Anda di halaman 1dari 20

INFESTASI CACING TAMBANG DI

ANTARA REMAJA HAMIL DI DAERAH


BUNGOMA, KENYA

Anisa Adryani KEPANITERAAN KLINIK


K1A1 13 121 BAGIAN-SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RUMAH SAKIT UMUM BAHTERAMAS
PROVINSI SULAWESI TENGGARA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO
Pembimbing : 2017
dr. Haeril Aswar, Sp.PD
PENDAHULUAN
Infeksi cacing tambang (Ancylostomasis) dan
hubungannya dengan defisiensi mikronutrien
hematopoietik memberikan kontribusi yang
signifikan terhadap kejadian anemia di negara
berkembang.

Anemia, yang didefinisikan sebagai kadar


hemoglobin (Hb) <11 g/dl, biasa terjadi pada
kehamilan karena adanya kompetisi feto-
maternal untuk nutrisi hematopoietik.
PENDAHULUAN

Anemia berat selama kehamilan merupakan kontributor


penting untuk kematian ibu hamil serta berat bayi lahir
rendah yang merupakan salah satu faktor risiko untuk
kematian bayi.

Infeksi cacing tambang dan beberapa infeksi cacing


lainnya disamping kekurangan mikronutrien hemato-
poietik, berkontribusi secara signifikan terhadap etiologi
anemia di negara-negara miskin dan merupakan
penyebab umum anemia defisiensi besi.
PENDAHULUAN

Di beberapa negara termasuk Bungoma, Kenya, kehamilan


remaja merupakan masalah kesehatan utama yang ditandai
dengan tingginya prevalensi anemia.

Di Kenya, kehamilan remaja lazim terjadi dan secara konservatif


diperkirakan mencapai 13.000 anak perempuan per tahun.
Mengingat temuan ini dan risiko kesehatan yang menyertainya,
termasuk helminthiasis, dan anemia, fenomena kehamilan remaja
dan masalah kesehatan ini memerlukan perhatian oleh peneliti
dan pemerintah.
PENDAHULUAN

Selain itu, distrik Bungoma yang menjadi tempat


studi, adalah daerah yang terbatas sumber daya
dengan tingkat kemiskinannya 56% dari populasi 1,4
juta. Tingkat kemiskinan yang tinggi seperti itu erat
kaitannya dengan masalah kebersihan dan sanitasi
yang buruk, sehingga menjadikan Bungoma sebagai
lokasi yang cocok untuk wabah cacing tambang.
TUJUAN

- Menentukan kontribusi infeksi cacing tambang


terhadap kejadian anemia di kalangan remaja
hamil di dua fasilitas kesehatan masyarakat
pedesaan di Kenya Barat.

Hasil dari penelitian ini dapat mempengaruhi


kebijakan pemerintah dalam upaya skrining dan
pengobatan cacing tambang pada kehamilan di
Kenya.
METODE
 Metodologi peneltian
- Metode penelitian : penelitian deskriptif dan cross
sectional
- Waktu penelitian : Oktober hingga Desember 2009
- Tempat penelitian : Rumah Sakit Distrik Bungoma dan
klinik antenatal Puskesmas Bumula di Kenya Barat.
- Jumlah sampel penelitian 384 orang.
Data dianalisis dengan menggunakan Statistical
Package for Social Sciences (SPSS) versi 12 dengan
kesimpulan berdasarkan tingkat signifikansi 5%
METODE
 Kriteria inklusi
Kriteria inklusi
• Pasien antenatal dengan umur 13-21 tahun, dengan kategori remaja
usia dini 13-15 tahun, remaja usia pertengahan 16-18 tahun dan
remaja akhir 19-21 tahun.
• Pasien yang melakukan pemeriksaan ANC pertama
• Bersedia menjadi responden penelitian
METODE

Penilaian yang dilakukan pada penelitian ini meliputi ;


1. Hasil pengisian kuisioner
2. Hasil pemeriksaan laboratorium, meliputi
pemeriksaan kadar Hb untuk anemia dan
pemeriksaan mikroskopik tinja untuk menilai adanya
infeksi cacing.
METODE
 Statistik

• Analisis deskriptif digunakan untuk data


demografi dan karakteristik dasar
• Analisis cross sectional digunakan untuk menilai
prevalensi anemia dan kaitannya dengan
infeksi cacing ancylostoma duodenale.
HASIL

HASIL UNTUK
KARAKTERISTIK
SOSIODEMOGRAFI
DAN ANEMIA
HASIL

A. Karakteristik Sosiodemografi
Usia
Dari 384 responden, diantaranya :
- 8,5% adalah remaja usia dini (13-15 tahun)
- 52,3% remaja usia pertengahan (16-18 tahun)
- 29,2% remaja akhir (19-21 tahun).
Sekitar 71% (mayoritas) remaja antenatal berusia ≤18 tahun, dengan
remaja antenatal termuda berusia 13 tahun dan tertua 21 tahun dan
usia rata-rata remaja antenatal adalah 16 tahun.

Pendidikan
- Hampir ¾ (70%) remaja antenatal tidak memiliki pendidikan.
- 25,3% memiliki pendidikan tingkat dasar
- 4,7% memiliki tingkat pendidikan sekolah menengah
- 0% memiliki tingkat pendidikan lanjut
HASIL

A. Karakteristik Sosiodemografi
Pekerjaan
73,7% remaja antenatal tidak memiliki pekerjaan, 1,3% sebagai guru,
1,3 % terlibat dalam pertanian dan 23,7% berbisnis.

Status Pernikahan
Lebih dari setengah (58,9%) dari remaja antenatal telah menikah dan
41,1% belum menikah.

Infeksi Cacing Tambang


Sebanyak 28,4% remaja antenatal terinfeksi cacing tambang,
sedangkan 71,6% bebas dari infeksi cacing tambang (Ancylostoma)

Trimester
Hampir sepertiga (30,7%) remaja antenatal berada di trimester I
kehamilan mereka, 43,5% trimester II dan 25,3% berada di trimester III.
HASIL

B. Parameter Hematologi
Dari total responden penelitian (N=384), prevalensi anemia akibat
cacing tambang diantara remaja hamil adalah 28,4%.

- Diantara semua responden yang anemia yaitu 183 orang (47,7%),


anemia akibat cacing tambang → 77 (42,21%) dan sisanya106
(57,6%) tidak terinfeksi cacing tambang.
- Diantara semua responden yang tidak anemia yaitu 201 orang
(52,3%), yang terinfeksi cacing tambang → 32 (15,9%) dan yang
terbebas dari anemia dan infeksi cacing tambang → 169 (84,1%).

Ada hubungan yang signifikan antara anemia dan infeksi cacing


tambang, (Chi sq 32,238, p < 0,001, OR = 3,703, 95% CI : 2,287 – 5,995)
dimana anemia secara proporsional terkait dengan infeksi cacing
tambang.
HASIL

HASIL UNTUK
HUBUNGAN
INFEKSI CACING
TAMBANG DAN
ANEMIA
PEMBAHASAN

Prevalensi 28,4% untuk cacing tambang yang ditemukan


dalam penelitian ini sangat mirip dengan 30% yang
dilaporkan di Nigeria namun lebih tinggi dari 23% yang
dilaporkan di Masindi, Uganda.

Tingkat prevalensi tinggi Ancyclostomiasis (cacing tambang)


dalam penelitian ini dapat dikaitkan dengan tidak
ditemukannya jamban di daerah peternakan dan status
sosioekonomi yang rendah pada populasi penelitian. Dimana
kemiskinan menyiratkan kondisi kehidupan primitif yang
mendorong penyebaran cacing tambang.
PEMBAHASAN
Prevalensi anemia (42,4%) karena Ancylostomiasis di kalangan
remaja hamil dalam penelitian ini sangat mirip dengan 40,4% yang
dilaporkan di Nigeria namun lebih tinggi lagi dari 28% di Masindi,
Uganda

Hubungan yang signifikan antara infeksi cacing tambang dan


anemia jelas terlihat dalam penelitian ini, dimana terdapat 42,4%
(77 orang) dari 109 orang dengan infeksi cacing tambang yang
anemia.
Infeksi cacing tambang mengakibatkan hilangnya zat besi dari
lumen usus dan meskipun tidak dievaluasi dalam penelitian ini, ada
anggapan bahwa penduduk pedesaan memiliki asupan gizi yang
buruk. Kedua hal ini yang diduga berkontribusi terhadap tingginya
prevalensi anemia pada kelompok studi ini.
PEMBAHASAN
Anemia dapat mempengaruhi kesejahteraan individu akibat kelelahan fisik
yang terjadi. Selain itu, konsekuensi lain dari infeksi cacing tambang yang
terkait dengan anemia pada kehamilan adalah tekanan kardiovaskular,
penurunan kinerja mental, kekebalan berkurang, berkurangnya cadangan
darah perifer pada ibu dan retardasi pertumbuhan intrauterine,
prematuritas, dan berat lahir rendah pada bayi baru lahir

Konsekuensi ini menunjukkan bahwa dengan skrining dan pengobatan


Ankilostomiasis secara periodik terhadap infeksi cacing tambang akan
bermanfaat bagi kesehatan ibu dan semua wanita usia subur yang tinggal
di daerah endemik.

WHO merekomendasikan agar wanita hamil dirawat setelah trimester


pertama. Terlepas dari saran ini, Madagaskar, Nepal dan Sri Lanka telah
menambahkan pengobatan antihelmintic ke program antenatal mereka.
KESIMPULAN
- Prevalensi anemia pada kehamilan remaja di daerah
pedesaan Kenya tergolong tinggi dan infeksi cacing
tambang memiliki dampak yang signifikan terhadap
prevalensi anemia, kesehatan ibu remaja dan
kehamilannya.
- Berdasarkan hasil penelitian ini dan penelitian lainnya,
disarankan bahwa selama periode antenatal care
(ANC), sebaiknya dilakukan skrining rutin untuk
Ancylostomiasis, serta pemberian dosis tunggal
albendazole setelah trimester pertama bersama
dengan suplemen zat besi dan asam folat.
TERIMA KASIH