Anda di halaman 1dari 31

ASUHAN KEPERAWATAN

HARGA DIRI RENDAH


SITUASIONAL

DIANA RACHMANIA
Harga Diri Rendah
• Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak
berarti, dan rendah diri yang berkepanjangan akibat
evaluasi negatif terhadap diri sendiri dan kemampuan
diri
• Harga diri rendah dapat digambarkan sebagai perasaan
negatif terhadap diri sendiri termasuk hilangnya percaya
diri dan harga diri.
• Harga dirirendah dapat terjadi secara situasional(trauma)
atau kronis (kritik diri yang telah berlangsung lama)
dapat diekspresikan secara langsung atau tidak langsung
Penyebab HDR
- koping individu yang tidak efektif akibat
adanya kurang umpan balik positif,
- kurangnya system pendukung kemunduran
perkembangan ego,
- pengulangan umpan balik yang negatif,
- disfungsi system keluarga
HDR Situasional
• Perkembangan persepsi negative tentang harga
diri sebagai respons terhadap situasi saat ini
(NANDA-I)
• Evaluasi atau perasaan negatif terhadap diri
sendiri / kemampuan klien sebagai respon
terhadap situasi saat ini (SDKI)
• Misal: terjadi trauma secara tiba-tiba seperti
operasi, kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah,
putushubungan kerja, perasaan malu karena
sesuatu terjadi
PENYEBAB
• Perubahan pada citra tubuh
• Perubahan peran sosial
• Ketidakadekuatan pemahaman
• Perilaku yang tidak konsisten dengan nilai
• Kegagalan hidup berulang
• Riwayat kehilangan
• Riwayat penolakan
• Transisi perkembangan
Kondisi klinis yang terkait
• Cedera traumatis
• Pembedahan
• Kehamilan
• Kondisi baru terdiagnosis penyakit
• Stroke
• Penyalahgunaan zat
• Demensia
• Pengalaman tidak menyenangkan
Gejala Mayor
SUBJEKTIF OBJEKTIF
• Menilai diri negatif • Berbicara pelan dan
• Merasa lirih
malau/bersalah • Menolak berinteraksi
• Melebihkan penilaian dengan orang lain
negatif ttg diri sendiri • Berjalan menunduk
• Menolak penilaian • Postur tubuh
positif ttg diri sendiri menunduk
Gejala Minor
SUBJEKTIF
Sulit berkonsentrasi
OBJEKTIF
• Kontak mata kurang
• Lesu & tidak bergairah
• Pasif
• Tidak mampu membuat keputusan
Pohon masalah dalam keperawatan jiwa
Efek : Isolasi sosial

Core Problem : Harga diri rendah kronik

Causa : Koping individu tidak efektif

Diagnosa Keperawatan
• Isolasi sosial bd harga diri rendah kronik
• Harga diri rendah kronik bd koping individu
tidak efektif
Strategi Pelaksanaan (SP)
SP 1 Pasien
1. Mengidentifikasi aspek positif & kemampuan yg
dimiliki pasien
2. Membantu pasien menilai kemampuan yang masih
dapat digunakan
3. Membantu pasien memilih kegiatan yang akan
dilatih sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
4. Membimbing pasien memasukkan ke dalam jadwal
kegiatan harian
SP 2 Pasien
1. Memvalidasi masalah dan latihan
sebelumnya.
2. Melatih kegiatan kedua (atau selanjutnya)
yang dipilih sesuai kemampuan
3. Membimbing pasien memasukkan dalam
jadwal kegiatan harian
SP 1 Keluarga
1. Mendiskusikan masalah yang
dirasakankeluarga dalam merawat pasien
2. Menjelaskan pengertian, tanda dangejala
harga diri rendah yang dialamipasien beserta
proses terjadinya
3. Menjelaskan cara-cara merawat pasienharga
diri rendah
SP 2 Keluarga
1. Melatih keluarga mempraktekkan caramerawat pasien
dengan harga diri rendah
2. Melatih keluarga melakukan caramerawat langsung
kepada pasien hargadiri rendah

SP 3 Keluarga
• Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di
rumah termasuk minum obat
• Menjelaskan follow up pasien setelah pulang
Pelaksanaan Tindakan
• Melaksanakan komunikasi terapiutik terhadap
pasien sesuai dengan strategi pelaksanaan
• Komunikasi tersebut terdiri dari 3 fase:
- orientasi
- kerja
- terminasi
ASUHAN
KEPERAWATAN
ANSIETAS
Definisi
• Ansietas adalah keadaan emosi dan
pengalaman subyektif individu, tanpa objek
yang spesifik karena ketidaktahuan dan
mendahului semua pengalaman yang baru
seperti masuk sekolah, pekerjaan baru, atau
melahirkan anak
Penyebab
• Krisis situasional
• Kebutuhan yang tidak terpenuhi
• Krisis maturasional
• Ancaman terhadap konsep diri, kematian
• Kekhawatiran mengalami kegagalan
• Disfungsi sistem keluarga
• Hubungan orang tua – anak tidak memuaskan
• Faktor keturunan
• Penyalahgunaan zat
• Kurang terpapar informasi
Kondisi klinis yang terkait
• Penyakit kronis progresif
• Penyakit akut
• Hospitalisasi
• Rencana operasi
• Kondisi diagnosis penyakit yang belum jelas
• Penyakit neurologis
• Tahap tumbuh kembang
Gejala Mayor
SUBJEKTIF
• Merasa bingung OBJEKTIF
• Merasa khawatir • Tampak gelisah
dengan akibat dari • Tampak tegang
kondisi yang dihadapi • Sulit tidur
• Sulit berkonsentrasi
• Sedih
• Sering menangis
Gejala Minor
SUBJEKTIF OBJEKTIF
• Mengeluh pusing • Tekanan darah, frekuensi
• Anoreksia napas & nadi meningkat
• Palpitasi • Diaforesis (berkeringat)
• Merasa tidak berdaya • Tremor, muka pucat
• Suara bergetar
• Kontak mata buruk
• Sering berkemih
• Berorientasi masa lalu
• Mudah lupa
Tingkat kecemasan
Kecemasan ringan
Berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan
sehari-hari yang menyebabkan seseorang menjadi
waspada dan meningkatkan lahan persepsi.
Tanda dan gejala :
persepsi dan perhatian meningkat, waspada, mampu
mengatasi situasi bermasalah dapat mengintegrasikan
pengalaman masa lalu, saat ini dan masa yang akan
datang.
Kecemasan sedang
Memungkinkan seseorang untuk memusatkan
seseorang pada hal yang nyata dan
mengesampingkan yang lain, sehingga
mengetahui perhatian yang sedikit, tetapi dapat
melakukan sesuatu yang lebih terarah.
Tanda dan gejala:
persepsi agak menyempit secara selektif, tidak
perhatian tetapi dapat mengarahkan perhatian.
Kecemasan berat
Cenderung memusatkan pada sesuatu yang terinci
dan spesifik serta tidak dapat berfikir tentang hal
yang lalin. Semua perilaku ditujukan untuk
mengurangi ketegangan. Orang tersebut
memerlukan pengarahan untuk dapat memusatkan
pada area lain.
Tanda dan gejala :
persepsinya sangat kurang, berfokus pada hal yang
detail, tidak dapat berkonsentrasi lebih, sangat
mudah mengalihkan perhatiaan, serta tidak mampu
berkonsentrasi
Jenis gangguan kecemasan
Fobia
• Kriterianya seperti penolakan berdasarkan ketakutan terhadap benda-
benda atau situasi yang dihadapi yang sebetulnya tidak berbahaya dan
penderita mengakui bahwa ketakutan itu tidak ada dasarnya, seperti
sumber binatang, ketinggian, tempat tertutup, darah
Agrofobia
• Sekelompok ketakutan yang berpusat pada tempat-tempat publik, takut
berbelanja, takut kerumunan, takut berpergiaan dan banyak yang minta
pertolongan
Fobia Sosial
• Kecemasan sosial tidak rasional karena adanya orang lain. contoh : takut
bicara di hadapan publik, takut makan di tempat umum, takut
menggunakan wc umum, jarang minta bantuan, terjadi pada masa remaja,
karena masa itu kesadaran dan interaksi sosial dengan orang lain menjadi
penting dalam kehidupannya.
Gangguan Panik
• Tanda-tanda sekonyong-konyong sesak nafas, detak jantung keras,
sakit di dada, merasa tercekik, pusing, berpeluh, bergetar,
ketakutan yang sangat akan teror, ketakutan akan ada hukuman,
perasaan ada di luar badan, merasa dunia tidak nyata, ketakutan
kehilangan kontrol , ketakutan menjadi gila dan takut akan mati.
Gangguan Kecemasan Menyelur (GAD)
Gangguan ini melibatkan rasa khawatir yang berlebihan, sering kali
tidak realistis, meski tidak ada hal-hal yang memprovokasi
ketakutan tersebut. Tanda-tandanya adalah kecemasan kronis terus
menerus mencakup situasi hidup, adanya keluhan somatis, seperti
berpeluh, jantung berdetak keras, mulut kering, tangan dan kaki
dingin, ketegangan otot dan sulit untuk berkonsentrasi.
Gangguan Obsesif kompulsif (OCD)
• Orang-orang yang mengalami OCD ini biasanya memiliki gangguan pikiran
yang konstan dan ketakutan-ketakutan tertentu akan sesuatu secara
berlebihan sehingga mendorongnya untuk melakukan ritual atau rutinitas
tertentu. Misalnya, orang yang takut pada kuman secara berlebihan sering
kali berpikiran bahwa ada banyak kuman di sekelilingnya, sehingga setiap
kali ia menyentuh sesuatu, ia harus segera mencuci tangan atau
menggunakan pembersih tangan.
• Gangguan Kecemasan Pasca Trauma (PTSD)
• Orang dengan gangguan PTSD ini biasanya pernah mengalami trauma atau
peristiwa yang sangat mengerikan seperti pelecehan seksual atau fisik,
kematian tak terduga orang yang dicintai, atau bencana alam. Orang
dengan PTSD sering memiliki pikiran dan kenangan yang abadi dan
cenderung menakutkan terhadap kejadian tersebut. Biasanya, mereka
cenderung mati rasa secara emosional.
Intervensi pada pasien
Tujuan :
• Pasien mampu mengenal ansietas
• Pasien mampu mengatasi ansietas melalui teknik
relaksasi
• Pasien mampu mengatasi ansietas melalui distraksi
• Pasien mampu mengatasi ansietas melalui hipnotis
lima jari
• Pasien mampu mengatasi ansietas melalui kegiatan
spiritual
Tindakan:
– Mendiskusikan ansietas, penyebab, proses
terjadi, tanda dan gejala, akibat
– Melatih teknik relaksasi fisik
– Melatih mengatasi ansietas dengan distraksi
– Melatihmengatasi ansietas melalui hipnotis
lima jari
– Melatih mengatasi ansietas melalui
kegiatan spiritual
Intervensi pada keluarga
Tujuan:
– Keluarga mampu mengenal masalah ansietas pasien dan
masalah merawat pasien ansietas
– Keluarga mampu mengambil keputusan merawat pasien
dengan ansietas
– Merawat pasien dengan ketidakberdayaan
– Keluarga mampu menciptakan lingkungan yang nyaman
dengan ansietas
– Keluarga mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan
untuk follow-up dan menccegah kekambuhan klien
dengan ketidakberdayaan
Tindakan:
– Mendiskusikan masalah keluarga dalam merawat klien
ansietas (Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala, dan
proses terjadinya ansietas)
– Mendiskusikan akibat yang mungkin terjadi pada klien
ansietas
– Menjelaskan dan melatih keluarga klien ansietas cara :
relaksasi fisik, distraksi, hipnotis 5 jari dan spiritual
– Menjelaskan lingkungan yang terapeutik untuk klien.
– Melatih, memotivasi, membimbing dan memberikan pujian
pada klien ansietas
– Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan terdekat
untuk follow-up dan mencegah kekambuhan klien