Anda di halaman 1dari 22

Kelompok 17

 1. Eko Prancisko
Program studi :
 2. Rahmawati S1 Keperawatan Tk. 2
Atresia bilier, atau atresia biliaris
ekstrahepatik, merupakan proses
inflamasi progresif yang menyebabkan
fibrosis saluran empedu intrahepatik
maupun ekstrahepatik sehingga pada
ahirnya akan terjadi obstruksi saluran
tersebut. Isidensi atresia bilier berkisar
antara 1 dalam 10.000 kelahiran hidup
dan 1 dalam 25.000 kelahiran hidup
tampaknya tidak dapat di prediksikan
r0asial atau genetik kendati ditemukan
pridominasi wanita sebesar 1,4:1
(McEvoy dan such, 1996; whitington,
1996 )
Penyebab sebenarnya atresia bilier
tidak diketahui secara pasti
sekalipun mekanisme imun atau
viral injuri bertanggung jawab atas
proses progresif yang menimbulkan Akan terjadi berbagai derajat kolestasis
obliterasi total salura empedu. yang mengakibatkan retensi zat-zat
Berbagai laporan menunjukan iritatif dan toksin yang menimbulkan
bahwa atresia bilier tidak terlihat pruritus berat. Pembedahan untuk
pada janin, bayi yang lahir mati menghasilkan drainase getah empedu
(stillbirth) atau bayi baru lahir yang efektif harus di laksanakan dalam
(halamek dan stevenson, 1997) periode 2 hingga 3 bulan sesudah lahir
agar kerusakan hati yang progresif dapat
di kuragi
Klasifikasi

Cirrhosis Gagal hati Gagal tumbuh Hipertensi


portal

Varises
esophagus Asistes encephalopathy
 Warna tinja pucat
 Distensi abdomen
 Varises
 Hepatomegaly
 Lemah
 Pruritus
 Anoreksia
 Letargi
Obstruksi pada saluran ampedu ekstraepatik menyebabkan obstruksi aliran normal empedu
keluar hati dan ke dalam kantong empedu dan usus. Akhirnya terbentuk sumbatan dan
menyebabkan empedu balik kehati. Ini akan menyebabkan pertadangan,edema dan
degenerasi hati. Bahkan hati menjadi bibrisis dan cirrhosis dan hiperteni portal sehingga
akan menggakibatkan gagal hati.
Degerasi secara gradual pada hati menyebabkan jaundice, ikterik dan hepatomegaly.
Karena tidak ada empedu dalam usus, lemak dan vitamin larut lemak tidak dapat di
absorbs, kekurangan vitamin larut lemak dan gagal tumbuh.
Obstruksi atau tidak adanya
saluran empedu extrahepatik

Empedu tersumbat
dan kembali ke liver

Peradangan, edema, Malabsorsi lemak, vitamin


degenerasi hepatic

Fibrosis Malnutrisi

Cirrhosis Hipertensi portal


Kekurangan vitamin larut lemak

Gagal hepatic
Gagal tumbuh
Pemeriksaan fisik
Neurologis
Gastrointestinal  ensefalopatis

 Peses berwana tanah liat Genitourinarius


 Distensi abdomen di sertai hepatomegaly  urin berwarna gelap
 parisesesofagus
Muskuloskeleta
 asites
 letargi
 anoreksia
 pelisutan otot (muscle wasting)
 masalah pemberian makan (misalnya saat
 gagal tumbuh mata, hidung, telinga, dan tenggorokan
makan kadang-kadang tidak tertarik makan)  ikterik di sclera pada usia 2 atau 3 minggu.
 status nutrisi buruk respirasi  hematologilogis
 kegawatan pernafasan  kecenderungan pendarahan
 hipertensi portal
Intergumen

 ikterik
 kekeringan
 pruritus
 kerusakan kulit
 edema perifer
pemeriksaan penunjang
 Pemeriksaan urin dan tinja
 Cholangiography untuk menentukan keberadaan atresia.

Belum ada satu pun pemeriksaan penunjang yang dapat sepenuhnya diandalkan untuk membedakan antara
kolestasis intrahepatik dan ekstrahepatik. Secara garis besar, pemeriksaan dapat dibagi menjadi 3 kelompok,
yaitu pemeriksaan :

 Fungsi hati,bilirubin,aminotransferase(ALT/AST) prothrombintime,partialthromboplastin time.


1) Laboratorium rutin dan khusus untuk menentukan etiologi dan mengetahui fungsi hati (darah,urin, tinja)
2) Pencitraan, untuk menentukan patensi saluran empedu dan menilai parenkim hati
3) Biopsi hati, terutama bila pemeriksaan lain belum dapat menunjang diagnosis atresia bilier.
Pemeriksaan laboratorium
a) Pemeriksaan rutin
Pada setiap kasus kolestasis harus dilakukan pemeriksaan kadar komponen bilirubin untuk
membedakannya dari hiperbilirubinemia fisiologis. Selain itu dilakukan pemeriksaan darah tepi
lengkap, uji fungsi hati, dan gamma-GT. Kadar bilirubin direk < 4 mg/dl tidak sesuai dengan
obstruksi total. Peningkatan kadar SGOT/SGPT > 10 kali dengan pcningkatan gamma-GT < 5 kali,
lebih mengarah ke suatu kelainan hepatoseluler. Sebaliknya, peningkatan SGOT < 5kali dengan
peningkatan gamma-GT > 5 kali, lebih mengarah ke kolestasis ekstrahepatik.

Pemeriksaan urine : pemeriksaan urobilinogen penting artinya pada pasien yang mengalami ikterus.
Tetapi urobilin dalam urine negatif. Hal ini menunjukkan adanya bendungan saluran empedu total.
Pemeriksaan feces : warna tinja pucat karena yang memberi warna pada tinja / stercobilin dalam tinja
berkurang karena adanya sumbatan.
Fungsi hati : bilirubin, aminotranferase dan faktor pembekuan : protombin time, partial thromboplastin
time.
pengobatan
Atresia bilier biasanya diobati dengan operasi, yang
disebut prosedur Kasai atau transplantasi hati.

Prosedur Kasai

Prosedur Kasai biasanya merupakan terapi awal untuk atresia bilier. Saat prosedur Kasai,
dokter bedah akan mengangkat saluran empedu yang tersumbat pada bayi dan mengambil
usus untuk menggantinya. Lalu cairan empedu akan mengalir langsung ke usus kecil. Pada
kasus operasi yang berhasil, pasien akan memiliki kesehatan yang baik dan tidak mengalami
masalah hati.

Jika operasi Kasai gagal, anak akan membutuhkan transplantasi hati dalam 1-2 tahun.
Walaupun setelah terapi berhasil, kebanyakan anak akan berisiko sirosis bilier obstruktif saat
dewasa. Jadi, anak perlu dikontrol secara teratur untuk memonitor aktivitas hati.
Transplantasi Hati
Perkembangan dan kemajuan pada operasi transplantasi meningkatkan kesediaan dan pemakaian hati dalam
transplantasi yang efisien pada anak. Sebelumnya, transplantasi hati hanya dilakukan jika hati tersedia dari donor
yang cocok, dari anak kecil yang sudah meninggal.

Untuk mendiagnosis dengan tepat, dokter Anda dapat melakukan serangkaian tes. Beberapa tes
yang paling umum dilakukan dokter untuk memastikan diagnosis atresia bilier adalah:

 Pemerisaksaan riwayat medis dan pemeriksaan fisik

 Tes darah

 X-ray perut

 Ultrasound

 Scan hati

 Dan biopsi hati


Perawatan di rumah
• Bayi dengan atresia bilier biasanya kekurangan nutrisi dan membutuhkan diet khusus, seiring mereka
bertambah usia. Jadi, anak butuh kalori lebih dalam diet hariannya. Anak dengan atresia bilier juga
mengalami kesulitan dalam mencerna lemak yang selanjutnya mengakibatkan kekurangan vitamin dan
protein.

 Setelah transplantasi hati, kebanyakan anak dapat makan dengan normal. Meski begitu, selalu konsultasikan
dengan dokter anak Anda diet terbaik untuk anak Anda
Asuhan keperawatan pada kakasus atresia bilier
1. Pengkajian

a. Pemeriksaan fisik
b. System gastrointestinal: warna tinja, distensi, asites,
hepatomegaly, anoreksia, tidak mau makan

2. Diagnosa keperawatan

a. Kurangnya volume cairan b/d gangguan absorbs


b. Gangguan tumbuh kembang b/d kondisi kronik

3. Perencanaan Keperawatan

a. Anak akan menunjukan tanda-tanda keseimbangan cairan cairan dan elektrolit


yang ditandai dengan membrane mukosa lembab, pengisian kembali kapiler 3
sampai 5 detik, turgor kulit baik, pengeluaran urine 1 2 ml/kg/jam
b. Anak akan memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan yang normal
4. Implementasi

a. Meningkatkan status hidrasi

b. Mempertahan kan tumbuh kembang secara normal

c. Mencegah perdarahan dan infeksi

d. Meningkatkkan status nutrisi yang adekuat

e. Meningkatkan pemahaman orang tua tentang perawatan pada anak yang sakit

f. Mempertahankan keutuhan kulit

5. Evaluasi
Perencanaan pemulangan
 Jelaskan tentang kondisi anak

 Jelaskan untuk control ulang

 Lihat implementasi yang (E)


Contoh kasus
An. M (laki-laki, 7 bulan 4 hari) dibawa ke Rumah Sakit dengan keluhan 1
bulan pasca kelahiran sedikit demi sedikit kulit tampak berwarna kuning,
tinja berwarna pucat, air kencing berwarna gelap, demam, perut membesar
dan selalu rewel. Dari hasil pemeriksaan diketahui adanya hipertensi vena
porta, peningkatan kadar bilirubin dan hasil Rontgen didapatkan adanya
pembesaran hati.
2. masalah keperawatan

1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan absorbsi dan anoreksia

Tujuan : anak akan menunjukan nutrisi yang adekuat yang ditandai dengan nafsu makan baik dan berat badan sesuai

Intervensi :

- Pertahankan nutrisi parenteral


- Pertahankan nutrisi yang adekuat, vitamin, mineral, suplemen

2. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan absorbsi

Tujuan : mendemonstrasikan keseimbangan cairan

Intervensi :

- Kaji intake dan output


- Ukur lilitan atau lingkar abdomen
3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan pruritus

Tujuan : mempertahankan keutuhan kulit

Intervensi :

- Kaji tanda-tanda keutuhan kulit


- Ubah posisi anak setiap 2 jam sesuai kondisi

4. Gangguan tumbuh kembang berhubungan dengan kondisi kronik.

Tujuan : mempertahankan tumbuh kembang secara normal

Intervensi :

- Lakukan stimulasi yang dapat dipakai sesuai dengan usia, gerakan motor halus dan kasar, ROM, posisi
duduk, memberikan benda-benda yang dapat dicapai.
- Jelaskan pada orang tua pentingnya melakukan stimulasi tumbuh kembang dengan menyesuaikan kondisi anak
seperti perlu istirahat
1. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi

Tujuan : meningkatkan pemahaman orang tua tentang perawatan pada anak yang sakit

Intervensi :

- Jelaskan tentang pengobatan yang diberikan, dosis, reaksi obat dan tujuannya
- Jelaskan pentingnya stimulasi pada anak, pendengaran, visual, sentuhan
- Jelaskan pentingnya monitor adanya muntah, mual, keram otot, dan diare.
Kesimpulan

Atresia bilier (biliary atresia) adalah suatu penghambatan di dalam pipa/saluran-saluran yang membawa cairan
empedu (bile) dari liver menuju ke kantung empedu (gallbladder). Ini merupakan kondisi congenital, yang berarti
terjadi saat kelahiran.
Etiologi atresia bilier masih belum diketahui dengan pasti. Sebagian ahli menyatakan bahwa faktor genetik ikut berperan,
yang dikaitkan dengan adanya kelainan kromosom trisomi17, 18 dan 21; serta terdapatnya anomali organ pada 30% kasus
atresia bilier. Namun, sebagian besar penulis berpendapat bahwa atresia bilier adalah akibat proses inflamasi yang
merusak duktus bilier, bisa karena infeksi atau iskemi.
Bayi dengan atresia bilier biasanya muncul sehat ketika mereka lahir. Gejala penyakit ini biasanya muncul dalam dua
minggu pertama setelah hidup. Gejala-gejala seperti Ikterus, Jaundice Urin gelap Tinja berwarna pucat, Penurunan berat
badan dan ini berkembang ketika tingkat ikterus meningkat.

Saran

Perlu deteksi dini kasus atresia bilier dan pemberian penatalaksanaan yang tepat demi tercapainya pertumbuhan fisik
dan perkembangan mental yang optimal bagi penderita atresia bilier.