Anda di halaman 1dari 15

PERKEMBANGAN

PENDIDIKAN INKLUSI DI
INDONESIA

KELOMPOK 3
ALYA NURJANAH
ERVITA HANDAYANTI
LATIPAH
MAULIDIA MAHARANI HUMAERA
NADYA RIZKY AMALIA
NURUL HUDANIYAH
ROFI’AH
LATAR BELAKANG
DILAKSANAKANNYA
PENDIDIKAN INKLUSIF DI
INDONESIA
Berdasarkan Undang Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan Undang–
Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
dapat disimpulkan bahwa negara memberikan jaminan sepenuhnya
kepada anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh layanan
pendidikan yang bermutu. Hal ini menunjukkan bahwa anak
berkebutuhan khusus berhak pula memperoleh kesempatan yang sama
dengan anak lainnya (reguler) dalam pendidikan.

Pemerintah sebagai faktor utama dalam membuat


kebijaksanaan pendidikan mengupayakan program
pemerataan pendidikan dengan penyelenggaraan pendidikan
inklusif. Pendidikan inklusif adalah suatu kebijaksanaan
pemerintah dalam mengupayakan pendidikan yang bisa
dinikmati oleh setiap warga negara agar memperoleh
pendidikan tanpa memandang anak berkebutuhan khusus
dan anak normal agar bisa bersekolah dan memperoleh
pendidikan yang layak dan berkualitas untuk masa depan
hidupnya.
Penerapan pendidikan Inklusi memiliki
beberapa landasan sebagai azas dalam
pelaksanaannya. Adapun landasan tersebut
yaitu :

Landasan Landasan
filosofis Empiris

Landasan Landasan
yuridis Pedagogis
SEJARAH
PERKEMBAGAN
PENDIDIKAN INKLUSIF
DI INDONESIA
Menurut data Direktorat Pembinaan
Sekolah Luar Biasa, Kemendiknas
awal tahun 2011 terdapat 624
sekolah inklusi baik SD, SMP, dan
SMA. Namun dalam prakteknya
sistem pendidikan inklusi di
Indonesia masih menyisakan
banyak persoalan terutama yang
berkaitan dengan masih kurangnya
kesadaran dari banyak pihak.
• 1960-an : Integrasi siswa tunanetra di sekolah
menengah umum dimulai atas inisiatif individual.

• 1978-1986 : Proyek Pendidikan Terpadu bagi


anak tunanetra dengan bantuan teknis HKI.

• l999 : Pemerintah memperkenalkan


gagasan pendidikan inklusif dengan bantuan
teknis dari Universitas Oslo, melalui seminar dan
lokakarya.

• 2002 : Rintisan sekolah inklusif di beberapa


kota.
• Sejak tahun 2001, pemerintah mulai uji coba perintisan sekolah
inklusi seperti di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan
12 sekolah didaerah Gunung Kidul dan di Provinsi daerah
Khusus Ibukota Jogyakarta dengan 35 sekolah.
• pada tahun 2002 pemerintah secara resmi mulai melakukan
proyek ujicoba di sembilan propinsi yang memiliki pusat sumber
dan sejak saat itu lebih dari 1500 siswa berkelainan telah
bersekolah di sekolah regular. Yang kemudian pada tahun 2005
meningkat menjadi 6.000 siswa atau 5,11% dari seluruh jumlah
anak berkebutuhan khusus, sedangkan pada tahun 2007
meningkat menjadi 7,5% atau 15.181 siswa yang tersebar di 796
sekolah inklusif yang terdiri dari 17 TK, 648 SD, 75 SLTP, dan
56 SLTA
• 2004 : Di Bandung diselenggarakan deklarasi
Indonesia menuju inklusi yang membahas khusus
penyelenggaraan Pendidikan Inklusi di sekolah-sekolah reguler
Indonesia.
Indonesia Menuju Pendidikan inklusi Secara formal
dideklarasikan pada tanggal 11 agustus 2004 di Bandung,
dengan harapan dapat menggalang sekolah reguler untuk
mempersiapkan pendidikan bagi semua anak termasuk
penyandang cacat anak. Setiap penyandang cacat berhak
memperolah pendidikan pada semua sektor, jalur, jenis dan
jenjang pendidikan (Pasal 6 ayat 1). Setiap penyandang cacat
memiliki hak yang sama untuk menumbuh kembangkan
bakat, kemampuan dan kehidupan sosialnya, terutama bagi
penyandang cacat anak dalam lingkungan keluarga dan
masyarakat (Pasal 6 ayat 6 UU RI No. 4 tahun 1997 tentang
penyandang cacat).
TUJUAN
DILAKSANAKANNYA
PENDIDIKAN
INKLUSIF DI
INDONESIA
Secara umum, Tujuan pendidikan inklusif adalah
memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada
semua peserta didik yang memiliki kelainan fisik,
emosional, mental dan sosial atau memiliki potensi
kecerdasan atau bakat istimewa untuk memperoleh
pendidikan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan
dan kemampuan. Selain itu, pendidikan inklusif juga
menjamin hak setiap warga sekolah mendapatkan
pendidikan, menghilangkan diskriminasi terhadap
anak berkebutuhan khusus dan membantu
meningkatkan mutu pendidikan.
Pendidikan inklusif di Indonesia diselenggarakan
dengan tujuan :
MEMBERIKAN KESEMPATAN YANG SELUAS-LUASNYA KEPADA SEMUA
ANAK (TERMASUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS) MENDAPATKAN
PENDIDIKAN YANG LAYAK SESUAI DENGAN KEBUTUHANNYA.

MEMBANTU MEMPERCEPAT PROGRAM WAJIB BELAJAR


PENDIDIKAN DASAR.

MEMBANTU MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN DASAR DAN


MENENGAH DENGAN MENEKAN ANGKA TINGGAL KELAS DAN
PUTUS SEKOLAH
MENCIPTAKAN SISTEM PENDIDIKAN YANG MENGHARGAI
KEANEKARAGAMAN, TIDAK DISKRIMINATIF, SERTA RAMAH
TERHADAP PEMBELAJARAN.
Memenuhi amanat Undang-Undang Dasar 1945 khususnya Ps.
32 ayat 1 yang berbunyi ’setiap warga negara negara berhak
mendapat pendidikan’, dan ayat 2 yang berbunyi ’setiap warga
negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib
membiayainya’. UU no. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, khususnya Ps. 5 ayat 1 yang berbunyi ’setiap warga
negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh
pendidikan yang bermutu’. UU No. 23/2002 tentang
Perlindungan Anak, khususnya Ps. 51 yang berbunyi ’anak yang
menyandang cacat fisik dan/atau mental diberikana kesempatan
yang sama dan aksesibilitas untuk memperoleh pendidikan biasa
dan pendidikan luar biasa.
Kesimpulan
Seiring dengan peradaban manusia yang semakin
berkembang, keberadaan anak-anak berkebutuhan khusus
mulai dihargai dan memiliki hak yang sama seperti anak
normal lainnya. Istilah pendidikan inklusi mulai muncul sejak
tahun 1990. Indonesia menerapkan pendidikan inklusi dengan
menggunakan landasan filosofis, yuridis, pedagogis dan empiris.
Di indonesia, pendidikan inklusi mulai dirintis sejak tahun
1986, sejak saat itu hingga sekarang dilakukan berbagai
program yang mendukung bagi terselenggaranya pendidikan
inklusi secara nasional.
Tujuan pendidikan inklusi adalah untuk menjamin hak
setiap warga negara sekolah mendapatkan pendidikan,
menghilangkan diskriminasi terhadap anak berkebutuhan
khusus dan membantu meningkatkan mutu pendidikan.
TERIMAKASIH