada mereka, individu, keluarga, kelompok atau
komunitas yang memiliki risiko tinggi terhadap penyalahgunaan
NAPZA, untuk melakukan intervensi agar individu, kelompok, dan
masyarakat waspada serta memiliki ketahanan agar tidak
menggunakan NAPZA. Upaya pencegahan ini dilakukan sejak
anak berusia dini, agar faktor yang dapat menghabat proses
tumbuh kembang anak dapat diatasi dengan baik.

2. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder ditujukan pada kelompok atau komunitas
yang sudah menyalahgunakan NAPZA. Dilakukan pengobatan
agar mereka tidak menggunakan NAPZA lagi.
3. Pencegahan tersier
Pencegahan tersier ditujukan kepada mereka yang sudah pernah
menjadi penyalahguna NAPZA dan telah mengikuti program
terapi dan rehabilitasi untuk menjaga agar tidak kambuh lagi.
Sedangkan pencegahan terhadap penyalahguna NAPZA yang
kambuh kembali adalah dengan melakukan pendampingan yang
dapat membantunya untuk mengatasi masalah perilaku adiksinya,
detoksifikasi, maupun dengan melakukan rehabilitasi kembali.